Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Mentari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur saat Desa Muara sudah terjaga. Suara tabuhan genderang dan seruling bambu menggema dari ujung desa ke ujung lainnya. Udara pagi terasa berbeda — lebih hangat, lebih manis, seolah alam pun ikut merayakan.
Tianji telah bangun sejak jam ketiga malam. Ia tidak bisa tidur. Bukan karena gugup, melainkan karena hatinya terlalu penuh dengan kebahagiaan. Ia duduk di beranda gubuknya, memandangi laut yang masih gelap, dan merenungkan perjalanan hidupnya.
Dari seorang anak yatim piatu yang ditemukan di tepi laut, menjadi murid tunggal Pendekar Lautan Selatan, kemudian menjadi Pendekar Penyerap Lautan yang ditakuti — dan kini, seorang calon suami di desa nelayan yang sunyi. Sungguh jalan hidup yang tidak pernah ia bayangkan.
"Tianji!" suara Liu Dahan memanggil dari kejauhan. "Ayo mandi! Sebentar lagi penghulu datang!"
Tianji tersentak dari lamunannya. Ia bergegas mandi di sumur belakang, mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang membuatnya segar. Kemudian ia mengenakan pakaian pengantin yang sudah disiapkan — kain biru laut dengan sulaman naga dan ombak di ujungnya, kemeja putih polos di dalam, dan ikat kepala batik yang Yue'er pilihkan sendiri.
Di rumah Liu Dahan, suasana jauh lebih riuh. Para wanita desa sibuk membantu Yue'er bersolek. Ia didandani dengan kebaya putih bersulam emas, kain batik cokelat dengan motif parang, dan rambutnya disanggul tinggi dengan hiasan melati dan kenanga.
"Kakak Yue cantik sekali!" puji seorang gadis kecil.
Yue'er tersenyum malu. Matanya mencari-cari sosok Tianji di antara kerumunan, tapi belum kelihatan.
"Tenanglah," goda seorang tetangga. "Tunanganmu pasti tidak kabur. Mana ada laki-laki tega meninggalkan pengantin secantik kau?"
"Ibu Lia, jangan menggoda!" Yue'er merona. "Aku hanya… khawatir ada yang salah."
"Tidak akan ada yang salah," Nyonya tua itu tertawa. "Hari ini adalah hari bahagia. Jangan cemaskan hal-hal yang belum terjadi."
Di luar, tenda pernikahan sudah berdiri. Sederhana — hanya atap dari daun kelapa dan tiang bambu — tapi dihias dengan indah dengan rangkaian bunga khas desa. Di bawah tenda itu, sebuah pelaminan kecil telah disiapkan, dilengkapi dengan bantal-bantal duduk dan sebuah altar kecil untuk sesaji tradisional.
Warga desa mulai berdatangan. Mereka datang dengan pakaian terbaik, membawa hadiah sederhana — ada yang membawa telur, beras, gula, atau kain. Seorang nenek bahkan membawa seekor bebek gemuk.
"Ini hadiah untuk kalian," kata nenek itu. "Semoga pernikahan kalian langgeng seperti bebek yang selalu berpasangan."
Liu Dahan menerima hadiah-hadiah itu dengan haru. Air matanya nyaris jatuh. "Terima kasih, terima kasih semuanya. Kalian semua sudah seperti keluarga."
Pukul delapan pagi, penghulu tiba. Ia adalah seorang lelaki tua berjubah putih, tokoh agama yang dihormati di desa-desa pesisir. Ia duduk di pelaminan, bersiap memimpin upacara.
Dan saat itulah Tianji muncul.
Semua mata tertuju padanya. Ia berjalan dengan langkah mantap, wajahnya tenang namun matanya berbinar. Pakaian biru lautnya membuatnya tampak gagah, mengingatkan pada masa lalunya sebagai pendekar laut — tapi kini ia datang dengan hati yang penuh damai.
Setelah Tianji duduk di pelaminan, tibalah saatnya Yue'er diantar keluar.
Dan Tianji pun terpana.
Yue'er berjalan perlahan, dituntun oleh Liu Dahan. Wajahnya yang cantik terbalut riasan tipis, senyumnya malu-malu, dan matanya — matanya hanya terfokus pada Tianji. Di tangannya, ia memegang setangkai bunga melati.
"Yue'er," bisik Tianji, hampir tidak terdengar.
Liu Dahan menyerahkan tangan Yue'er kepada Tianji. Suaranya bergetar. "Tianji, anakku. Kuserahkan anak perempuanku padamu. Jagalah ia, sayangilah ia, dan jangan pernah menyakitinya."
"Aku bersumpah, Ayah," kata Tianji dengan suara mantap, matanya berkaca-kaca. "Aku akan menjaganya lebih dari hidupku sendiri."
Yue'er menangis. Bukan sedih — tapi haru.
Penghulu memulai upacara. Mantra-mantra kuno dibacakan, doa-doa dipanjatkan kepada leluhur dan dewa-dewi laut. Mereka diminta bersumpah setia satu sama lain di hadapan manusia dan alam semesta.
"Tianji, putra Lautan Timur," kata penghulu. "Maukah kau mengambil Yue'er sebagai istrimu yang sah? Setia dalam suka dan duka, kaya dan miskin, sehat dan sakit, selama kalian hidup?"
"Aku mau," jawab Tianji. "Bukan hanya menerimanya sebagai istri, tapi juga sebagai belahan jiwaku. Aku akan mencintainya sampai nafas terakhirku."
"Yue'er, putri Desa Muara," lanjut penghulu. "Maukah kau menerima Tianji sebagai suamimu? Mengikutinya, mendukungnya, dan mencintainya seumur hidupmu?"
Yue'er menarik napas. "Aku mau," katanya dengan suara lantang. "Aku mau menjadi istrinya, sahabatnya, dan rumahnya. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya — bahkan jika laut surut dan gunung rata!"
Tawa kecil terdengar dari para tamu. Tapi tawa itu penuh kehangatan.
"Sekarang," kata penghulu. "Kalung pertukaran."
Tianji dan Yue'er saling bertukar kalung. Tianji memberikan Yue'er sebuah kalung dari anyaman tali dengan liontin batu giok hijau — pemberian ibunya yang dulu, satu-satunya harta yang tersisa dari masa lalunya. Sedangkan Yue'er memberikan Tianji sebuah kalung dari tali dengan bandul perak kecil berbentuk ikan. Keduanya bukan perhiasan mahal. Namun nilainya tak ternilai.
Upacara selesai. Mereka resmi menjadi suami istri.
Pekik sorak gembira menggema. Genderang dan seruling dimainkan dengan riang. Warga desa mulai menaburkan beras kuning dan bunga ke arah pasangan pengantin.
Liu Dahan tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis tersedu-sedu, memeluk Tianji dan Yue'er bersamaan.
"Ayah, jangan menangis," Yue'er tertawa sambil menghapus air mata ayahnya. "Ini hari bahagia."
"Aku menangis karena bahagia, anakku!" Liu Dahan terisak. "Ayah hanya ingat… ibumu dulu… kalau ia masih ada…"
Tianji meletakkan tangannya di bahu Liu Dahan. "Ibu pasti bahagia dari surga, Ayah."
Mendadak, kerumunan warga desa terbelah. Seorang wanita berjubah hitam melangkah masuk, wajahnya tertutup kerudung tipis. Semua orang terdiam — wanita itu tampak anggun namun misterius.
Tianji menegang. Ia mengenali postur tubuh itu.
Wanita itu membuka kerudungnya. Wajah cantik dengan tatapan tajam dan senyum tipis — Lady Hong.
"Lady Hong," Tianji berdiri. "Kau datang."
"Selamat menempuh hidup baru, Tianji," kata Lady Hong. Suaranya tenang. "Maaf aku datang tanpa diundang. Tapi aku tidak ingin melewatkan momen ini."
"Kau selalu diterima di sini," Tianji tersenyum dan menghampirinya. "Terima kasih sudah datang."
"Bagaimana mungkin aku tidak datang?" Lady Hong memandang Tianji dengan penuh arti. "Kita telah melalui begitu banyak pertempuran bersama. Aku mengenalmu saat kau masih menjadi pendekar dingin yang tidak pernah tersenyum. Dan lihat sekarang — kau berdiri di sini, di pelaminanmu, dengan senyum yang tidak bisa kau sembunyikan."
Yue'er menghampiri mereka. Ia menatap Lady Hong dengan campuran rasa ingin tahu dan sedikit cemburu — karena ia tahu Tianji dan Lady Hong memiliki hubungan yang rumit di masa lalu.
"Kau pasti Yue'er," Lady Hong tersenyum. "Tianji sering bercerita tentangmu."
"Benarkah?" Yue'er mengangkat alis, menatap Tianji.
"Hanya sesekali," Tianji menjawab cepat, sedikit gugup.
"Ah, tentu saja," Lady Hong tertawa. "Jangan khawatir, Yue'er. Aku dan Tianji hanya kawan. Aku dulu adalah — bagaimana mengatakannya — teman bertarung? Tapi Tianji tidak pernah memandangku seperti ia memandangmu."
Yue'er tersenyum. Ia merasa tenang. "Terima kasih sudah datang, Lady Hong. Duduklah, silakan nikmati hidangan."
Lady Hong membungkuk sopan. "Aku hanya akan tinggal sebentar. Aku membawa hadiah pernikahan." Ia menyerahkan sebuah kotak kayu kecil kepada Tianji. "Buka nanti, saat kau sendirian."
Tianji menerima kotak itu dengan rasa penasaran. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Hari itu berlalu dengan kebahagiaan. Makanan disajikan, tarian ditampilkan, dan tawa bergema di seluruh desa. Tianji dan Yue'er duduk di pelaminan, menerima ucapan selamat dari satu per satu tamu.
Seorang kakek tua mendekati mereka dan berkata, "Anak-anakku, pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah awal. Kalian akan menghadapi suka dan duka, tantangan dan kebahagiaan. Ingatlah selalu sumpah kalian hari ini."
"Kami akan ingat, Kakek," kata Tianji dan Yue'er bersamaan.
Saat senja tiba, para tamu mulai beranjak pulang. Desa kembali sepi. Tianji dan Yue'er akhirnya berdua saja di pelaminan yang mulai diterangi lampu minyak.
"Kita benar-benar sudah menikah," kata Yue'er pelan. Seperti tidak percaya.
"Kita sudah menikah," Tianji mengulangi, sambil meraih tangan Yue'er.
"Aku sekarang istrimu."
"Dan aku suamimu."
Yue'er tertawa. "Kedengarannya aneh."
"Tapi indah."
Yue'er bersandar di bahu Tianji. Laut malam terdengar berdesir, diterangi cahaya bulan yang keperakan.
"Aku punya satu pertanyaan," kata Yue'er tiba-tiba.
"Apa?"
"Apa yang diberikan Lady Hong tadi? Boleh aku lihat?"
Tianji tersenyum. Ia mengeluarkan kotak kayu itu. Dengan hati-hati, ia membukanya. Di dalamnya ada sebuah surat, sebuah giok kecil berbentuk naga, dan sebuah ikat rambut perak yang tampak antik.
Surat itu bertuliskan:
"Tianji, ini adalah giok pelindung — milik gurumu dulu. Aku menyimpannya selama ini. Dan ikat rambut ini… ini milik Yue'er yang kau curi saat pertama kali kau datang ke desa. Aku menemukannya di pantai. Kukira kau akan senang menyimpannya kembali. Selamat berbahagia, kawanku. — Hong."
Tianji tertawa. "Dia menyimpan ikat rambut yang dulu kusangkakan tali!"
"Mana! Itu ikat rambut kesayanganku!" Yue'er mengambil ikat rambut itu dengan girang. "Aku pikir sudah hilang dimakan ombak! Ternyata Lady Hong yang menyimpannya."
"Ia benar-benar memperhatikan detail kecil."
"Kau tahu," Yue'er menatap Tianji. "Aku suka Lady Hong. Ia wanita yang baik."
"Aku juga suka. Tapi aku tidak mencintainya."
"Aku tahu. Aku cemburu tadi, tapi sekarang aku tahu — kau memilihku. Dan itu yang penting."
Tianji mengangguk. Ia memeluk Yue'er erat.
Di langit, bintang-bintang berkelip. Bulan bersinar terang. Malam pertama pernikahan mereka dipenuhi dengan ketenangan dan kebahagiaan yang tak terlukiskan.
Di tengah keheningan malam, Tianji berbisik, "Terima kasih telah menjadi istriku, Yue'er."
Yue'er tersenyum. "Terima kasih telah menjadi suamiku. Sekarang, ayo tidur. Besok kau harus memancing — kita perlu uang untuk hidup."
Tianji tertawa. Benarlah, bahkan Yue'er di malam pernikahan pun tetap praktis dan cerewet. Dan ia menyukainya.