Tiga bulan telah berlalu sejak pernikahan Tianji dan Yue'er. Hidup mereka berjalan dengan damai. Setiap pagi, Tianji melaut bersama Liu Dahan, sementara Yue'er mengurus rumah dan sesekali menjual ikan di pasar desa.
Namun kedamaian itu tidak berlangsung selamanya.
Suatu sore, saat Tianji baru pulang dari laut dengan hasil tangkapan yang melimpah, ia melihat kerumunan warga di depan rumahnya. Ada seorang prajurit berseragam istana berdiri kaku, dikawal dua orang pengawal bersenjatakan pedang panjang.
"Tianji!" Yue'er berlari menghampirinya. Wajahnya tegang. "Ada utusan dari istana. Mereka membawa surat untukmu."
Tianji meletakkan jaring ikannya. Hatinya berdegup kencang. Ia sudah menduga sejak lama bahwa masa lalunya akan mengejarnya. Tapi ia berharap itu tidak akan terjadi.
Prajurit itu — seorang perwira muda dengan lencana emas di dadanya — melangkah maju dan membungkuk hormat. "Maaf mengganggu ketenangan Tuan. Aku diperintahkan oleh Yang Mulia Pangeran Ning untuk menyampaikan surat ini langsung ke tangan Tuan."
Ia menyerahkan sebuah gulungan surat bersegel lilin merah dengan cap naga.
Tianji menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia tidak perlu membuka surat itu untuk tahu bahwa ini adalah sesuatu yang penting — dan mungkin berbahaya.
"Silakan masuk dan beristirahat dulu," kata Tianji kepada prajurit itu. "Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh."
"Terima kasih, Tuan. Tapi aku harus segera kembali. Aku hanya menunggu jawaban."
Tianji mengangguk. Ia membuka segel surat itu di depan Yue'er, yang sudah tidak sabar ingin tahu.
"Bacakan keras-keras," pinta Yue'er. "Aku ingin dengar."
Tianji membuka gulungan itu dan membaca:
"Kepada Tianji, Pendekar Penyerap Lautan Yang Terhormat,
Semoga surat ini menemukanmu dalam keadaan sehat. Aku, Pangeran Ning, menulis surat ini dengan penuh hormat dan kerinduan.
Telah lima tahun sejak pertempuran besar di Lautan Timur. Dunia persilatan telah banyak berubah. Namun jasa-jasamu terhadap kerajaan dan terhadap dunia persilatan tidak akan dilupakan. Banyak orang yang masih mengingat keberanianmu.
Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, aku mengundangmu untuk hadir ke Istana Timur. Aku ingin memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi seorang pahlawan sepertimu. Ini bukanlah panggilan tugas. Ini adalah undangan pribadi dari seorang kawan lama.
Aku tahu kau kini hidup tenang di Desa Muara. Aku tidak akan memaksamu. Jika kau memilih untuk tidak datang, aku akan mengerti. Namun jika kau bersedia datang, aku dan segenap keluarga istana akan menyambutmu dengan tangan terbuka.
Aku juga mendengar kau telah menikah. Selamat! Aku sangat ingin bertemu dengan istri yang berhasil melunakkan hati Pendekar Penyerap Lautan.
Sampai jumpa, jika takdir mengizinkan.
Hormatku, Pangeran Ning"
Tianji selesai membaca. Suasana hening.
Yue'er mengambil surat itu dan membacanya sendiri, matanya bergerak cepat. Setelah selesai, ia mendengus.
"Penghormatan terakhir, katanya? Kedengarannya seperti perpisahan."
"Mungkin memang itu maksudnya," Tianji termenung. "Pangeran Ning adalah orang yang baik. Kami pernah bertempur bersama. Ia adalah salah satu dari sedikit orang di istana yang tulus."
"Jadi kau mau pergi?" tanya Yue'er. Nadanya datar, tidak bisa ditebak apakah ia setuju atau tidak.
"Aku belum memutuskan."
"Apa yang perlu diputuskan? Kau sudah menikah sekarang. Kau punya kehidupan di sini. Kau bilang kau sudah meninggalkan dunia persilatan!"
"Aku tahu," Tianji menghela napas. "Tapi Pangeran Ning adalah kawanku. Ia menyelamatkan hidupku sekali waktu. Aku tidak bisa mengabaikan undangannya begitu saja."
Yue'er menatap suaminya lama. Matanya yang biasanya ceria kini penuh dengan kegalauan. Akhirnya ia berkata, "Kalau kau pergi, aku ikut."
"Apa? Yue'er, ini bisa berbahaya. Istana penuh dengan intrik dan politik. Aku tidak mau kau terlibat."
"Kau pikir aku akan tinggal diam di sini menunggu kau pulang? Memasak dan membersihkan rumah sementara kau entah di mana? Tidak!" Yue'er menekuk pinggang. "Kita sudah menikah. Janji kita — suka dan duka bersama. Kalau kau pergi ke istana, aku pergi bersamamu!"
"Tapi—"
"Tidak ada tapi! Aku serius, Tianji. Kalau kau pergi seorang diri, kau akan kukutuk!"
Tianji menghela napas panjang. Ia tahu istrinya keras kepala. Begitu Yue'er memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Baik. Kau ikut. Tapi kau harus menurutiku selama di perjalanan."
"Tentu saja! Akan kuturuti semua perintah suami," jawab Yue'er dengan senyum licik. "Kecuali kalau perintahnya bodoh."
Liu Dahan yang sedari tadi mendengarkan dari belakang, akhirnya angkat bicara. "Tianji, kalau kalian pergi, berhati-hatilah. Dunia luar tidak seindah desa kita. Aku pernah merasakan kerasnya kehidupan di perantauan. Banyak orang jahat yang memanfaatkan kebaikan."
"Aku akan menjaga Yue'er, Ayah."
"Aku tidak khawatir tentang Yue'er. Aku khawatir tentang kau," Liu Dahan tersenyum. "Anakku itu bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi kau… kau terlalu baik hati. Dunia persilatan penuh dengan tipu daya."
"Aku sudah berubah, Ayah. Tapi aku belum lupa cara bertahan hidup."
Prajurit itu masih menunggu di luar. Tianji keluar dan berkata, "Sampaikan pada Yang Mulia Pangeran Ning bahwa aku akan datang. Aku dan istriku akan berangkat dalam waktu dekat."
"Terima kasih, Tuan. Aku akan segera melapor," prajurit itu membungkuk dan pergi dengan cepat.
Malam harinya, Tianji dan Yue'er duduk di beranda, memandang laut yang tenang.
"Kau takut?" tanya Yue'er tiba-tiba.
"Takut? Tentang apa?"
"Tentang kembali ke dunia yang dulu kau tinggalkan. Tentang bertemu orang-orang yang mungkin masih mengingatmu sebagai pendekar berdarah dingin."
Tianji merenung. "Aku tidak takut pada mereka. Tapi aku takut pada satu hal."
"Apa?"
"Aku takut jika sesuatu terjadi padamu. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
Yue'er memukul lengan Tianji. "Jangan bicara seperti itu! Aku bukan gadis lemah yang perlu dilindungi. Aku bisa merawat diriku sendiri!"
"Aku tahu. Tapi—"
"Tidak ada tapi!" Yue'er memotong. "Dengarkan aku, Tianji. Aku memilih menikah denganmu karena aku tahu risikonya. Aku tahu kau bukan nelayan biasa. Aku tahu masa lalumu rumit. Tapi aku memilihmu tetap. Jadi jangan pernah berpikir bahwa aku akan menjadi beban atau kelemahanmu. Aku adalah kekuatanmu."
Tianji tersenyum. "Kau memang luar biasa."
"Tentu saja. Aku Yue'er."
Mereka tertawa bersama. Kecemasan di hati perlahan mencair.
Keesokan paginya, mereka mulai mempersiapkan perjalanan. Liu Dahan membantu menyiapkan perbekalan.
"Bawalah ikan kering, garam, beras, dan air minum yang cukup," kata Liu Dahan. "Perjalanan ke Istana Timur memakan waktu tujuh hari dengan kuda."
"Kami tidak punya kuda," Tianji mengingatkan.
"Sudah kusiapkan. Dua ekor kuda poni dari desa tetangga. Cukup kuat untuk perjalanan jauh."
Tianji terharu. "Ayah… terima kasih."
"Sudah, sudah. Aku lakukan ini untuk anakku."
Yue'er mengemasi pakaiannya — kebaya, kain, selendang, dan tentu saja ikat rambut perak yang dikembalikan Lady Hong. Ia juga membawa jimat kayu ukiran namanya dengan Tianji.
"Kita akan pergi selama berapa lama?" tanyanya.
"Tidak tahu. Mungkin dua minggu. Mungkin sebulan. Tergantung situasi."
"Kalau sebulan, aku perlu lebih banyak baju ganti!"
Tianji tertawa. "Kau bisa membeli di sana."
"Ah, betul juga. Istana Timur pasti punya pasar yang bagus. Aku dengar kain sutra di sana terkenal halus." Mata Yue'er berbinar.
"Kita pergi untuk urusan serius, Yue'er."
"Serius atau tidak, istri harus tetap tampil cantik! Aku tidak mau malu di depan bangsawan istana. Kau adalah Pendekar Penyerap Lautan — atau setidaknya mantan pendekar. Aku harus tampil sebagai istri yang pantas!"
Tianji menggeleng, tapi tersenyum. "Baik, baik. Terserah kau."
Malam terakhir di Desa Muara, mereka berpesta kecil-kecilan. Warga desa berkumpul memberikan doa dan harapan baik.
"Kembalilah dengan selamat!" seru seorang tetangga.
"Jangan lupa oleh-oleh!" teriak yang lain.
"Bawakan aku kain sutra, Kak Yue!" pinta seorang gadis kecil.
Yue'er tertawa. "Akan kubawakan yang paling bagus!"
Saat semua sudah pulang dan desa kembali sepi, Tianji berdiri di tepi pantai seorang diri. Ia memandang lautan yang gelap, tempat ia dulu menguasai kekuatan yang luar biasa.
"Apa yang kau pikirkan?" suara Yue'er dari belakang.
"Aku berpikir… apakah keputusanku benar? Apakah aku seharusnya tetap tinggal dan mengabaikan surat itu?"
Yue'er mendekat dan meraih tangan Tianji. "Kau adalah laki-laki yang setia pada kawan. Itu salah satu alasan aku mencintaimu. Jadi pergi dan temui Pangeran Ning. Lalu setelah selesai, kita pulang. Kembali ke sini. Ke desa kita. Ke kehidupan kita."
Tianji menekan tangan istrinya. "Kau benar. Aku akan pergi, menyelesaikan urusanku, lalu kembali. Itu janjiku."
"Bukan hanya janji," Yue'er tersenyum. "Itu takdir."
"Tianji," suara Yue'er memecah lamunannya. "Aku ingin bertanya serius."
"Tanyalah."
"Kalau — kalau misalnya di istana nanti ada orang yang ingin menyakitimu, apa yang akan kau lakukan?"
Tianji menatap istrinya. "Aku tidak akan mencari masalah. Tapi kalau ada yang mengancam keselamatan kita, aku akan melindungimu."
"Tapi kau sudah kehilangan kekuatanmu. Ilmu Penyerap Lautanmu sudah tidak ada."
"Benar. Tapi aku masih punya pengalaman. Masih punya pengetahuan. Dan yang terpenting, aku punya tekad. Orang yang kehilangan kekuatan tapi punya tekad, lebih berbahaya daripada orang yang kuat tapi ragu-ragu."
Yue'er mengangguk pelan. "Aku percaya padamu."
"Terima kasih."
"Tapi ingat — jangan gegabah. Kalau ada bahaya, lebih baik kita kabur. Aku tidak ingin kehilangan suami yang baru kudapat."
Tianji tertawa. "Janji. Aku akan kabur kalau perlu."
"Bagus. Kalau begitu, ayo tidur. Besok kita harus bangun pagi."
Mereka masuk ke dalam gubuk. Tianji mematikan lampu minyak. Dalam gelap, ia merasakan tangan Yue'er mencari tangannya dan menggenggamnya erat.
"Tianji?"
"Ya?"
"Aku senang kau memutuskan untuk pergi. Bukan karena aku ingin bepergian. Tapi karena kau menunjukkan bahwa kau bukan pengecut yang lari dari masa lalu."
"Aku hanya ingin menyelesaikan urusanku dengan baik."
"Itulah yang membuatku bangga padamu."
Tianji tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menekan genggaman tangan Yue'er, dan dalam keheningan malam, ia merasakan kedamaian yang tak tergantikan.
Bintang-bintang berkelip di langit. Angin malam berhembus sejuk. Di kejauhan, ombak berdesir lembut.
Perjalanan baru akan segera dimulai. Dan Tianji siap menghadapinya — bukan lagi sebagai Pendekar Penyerap Lautan yang sendirian, melainkan sebagai suami dari Yue'er, dengan hati yang penuh cinta dan keberanian yang lebih tulus dari sebelumnya.