Hari itu dimulai seperti biasa. Tianji bangun sebelum fajar, meregangkan tubuh yang pegal, lalu pergi ke sumur untuk menimba air. Namun saat ia hendak kembali ke gubuk, ia melihat sesuatu yang tidak biasa di kejauhan.
Debu mengepul di jalan menuju Desa Muara.
"Ada apa?" tanya Yue'er yang keluar dengan sendok di tangan.
"Ada yang datang," jawab Tianji.
Butiran debu semakin dekat, dan dari baliknya muncul iring-iringan kuda. Setidaknya sepuluh orang berkuda dengan pakaian serba hitam, dipimpin oleh seorang perempuan berjubah merah menyala.
Yue'er memicingkan mata. "Lady Hong."
Tianji tertegun. Sudah berbulan-bulan ia tidak mendengar kabar tentang Lady Hong — mantan pemimpin Aliansi Pendekar Laut, perempuan yang membantunya melawan kekuatan kegelapan di masa lalu.
Iring-iringan berhenti di depan gubuk. Lady Hong turun dari kudanya dengan anggun. Jubah merahnya berkibar tertiup angin laut. Rambutnya yang putih masih tergerai indah, dan wajahnya — meskipun sudah tidak muda lagi — memancarkan aura kebijaksanaan yang sulit ditandingi.
"Tianji," sapanya.
"Lady Hong," Tianji membalas dengan suara sedikit serak. "Apa yang membawamu ke sini?"
"Apakah kau tidak senang melihatku?"
"Tentu senang. Tapi kau datang dengan rombongan besar. Pasti ada urusan penting."
Lady Hong tersenyum. "Kau memang selalu cerdas. Tapi tidak perlu khawatir — aku datang sebagai teman, bukan sebagai utusan perang."
Yue'er melangkah maju. "Silakan masuk, Lady Hong. Kami sedang sarapan. Mau bergabung?"
Lady Hong menatap Yue'er dengan heran. "Kau… kau adalah Yue'er, bukan? Gadis yang selalu mengikuti Tianji kemana-mana?"
"Bukan mengikuti," jawab Yue'er, "tapi menemani. Ada bedanya."
Lady Hong tertawa. "Oh, aku suka gadis ini. Dia punya semangat."
Mereka masuk ke gubuk. Rombongan Lady Hong menunggu di luar, menjaga kuda-kuda mereka. Di dalam, Nek Rukayah yang mendengar kedatangan tamu penting segera menyiapkan teh dan kue tradisional.
"Maaf, hidangan kami sederhana," kata Nek Rukayah sambil meletakkan nampan.
"Ini lebih dari cukup," jawab Lady Hong. "Terima kasih."
Mereka duduk di meja kayu bundar. Tianji menuangkan teh untuk Lady Hong, sementara Yue'er duduk di sampingnya, tidak sabar menunggu percakapan.
"Jadi," Tianji memulai, "ada apa dengan dunia persilatan?"
Lady Hong menyesap tehnya. "Jianghu damai. Itulah yang ingin kusampaikan."
"Dama?" Tianji mengerutkan kening.
"Ya. Setelah kau menghancurkan Mahkota Penyerap dan melepaskan kekuatanmu, gelombang energi besar menyebar ke seluruh lautan. Kekuatan-kekuatan gelap yang bersembunyi di balik bayang-bayang mulai melemah. Para pendekar yang dulu terpengaruh oleh kegelapan kini sadar kembali."
"Mereka sadar?"
"Banyak yang kemudian menyerahkan diri. Beberapa memilih bertobat dan hidup sebagai pertapa. Beberapa lainnya kembali ke keluarga mereka." Lady Hong tersenyum. "Dunia persilatan tidak lagi porak-poranda seperti dulu. Ada perdamaian."
Tianji mendengar berita itu dengan perasaan campur aduk. "Jadi perjuanganku tidak sia-sia."
"Tidak sia-sia sama sekali," tegas Lady Hong. "Pengorbananmu — melepaskan MP yang sudah menjadi bagian dari dirimu — itu adalah tindakan yang paling mulia yang pernah kusaksikan dalam hidupku."
Yue'er menyeringai. "Aku bilang kan, kau hebat."
Tianji tersenyum. "Tapi aku tidak melakukannya sendirian. Ada Yue'er, ada kau, ada Xuan Qingzi, ada semuanya."
Lady Hong mengangguk. "Kau rendah hati seperti biasanya. Itulah yang membedakanmu dari para pendekar lain — kau tidak pernah menganggap dirimu lebih hebat dari yang lain."
Mereka berbincang cukup lama. Lady Hong bercerita tentang apa yang terjadi setelah Tianji kehilangan MP-nya — tentang bagaimana aliansi pendekar berhasil membangun kembali tatanan di Jianghu, tentang pertempuran-pertempuran kecil yang masih terjadi tapi bisa diredam, tentang para pendekar muda yang mulai bermunculan dengan semangat baru.
"Aku sudah tua," kata Lady Hong di tengah percakapan. "Sudah waktunya aku pensiun."
"Pensiun?" Tianji terkejut. "Kau adalah pemimpin Aliansi Pendekar Laut yang paling disegani."
"Itu dulu. Sekarang ada yang lebih muda dan lebih kuat." Lady Hong tersenyum. "Sudah waktunya aku menikmati sisa hidupku."
"Kau akan tinggal di mana?"
"Aku belum tahu. Mungkin di sebuah desa kecil di tepi pantai, seperti kau." Lady Hong menatap sekeliling gubuk. "Tempat ini sederhana tapi damai. Aku suka."
"Kalau kau mau, kau bisa tinggal di sini," tawar Nek Rukayah. "Desa ini masih punya banyak tanah kosong. Bisa dibangun rumah."
Lady Hong tertawa. "Terima kasih, Nek. Tapi untuk saat ini, aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan di ibu kota."
"Kau datang jauh-jauh hanya untuk memberitahu bahwa Jianghu damai?" tanya Tianji.
"Tidak hanya itu." Lady Hong meletakkan cangkir tehnya. "Aku juga ingin melihat dengan mataku sendiri, apakah kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja."
"Benarkah?"
Tianji mengangguk. "Lihatlah. Aku punya rumah. Punya pekerjaan sebagai nelayan. Punya Yue'er di sisiku. Apa lagi yang kurang?"
Lady Hong menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak melihat bayangan penyesalan di matamu. Itu bagus."
"Aku tidak menyesal lepaskan MP-ku," kata Tianji dengan tegas. "Aku sudah memikirkannya ribuan kali sejak hari itu. Dan setiap kali aku sampai pada kesimpulan yang sama — aku tidak menyesal."
"Mengapa?"
"Karena kekuatan itu hampir menghancurkanku. Ia membuatku lupa siapa diriku. Ia membuatku berpikir bahwa aku adalah dewa, padahal aku hanya manusia." Tianji meraih tangan Yue'er yang ada di sampingnya. "Sekarang aku ingat siapa diriku. Aku hanyalah Tianji. Anak seorang nelayan. Dan itu sudah cukup."
Lady Hong tersenyum. "Kau telah menjadi pendekar sejati, Tianji. Bukan karena kekuatanmu, tapi karena hatimu."
"Terima kasih, Lady Hong."
"Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi apa yang kau lakukan — melepaskan kekuatan yang paling didambakan oleh setiap pendekar di Jianghu — itu membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada menghadapi seribu musuh sekaligus."
Suasana hening. Tianji menunduk, merenungkan kata-kata Lady Hong.
"Aku hanya melakukan apa yang benar," katanya.
"Itulah bedanya kau dengan yang lain," kata Lady Hong. "Kau melakukan apa yang benar, bukan apa yang menguntungkan."
Yue'er yang sejak tadi diam, tiba-tiba berkata, "Lady Hong, apakah kau lihat wajah Tianji saat ini? Dia tidak terlihat seperti pendekar besar, kan? Dia terlihat seperti nelayan biasa yang baru pulang melaut."
Lady Hong tertawa. "Itulah keindahannya. Pendekar sejati tidak perlu membawa pedang untuk membuktikan dirinya."
"Tapi dia tetap pendekar," lanjut Yue'er, "hanya saja jalannya berbeda."
"Kau benar, Yue'er. Dan kau — kau adalah alasan lain mengapa Tianji bisa bertahan."
Yue'er terkejut. "Aku?"
"Ya. Aku tahu dari laporan mata-mataku bahwa kau tetap bersamanya selama ini. Bahkan saat dia memutuskan untuk melepaskan MP-nya, kau tidak pergi. Itu tidak mudah."
"Memang tidak mudah," aku Yue'er. "Tapi aku tidak pernah berpikir untuk pergi. Karena dia adalah orang pertama yang membuatku merasa bahwa aku berharga."
Tianji menatap Yue'er dengan haru. "Yue'er…"
"Apa? Itu benar! Sebelum bertemu kau, aku hanyalah anak jalanan yang tidak dianggap siapa pun. Tapi kau — kau memperlakukanku seperti manusia. Kau memberiku tempat tinggal, kau memberiku makanan, kau memberiku —"
"Satu keluarga."
Yue'er tersenyum, matanya basah. "Ya. Satu keluarga."
Lady Hong menatap mereka berdua dengan pandangan seorang ibu yang melihat anak-anaknya bahagia. "Kalian berdua pantas satu sama lain."
"Terima kasih, Lady Hong," kata Tianji.
"Nanti, saat aku sudah pensiun, aku akan sering berkunjung ke sini. Aku berharap kalian tidak bosan."
"Justru sebaliknya," kata Yue'er. "Kami akan menantikan kunjunganmu."
Lady Hong tinggal selama sehari di Desa Muara. Ia berjalan-jalan keliling desa, berbincang dengan penduduk, dan bahkan ikut membantu Pak Karto memperbaiki jala. Para penduduk desa menyambutnya dengan ramah, dan Lady Hong — untuk pertama kalinya — merasa seperti manusia biasa yang tidak dibebani oleh status pemimpin aliansi.
Saat matahari terbenam, Tianji mengajak Lady Hong ke puncak bukit tempat ia biasa duduk bersama Yue'er. Dari sana, pemandangan laut dan desa terlihat jelas.
"Ini pemandangan favoritku," kata Tianji.
"Cantik," puji Lady Hong. "Tidak heran kau betah di sini."
"Aku dulu tidak pernah menikmati pemandangan seperti ini," Tianji melanjutkan. "Saat aku masih memiliki MP, aku terbang di atas awan, melihat gunung-gunung dari ketinggian, menyeberangi lautan dalam sekejap. Semua pemandangan itu luar biasa, tapi aku tidak bisa menikmatinya. Karena pikiranku selalu dipenuhi dengan target berikutnya, kekuatan berikutnya."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku bisa duduk di sini berjam-jam, hanya menikmati angin dan pemandangan. Tanpa perlu berpikir tentang apa pun."
Lady Hong tersenyum. "Itulah yang disebut kedamaian, Tianji."
"Ya. Kedamaian."
Mereka diam cukup lama. Lady Hong tiba-tiba berkata, "Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan."
"Apa?"
"Xuan Qingzi."
Tianji menoleh. "Kau punya kabar tentangnya?"
"Dia masih hidup," kata Lady Hong. "Aku mendapat laporan bahwa dia terlihat di Pegunungan Es Utara, hidup sebagai pertapa. Dia tidak lagi terlibat dalam urusan Jianghu."
Tianji merasakan dadanya bergetar. Xuan Qingzi masih hidup. Ia masih ada di dunia ini.
"Apakah kau ingin menemuinya?" tanya Lady Hong.
Tianji menggeleng pelan. "Tidak. Dia sudah memilih jalannya sendiri. Aku harus menghormati itu."
"Kau yakin?"
"Aku yakin." Tianji menatap ke arah laut. "Dulu, mungkin aku akan mencarinya. Tapi sekarang… aku sudah menemukan tempatku. Aku sudah menemukan orang yang tepat untukku. Tidak perlu kembali ke masa lalu."
"Kau telah dewasa, Tianji. Lebih dari yang kau kira."
"Terima kasih, Lady Hong."
Mereka kembali ke gubuk saat malam tiba. Yue'er sudah menyiapkan makan malam — ikan bakar, sayur bening, dan sambal terasi yang pedas menggigit. Lady Hong memujinya dan bahkan meminta resep.
"Kau harus mengajariku membuat sambal ini," kata Lady Hong. "Ini yang paling enak yang pernah kumakan."
"Tentu," jawab Yue'er bangga. "Ini rahasia keluargaku."
"Aku pikir kau tidak punya keluarga?"
"Sekarang aku punya."
Lady Hong tertawa. "Kau benar. Sekarang kau punya."
Setelah makan malam, Lady Hong berpamitan. Hari sudah malam, tapi ia bersikeras harus berangkat.
"Perjalananku masih panjang," katanya. "Besok aku harus sudah sampai di ibu kota."
"Hati-hati di jalan," pesan Tianji.
"Kau juga, Tianji. Jaga Yue'er baik-baik."
"Pasti."
Sebelum naik kuda, Lady Hong menepuk pundak Tianji. "Ingat apa yang kuucapkan tadi. Kau telah menjadi pendekar sejati. Bukan karena kekuatanmu, tapi karena hatimu."
"Terima kasih, Lady Hong."
"Dan satu lagi…"
"Apa?"
"Jika kau dan Yue'er menikah, aku harus diundang."
Tianji dan Yue'er tersipu bersamaan.
"L-Lady Hong!" seru Yue'er.
"Aku serius. Jangan lupa." Lady Hong tertawa lalu naik ke kudanya. "Sampai jumpa!"
Iring-iringan melaju meninggalkan desa. Tianji dan Yue'er berdiri di dermaga, menyaksikan mereka pergi hingga hilang dari pandangan.
"Lady Hong baik," komentar Yue'er.
"Ia memang baik."
"Dan ia benar — kau adalah pendekar sejati."
Tianji tersenyum. "Aku hanya seorang nelayan."
"Nelayan yang menjadi pendekar sejati. Itu tidak bertentangan."
Mereka kembali ke gubuk, berjalan beriringan di bawah sinar bulan. Malam itu, Tianji merasa bahwa hidupnya sudah lengkap. Ia tidak lagi mencari kekuatan. Tidak lagi mencari pengakuan. Ia hanya ingin hidup tenang di desa kecil ini, bersama Yue'er, bersama Nek Rukayah, dan bersama penduduk Desa Muara yang sudah menerimanya.
Di gubuk, sebelum tidur, Tianji melirik ke langit malam. Bintang-bintang berbinar, dan angin bertiup pelan.
"Terima kasih," bisiknya entah kepada siapa.
Di sampingnya, Yue'er sudah tertidur, napasnya teratur. Tianji menatapnya, lalu tersenyum.
Ia ingat kata-kata Lady Hong: "Kau telah menjadi pendekar sejati."
Bukan Pendekar Lautan. Bukan Penyerap Kekuatan. Tapi manusia biasa yang memilih untuk hidup dengan benar.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Esok harinya, Tianji kembali melaut. Laut pagi itu tenang, angin sepoi-sepoi. Ia melemparkan jalanya, menariknya masuk, dan di dalamnya ada ikan-ikan segar yang siap dijual di pasar.
Hidup terus berjalan.
Dan Tianji, mantan Penyerap Lautan, tersenyum bahagia.
Karena ia akhirnya sadar:
Kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan menyerap energi alam, tetapi pada kemampuan untuk melepaskannya.
Damai, bukan perang.
Cinta, bukan ambisi.
Dan kebahagiaan sederhana sebagai manusia biasa, yang tidak perlu menjadi dewa untuk merasa sempurna.