Gua kecil itu gelap dan lembap. Cahaya samar dari celah-celah batu menjadi satu-satunya penerang. Di sudut gua, Xiao Yu'er terbaring di atas selimut yang terbuat dari daun-daun kering, tubuhnya pucat pasi dan dingin. Napasnya sudah hampir tidak terdengarโhanya helaan lemah yang naik turun perlahan di dadanya.
Tianji duduk di sampingnya, tangan kirinya menggenggam tangan Xiao Yu'er, sementara tangan kanannya terus menyalurkan Qi penyembuhโmeskipun sia-sia. Tubuh Tianji sendiri penuh luka, pakaiannya robek-robek terkena serangan Lord Hitam. Namun ia tidak peduli. Satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah Xiao Yu'er.
"Jangan pergi," bisik Tianji, suaranya serak dan penuh isak. "Kau tidak boleh pergi. Aku belum bisa membayangkan hidup tanpamu."
Yue'er berdiri di dekat mulut gua, membelakangi mereka. Bahunya berguncang-guncang, dan dari suara napasnya yang tersengal, jelas ia sedang menahan tangis. Ia tidak mau menunjukkan kesedihannya di depan Xiao Yu'er. Ia ingin tetap kuatโsetidaknya untuk saat-saat terakhir ini.
"Kalian berdua… jangan bersedih," suara Xiao Yu'er terdengar, lemah seperti embusan angin. Ia membuka matanya, dan untuk sesaat, ada kilatan hidup di sanaโcahaya terakhir sebelum lampu padam.
"Aku… sudah menerima takdirku," lanjut Xiao Yu'er, mencoba tersenyum. "Aku sudah menyiapkan diri untuk ini sejak pertama kali kita bertemu, Tianji. Kau ingat?"
Tianji mengangguk, air matanya jatuh membasahi pipinya. Bagaimana ia bisa melupakan? Pertemuan pertama mereka di halaman Makam Naga LautโXiao Yu'er adalah murid nakal yang suka berkelahi, sementara Tianji adalah anak pendiam yang baru datang. Mereka bertengkar hebat di hari pertama, dan sejak saat itu, persahabatan mereka tumbuh.
"Kau memukulku," kata Tianji, mencoba tersenyum di tengah air mata. "Kau bilang aku terlalu serius, terlalu pendiam. Lalu kau mengajakku mencuri anggur dari gudang bawah tanah Paman Li."
"Aku juga ingat," sambung Yue'er lembut, berbalik mendekat. "Kau mabuk dan jatuh ke kolam ikan, Tianji. Xiao Yu'er tertawa sampai hampir pingsan."
Mereka bertiga tertawa bersamaโtawa yang bercampur air mata. Momen penghiburan di tengah tragedi. Kenangan manis yang terasa begitu pahit sekarang.
Xiao Yu'er memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan kekuatan. Ketika ia membukanya lagi, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ada kedamaian.
"Aku tidak pernah menceritakan ini pada kalian," katanya pelan. "Tentang masa laluku."
Tianji dan Yue'er saling pandang, lalu kembali menatap Xiao Yu'er dengan penuh perhatian.
"Aku anak yatim," lanjut Xiao Yu'er. "Orang tuaku dibunuh ketika aku berusia lima tahun. Pembunuhnya tidak pernah ditemukan. Aku hidup di jalanan selama bertahun-tahun, mencuri untuk bertahan hidup, tidur di selokan, berkelahi dengan anjing-anjing liar untuk mendapatkan sisa makanan."
Tangannya mulai gemetar, dan Tianji menggenggamnya lebih erat.
"Sampai suatu hari, Xuan Qingzi menemukanku. Ia sedang dalam perjalanan pulang ke Makam Naga Laut, dan melihatku sekarat di pinggir jalan. Ia membawaku pulang, merawatku, menjadikanku muridnya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memiliki keluarga."
Xiao Yu'er menatap Tianji, matanya berkaca-kaca. "Kemudian aku bertemu kalian. Tianji, kau adalah saudara yang tidak pernah kumiliki. Yue'er, kau adalah saudari yang mengajarkanku bahwa hidup layak untuk diperjuangkan. Kalian berdua… kalian adalah alasan aku bertahan selama ini."
"Xiao Yu'er…" Yue'er berlutut di sisi lain Xiao Yu'er, meraih tangannya yang lain. Air matanya jatuh tanpa henti.
"Aku tahu, tentang perasaanku pada Tianji," lanjut Xiao Yu'er, suaranya semakin lemah. "Aku juga tahu, Tianji… bahwa kau dan Yue'er ditakdirkan untuk satu sama lain. Aku tidak pernah iri. Tidak pernah cemburu. Karena melihat kalian bahagia… sudah cukup untuk membuatku bahagia."
"Xiao Yu'er, akuโ" Tianji ingin bicara, tapi Xiao Yu'er mengangkat tangannya yang lemah, menutup mulut Tianji.
"Diam saja," kata Xiao Yu'er, tersenyum. "Jangan katakan sesuatu yang akan kau sesali. Aku tahu apa yang akan kau katakanโbahwa kau juga mencintaiku, setidaknya sebagai saudara. Tapi tidak perlu. Aku sudah tahu. Aku selalu tahu."
Yue'er menunduk, air matanya jatuh ke tangan Xiao Yu'er. "Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku karena tidak bisa menjadi lebih baik untukmu."
"Jangan minta maaf," Xiao Yu'er menggeleng lemah. "Kau sudah menjadi yang terbaik, Yue'er. Kau adalah teman, saudari, dan… saingan terbaik yang pernah kumiliki. Ingat pertarungan kita di puncak tebing? Waktu itu kau mengalahkanku dengan jurus Bunga Teratai Mekar. Itu adalah pertarungan terindah dalam hidupku."
Yue'er tersenyum di tengah air mata. "Kau ingat itu?"
"Tentu saja," Xiao Yu'er tertawa kecil. "Kau menendang pantatku dengan keras. Aku sakit selama seminggu."
Mereka tertawa lagi, tapi kali ini tawanya lebih ringan. Seperti anak-anak kecil yang sedang bermain, melupakan semua kesedihan untuk sesaat.
Namun kenyataan kembali menyerang saat Xiao Yu'er batuk hebat. Darah segar mengalir dari mulutnya, dan tubuhnya mulai kejang-kejang. Tianji segera membantunya duduk, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
"Sudah waktunya," bisik Xiao Yu'er, suaranya hampir tidak terdengar. "Aku bisa merasakannya… panggilan dari alam baka."
"TIDAK!" Tianji berteriak, memeluk Xiao Yu'er erat-erat. "Jangan pergi! Aku masih punya banyak hal untuk kau ajarkan! Aku masih ingin berkelahi denganmu! Aku masih ingin…"
Suaranya pecah. Ia tidak bisa melanjutkan. Air matanya mengalir deras, membasahi bahu Xiao Yu'er.
"Tianji," suara Xiao Yu'er terdengar lembut, seperti nyanyian ibu yang meninabobokan anaknya. "Dengarkan aku. Ini penting."
Tianji mengangkat kepalanya, menatap mata Xiao Yu'er yang mulai sayu.
"Kau memiliki takdir yang besar," lanjut Xiao Yu'er. "Kitab Suci Lautan telah memilihmu. Bukan karena kau yang terkuat, tapi karena kau memiliki hati yang paling murni. Jangan biarkan dendam menguasaimu. Jangan biarkan amarah menghancurkan apa yang telah kita bangun."
"Tapiโ"
"Dengarkan aku," potong Xiao Yu'er tegas, meskipun suaranya lemah. "Lord Hitam bukanlah musuh sejatimu. Ia hanyalah gejala dari penyakit yang lebih besar. Dunia persilatan telah lama terpecah belah oleh ambisi, keserakahan, dan kebencian. Lord Hitam adalah produk dari dunia yang sakit. Jika kau membunuhnya dengan kebencian, kau akan menjadi sama sepertinya."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Tianji, suaranya bergetar.
Xiao Yu'er tersenyumโsenyum yang paling indah yang pernah Tianji lihat. "Kau harus memurnikan dunia ini. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan cinta dan pengertian. Tunjukkan pada mereka bahwa ada jalan lainโjalan persaudaraan, pengampunan, dan kedamaian. Itulah ajaran sejati dari Kitab Suci Lautan."
"Xiao Yu'er…" Yue'er menangis, tidak bisa menahan diri lagi.
"Cukup," kata Xiao Yu'er, suaranya semakin melemah. "Aku lelah. Aku ingin tidur."
"Jangan tidur," pinta Tianji, suaranya putus asa. "Tahanlah, Xiao Yu'er. Sebentar lagi. Aku akan mencari obat, aku akanโ"
"Sudah cukup," Xiao Yu'er memotong, suaranya hampir seperti bisikan. "Aku sudah hidup cukup lama. Aku sudah mencintai, tertawa, berkelahi, dan bermimpi. Aku tidak punya penyesalan."
Ia menatap Tianji, lalu Yue'er, dan matanya bersinar dengan cahaya lembut. "Jagalah satu sama lain. Hiduplah bahagia. Untukku."
"Xiao Yu'er!" teriak Tianji, memeluknya erat-erat.
"Selamat tinggal, Tianji. Selamat tinggal, Yue'er," bisik Xiao Yu'er, napasnya semakin lemah, semakin lemah. "Sampai… kita… bertemu… kembali…"
Tubuh Xiao Yu'er menjadi lemas di pelukan Tianji. Tangannya yang tadinya menggenggam erat, perlahan terlepas dan jatuh ke samping. Dadanya berhenti naik turun. Keheningan menyelimuti gua ituโkeheningan yang begitu pekat, begitu berat.
Xiao Yu'er telah pergi.
"TIDAK!" Tianji berteriak, suaranya bergema di dalam gua, mengguncang bebatuan. "TIDAKโXIAO YU'ER, BUKA MATAMU! BUKA MATAMU!"
Ia mengguncang-guncang tubuh Xiao Yu'er, berharap sahabatnya akan terbangun dan tersenyum seperti biasa. Tapi tidak ada reaksi. Tubuh itu dingin dan kaku. Jiwa Xiao Yu'er telah meninggalkan dunia ini.
Yue'er jatuh berlutut, kepalanya menunduk, air matanya jatuh ke tanah gua yang lembap. Tangisnya tertahan, tapi bahunya berguncang hebat. Hatinya terasa hancur berkeping-keping.
Tianji masih memeluk Xiao Yu'er, tidak mau melepaskan. Air matanya mengalir deras, membasahi rambut Xiao Yu'er yang sudah mulai kaku. Kenangan demi kenangan melintas di pikirannyaโtawa Xiao Yu'er, candaannya, kemarahannya, keberaniannya. Semua itu kini hanya tinggal kenangan.
"Mengapa?" bisik Tianji, suaranya putus asa. "Mengapa selalu orang-orang yang kucintai yang harus pergi? Xuan Qingzi, Li Qingfeng, ayah, ibu… dan sekarang kau? Apa aku takdir untuk kehilangan semua orang?"
"Tianji…" Yue'er menghampiri, merangkulnya dari belakang. "Kau tidak sendiri. Aku di sini."
"Aku gagal," kata Tianji, suaranya hampa. "Aku gagal melindunginya. Aku gagal menjadi saudara yang baik. Aku gagalโ"
"Kau tidak gagal," potong Yue'er tegas. "Xiao Yu'er membuat pilihannya sendiri. Ia memilih untuk melindungimu, sama seperti kau akan memilih untuk melindunginya. Itu bukan kegagalanโitu adalah pengorbanan."
Tianji diam, memeluk tubuh Xiao Yu'er lebih erat.
"Xiao Yu'er ingin kau hidup," lanjut Yue'er, suaranya bergetar tapi tegas. "Ia ingin kau melanjutkan perjuangan. Jangan sia-siakan pengorbanannya."
Perlahan, Tianji mengangkat kepalanya. Matanya merah, basah oleh air mata. Namun di dalamnya, ada sesuatu yang mulai berubahโdari kesedihan menjadi tekad. Api tekad yang berkobar.
"Ia benar," bisik Tianji. "Aku tidak boleh menyerah. Masih ada Lord Hitam. Masih ada misi kita. Dan masih ada… Harapan."
Tianji mencium kening Xiao Yu'er dengan lembut, lalu meletakkan tubuhnya kembali ke tanah. Ia berdiri, tubuhnya goyah tapi teguh.
"Kita harus menguburnya dengan layak," katanya. "Di Makam Naga Laut, di samping Xuan Qingzi dan Li Qingfeng. Agar ia bisa beristirahat dalam damai bersama keluarga kita."
Yue'er mengangguk, menyeka air matanya. "Aku akan membantu."
Mereka mengangkat tubuh Xiao Yu'er dengan hati-hati, membawanya keluar dari gua. Matahari sudah tinggi di langit, menerangi bumi dengan sinar keemasannya. Namun bagi Tianji dan Yue'er, dunia terasa lebih gelap dari sebelumnya.
Perjalanan kembali ke Makam Naga Laut terasa sangat panjang. Setiap langkah bagaikan beban seribu ton. Namun mereka terus berjalan, tidak berhenti, tidak menyerah.
Ketika akhirnya mereka sampai di Makam Naga Laut, Tianji menggali kubur di samping makam Xuan Qingzi dan Li Qingfeng. Dengan tangannya sendiri, ia menggali tanah, tidak menggunakan Qi atau teknik apapun. Ini adalah penghormatan terakhirnya untuk Xiao Yu'er.
Ia ingin merasakan sakitnya. Ia ingin merasakan perihnya kehilangan. Karena hanya dengan begitu, ia bisa mengingat Xiao Yu'er selamanya.
"Selamat jalan, saudaraku," bisik Tianji saat meletakkan Xiao Yu'er ke dalam kubur. "Istirahatlah dengan tenang. Aku berjanjiโaku akan menyelesaikan apa yang kau mulai. Aku akan mengalahkan Lord Hitam. Bukan dengan kebencian, tapi dengan cinta. Seperti yang kau ajarkan."
Yue'er meletakkan sekuntum bunga teratai di atas dada Xiao Yu'er. "Kau adalah pahlawan, Xiao Yu'er. Bukan karena kau kuat, tapi karena kau berani mencintai. Kau berani berkorban. Dan itu membuatmu lebih besar dari siapa pun."
Mereka menimbun tanah, perlahan-lahan, dengan tangan mereka sendiri. Air mata jatuh bercampur tanah, menciptakan lumpur yang membasahi jari-jari mereka.
Ketika kuburan itu selesai, Tianji menancapkan sebilah pedang kayu di atasnyaโpedang yang biasa digunakan Xiao Yu'er saat latihan. Tidak ada batu nisan. Tidak ada tulisan. Karena kenangan tentang Xiao Yu'er sudah terukir di hati mereka selamanya.
"Aku bersumpah," kata Tianji, berlutut di depan kuburan, suaranya bergetar tapi penuh tekad. "Aku bersumpah demi arwah Xiao Yu'er, demi semua yang telah gugur, bahwa aku akan menghancurkan Lord Hitam. Aku akan mengembalikan kedamaian ke dunia persilatan. Dan aku akan hidup bahagiaโkarena itulah yang kau inginkan, Xiao Yu'er."
Yue'er berlutut di sampingnya, tangannya meraih tangan Tianji. "Kita akan lakukan ini bersama," katanya. "Untuk Xiao Yu'er. Untuk Xuan Qingzi. Untuk semua."
Mereka berdiri, berpegangan tangan, menatap tiga makam yang berjejer rapi. Angin berhembus lembut, membawa serta dedaunan kering yang menari-nari di udara. Seolah-olah arwah-arwah itu tersenyum, merestui langkah mereka selanjutnya.
Tianji mengalihkan pandangannya ke langit, di mana awan-awan bergerak perlahan. "Xiao Yu'er, aku akan membuatmu bangga. Aku janji."
Bersamaan dengan itu, di dalam tubuh Tianji, fragmen-fragmen Kitab Suci Lautan mulai beresonansi. Cahaya biru lembut memancar dari dadanya, dan untuk sesaat, Tianji merasakan kehangatanโseperti pelukan dari Xiao Yu'er, yang memberinya kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.
Perjuangan belum selesai. Tapi sekarang, Tianji tidak lagi berjuang sendirian. Di dalam hatinya, Xiao Yu'er hidup selamanya.