๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 54: LATIHAN TERAKHIR

← BAB 53: RAHASIA TERAKHIR BAB 55: XIAO YU’ER PERGI →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Hari pertama pemurnian total telah berlalu. Tianji duduk kaku di depan altar naga, tubuhnya masih kosong dari Qi. Proses pengisian Qi murni berjalan lambat โ€” jauh lebih lambat dari yang ia bayangkan. Ibarat gelas kosong yang diisi setetes demi setetes air.

Yue'er duduk di pintu masuk altar, pedang di pangkuan. Matanya lelah โ€” ia tidak tidur semalaman โ€” tapi ia tetap waspada. Di sudut ruangan, Xiao Yu'er terbaring lemah. Pemuda itu kehilangan terlalu banyak Qi saat membantu Tianji malam sebelumnya.

"Xiao Yu'er, kau perlu istirahat lebih," kata Yue'er khawatir. "Wajahmu pucat sekali."

"Aku baik-baik saja," jawab Xiao Yu'er, meskipun suaranya serak. "Hanya butuh waktu untuk pulih."

"Aku bisa menjaga Kakak Tianji sendiri. Kau istirahatlah."

"Tidak. Kita tidak tahu kapan Lord Hitam atau antek-anteknya akan datang."

"Kau keras kepala."

"Kau baru tahu?"

Yue'er mendengus. Tapi ia bisa merasakan kekhawatiran di balik kata-kata Xiao Yu'er. Pemuda itu memang dingin, tapi hatinya hangat โ€” ia hanya tidak tahu cara menunjukkannya.

Siang hari, Tianji mulai bergerak untuk pertama kalinya sejak memulai proses. Ia membuka mata โ€” matanya kini bersinar biru kehijauan, seperti kedalaman laut.

"Bagaimana keadaannya?" Yue'er bertanya cepat.

"Lambat," Tianji mengakui. "Qi murni mengalir lebih pelan dari yang kukira. Pada kecepatan ini, butuh setidaknya lima hari โ€” bukan tiga."

"Kita punya cukup persediaan makanan untuk seminggu," Xiao Yu'er berkata dari sudut. "Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi di luar."

"Benar." Tianji mengerutkan kening. "Lord Hitam pasti sudah tahu kita pergi. Ia mungkin sudah mengirim anak buahnya untuk mencari kita."

"Aku bisa keluar dan memeriksaโ€”"

"Tidak, Xiao Yu'er." Tianji menggeleng. "Kau terlalu lemah. Kalau kau bertemu musuh sekarang, kau tidak akan bisa melawan."

"Aku bisa," Xiao Yu'er bersikeras.

"Xiao Yu'er." Suara Tianji tegas. "Dengarkan aku. Kau sudah menyelamatkan hidupku tadi malam. Aku tidak ingin kau mati sia-sia. Tinggallah di sini dan pulihkan tenagamu."

Xiao Yu'er mengepalkan tangannya โ€” frustrasi. Tapi ia tidak membantah. Ia hanya menunduk dan diam.

Beberapa jam berikutnya berjalan dengan tenang. Tianji melanjutkan meditasinya, perlahan menarik Qi murni dari alam sekitarnya. Yue'er berpatroli di sekitar altar, memastikan tidak ada ular atau makhluk berbahaya yang mendekat. Xiao Yu'er tidur โ€” sesuatu yang sangat jarang ia lakukan di siang hari.

Tapi saat senja tiba, masalah muncul.

Qi Tianji tiba-tiba berhenti mengalir.

"Apa yang terjadi?" Tianji bergumam, mencoba memfokuskan konsentrasinya. Tapi Qi murni seolah menolak masuk ke tubuhnya.

Ia mencoba lagi. Tidak bisa.

"Kakak Tianji?" Yue'er mendekat khawatir. "Kenapa wajahmu pucat?"

"Aku… tidak tahu." Tianji membuka mata. "Qi murni berhenti mengalir. Seperti ada yang menghalangi."

Xiao Yu'er bangun dari tidurnya. "Mungkin itu efek samping dari pemurnian total. Fragmen itu pasti sudah memperingatkan tentang kemungkinan ini."

"Aku membaca fragmen berulang kali. Tidak ada yang mengatakan tentang sumbatan."

"Mungkin ada yang terlewat," kata Xiao Yu'er.

Tianji mengerutkan kening. Ia mengambil fragmen kelima dan membaca lagi. Teliti. Baris per baris. Sampai akhirnya matanya berhenti di satu kalimat yang sebelumnya tidak ia perhatikan:

"Setelah Qi asing dilepaskan, tubuh akan kosong dan mulai menarik Qi murni. Namun, jika tubuh tidak cukup 'bersih', Qi murni akan menolak masuk. Ini adalah ujian terakhir โ€” tubuh harus dimurnikan tidak hanya dari Qi, tapi juga dari niat."

"Niat?" Tianji mengulang kata itu.

"Niat jahat," Xiao Yu'er menerka. "Di klan bayangan, ada latihan serupa โ€” untuk menjadi bayangan sejati, seseorang harus melepaskan semua niat. Tidak hanya niat membunuh, tapi juga niat balas dendam, niat memiliki, bahkan niat untuk hidup."

"Aku mengerti." Tianji menutup mata. "Selama ini, motivasiku untuk mencari MP Lv4 adalah untuk mengalahkan Lord Hitam. Itu adalah niat โ€” niat balas dendam."

"Tapi Lord Hitam jahat!" Yue'er protes. "Pasti Tuhan tidak akan menghukum orang yang ingin melawan kejahatan!"

"Bukan masalah benar atau salah." Tianji menggeleng. "Masalahnya adalah niat. MP Lv4 menuntut kemurnian total โ€” bukan hanya Qi, tapi juga hati. Selama hatiku masih dipenuhi kebencian pada Lord Hitam, selama aku masih ingin membalas dendam… Qi murni tidak akan mau masuk."

"Lalu… apa yang harus kau lakukan?"

Tianji diam lama. Kemudian, ia tersenyum โ€” senyum yang aneh. "Aku harus mengampuni Lord Hitam."

"Apa?!" Yue'er hampir berteriak. "Mengampuni? Dia yang membunuh Guru Xuan Qingzi dan Li Qingfeng! Dia yang menghancurkan desa! Dia yangโ€”"

"Aku tahu, Yue'er." Tianji memotong dengan lembut. "Tapi kalau aku terus membenci, aku tidak akan pernah mencapai Lv4. Bukankah ada pepatah โ€” kalau kau dikejar ular berbisa, lari saja. Jangan balas menggigitnya."

"Tapiโ€”"

"Dengarkan aku." Tianji menatap Yue'er. "Kebencian adalah rantai. Selama aku terikat oleh kebencian pada Lord Hitam, aku tidak akan bebas. MP Lv4 adalah tentang kebebasan โ€” bebas dari segala keterikatan, termasuk kebencian."

Yue'er tidak bisa menjawab. Air matanya mengalir lagi. "Ini terlalu sulit, Kakak Tianji… Kau terlalu baik untuk dunia ini."

"Tidak ada yang terlalu baik atau terlalu buruk. Hanya ada pilihan." Tianji mengusap pipi Yue'er. "Dan pilihanku adalah melepaskan kebencian."

— Malam itu, Tianji duduk sendirian di altar. Yue'er dan Xiao Yu'er tidur di lorong luar โ€” mereka membutuhkan istirahat.

Tianji memejamkan mata. Ia mencoba mengingat semua kemarahan, semua kebencian, semua dendam yang selama ini membara di hatinya. Saat melihat Lord Hitam membunuh Xuan Qingzi. Saat Li Qingfeng gugur di pelukannya. Saat ia dipenjara dan Qi-nya dikuras.

Rasa sakit itu masih ada. Masih segar. Tapi Tianji tidak melawannya. Ia membiarkan rasa sakit itu mengalir โ€” seperti sungai yang melewati bebatuan.

"Lord Hitam," bisiknya dalam hati. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu menjadi seperti ini. Mungkin kau juga punya luka yang tidak bisa sembuh. Tapi aku tidak akan membiarkan luka itu menyebar ke orang lain."

Ia membayangkan Lord Hitam di depannya โ€” bukan sebagai monster, tapi sebagai manusia. Mungkin ia juga pernah punya keluarga. Mungkin ia juga pernah punya mimpi. Mungkin sesuatu yang buruk telah menghancurkannya.

"Aku mengampunimu," Tianji berkata. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan hatinya. "Aku melepaskan kebencianku. Bukan karena kau pantas diampuni, tapi karena aku pantas untuk bebas."

Saat kata-kata itu terucap, sesuatu berubah di dalam tubuhnya. Sumbatan yang menghalangi Qi murni tiba-tiba pecah. Qi murni mengalir deras โ€” seperti banjir yang menerobos bendungan.

Tianji tersentak. Tubuhnya dipenuhi kehangatan yang luar biasa. Qi murni membanjiri setiap sel, setiap otot, setiap tulang. Rasanya seperti terlahir kembali.

Ia membuka mata. Dunia terlihat berbeda. Warna lebih cerah. Suara lebih jernih. Ia bisa merasakan detak jantung Yue'er dari lorong luar. Ia bisa merasakan pernapasan Xiao Yu'er yang tidak stabil.

"MP Lv4…" bisiknya, suaranya bergetar.

Tapi belum selesai. Ia masih harus menstabilkan Qi yang baru mengalir deras ini. Seperti sungai yang baru saja meluap โ€” perlu waktu untuk kembali ke aliran normal.

Ia menutup mata dan mulai menstabilkan Qi-nya.

Sementara itu, di lorong luar, Yue'er terbangun. Ia merasakan ada yang aneh โ€” Qi di makam berubah. Udara terasa lebih segar, lebih bersih. Seperti setelah hujan di musim kemarau.

"Kakak Tianji?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban. Tapi ia bisa merasakan kehadiran Tianji โ€” kuat, hangat, damai.

"Berhasil," bisiknya, air mata kebahagiaan mengalir. "Kakak Tianji berhasil."

Ia ingin berlari ke altar dan memeluk Tianji. Tapi ia tahu itu bisa mengganggu. Jadi ia hanya duduk di lorong, tersenyum dalam gelap.

"Xiao Yu'er," panggilnya. "Kakak Tianji berhasil."

Tidak ada jawaban.

"Xiao Yu'er?"

Yue'er menoleh. Di sudut lorong, tempat Xiao Yu'er tidur tadi, kini kosong. Hanya ada selimut yang terlipat rapi.

"Xiao Yu'er!" Yue'er berdiri panik. "Ke mana kau pergi?"

Ia mencari di lorong-lorong sekitar. Tidak ada. Ia berlari ke pintu masuk makam. Pintu itu sedikit terbuka โ€” seolah baru saja dilewati seseorang.

Dan di batu dekat pintu, ada secarik kertas yang ditindih batu kecil. Yue'er mengambilnya dengan tangan gemetar. Tulisannya tidak rapi โ€” seperti ditulis buru-buru:

"Yue'er,

Maaf aku pergi tanpa pamit. Aku tidak bisa berdiam diri menunggu. Lord Hitam pasti sudah mendekat โ€” aroma jahatnya semakin kuat.

Aku akan menghadapinya. Kalau Tianji sudah selesai, bilang padanya untuk tidak menyusul. Ini tugasku.

Jangan menangis. Aku bukan tipe orang yang mati dengan mudah.

โ€” Xiao Yu'er"

"BREBEG!" Yue'er berteriak, meremas kertas itu. "DASAR BODOH! TOLOL! KAU BILANG AKU YANG CEREWET TAPI KAU PERGI BEGINI SAJA?!"

Air matanya mengalir deras. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Xiao Yu'er sudah pergi. Dan Tianji masih dalam proses penstabilan.

Ia kembali ke altar. Tianji masih duduk bersila, matanya terpejam. Qi di sekelilingnya berputar perlahan seperti pusaran air di laut.

"Kakak Tianji," bisik Yue'er, suaranya bergetar. "Xiao Yu'er… dia pergi. Dia pergi hadapi Lord Hitam sendirian."

Tianji tidak bergerak. Ia masih dalam meditasi dalam. Tapi air mata mengalir di pipinya.

"Ayo cepat selesai, Kakak Tianji," Yue'er berdoa dalam hati. "Xiao Yu'er mungkin sudah dalam bahaya."

Di luar Makam Naga Laut, jauh di kaki gunung, Xiao Yu'er berjalan sendirian dalam gelap. Tubuhnya masih lemah โ€” kehilangan setengah Qi. Tapi langkahnya mantap.

"Lord Hitam," gumamnya, tangan meraih pedang di pinggang. "Aku datang untukmu."

Angin malam bertiup kencang, seolah membawa peringatan. Tapi Xiao Yu'er tidak peduli. Ia sudah mengambil keputusan.

Di puncak gunung, Tianji tiba-tiba membuka mata. "Xiao Yu'er…" bisiknya.

"Kakak Tianji!" Yue'er terkejut. "Kau sudah selesai?"

"Belum sepenuhnya. Tapi aku harus mengejarnya."

Tapi saat ia mencoba berdiri, tubuhnya limbung. Qi murni belum sepenuhnya stabil. Ia jatuh berlutut.

"Kakak Tianji!" Yue'er membantunya. "Kau belum bisa bergerak! Biarkan aku yang pergiโ€”"

"Tidak." Tianji menggeleng. "Kau tidak bisa menghadapi Lord Hitam sendirian."

"Tapiโ€”"

"Aku akan menstabilkan Qi-ku secepat mungkin." Tianji memejamkan mata. "Setelah itu… aku akan menyusul Xiao Yu'er. Apapun yang terjadi."

Yue'er menunduk. Ia mengambil kertas dari Xiao Yu'er dan membacanya sekali lagi. "Dia bilang jangan menyusul. Dia bilang ini tugasnya."

"Xiao Yu'er memang suka mengambil beban sendiri." Tianji tersenyum getir. "Tapi dia lupa satu hal."

"Apa?"

"Kami adalah keluarga. Dan keluarga tidak saling meninggalkan."

Yue'er tersenyum โ€” di sela air matanya. "Kau benar. Kita adalah keluarga."

Di atas altar naga, ukiran naga laut itu bersinar terang โ€” seolah menyetujui kata-kata Tianji. Perjalanan belum selesai. Pertarungan sejati baru akan dimulai.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 53: RAHASIA TERAKHIR BAB 55: XIAO YU’ER PERGI →