Perjalanan ke Istana Timur memakan waktu tujuh hari. Tianji dan Yue'er menempuh jalan darat yang berkelok-kelok melewati hutan, perbukitan, dan padang rumput yang luas. Pemandangan yang sangat berbeda dari Desa Muara yang dikelilingi lautan.
Selama perjalanan, Yue'er tidak pernah diam. Ia bertanya tentang segala hal yang dilihatnya, tentang pohon-pohon aneh, tentang burung-burung yang tidak pernah ia lihat di desanya, tentang gunung-gunung yang menjulang.
"Tianji, lihat! Ada kera besar di pohon itu!" serunya.
"Itu lutung, Yue'er."
"Lutung? Besar sekali! Kalau dia turun, kau bisa melawannya?"
"Aku tidak perlu melawannya. Kita bisa lewat saja."
"Tapi kalau dia menyerang?"
"Yue'er, kera tidak akan menyerang manusia kecuali terprovokasi."
"Kau yakin?"
"Yakin."
"Hmm. Baiklah. Tapi kalau dia menyerang, kau harus melindungiku!"
"Tentu," Tianji tersenyum.
Terkadang mereka berhenti di penginapan kecil di desa-desa sepanjang perjalanan. Yue'er selalu penasaran dengan masakan daerah setempat. Ia mencoba sate kambing, gulai ikan, dan aneka kue tradisional.
"Enak! Tapi tidak seenak masakan Desa Muara," komentarnya setiap kali.
"Karena kau terbiasa dengan masakan kita," Tianji menjawab.
"Tidak, serius! Ikan bakar di desa kita lebih segar! Bumbunya lebih meresap! Aku harus belajar resep dari Ibu Lia kapan-kapan."
Pada hari kelima, mereka memasuki wilayah Istana Timur. Jalan mulai ramai. Banyak pedagang, pelancong, dan bahkan beberapa pendekar berjalan dengan pedang di pinggang.
Yue'er mengamati mereka dengan hati-hati. "Banyak pendekar di sini."
"Karena Istana Timur adalah pusat kekuasaan di wilayah timur. Semua orang datang ke sini untuk berbagai urusan โ perdagangan, politik, persilatan."
"Kau dulu sering ke sini?"
"Beberapa kali. Dulu aku dipanggil untuk membantu Pangeran Ning melawan pemberontakan."
"Pemberontakan? Perang?"
"Bukan perang besar. Hanya konflik kecil antar suku."
Yue'er mengangguk. Ia bisa membayangkan Tianji di masa lalu โ dingin, kuat, dan sendirian. Sangat berbeda dengan Tianji yang kini duduk di sampingnya sambil memegangi tali kekang kuda.
Hari ketujuh, mereka akhirnya tiba di depan gerbang Istana Timur. Istana itu menjulang megah dengan atap genteng merah dan dinding putih yang berkilauan. Di atas gerbang utama, sebuah prasasti besar bertuliskan "Istana Timur" dalam aksara emas.
Seorang perwira tinggi menyambut mereka. "Tuan Tianji, Yang Mulia sudah menunggu. Silakan ikut aku."
Tianji dan Yue'er turun dari kuda. Mereka dipandu melewati halaman luas, taman yang indah dengan kolam dan air mancur, hingga akhirnya tiba di ruang utama istana.
Pangeran Ning duduk di singgasana. Ia adalah pria paruh baya dengan wajah yang ramah namun berwibawa. Jubah kebesarannya berwarna ungu tua dengan sulaman naga emas. Melihat Tianji, ia langsung berdiri dan tersenyum.
"Tianji! Akhirnya kau datang!" Pangeran Ning melangkah turun dan langsung memeluk Tianji dengan hangat.
"Yang Mulia, maaf jika aku terlambat," kata Tianji membalas pelukan itu.
"Tidak! Kau tepat waktu. Dan kau membawa…?" Pangeran Ning menatap Yue'er yang berdiri di samping Tianji.
"Ini istriku, Yue'er."
Yue'er membungkuk sopan. "Yue'er dari Desa Muara menghaturkan sembah kepada Yang Mulia."
Pangeran Ning tertawa. "Wah, tidak perlu formal! Anggap saja ini rumah paman kalian. Selamat datang, Yue'er. Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari surat-surat Lady Hong."
"Lady Hong?" Yue'er mengangkat alis.
"Ia sering berkirim surat denganku," Pangeran Ning menjelaskan. "Dan ia selalu memujimu. Katanya kau berhasil membuat Pendekar Penyerap Lautan yang dingin itu tersenyum. Itu bukan prestasi kecil!"
Yue'er tersipu. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Yang Mulia."
"Makan siang sudah disiapkan. Kalian pasti lelah setelah perjalanan panjang. Mari, kita makan dulu, lalu aku akan jelaskan mengapa aku memanggil kalian."
Mereka dijamu dengan makanan istana yang mewah. Yue'er tampak kagum โ ada puluhan hidangan di atas meja panjang. Ikan gurame asam manis, udang goreng mentega, bebek peking, sup sarang burung, dan aneka kue istana.
"Ini semua untuk kita bertiga?" tanya Yue'er tidak percaya.
"Tentu saja! Aku sengaja memerintahkan koki istana untuk memasak hidangan terbaik. Aku tahu kalian datang dari desa nelayan yang sederhana."
Yue'er tidak perlu dipersilakan dua kali. Ia langsung mengambil piring dan mulai mencicipi semuanya, matanya berbinar senang. Tianji hanya tersenyum geleng-geleng kepala.
"Kau beruntung punya istri yang menikmati hidup," komentar Pangeran Ning.
"Aku tahu," jawab Tianji.
Setelah makan siang, Pangeran Ning mengajak Tianji berjalan-jalan di taman istana. Yue'er tinggal di ruang jamuan, ditemani dayang-dayang istana yang menunjukkan berbagai permainan dan hiburan.
"Jadi," kata Pangeran Ning saat mereka berjalan di antara pohon sakura yang mulai berbunga. "Apa yang kurasakan tentang undanganku?"
"Jujur, Yang Mulia?"
"Tentu. Kita sudah lama berteman. Kau bisa bicara bebas."
"Awalnya aku ragu. Aku sudah membangun kehidupan baru di Desa Muara. Aku khawatir jika kembali ke dunia ini, aku akan terseret kembali ke dalam pusaran politik persilatan."
"Dan sekarang?"
"Sekarang… aku bersyukur aku datang. Bukan karena istana atau penghormatan. Tapi karena bertemu dengan kawan lama."
Pangeran Ning tersenyum. "Itu jawaban yang bijaksana. Kau benar-benar berubah, Tianji. Dulu kau selalu tegang, seolah siap bertarung kapan saja. Sekarang kau lebih tenang."
"Karena aku punya sesuatu yang lebih berharga untuk dilindungi."
"Yue'er."
"Ya. Dan kedamaian yang kumiliki."
Pangeran Ning berhenti. Ia memandang langit yang biru. "Aku memanggilmu bukan hanya untuk penghormatan. Ada alasan lain."
Tianji menegang. "Ada apa?"
"Aku sudah tua. Kesehatanku semakin melemah. Dokter istana bilang aku mungkin hanya punya satu atau dua tahun lagi."
"Yang Mulia…"
"Biarkan aku selesai," Pangeran Ning mengangkat tangan. "Sebelum aku pergi, aku ingin memastikan bahwa warisan persilatan di wilayah timur ini ada di tangan yang tepat. Aku ingin menawarkan posisi sebagai penasihat utama istana untuk urusan persilatan. Kau orang yang tepat, Tianji. Pengalamanmu, pengetahuanmu, dan kekuatanmu โ meskipun kau kehilangan inti energimu, reputasimu masih besar."
Tianji terdiam. Tawaran itu besar โ sangat besar. Penasihat utama di Istana Timur berarti kekuasaan, pengaruh, dan kekayaan. Tapi…
"Aku tidak bisa," kata Tianji akhirnya.
"Kenapa?"
"Karena aku sudah menemukan tempatku. Di Desa Muara, aku bukan pendekar. Bukan penasihat. Bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang nelayan. Tapi di sanalah aku bahagia."
"Kau lebih memilih menjadi nelayan daripada penasihat istana?"
"Bukan soal nelayan atau penasihat, Yang Mulia. Tapi soal siapa aku sebenarnya. Dulu aku mengira kekuatan dan kekuasaan adalah segalanya. Tapi aku kehilangan semua itu dan justru menemukan diriku yang sesungguhnya. Aku tidak ingin kembali."
Pangeran Ning memandang Tianji lama. Kemudian ia tertawa. "Kau benar-benar berubah. Dulu kau adalah pemuda ambisius yang haus kekuatan. Sekarang kau adalah pria bijaksana yang mengerti arti kehidupan."
"Bukankah itu yang kau harapkan dari seorang teman?"
"Ya. Dan aku bangga padamu, Tianji. Baik, aku tidak akan memaksa. Tapi setidaknya, terimalah hadiah kecil dariku sebagai tanda persahabatan."
Pangeran Ning menyerahkan sebuah kantong kain kecil. Di dalamnya ada sebuah segel giok bertuliskan nama Tianji.
"Ini adalah segel kehormatan. Dengan ini, kau dan keturunanmu diakui sebagai bangsawan kehormatan Istana Timur. Kau tidak perlu menjalankan tugas apa pun. Hanya tanda bahwa kau adalah bagian dari sejarah istana."
Kali ini Tianji menerimanya. "Terima kasih, Yang Mulia."
"Dan satu lagi," Pangeran Ning mengeluarkan selembar kertas. "Ini adalah surat kepemilikan tanah untuk seluruh area pesisir di sekitar Desa Muara. Resmi menjadi milikmu. Dengan ini, kau bisa mengelola perikanan dan perdagangan dengan bebas."
"Yang Mulia, ini terlalu besarโ"
"Anggap saja kado pernikahan," Pangeran Ning tersenyum. "Kau pantas mendapatkannya."
Tianji tidak bisa berkata-kata. Ia hanya membungkuk dalam-dalam memberi hormat.
Sore harinya, Tianji dan Yue'er berjalan-jalan di taman istana.
"Jadi, kau menolak menjadi penasihat utama?" tanya Yue'er.
"Ya."
"Dan kau menerima tanah dan segel kehormatan?"
"Ya."
"Kau tahu," Yue'er tersenyum. "Kau membuat keputusan yang tepat."
"Kau tidak kecewa? Karena aku tidak memilih kekuasaan?"
"Kecewa? Aku malah bangga!" Yue'er meraih tangan Tianji. "Aku menikahi nelayan, bukan penasihat istana. Kalau kau menerima tawaran itu, kau akan sibuk bertemu pejabat dan pendekar. Kapan waktunya untukku?"
Tianji tertawa. "Kau benar."
"Selain itu," Yue'er melanjutkan. "Dengan tanah itu, kita bisa mengembangkan perikanan desa. Aku sudah punya rencana โ kita bisa membuat tambak garam, kolam ikan bandeng, dan mungkin membuka penginapan kecil untuk para pedagang yang mampir."
"Kau sudah punya rencana?"
"Tentu! Aku memikirkannya selama perjalanan ke sini. Kau pikir aku hanya diam saja di atas kuda? Aku merencanakan masa depan kita!"
Tianji menggeleng. "Kau benar-benar tidak pernah berhenti berpikir."
"Tentu saja! Kalau aku diam, bisnis kita tidak akan maju."
Malam harinya, Pangeran Ning mengadakan jamuan perpisahan. Hanya dihadiri oleh beberapa orang dekat โ termasuk Lady Hong yang ternyata juga diundang.
"Aku tahu kau akan datang," kata Lady Hong kepada Tianji.
"Kau yang menyarankanku untuk datang?"
"Bukan. Tapi aku tahu kau akan datang karena kau setia pada teman."
Yue'er duduk di samping Lady Hong, dan mereka berbincang akrab. Tianji terkejut melihat istrinya begitu cepat akrab dengan Lady Hong.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Tianji.
"Rahasia wanita," jawab Yue'er dan Lady Hong bersamaan.
Pangeran Ning mengangkat gelas. "Malam ini, kita berkumpul untuk merayakan persahabatan. Tianji, kau adalah salah satu pahlawan terbesar yang pernah dimiliki Istana Timur. Meskipun kau memilih jalan yang berbeda, kau akan selalu menjadi bagian dari sejarah ini."
"Saya hanya melakukan kewajiban, Yang Mulia."
"Tidak. Kau melakukan lebih dari itu. Kau mengorbankan kekuatanmu demi melindungi orang-orang yang kau cintai. Itu adalah tindakan seorang pahlawan sejati."
Tianji menunduk. Hatinya tersentuh.
Jamuan berlangsung hangat hingga larut malam. Ketika akhirnya Tianji dan Yue'er pamit, Pangeran Ning memeluk Tianji.
"Jagalah dirimu, kawanku. Dan jagalah istrimu yang luar biasa itu."
"Aku akan melakukannya, Yang Mulia."
"Panggil saja aku Ning. Kita sudah seperti saudara."
Tianji tersenyum. "Selamat tinggal, Ning."
"Selamat jalan, Tianji."
Keesokan paginya, Tianji dan Yue'er meninggalkan Istana Timur. Mereka naik kuda, dengan perbekalan yang lebih banyak dari sebelumnya, termasuk hadiah-hadiah dari Pangeran Ning.
Di ambang gerbang istana, Tianji menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
"Kau akan merindukan tempat ini?" tanya Yue'er.
"Tidak. Tapi aku akan mengingatnya sebagai bagian dari perjalanan hidupku."
"Bagus," Yue'er tersenyum. "Sekarang mari kita pulang. Ayah pasti sudah khawatir. Dan aku ingin segera memulai rencanaku untuk tambak garam."
"Apa kau tidak mau beristirahat dulu?"
"Beristirahat? Nanti! Sekarang kita harus pulang!"
Tianji tertawa. Ia memacu kudanya, diikuti Yue'er yang terus bicara tentang rencana-rencana besarnya.
Di belakang mereka, Istana Timur semakin kecil dan akhirnya hilang di ufuk. Di depan, perjalanan pulang menanti โ kembali ke laut, kembali ke desa, kembali ke kehidupan yang sederhana namun bermakna.
Tianji merasakan kedamaian yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hidupnya kini bukan lagi tentang pertempuran dan kemenangan. Bukan lagi tentang kekuatan dan kejayaan. Hidupnya kini tentang cinta, tentang keluarga, tentang Yue'er.
Dan itu lebih dari cukup.
"Tianji!" seru Yue'er dari depan. "Ayo cepat! Aku ingin sampai di rumah sebelum malam!"
"Kau bilang perjalanan pulang butuh tujuh hari!" teriak Tianji.
"Tapi kita bisa lebih cepat kalau kau tidak melamun!"
Tianji tersenyum lebar. Ia memacu kudanya, menyusul Yue'er, dan mereka berdua melintasi jalan bersama-sama.
Laki-laki yang dulu dikenal sebagai Pendekar Penyerap Lautan, dan wanita yang menjadi istrinya. Sebuah pasangan yang tak terduga, namun sempurna.
Di langit, burung-burung terbang bebas. Angin berhembus sejuk. Dan di kejauhan, aroma laut sudah tercium โ tanda bahwa Desa Muara tidak lama lagi akan tercapai.
"Yue'er!" panggil Tianji.
"Apa?"
"Aku mencintaimu."
Yue'er menoleh, tersenyum manis. "Aku juga mencintaimu, Suamiku! Tapi kalau kau tidak cepat, kau akan tidur di dapur malam ini!"
Tianji tertawa keras. suara tawanya bergema di padang rumput, bersatu dengan desiran angin.
Ini adalah akhir dari perjalanan mereka ke istana.
Tapi ini adalah awal dari sisanya.
*** AKHIR BATCH 18 โ BERSAMBUNG…