Dunia berubah.
Satu detik Tianji berada di dalam rongga pusaran, tangan Yue'er menggenggam erat tangannya. Detik berikutnya, ia terbangun di dunia lainโsebuah dunia yang gelap, sunyi, dan tak berujung. Tidak ada air, tidak ada kabut, tidak ada Yue'er. Hanya kegelapan yang membentang tanpa batas, seperti berada di ruang hampa di antara bintang-bintang.
"Yue'er?" panggil Tianji, suaranya bergema aneh di ruang kosong itu.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang begitu pekat hingga ia bisa mendengar debar jantungnya sendiri.
"Kau tidak sendirian, bocah."
Suara itu datang dari segala arah. Tianji berputar, mencari sumbernya. Dari kegelapan, perlahan, sebuah wujud terbentukโkabut hitam pekat yang berkumpul menjadi bentuk manusia. Tinggi, besar, dengan dua mata merah menyala di tempat wajah seharusnya berada.
"MP," bisik Tianji. "Kau… kau punya wujud?"
"Tentu saja," jawab wujud itu, suaranya seperti gesekan batu. "Aku bukan sekadar kekuatan Buta. Aku adalah entitas. Aku adalah kesadaran. Aku telah ada sejak sebelum manusia mengenal api."
"Aku tidak peduli siapa atau apa kau," kata Tianji, menegakkan punggungnya. "Aku mau kau keluar dari tubuhku."
"Ah, permintaan yang sombong dari seorang manusia kecil." Wujud itu tertawa, tawanya seperti gemuruh petir. "Kau pikir kau bisa memilih siapa yang tinggal dan pergi dari tubuhmu? Aku bukan tamu di tubuhmu, Tianji. Aku adalah bagian dari dirimu. Tanpaku, kau tidak ada. Aku yang memberimu kekuatan."
"Aku tidak butuh kekuatanmu! Aku tidak pernah menginginkannya!"
"Bohong!" Suara itu meraung, membuat dunia gelap bergetar. "Kau menikmati kekuatanku. Setiap kali kau menggunakanku untuk mengalahkan musuh, setiap kali kau merasakan energi yang mengalir di pembuluh darahmu, ada kebanggaan di hatimu. Kau menyangkalnya, tapi kau tahu itu benar."
Tianji terdiam. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Karena ada kebenaran di dalamnya.
Ia ingat saat-saat ketika ia menggunakan MPโrasa kekuasaan yang memabukkan, sensasi tak terkalahkan yang membuatnya lupa diri. Ia ingat bagaimana ia merasa hidup saat mengendalikan kekuatan yang bisa menghancurkan gunung.
Tapi ia juga ingat yang lainnya. Ketakutan. Kesepian. Penderitaan.
"Mungkin kau benar," kata Tianji akhirnya. "Mungkin aku pernah menikmati kekuatanmu. Tapi itu dulu. Sekarang aku tahu bahwa kekuatan tanpa kendali adalah kehancuran. Aku tahu bahwa menjadi kuat tidak berarti menjadi bebas."
"Kau salah," desis wujud itu. "Kekuatan adalah satu-satunya kebebasan. Tanpa kekuatan, kau hanya daun yang terbang ditiup angin. Dengan kekuatanku, kau bisa menjadi angin itu sendiri."
"Aku tidak ingin menjadi angin. Aku hanya ingin menjadi manusia."
"Manusia itu lemah. Manusia itu fana. Dalam seratus tahun, kau akan mati dan dilupakan. Tapi denganku, kau bisa hidup selamanya. Kau bisa menjadi legenda."
"Legenda yang kesepian? Legenda yang ditakuti semua orang?" Tianji menggeleng. "Aku lebih memilih hidup singkat yang berarti daripada keabadian yang hampa."
Wujud itu menggeram, membuat dunia gelap bergetar. "Kau benar-benar bodoh. Tapi tidak apa-apa. Aku akan membuatmu mengerti."
Tiba-tiba, dunia di sekitar Tianji berubah. Ia tidak lagi berada di ruang gelap. Ia kini berdiri di tengah medan perangโmayat bergelimpangan di mana-mana, darah mengalir seperti sungai, api membakar desa-desa di kejauhan.
"Apa… apa ini?" Tianji berbisik, matanya melebar.
"Ini masa depan," jawab suara MP itu. "Masa depan jika kau melepaskanku. Tanpaku, kau tidak bisa melindungi siapa pun. Orang-orang yang kau cintai akan mati. Desamu akan hancur. Dan kau, Tianji, akan menjadi saksi bisu kehancuran semua yang kau sayangi."
"Tidak… ini tidak benar…" Tianji mundur, tangannya gemetar.
"Lihat!" Suara MP itu meraung. Di kejauhan, Tianji melihat Yue'erโtergeletak di tanah, tidak bergerak, pakaiannya berlumuran darah.
"YUE'ER!" Tianji berteriak, berlari ke arahnya. Tapi semakin ia berlari, semakin jauh tubuh Yue'er itu menghilang.
"Aku bisa melindunginya," bisik suara MP itu, kini terdengar lebih lembut, lebih persuasif. "Denganku, kau bisa melindungi semua orang. Kau tidak perlu takut kehilangan siapa pun. Aku bisa memberimu kekuatan yang cukup untuk menghancurkan semua musuh."
Tianji berhenti berlari. Ia menunduk, bahunya bergetar. Air mata mulai mengalir di pipinya.
Tapi laluโdari sudut pikirannya, ia mendengar suara lain. Suara yang ia kenal. Suara yang memberinya kekuatan.
"Aku di sini, Tianji. Aku tidak akan pergi."
Yue'er.
Tianji mengangkat kepalanya. Ia menatap pemandangan mengerikan di sekitarnya, lalu berkata dengan suara tegas:
"Ini hanya ilusi. Kau tidak bisa menipuku."
"Apa?" Suara MP itu terdengar terkejut.
"Aku kenal Yue'er. Gadis itu tidak akan mati semudah itu. Dan aku juga tidak akan menjadi lemah tanpamu. Kekuatan sejati bukan berasal dari MP, tapi dari hati." Tianji mengepalkan tinjunya. "Dan hatiku sudah memutuskan: kau harus pergi."
Dunia hancur. Medan perang, mayat, apiโsemuanya runtuh seperti kaca yang pecah. Tianji kembali berada di ruang gelap, berhadapan dengan wujud MP yang kini tampak lebih besar, lebih mengancam.
"Kau pikir kau bisa mengusirku begitu saja?" geram MP itu. "Aku sudah bersarang di tubuhmu selama bertahun-tahun! Aku sudah menjadi bagian dari jiwa dan raga mu!"
"Kalau begitu, aku akan merobek bagian itu."
"Kau tidak bisa! Tanpaku, kau akan mati! Tubuhmu tidak akan bertahan!"
"Lebih baik mati sebagai manusia daripada hidup sebagai monster."
"Kau pikir kau bisa menjadi manusia biasa setelah bertahun-tahun bersamaku?" Suara MP itu kini terdengar sinis, penuh ejekan. "Tubuhmu sudah terbiasa dengan kekuatanku. Tanpaku, kau hanya akan menjadi orang cacat yang tidak bisa apa-apa. Orang-orang akan menertawakanmu. Mereka akan menginjak-injakmu."
"Aku sudah direndahkan sepanjang hidupku," balas Tianji dengan tenang. "Tidak ada yang baru. Tapi selama ini, aku direndahkan karena MP di dalam tubuhku. Karena orang takut padaku. Kali ini, jika aku direndahkan, setidaknya itu karena diriku sendiriโbukan karena kekuatan terkutuk di dalam diriku."
"Kau sungguh naif!" MP itu tertawa keras. "Dunia ini tidak seindah yang kau bayangkan. Tanpa kekuatan, kau tidak akan bisa bertahan. Kau akan dihancurkan oleh mereka yang lebih kuat. Kau akan menjadi korban dari ambisi orang lain."
"Biarkanlah," kata Tianji. "Aku lebih baik dihancurkan sebagai manusia daripada menjadi algojo dengan kekuatan iblis. Setidaknya, jika aku mati, aku mati dengan bermartabat."
"Martabat? Apa gunanya martabat saat kau sudah mati?"
"Semuanya," jawab Tianji. "Karena tanpa martabat, hidup adalah perbudakan. Dan aku sudah cukup lama menjadi budakโbudak dari kekuatanmu, budak dari ketakutanku sendiri. Sekarang, aku memilih untuk merdeka."
MP itu meraum, amarahnya meledak. Wujud hitamnya membesar, memenuhi seluruh ruang. Dari tubuhnya, ribuan tentakel hitam melesat menuju Tianji, menusuk tubuhnya.
Tianji menjeritโrasa sakit yang luar biasa, seperti tubuhnya dicabik-cabik. Tapi ia tidak jatuh. Ia berdiri tegak, matanya menyala dengan tekad.
"Aku… tidak… akan… menyerah!" teriaknya.
Tiba-tiba, dari dalam dadanya, cahaya keemasan mulai bersinar. Cahaya itu hangat, lembutโsama hangatnya dengan sentuhan Yue'er. Cahaya itu menyebar, membakar tentakel-tentakel hitam yang menusuk tubuhnya.
"Apa… apa ini?" suara MP itu bergetar.
"Ini adalah ikatan kita," kata Tianji. "Qi Yue'er. Cintanya. Keberaniannya. Kau tidak bisa melawan itu, MP. Karena cinta adalah sesuatu yang tidak pernah bisa kau pahami."
Cahaya keemasan itu semakin terang. Kini ia membungkus Tianji sepenuhnya, membuatnya bersinar seperti matahari mini di tengah kegelapan. Wujud MP itu menjerit, tubuh hitamnya mulai hancur terkena cahaya.
"Tidak! Ini belum berakhir!" MP itu meraung. "Aku akan kembali! Aku selalu kembali! Tidak ada yang bisa menghancurkan Mutiara Penghancur!"
"Mungkin kau benar," kata Tianji. "Mungkin kau tidak bisa dihancurkan. Tapi kau bisa dikurung. Di tempat yang tidak akan pernah bisa kau sakiti siapa pun lagi."
Dengan kekuatan penuh, Tianji mendorong. Cahaya keemasan meledak, menghancurkan wujud MP itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu berterbangan, lalu hilang ditelan kegelapan.
Tianji jatuh berlutut, napasnya memburu. Tubuhnya terasa kosongโsangat kosong, seperti ada lubang raksasa di dadanya. Tapi anehnya, ia tidak takut. Ia justru merasa… bebas.
"Tianji!"
Suara itu nyata kali ini. Tianji membuka matanya dan mendapati dirinya kembali di rongga pusaran. Yue'er masih di sampingnya, tangannya masih menggenggam erat tangannya. Wajah Yue'er basah oleh air mata.
"Kau kembali!" Yue'er tertawa sambil menangis. "Kau kembali! Aku pikir… aku pikir kau hilang!"
"Aku di sini," kata Tianji, suaranya serak. "Aku tidak ke mana-mana."
"Tadi kau diam saja. Matamu kosong. Aku terus memanggilmu, tapi kau tidak menjawab. Aku sangat takut…" Yue'er tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tenggorokannya tersekat oleh isak tangis.
"Maaf," bisik Tianji. "Maaf sudah membuatmu khawatir."
"Kau bodoh," Yue'er memukul dada Tianji dengan lemah. "Bodoh sekali. Jangan pernah melakukan itu lagi."
"Aku janji."
Yue'er menyandarkan kepalanya di dada Tianji, tangisnya perlahan mereda. Tianji membelai rambutnya dengan lembut, merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tapi kedamaian itu tidak bertahan lama.
"Belum selesai," kata Tianji tiba-tiba.
Yue'er mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?"
"MP itu… ia belum sepenuhnya lepas. Aku mengalahkannya di alam batin, tapi secara fisik, ia masih di dalam tubuhku." Tianji merasakan dadanyaโmasih ada sisa-sisa MP yang tertinggal, seperti akar yang masih menempel di tanah. "Kita harus menyelesaikan ritualnya."
"Baik," kata Yue'er, mengusap air matanya. "Apa yang harus kulakukan?"
Tianji meraih kedua tangan Yue'er. Ikatan Qi mereka yang sempat terputus kini mulai tersambung kembali. Ia bisa merasakan kehangatan Yue'er mengalir masuk, mengisi kekosongan di dadanya.
"Kita harus bersama-sama mendorong MP keluar," kata Tianji. "Qi-mu akan menjadi pelindung, mencegah MP menghancurkan tubuhku saat ia lepas."
"Dan kau?" tanya Yue'er.
"Aku harus ikhlas melepaskannya. Benar-benar ikhlas. Karena selama ada bagian dari diriku yang masih ingin mempertahankan kekuatan itu, MP tidak akan pergi."
Yue'er mengangguk. "Kau bisa melakukannya, Tianji. Aku percaya padamu."
Tianji menutup matanya. Ia merasakan MP ituโmasih ada, bersarang di lubuk terdalam jiwanya. Ia merasakan godaannyaโbisikan-bisikan manis yang menjanjikan kekuatan, kekuasaan, keabadian.
Tapi ia juga merasakan tangan Yue'er di tangannya. Hangat. Nyata. Penuh cinta.
Dan ia membuat pilihannya.
Dengan napas panjang, Tianji melepaskan. Bukan MP-nya yang ia lepaskan, tapi keinginannya untuk mempertahankannya. Keinginannya untuk menjadi kuat. Keinginannya untuk tidak pernah merasa lemah lagi.
"Aku ikhlas,"bisiknya. "Aku ikhlas menjadi manusia biasa."
Dan MP ituโMutiara Penghancurโmulai melepaskan cengkeramannya.
Prosesnya perlahan dan menyakitkan. Seperti mencabut akar pohon yang sudah tumbuh selama bertahun-tahun. Setiap serat MP yang lepas dari tubuhnya terasa seperti robekan kecil di jiwanya.
Tapi Tianji tidak berteriak. Ia menggigit bibirnya, menahan sakit, memfokuskan pikirannya pada Yue'er. Pada cinta. Pada kehidupan yang menunggu di luar pusaran ini.
"Aku bangga padamu," bisik Yue'er, air matanya jatuh bercampur dengan keringat. "Kau yang terkuat yang pernah kukenal."
Tianji tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa beban.
Dan perlahan, dari dadanya, sebutir mutiara hitam mulai muncul.