📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 59: DUKA DAN TEKAD

← BAB 58: KEPERGIAN BAB 60: PERSIAPAN FINAL →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Makam Naga Laut tidak pernah sesunyi ini. Biasanya, tempat itu dipenuhi oleh suara aliran air dari mata air suci, kicauan burung-burung hutan, dan gemerisik dedaunan yang ditiup angin. Namun hari ini, semuanya terasa mati. Bahkan matahari pun enggan bersinar terang, tersembunyi di balik lapisan awan tebal yang kelabu.

Tianji duduk bersila di depan tiga makam yang berjejer rapi. Makam Xuan Qingzi, makam Li Qingfeng, dan yang paling baru—makam Xiao Yu'er. Tiga pahlawan yang telah gugur dalam perjalanan mereka melawan Lord Hitam. Tiga keluarga yang telah direnggut oleh kegelapan.

Sudah tiga hari sejak pemakaman Xiao Yu'er, dan Tianji tidak banyak bergerak dari tempatnya. Ia hanya duduk di sana, matanya terpejam, tubuhnya diam seperti patung. Rambutnya yang panjang dan acak-acakan tertiup angin, pakaiannya yang kotor dan robek menunjukkan bahwa ia tidak merawat dirinya sendiri.

Yue'er mengawasinya dari kejauhan, hatinya hancur melihat sahabatnya dalam keadaan seperti itu. Ia telah mencoba membujuk Tianji untuk makan, untuk minum, untuk beristirahat, tapi semuanya sia-sia. Tianji seolah-olah telah mati di dalam—jiwanya pergi bersama Xiao Yu'er.

Hari pertama, Yue'er membawakan nasi dan air, tapi Tianji tidak menyentuhnya. Hari kedua, Yue'er mencoba berbicara, mengingatkan Tianji tentang misi mereka, tentang janji yang telah mereka buat. Tianji tetap diam. Hari ketiga, Yue'er mulai khawatir. Jika Tianji terus seperti ini, ia akan mati sebelum sempat melawan Lord Hitam.

Pada malam hari ketiga, Yue'er akhirnya tidak tahan lagi. Ia berjalan mendekati Tianji, duduk di sampingnya, dan tanpa berkata apa-apa, meletakkan kepalanya di bahu Tianji.

"Aku tahu kau sedih," bisik Yue'er, suaranya lembut. "Aku juga sedih. Xiao Yu'er adalah sahabat kita. Kita kehilangan bagian dari diri kita."

Tianji tidak bergerak, tidak merespon.

"Tapi kau harus ingat," lanjut Yue'er. "Xiao Yu'er tidak mengorbankan dirinya agar kau mati di sini. Ia mengorbankan dirinya agar kau bisa hidup. Agar kau bisa melawan Lord Hitam. Agar kau bisa menyelamatkan dunia ini."

Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Tianji membuka matanya. Matanya merah dan sembab, tapi di dalamnya, ada sedikit cahaya yang mulai hidup kembali.

"Aku tahu," katanya, suaranya serak karena tidak digunakan selama berhari-hari. "Aku tahu semua itu, Yue'er. Tapi aku tidak bisa… aku tidak bisa menahan rasa sakit ini."

Yue'er meraih tangan Tianji, menggenggamnya erat. "Kau tidak harus menahannya sendirian. Aku di sini. Kita akan melewati ini bersama."

Tianji menatap Yue'er, dan untuk sesaat, ada kelemahan di matanya—seperti anak kecil yang kehilangan arah. Tapi kemudian, sesuatu berubah. Api tekad mulai menyala lagi di dalam dirinya.

"Kau benar," katanya, suaranya mulai menguat. "Aku tidak bisa terus larut dalam kesedihan. Xiao Yu'er berhak mendapatkan lebih dari itu. Ia berhak mendapatkan dendamku—tapi bukan dendam yang buta. Dendam yang terarah. Dendam yang akan menghancurkan Lord Hitam dan semua yang ia perjuangkan."

Tianji berdiri, tubuhnya goyah karena tidak makan selama berhari-hari. Tapi ia tetap tegak, menatap langit malam dengan mata yang tajam.

"Ada sesuatu yang harus aku lakukan," katanya, suaranya penuh tekad. "Sesuatu yang mungkin belum siap aku lakukan sebelumnya."

"Apa itu?" tanya Yue'er, berdiri di sampingnya.

"Kitab Suci Lautan," jawab Tianji. "Aku harus menggabungkan semua fragmen yang telah kita kumpulkan. Aku harus menguasainya sepenuhnya."

Yue'er mengerutkan kening. "Tapi Tianji, Lord Hitam mengatakan bahwa Kitab Suci Lautan penuh dengan bahaya. Bahwa mereka yang mencoba menguasainya akan kehilangan akal sehat."

"Aku tahu," Tianji menoleh, menatap Yue'er dengan pandangan tenang. "Tapi Xiao Yu'er juga mengatakan sesuatu yang lain. Ia mengatakan bahwa Kitab Suci Lautan bukanlah senjata, melainkan alat pemurnian. Tujuan sejatinya bukan untuk menyerap Qi orang lain, tapi untuk menyatukan Qi alam semesta."

Yue'er tertegun. "Menyatukan Qi alam semesta?"

"Ya," Tianji mengangguk. "Jika aku bisa menguasai rahasia ini, aku tidak hanya akan menjadi Penyerap Lautan—aku akan menjadi Penyatu Alam. Kekuatanku tidak akan terbatas pada penyerapan, tapi juga pada pemurnian dan penyatuan. Dengan kekuatan itu, aku bisa melawan Lord Hitam tanpa harus mengorbankan diriku sendiri."

Yue'er merenung sejenak, lalu mengangguk. "Kalau begitu, aku akan menjagamu selama proses penggabungan."

"Tidak," Tianji menggeleng. "Ini harus aku lakukan sendiri. Jika ada yang salah… jika aku kehilangan kendali… aku tidak ingin kau ikut terluka."

"Aku tidak peduli," kata Yue'er tegas, matanya menyala. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya sendirian. Jika kau gila, aku akan ikut gila. Jika kau mati, aku akan ikut mati. Kita sudah kehilangan terlalu banyak. Aku tidak akan kehilanganmu juga."

Tianji menatap Yue'er lama, merasakan ketulusan dalam kata-katanya. Akhirnya, ia tersenyum—senyum pertama dalam tiga hari.

"Baiklah," katanya. "Kita lakukan bersama."

Mereka berjalan ke dalam Makam Naga Laut, melewati lorong-lorong batu yang diterangi oleh lentera minyak. Di ruang utama, Tianji mengeluarkan lima fragmen Kitab Suci Lautan yang telah mereka kumpulkan—fragmen yang diperoleh dengan pengorbanan dan air mata.

Fragmen pertama, dari Kuil Naga Biru—yang membuatnya bisa mengendalikan Qi dasar. Fragmen kedua, dari Lembah Mawar Hitam—yang memberinya kemampuan untuk melawan Mawar Hitam. Fragmen ketiga, dari Makam Naga Laut sendiri—yang membangkitkan kekuatan Penyerap Lautan sejati. Fragmen keempat, yang berhasil ia rebut dari Lord Hitam dalam pertarungan sengit. Fragmen kelima, yang dipercayakan Xuan Qingzi padanya sebelum gugur.

Lima fragmen itu bersinar di telapak tangannya, masing-masing memancarkan cahaya berwarna berbeda. Biru, merah, hijau, emas, dan ungu. Kelima warna itu berputar-putar, menciptakan pola yang rumit dan indah.

"Aku harus menggabungkannya menjadi satu," kata Tianji, suaranya rendah. "Tapi ini bukan proses fisik. Ini spiritual. Aku harus menyatukan mereka dengan jiwaku."

Yue'er duduk di sudut ruangan, tangannya siap membentuk segel pelindung jika terjadi sesuatu. "Aku siap."

Tianji mengambil napas dalam-dalam, lalu duduk bersila di tengah ruangan. Ia meletakkan lima fragmen itu di depannya, membentuk lingkaran. Dengan tangan gemetar, ia mulai membentuk segel persilatan kuno.

"MP—PENYATUAAN… DIMULAI!"

Cahaya terang memancar dari tubuh Tianji, menyambung kelima fragmen itu dalam jaringan energi yang rumit. Fragmen-fragmen itu mulai bergetar, seolah-olah mereka hidup, dan kemudian, satu per satu, mereka terangkat ke udara.

Fragmen biru—esensi Naga Biru—berputar di atas kepala Tianji, memancarkan aura ketenangan. Fragmen merah—esensi Mawar Hitam—berputar di sisi kanan, memancarkan aura gairah. Fragmen hijau—esensi Makam Naga Laut—berputar di sisi kiri, memancarkan aura kehidupan. Fragmen emas—esensi keempat—berputar di depan, memancarkan aura kemurnian. Fragmen ungu—esensi kelima—berputar di belakang, memancarkan aura misteri.

Lima fragmen itu mulai mendekat, saling menarik satu sama lain. Namun saat mereka hampir bersentuhan, terjadi perlawanan hebat. Ledakan energi mengguncang ruangan, membuat dinding-dinding batu retak.

"APA YANG TERJADI?" teriak Yue'er, terhuyung berdiri.

"Fragmen-fragmen ini… memiliki kehendak mereka sendiri!" teriak Tianji balik, keringat dingin mengucur di dahinya. "Mereka tidak mau bersatu!"

Di benak Tianji, mulai muncul bayangan-bayangan gelap. Fragmen-fragmen itu seolah-olah hidup, berbicara kepadanya dengan suara-suara yang memenuhi pikirannya.

"Kau tidak layak…" bisik suara dari fragmen biru. "Kau terlalu lemah…" tambah fragmen merah. "Kau akan hancur…" sambung fragmen hijau. "Kau akan binasa…" lanjut fragmen emas. "Kau akan hilang…" bisik fragmen ungu terakhir.

Lima suara itu berputar-putar di kepalanya, menciptakan pusaran kebingungan yang nyaris membuat Tianji gila. Ia merasakan tubuhnya mulai kehilangan kendali, kekuatannya tersedot oleh fragmen-fragmen itu.

"TIANJI!" Yue'er berteriak, suaranya menembus kebisingan di kepala Tianji.

Tianji membuka matanya, dan ia melihat Yue'er berdiri di hadapannya, kedua tangannya memegang wajah Tianji dengan lembut namun kuat.

"Dengarkan aku," kata Yue'er, suaranya tenang tapi penuh kekuatan. "Kau bukan siapa yang mereka katakan. Kau adalah Tianji—murid Xuan Qingzi, saudara Xiao Yu'er, sahabatku. Kau adalah orang yang paling kuat dan paling murni yang pernah kukenal. Jangan biarkan mereka mengalahkanmu."

Tianji menatap mata Yue'er, dan di sana, ia melihat pantulan dirinya sendiri—bukan versi yang lemah dan ragu, tapi versi yang penuh tekad dan keberanian.

"Ingat kata-kata Xiao Yu'er," lanjut Yue'er. "Bukan dengan kebencian, tapi dengan cinta. Fragmen-fragmen ini tidak perlu ditundukkan—mereka perlu dipahami. Mereka perlu dicintai."

Kata-kata Yue'er bagaikan petir yang menyambar hati Tianji. Ia menutup matanya, mengubah pendekatannya. Tidak lagi mencoba mengendalikan fragmen-fragmen itu dengan paksa, tapi mencoba merasakannya, memahaminya.

Ia merasakan kesepian fragmen biru—terisolasi selama ribuan tahun di dasar lautan. Ia merasakan kemarahan fragmen merah—terperangkap di Lembah Mawar Hitam yang penuh kepahitan. Ia merasakan kesedihan fragmen hijau—ditinggalkan oleh pemiliknya yang mati dalam pertempuran. Ia merasakan kerinduan fragmen emas—mencari pemilik sejati yang bisa memahaminya. Ia merasakan ketakutan fragmen ungu—takut tidak akan pernah lengkap lagi.

"Kalian tidak sendiri," bisik Tianji, berbicara pada fragmen-fragmen itu dengan hatinya. "Kita sama-sama terluka. Sama-sama kehilangan. Tapi kita juga sama-sama bisa sembuh. Bersama."

Cahaya di sekeliling Tianji mulai berubah. Dari terang yang menyilaukan menjadi hangat dan lembut. Kelima fragmen itu perlahan berhenti bergetar, dan mulai mendekat satu sama lain—kali ini dengan damai.

Fragmen biru mendekat, meleleh ke dalam fragmen merah. Fragmen hijau bergabung, menyatu dengan warna-warna yang ada. Fragmen emas menyusul, dan fragmen ungu menjadi yang terakhir.

Dan ketika kelima fragmen itu akhirnya menyatu sempurna, ledakan cahaya biru meledak dari Makam Naga Laut, menembus langit malam, menerangi seluruh area sejauh bermil-mil. Cahaya itu begitu terang sehingga penduduk desa di kaki gunung mengira matahari telah terbit di tengah malam.

Di dalam ruangan, Tianji duduk dengan tubuh yang memancarkan cahaya biru. Di depannya, sebuah kitab utuh melayang—Kitab Suci Lautan dalam bentuk lengkapnya. Halaman-halamannya terbuka dengan sendirinya, menampilkan aksara-aksara kuno yang bersinar dengan cahaya keemasan.

"Aku… berhasil," bisik Tianji, suaranya penuh keheranan.

Yue'er berlari mendekat, memeluknya erat. "KAU BERHASIL! KAU BERHASIL, TIANJI!"

Tianji tersenyum, membalas pelukan Yue'er. Namun di matanya, ada kesedihan yang masih tersisa. Ia menatap kitab yang melayang di depannya, dan untuk sesaat, ia merasakan kehadiran Xiao Yu'er—seolah-olah sahabatnya itu tersenyum bangga dari alam lain.

"Aku akan menyelesaikan ini, Xiao Yu'er," bisik Tianji. "Untukmu. Untuk kita semua."

Ia mengulurkan tangan, menyentuh Kitab Suci Lautan. Dan saat jari-jarinya menyentuh halaman pertama, pengetahuan mengalir ke pikirannya seperti sungai yang meluap—rahasia alam semesta, hukum Qi, teknik pemurnian tertinggi, dan yang terpenting, kebenaran tentang Penyerap Lautan.

Penyerap Lautan bukanlah penyerap. Ia adalah PENYATU.

Tujuan MP bukanlah menyerap Qi orang lain, tapi MEMURNIKAN Qi alam semesta. Dengan memurnikan, ia bisa menyatukan semua energi ke titik keseimbangan—keseimbangan yang menciptakan kedamaian sejati.

"Ini dia," bisik Tianji, matanya bersinar. "Rahasia yang selama ini dicari Lord Hitam. Rahasia yang tidak pernah ia pahami."

"Apa itu?" tanya Yue'er penasaran.

"Lord Hitam mengira Kitab Suci Lautan adalah alat untuk mendapatkan kekuatan tak terbatas," jawab Tianji. "Tapi sebenarnya, ini adalah alat untuk menciptakan keseimbangan. Kekuatan sejati bukanlah tentang menyerap, tapi tentang MEMBERI. Memberi kembali Qi yang telah dipinjam ke alam semesta. Dengan begitu, siklus kehidupan terus berjalan."

Yue'er diam, mencerna kata-kata Tianji. "Jadi, Lord Hitam salah paham?"

"Sepenuhnya salah," Tianji mengangguk. "Dan itu adalah kelemahannya. Karena ia tidak pernah bisa menguasai Kitab Suci Lautan sepenuhnya—ia hanya menggunakannya untuk kejahatan."

Tianji berdiri, tubuhnya memancarkan kekuatan yang baru. Sekarang, ia bukan hanya Tianji sang Penyerap Lautan—ia adalah Tianji sang Penyatu Alam. Dan dengan kekuatan ini, Lord Hitam tidak akan bisa mengalahkannya.

"Bersiaplah, Yue'er," katanya, suaranya tenang tapi penuh otoritas. "Perjalanan kita akan segera berakhir. Tapi pertarungan terakhir adalah yang paling penting."

Yue'er mengangguk, matanya penuh keyakinan. "Aku bersamamu, sampai akhir."

Mereka berjalan keluar dari Makam Naga Laut, dengan Kitab Suci Lautan yang utuh tersimpan di dada Tianji. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, menerangi dunia dengan sinar keemasannya. Hari baru telah tiba—hari pertempuran terakhir.

Tianji menatap langit, dan di dalam hatinya, ia berkata, "Xiao Yu'er, Xuan Qingzi, Li Qingfeng… kalian semua yang telah gugur. Hari ini, aku akan membawa keadilan untuk kalian. Lord Hitam, aku datang."

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 58: KEPERGIAN BAB 60: PERSIAPAN FINAL →