Pintu gerbang Benteng Hitam terbuat dari batu obsidian โ hitam pekat, memantulkan cahaya seperti cermin kegelapan. Di atasnya, ukiran naga berkepala tiga dengan mata dari batu delima merah menyala, seolah mengawasi setiap orang yang mendekat.
Tianji berdiri di depan gerbang itu. Xiao Yu'er di sampingnya. Keduanya tercengang oleh kemegahan sekaligus kengerian benteng ini.
"Tempat ini lebih besar dari yang kubayangkan," gumam Xiao Yu'er.
"Aku tidak peduli seberapa besar tempat ini," jawab Tianji. "Aku akan masuk."
"Tunggu. Jangan gegabah."
Tianji menatap Xiao Yu'er. Tangannya sudah mengepal, MP berdenyut di sekujur tubuhnya.
"Jika aku menunggu, mereka akan semakin siap. Lebih baik serang sekarang."
"Kau benarโ"
Pintu gerbang tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Suara berderit panjang memecah kesunyian, bagaikan raksasa yang menguap setelah tidur panjang.
Dari dalam, seorang pria berjubah hitam melangkah keluar. Wajahnya pucat, matanya kosong. Ia membungkuk dalam.
"Tuan Hitam sudah menunggu. Silakan masuk."
Tianji dan Xiao Yu'er saling pandang.
"Ini jebakan," bisik Xiao Yu'er.
"Aku tahu."
"Kau tetap mau masuk?"
"Yue'er di dalam."
Xiao Yu'er menghela napas. "Baik. Kalau kau masuk, aku masuk."
Mereka melangkah masuk. Di dalam, halaman luas terbentang โ diterangi obor yang menyala biru, bukan merah. Api biru itu menari-nari di atas batang besi, menciptakan bayangan yang aneh dan menakutkan.
Di ujung halaman, sebuah singgasana besar dari tulang belulang menjulang. Di atasnya, Lord Hitam duduk dengan anggun, topeng iblisnya menyeringai di bawah cahaya api biru.
"Tianji," suaranya bergema. "Kau datang. Tepat seperti yang kuperkirakan."
"Di mana Yue'er?" Tianji bertanya, suaranya dingin dan tajam.
"Tenang. Gadismu aman. Untuk saat ini." Lord Hitam menjentikkan jari.
Dari samping, dua pengawal hitam menyeret Yue'er keluar. Gadis itu terlihat lelah, kotor, wajahnya pucat. Tapi saat ia melihat Tianji, matanya berbinar.
"TIANJI!" teriaknya. "KAU DATANG! KAU BENAR-BENAR DATANG, DASAR BOCAH KERAS KEPALA!"
"Yue'er…" Tianji hampir tersenyum. Bahkan saat ditawan, Yue'er masih tetap Yue'er.
"Aku sudah bilang, aku akan menunggumu! Tapi kenapa kau lama sekali?! Kau tahu betapa bosannya aku di sini? Hanya duduk, diikat, tidak bisa kemana-mana! Kalau kau datang lebih cepat, aku tidak perlu mendengarkan ocehan Lord Hitam yangโ"
"Cukup," Lord Hitam memotong, merasa kesal. "Kau gadis yang terlalu banyak bicara."
"Baru juga mulai!" Yue'er memberontak. "Aku punya banyak hal untuk dikatakan, misalnya kau brengsekโ"
"Aku bilang cukup!" Lord Hitam mengangkat tangan, dan mulut Yue'er tertutup oleh kekuatan qi.
"Hmm! Hmm!" Yue'er berusaha bicara, tapi suaranya tidak keluar.
"Lepaskan dia!" Tianji melangkah maju.
"Jangan buru-buru." Lord Hitam berdiri dari singgasananya. "Kita bicara dulu. Kau datang ke sini untuk apa?"
"Kau tahu untuk apa."
"Ya, aku tahu. Tapi aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri."
Tianji mengepalkan tangan. "Aku datang untuk menukar nyawaku dengan nyawa Yue'er."
"Tukar? Hm, menarik." Lord Hitam turun dari singgasana, melangkah mendekat. "Kau rela menyerahkan dirimu untuknya?"
"Ya."
"Bahkan jika aku akan menyiksamu sampai mati?"
"Ya."
"Bahkan jika aku akan merenggut MP-mu dan meninggalkanmu sebagai mayat hidup?"
"YA!"
Suara Tianji bergema di seluruh halaman. Matanya โ meski merah karena amarah โ menunjukkan keteguhan yang tidak bisa digoyahkan.
"Tianji, jangan!" Xiao Yu'er meraih lengannya. "Kau tidak bisa!"
"Diam, Xiao Yu'er. Ini keputusanku."
"Tapiโ"
"Sudah cukup banyak orang mati karenaku. Aku tidak akan membiarkan Yue'er menjadi salah satunya."
"Mengharukan," Lord Hitam bertepuk tangan perlahan. "Benar-benar mengharukan. Cinta seorang anak muda pada kekasihnya. Tapi… apakah kau yakin? MP-mu adalah satu-satunya senjatamu. Tanpa MP, kau tidak ada apa-apanya."
"Aku tidak butuh MP untuk menjadi manusia," Tianji menjawab. "Dan aku sudah cukup menjadi monster."
"Hmm." Lord Hitam berpura-pura berpikir. "Baiklah. Aku setuju dengan tawaranku."
"TUNGGU!" Xiao Yu'er melangkah maju, menghunus pedang patahnya. "Aku tidak akan membiarkan ini terjadi!"
"Xiao Yu'er, minggir!" Tianji memerintah.
"Tidak!" Xiao Yu'er berdiri di antara Tianji dan Lord Hitam. "Kau pikir aku bisa diam saja menonton? Kau pikir aku bisa hidup dengan diriku sendiri setelah membiarkanmu dikorbankan?!"
"Aku tidak sedang memintamu mengerti."
"Dan aku tidak peduli!" Xiao Yu'er berteriak. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku kembali atau tidak! Aku tidak peduli apakah aku mati di sini! Yang aku pedulikan adalah kau, Tianji!"
Tianji tertegun. "Xiao Yu'er…"
"Sudah cukup." Lord Hitam menghela napas bosan. "Aku tidak punya waktu untuk drama kalian."
Ia melambai, dan puluhan bayangan hitam muncul dari seluruh penjuru halaman. Mereka mengepung Tianji dan Xiao Yu'er.
"Aku akan memberi pilihan akhir," kata Lord Hitam. "Tianji. Serahkan MP-mu secara sukarela, dan aku lepaskan Yue'er. Mudah, bukan?"
"Tianji, jangan percaya dia!" suara Yue'er tiba-tiba terdengar. Lord Hitam telah melonggarkan segelnya. "Dia pembohong! Kalau kau serahkan MP-mu, kau akan mati! Dan aku akan tetap ditawan!"
"Yue'er…"
"Jangan bodoh! Aku lebih baik mati daripada melihatmu hancur karenaku! Kau dengar?! Akuโ"
"DIAM!" Lord Hitam mengangkat tangan, dan Yue'er terpental ke belakang, membentur dinding batu.
"YUE'ER!" Tianji melesat, tapi bayangan hitam menghadangnya.
"Hentikan." Lord Hitam mengangkat tangannya. Semua bayangan berhenti. "Kau lihat? Aku bisa menyakitinya kapan pun aku mau. Jadi… pilih sekarang juga."
Tianji terdiam. Wajahnya berubah dari merah amarah menjadi putih pasrah.
Di dalam dadanya, MP berdenyut. Kuat. Marah. Ingin melawan. Tapi Tianji menekannya.
"Aku sudah membuat keputusan."
"Tianji, janganโ" Xiao Yu'er meraih lengannya.
Tianji memandang Xiao Yu'er. Matanya tenang โ tenang seperti air danau di pagi hari.
"Terima kasih untuk semuanya, Xiao Yu'er. Kau adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki."
"Tianji…"
"Jaga Yue'er untukku." Tianji melepaskan tangannya. "Jika aku tidak kembali…, pastikan dia bahagia."
"Kau akan kembali! Kita akan mencari caraโ"
"Tidak ada cara lain." Tianji berbalik menghadap Lord Hitam. "Aku menerima tawaranmu."
Lord Hitam tersenyum di balik topengnya. "Keputusan bijak."
"Lepaskan Yue'er lebih dulu."
"Sesuatu. Tapi aku tidak bodoh." Lord Hitam menjentikkan jari. Dua pengawal menyeret Yue'er ke depan. "Setelah MP-mu diambil, baru aku lepaskan dia."
"Kau pikir aku akan percaya?"
"Kau tidak punya pilihan."
Tianji mengepalkan tangan. Kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Darah menetes ke lantai batu hitam.
"Baik. Aku percaya padamu. Tapi aku bersumpah โ jika kau melanggarmu, aku akan bangkit dari kematian untuk menghantui."
"Tentu. Aku menanti." Lord Hitam tertawa. "Sekarang… berlutut."
Tianji menatap Lord Hitam dengan mata penuh kebencian. Tapi ia berlutut.
Seorang pendekar tidak pernah berlutut pada musuh โ itulah ajaran Xuan Qingzi. Tapi untuk Yue'er, Tianji rela merendahkan harga dirinya.
MP di tubuhnya berdenyut. Memberontak. Marah karena pemiliknya menyerah. Tapi Tianji menahannya. Ia memaksa MP-nya tenang.
"Bagus," Lord Hitam mendekat. Tangan kanannya mulai bersinar hitam pekat โ qi yang sama dengan MP Tianji, tapi lebih gelap, lebih jahat. "Aku akan mengambil MP-mu sekarang. Akan terasa sakit. Sangat sakit. Tapi kau bisa bertahan… atau tidak."
"Lakukan saja."
"TIANJI!" Yue'er menjerit, berusaha melepaskan ikatannya. "JANGAN! AKU TIDAK PANTAS! AKU HANYA GADIS CEREWET YANG TIDAK BERGUNA! JANGAN KORBANKAN DIRIMU UNTUKโ"
"Yue'er." Tianji menatapnya. Matanya berkaca-kaca, tapi senyum terukir di bibirnya. "Kau bukan hanya gadis cerewet. Kau adalah sinar dalam hidupku. Dan untuk sinar itu… aku rela menjadi gelap."
"DASAR BOCAH BODOH! AKU BENCILAH KAU! AKUโ" Yue'er terisak. "Aku sayang padamu, Tianji…"
"Aku juga sayang padamu, Yue'er."
Lord Hitam menggeleng. "Cukup. Adegan ini sudah terlalu panjang."
Tangan hitamnya diangkat, siap menusuk pusat dada Tianji โ tempat MP bermarkas.
Tapi tiba-tibaโ
"STOP!"
Sebuah suara bergema dari atas. Semua orang menengadah.
Di atas tembok benteng, berdiri sesosok bayangan. Jubah putih berkibar. Pedang di tangan.
Lady Hong.
"Lady Hong?!" Xiao Yu'er terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?!"
"Membayar hutang." Lady Hong melompat, mendarat di antara Tianji dan Lord Hitam dengan anggun. "Maaf, Tianji. Aku tidak bisa datang lebih awal."
"Lady Hong… kau…"
"Aku memang pengkhianat. Tapi bahkan pengkhianat pun punya hati nurani." Lady Hong menghunus pedangnya โ pedang tipis berkilauan dengan ukiran naga di bilahnya. "Lord Hitam! Pertarunganmu bukan dengan anak ini!"
"Ah, Nyonya Hong." Lord Hitam tertawa. "Akhirnya kau menunjukkan wajah aslimu juga. Kupikir kau akan terus menjadi pengecut."
"Aku bukan pengecut. Aku hanya menunggu saat yang tepat." Lady Hong tersenyum dingin. "Dan saat ini adalah saat yang tepat."
"Apa yang kau harapkan? Kau pikir kau bisa mengalahkanku?"
"Sendiri, tidak. Tapi aku tidak sendirian."
Lady Hong mengangkat pedangnya. Dari luar tembok, suara terompet berkumandang. Ratusan suara โ teriakan perang, gemerincing senjata.
"Apa itu?" Lord Hitam menoleh.
"Pendekar Jianghu yang percaya pada keadilan," jawab Lady Hong. "Mereka tidak sebodoh yang kau kira, Lord Hitam. Begitu aku buktikan bahwa Tianji tidak bersalah, mereka berbalik arah."
"MUSTAHIL!"
"Lihat saja." Lady Hong menyeringai. "Saat ini, anak buahmu sudah dikepung. Pasukan dari Aliansi Pendekar Sejati sudah di kaki gunung."
Lord Hitam menggeram. "Kau… kau sudah merencanakan ini sejak lama?"
"Sejak kau fitnah Tianji. Aku tidak bisa melindunginya di kota โ kau terlalu kuat. Tapi aku bisa mengumpulkan kekuatan untuk melawanmu."
"Heh. Kau pikir aku takut?" Lord Hitam mengangkat kedua tangannya. Seluruh benteng berguncang. Dari celah-celah batu, qi hitam pekat mulai merembes keluar. "Kalau begitu, mari kita selesaikan semua di sini!"
Suasana berubah mencekam. Pertempuran besar akan segera dimulai.
Tianji berdiri, MP-nya kembali aktif. Ia menatap Lord Hitam dengan mata penuh tekad.
"Kali ini," katanya. "Aku tidak akan lari."
Dan pertempuran terakhir dimulai.
—===โ
Di sudut halaman, Yue'er tersenyum di tengah air matanya.
"Dasar bocah keras kepala," bisiknya. "Aku tahu kau akan datang."
Di samping Tianji, Xiao Yu'er menghunus pedang patahnya, siap bertaruh jiwa.
Dan di atas singgasana tulang, Lord Hitam tertawa โ tawa yang menggema di seluruh benteng, membawa janji kematian bagi siapa pun yang berani melawannya.
Benteng Hitam berguncang.
Kisah Penyerap Lautan memasuki babak finalnya.