๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 71: KEMBALI KE JIANGHU

← BAB 70: FINAL โ€” PENYUCIAN LAUTโ€ฆ BAB 72: PANGERAN NING BANGKIT →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Debu-debu beterbangan di sepanjang jalan setapak yang membelah perbukitan hijau di utara Kota Lintas Angin. Langit cerah, burung-burung bernyanyi riang, seolah alam pun turut merayakan sesuatu yang telah lama dinanti. Dua sosok berjalan beriringanโ€”seorang pemuda berusia enam belas tahun dengan tubuh tegap namun raut wajah yang menyimpan kedalaman melebihi usianya, dan seorang gadis berusia delapan belas tahun dengan rambut panjang terurai sebahu, matanya yang bening memancarkan kegembiraan yang sulit disembunyikan.

Tianji melangkah dengan kaki yang ringan. Setelah berbulan-bulan bergulat dengan kegelapan, setelah pertempuran sengit melawan Lord Hitam di dasar Lautan Kabut, akhirnya ia bisa menghirup udara segar dunia atas lagi. Fragmen kelima telah diamankan. Keseimbangan alam semesta telah dipulihkan. Dan yang paling membahagiakanโ€”Yue'er berada di sisinya, utuh, hidup, tersenyum.

"Tianji, lihat!" Yue'er menunjuk ke kejauhan. Di balik celah bukit, tampak atap-atap Kota Lintas Angin menjulang. Cerobong asap tipis mengepul dari dapur-dapur kedai. Suara ramai terdengar samarโ€”suara kehidupan yang kembali normal setelah badai berlalu.

Yue'er menarik napas panjang, matanya berbinar. "Tuhan, aku hampir lupa bagaimana rasanya melihat keramaian. Di Lautan Kabut, yang ada hanya kabut putih dan bayangan-bayangan mengerikan. Aku rindu suara orang berjualan, anak-anak berlarian, dan bau rempah dari kedai-kedai."

"Aku juga," Tianji mengakui. "Tapi aku masih ingat bagaimana rasanya diusir dari kota ini. Dipandang curiga. Dilempari batu." Suaranya mengecil. "Aku tidak akan pernah lupa."

Yue'er menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Tianji dan meraih kedua bahunya. "Dengar, Tianji. Itu dulu. Sekarang kau pulang sebagai pahlawan bukan sebagai buronan. Lord Hitam yang mengatur semua fitnah itu sudah mati. Pangeran Ning sendiri yang mengumumkan bahwa kau tidak bersalah. Tidak ada satu orang pun di kota ini yang akan berani melemparimu batu lagi." Ia tersenyum kecil. "Aku jamin. Kalau ada yang coba-coba, aku yang akan melayani mereka."

Tianji tersenyum mendengar ancaman setengah bercanda itu. "Kau mau memukuli seluruh penduduk kota?"

"Kalau perlu!" Yue'er mengangkat tinjunya. "Aku sudah melalui Lautan Kabut untukmu, apa artinya melawan beberapa pedagang pasar?"

"Aku tidak pernah menyangka akan kembali ke sini," kata Tianji pelan. Suaranya bergetar halus. "Dulu aku pergi dari sini sebagai buronan. Sekarang…"

"Sekarang kau pulang sebagai pahlawan," sela Yue'er dengan senyum cerah. Ia merangkul lengan Tianji. "Lord Hitam sudah kalah. Nama Tianji sudah bersih. Semua orang akan tahu kebenaran."

Tianji menggeleng. "Aku tidak butuh mereka memujaku. Aku hanya ingin hidup tenang."

"Kau memang aneh," Yue'er tertawa. "Kebanyakan orang berebut nama dan pujian. Tapi kauโ€”"

"Sudah cukup aku menjadi pusat perhatian Lord Hitam." Tianji tersenyum getir. "Aku lebih suka menjadi bayangan."

Yue'er menjepit lengannya. "Kalau kau bayangan, aku akan menjadi bayanganmu juga. Bayangan berpasangan."

Mereka tertawa bersama. Udara terasa lebih manis.

Saat mereka memasuki gerbang kota, beberapa pedagang kaki lima menoleh. Seorang pedagang kue mangkok tua mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu berseru, "Tianji? Tianji Penyerap Lautan?!"

Nama itu menyebar seperti api. Dalam sekejap, puluhan orang berkerumun. Tianji kagetโ€”ia tidak menyangka sambutan sehangat ini. Beberapa orang bersujud, yang lain bertepuk tangan, dan seorang nenek tua menangis haru sambil memegang tangannya.

"Terima kasih, Tuan Tianji!" seru seorang pemuda. "Anda telah menyelamatkan desa kami! Lord Hitam telah meneror kita selama bertahun-tahun!"

"Kami dengar kau mengalahkannya sendirian!" sambung yang lain.

Tianji mengangkat tangan. "Bukan aku sendirian. Yue'er, dan banyak orang lain yang berjasa."

Tapi kerumunan itu tidak peduli. Mereka terus bersorak. Seseorang melemparkan bunga ke arahnya. Seseorang lain memberinya sekarung beras. Tianji bingung harus berbuat apaโ€”ia tidak pernah terbiasa dengan perhatian seperti ini.

Untungnya, suara berat memecah kerumunan.

"Minggir! Beri jalan untuk tamu istana!"

Kerumunan terbelah. Seorang wanita paruh baya keluar dari balik pintu kedai teh yang besarโ€”Lady Hong. Ia tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Di belakangnya berdiri beberapa pelayan dan pengawal istana.

"Tianji," kata Lady Hong dengan suara bergetar. "Akhirnya kau kembali."

Tianji membungkuk dalam. "Nenek Hong. Akuโ€”"

Lady Hong melangkah maju dan memeluknya erat. "Sudah, sudah. Tidak perlu bicara banyak. Yang penting kau selamat."

Yue'er tersenyum haru melihat pertemuan itu. Ia tahu betapa Lady Hong telah menjadi seperti nenek bagi Tianji.

Mereka dibawa masuk ke kedai teh yang megahโ€”Kedai Seribu Rasa, tempat Tianji pertama kali bertemu Lady Hong berbulan-bulan lalu. Semua terasa berbeda sekarang. Interior kedai yang dulu tampak asing kini terasa seperti rumah.

Lady Hong menyuruh para pelayan menyiapkan teh terbaik dan kue-kue favorit Tianji. Mereka duduk di meja bundar di sudut ruangan, jauh dari keramaian.

"Ceritakan semuanya," pinta Lady Hong sambil menuangkan teh. "Dari awal."

Tianji menarik napas dalam. Ia menceritakan perjalanannyaโ€”dari pertempuran di Lautan Kabut, pengorbanan Fragmen, hingga akhirnya Lord Hitam berhasil dikalahkan. Ia menceritakan juga tentang Yue'er yang menemaninya di setiap langkah, tentang rahasia Fragmen yang kini aman tersegel.

Lady Hong mendengarkan dengan saksama. Kadang ia mengangguk, kadang ia menghela napas. Ketika Tianji selesai, ia diam sejenak.

"Kau telah melakukan hal yang luar biasa," kata Lady Hong akhirnya. "Tapi aku khawatir… Perjalanan ini pasti meninggalkan luka."

Tianji menunduk. "Ada sesuatu yang harus kukatakan, Nenek."

"Apa itu?"

Tianji diam sejenak. Ia merasakan energi aneh beredar di dalam tubuhnyaโ€”tenaga yang bukan miliknya. "MP-ku… semakin kuat. Sangat kuat. Sejak aku menyerap Fragmen kelima, ada sesuatu yang berubah. Seperti ada lautan di dalam dadaku."

Lady Hong mengerutkan dahi. "Biarkan aku merasakannya."

Ia meraih pergelangan tangan Tianji dan menutup mata. Beberapa saat berlalu. Wajah Lady Hong berubah serius. Ia melepaskan genggaman.

"Tianji… energi ini bukan energi biasa. Ini adalah jejak dari Lautan Purba. Fragmen-fragmen itu telah meninggalkan bekas yang dalam pada inti MP-mu."

"Apa maksud Nenek?"

"MP-mu terus tumbuh," kata Lady Hong perlahan. "Dan jika terus begini, suatu hari nanti MP itu akan meledak. Kau tidak bisa menampung kekuatan Lautan Purba dalam tubuh manusia biasa."

Yue'er yang sedari tadi diam, langsung bereaksi. "Apa maksudnya?! Apakah Tianji dalam bahaya?"

Lady Hong menghela napas. "Untuk saat ini, tidak. Tapi suatu hari nanti… kau harus menemukan cara untuk melepaskan sebagian MP itu."

"Apa aku bisa?" tanya Tianji.

"Ada satu cara," kata Lady Hong. "Tapi kita tidak bisa membahasnya di sini. Saat waktunya tiba, aku akan memberitahumu."

Suasana menjadi tegang. Tapi Lady Hong segera mengubah topik. "Untuk sekarang, nikmati masa tenangmu. Kau sudah berjuang cukup keras. Istirahatlah."

Malam itu, Tianji dan Yue'er menginap di kamar tamu kedai. Kamar itu sederhana tapi hangatโ€”lilin minyak, tempat tidur kayu jati, dan jendela yang menghadap ke taman belakang.

Yue'er duduk di tepi jendela, memandangi bintang-bintang. "Tianji, apa kau bahagia?"

Tianji yang sedang duduk bersila di lantai, membuka mata. "Bahagia?"

"Iya. Setelah semua ini. Kau sudah bersihkan namamu. Lord Hitam kalah. Sekarang kau bisa memulai hidup baru."

Tianji merenung. "Aku… tidak tahu. Aku sudah begitu terbiasa berjuang. Hidup tenang terasa asing."

Yue'er tersenyum. "Kau harus belajar lagi. Aku akan mengajarimu."

"Ajari aku apa?"

"Mengajakmu tersenyum tanpa alasan." Yue'er melompat dari jendela dan berlari ke arah Tianji. Ia menarik tangan Tianji. "Ayo, kita lihat bintang dari atap!"

"Malam-malam begini?"

"Justru malam begini!" Yue'er tertawa. "Ayolah, Tianji. Jangan jadi orang tua di usia muda!"

Tianji tersenyumโ€”senyum yang langka, tulus. "Kau tidak berubah, Yue'er. Masih semangat seperti dulu."

"Tentu saja! Aku masih muda. Dan kau juga. Jadiโ€”" ia menarik lebih kuat, "โ€”ayo!"

Mereka naik ke atap kedai. Di atas, langit malam terbentang luas dengan bintang-bintang berkilauan. Yue'er berbaring di genting, menatap langit. Tianji duduk di sampingnya.

"Indah," bisik Yue'er.

"Kau lebih indah," kata Tianji tanpa sadar.

Yue'er tersipu. Ia memukul lengan Tianji pelan. "Idih! Sejak kapan kau pandai merayu?"

"Aku tidak merayu. Aku hanya berkata jujur."

Mereka terdiam, menikmati keheningan malam. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga melati dari taman. Samar-samar, terdengar suara seruling dari kedai lain.

"Tianji," panggil Yue'er pelan.

"Hm?"

"Aku senang. Sangat senang. Bahwa kita bisa di sini, bersama, setelah semua yang terjadi." Air matanya menggenang. "Aku takut kehilanganmu. Waktu kita melawan Lord Hitam, akuโ€”"

"Sudah," Tianji meraih tangannya. "Aku di sini. Aku tidak akan pergi."

Yue'er memegang erat tangannya. "Janji?"

"Janji."

Mereka berbaring bersama di atap, menatap bintang-bintang. Tidak ada kata-kata lagi yang terucap. Keheningan itu cukupโ€”keheningan yang hangat, yang menyembuhkan.

Keesokan paginya, Tianji bangun dengan perasaan yang aneh. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia tidak perlu khawatir tentang pertempuran atau bahaya. Ia hanya perlu menikmati hari.

Yue'er sudah bangun lebih dulu. Ia duduk di ambang jendela, menyisir rambutnya sambil bersenandung lagu nelayan yang dulu sering dinyanyikan ibunya. Suaranya lembut, merdu, seperti air sungai yang mengalir tenang.

"Kau bangun," sapanya tanpa menoleh. "Aku sudah memesan sarapan. Bubur ayam dengan telur asin, favoritmu."

Tianji duduk di tepi tempat tidur. "Kau tidak pernah tidur nyenyak, ya?"

"Aku sudah cukup tidur di perjalanan." Yue'er menoleh dan tersenyum. "Dan aku ingin menikmati pagi ini. Pagi pertama yang benar-benar damai."

"Kedengarannya indah."

"Tentu. Karena aku di sini bersamamu."

Mereka sarapan bersama di kedai. Lady Hong bergabung, mengenakan jubah sutra biru yang elegan. Ia tersenyum melihat mereka berduaโ€”dua anak muda yang telah melalui begitu banyak cobaan dan masih bisa tersenyum.

"Kalian berdua," kata Lady Hong sambil menyesap teh. "Mengingatkanku pada masa mudaku dulu."

"Ceritakan, Nenek," pinta Yue'er penasaran.

Lady Hong tertawa kecil. "Sudah terlalu lama. Biarlah masa lalu terkubur." Tapi matanya menerawangโ€”ada kenangan pahit di sana. "Yang penting adalah masa depan kalian."

Tapi di sudut hatinya, Tianji masih merasa gelisah. Kata-kata Lady Hong masih terngiang: "Kau harus melepaskan MP-ku sebelum ia hancurkan dirimu."

Apa artinya? Bagaimana caranya? Dan apa yang akan terjadi padanya jika ia melepaskan MP itu?

Tianji menggelengkan kepala. Untuk sekarang, ia akan menikmati kedamaian. Tapi ia tahuโ€”perjalanannya belum benar-benar selesai. Ada sesuatu yang menantinya di masa depan.

Dan bersama Yue'er di sisinya, ia siap menghadapi apa pun.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 70: FINAL โ€” PENYUCIAN LAUTโ€ฆ BAB 72: PANGERAN NING BANGKIT →