Kota Lintas Angin tidak pernah setenang ini dalam setahun terakhir. Namun ketenangan itu bagaikan air danau yang membeku di musim dingin โ rapuh, menunggu saatnya retak oleh satu hentakan.
Tianji duduk di kursi kayu di ruang belakang Penginapan Naga Mengantuk. Di depannya, secangkir teh sudah dingin sejak satu jam lalu. Matanya kosong menatap uap yang tak lagi mengepul. Pikirannya melayang jauh โ pada wajah ayahnya, Xiao Zhan, yang kini hanya tinggal kenangan. Pada Xuan Qingzi, gurunya yang gugur dengan pedang di tangan. Pada Li Qingfeng, pendekar tua yang memberinya fragmen terakhir sebelum meregang nyawa.
"Kau sudah seperti patung, Tianji."
Suara itu datang dari ambang pintu. Yue'er berdiri dengan tangan di pinggang, rambutnya diikat ekor kuda tinggi, wajahnya semringah meski matanya menyiratkan kekhawatiran.
"Aku sedang berpikir," jawab Tianji lirih.
"Berpikir?" Yue'er mendengus, melangkah masuk. "Kalau kau terus berpikir seperti ini, kau akan berubah menjadi batu. Nanti aku harus menggelindingkanmu ke mana-mana."
Tianji tersenyum kecil. Hanya Yue'er yang bisa membuatnya tersenyum di saat seperti ini.
"Lihat! Senyum!" Yue'er menepuk bahunya keras. "Akhirnya patung itu hidup kembali. Aku sudah menyiapkan sup ayam, kau harus makan. Tubuhmu kurus seperti ranting kering."
"Aku tidak lapar."
"Tidak lapar? Kau pikir kita punya uang untuk membuang-buang makanan? Sudah kubuat dengan susah payah. Kalau kau tidak makan, aku akan menuangkannya ke kepalamu."
"Baik, baik," Tianji mengangkat kedua tangan. "Aku akan makan."
Yue'er tersenyum puas. "Bagus. Kalau begituโ"
"Tianji! Yue'er!"
Suara tergesa-gesa datang dari luar. Xiao Yu'er melesat masuk, wajahnya pucat pasi. Napasnya tersengal-sengal, seolah baru berlari puluhan li.
"Ada apa?" Tianji bangkit.
Xiao Yu'er menghampiri, menggenggam tangan Tianji erat. "Kabar buruk. Lord Hitam menyebarkan fitnah ke seluruh penjuru Jianghu."
"Fitnah apa?" Yue'er menyipit.
"Dia bilang… Tianji adalah iblis penelan jiwa. Bahwa Meridian Penelan bukan teknik suci, melainkan ilmu sesat yang menghisap nyawa orang lain. Katanya Tianji sudah membunuh Li Qingfeng dan Xuan Qingzi untuk memperkuat ilmunya."
Wajah Tianji berubah. "Itu bohong! Aku tidak pernahโ"
"Aku tahu," potong Xiao Yu'er. "Tapi Jianghu tidak peduli pada kebenaran. Mereka hanya peduli pada apa yang mereka dengar. Dan kabar ini sudah menyebar seperti api. Tiga sekte besar sudah mengumumkan perburuan."
Yue'er mengepalkan tangan. "Sekte macam apa yang begitu bodoh? Mana mungkin Tianji membunuh gurunya sendiri!"
"Mereka punya bukti," kata Xiao Yu'er getir. "Lord Hitam menghadirkan saksi โ beberapa orang yang mengaku melihat Tianji membunuh Li Qingfeng dengan telapak tangan hitam. Mereka juga bilang Xuan Qingzi meninggal dengan Meridian Penelan diaktifkan saat ajal."
"Aku memang mengaktifkan MP saat Guru meninggal!" Tianji membantah. "Tapi itu karena aku mencoba menyelamatkannya!"
"Percuma menjelaskan pada mereka," Xiao Yu'er menggeleng. "Mereka sudah memutuskan. Tianji adalah iblis. Dan iblis harus dibasmi."
Tianji terdiam. Dadanya sesak. Di matanya, air panas menggenang โ tapi tidak jatuh. Ia sudah menangis cukup banyak. Kini saatnya menahan.
"Aku harus bicara pada mereka," katanya akhirnya. "Menjelaskan semuanya."
"Kau pikir mereka akan mendengar?" Yue'er menyentak. "Mereka sudah menghunus pedang! Orang yang mendengarkan tidak menghunus pedang!"
"Yue'er benar," Xiao Yu'er menghela napas. "Aku baru dari Balai Lintas Angin. Lady Hong menyuruhmu pergi."
"Lady Hong?!" Yue'er hampir menjerit. "Dia mengusir kita?"
"Dia tidak punya pilihan. Kota Lintas Angin adalah wilayah netral. Jika dia melindungi Tianji, seluruh Jianghu akan menyerang kotanya. Ribuan nyawa taruhannya."
"Heh, dasar pengecut!" Yue'er meludah ke lantai. "Dia yang dulu pura-pura ramah, kini buang kita seperti sampah!"
"Jangan salahkan dia," Tianji berkata pelan. "Dia benar. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi."
"Jangan bicara seperti itu!" Yue'er meraih tangannya. "Kau tidak bersalah! Aku tahu itu! Xiao Yu'er tahu itu! Dan kita akan buktikan!"
"Mereka tidak akan percaya," Tianji menggeleng. "Lord Hitam sudah mengatur segalanya. Dari awal, dia ingin aku jadi musuh seluruh Jianghu. Itu… itu mungkin tujuannya sejak awal."
"Maksudmu?" Xiao Yu'er menatapnya tajam.
"Dia ingin aku terisolasi. Tanpa sekutu. Tanpa tempat berlindung. Jadi saat dia datang… aku harus melawannya sendirian." Tianji mengepalkan tangan. "Atau… dia ingin aku jadi cukup lemah untuk ditangkap hidup-hidup."
"Untuk apa?"
"Untuk Meridian Penelan. Dia ingin MP-ku."
Suasana hening. Angin malam menerobos celah jendela, membuat lampu minyak di sudut ruangan berkedip.
Yue'er tiba-tiba berdiri. "Baiklah. Kalau begitu kita pergi."
"Kita?" Tianji menatapnya.
"Kau pikir aku akan tinggal di sini? Menonton pertunjukan sendirian?" Yue'er menyeringai lebar. "Jangan mimpi, bocah. Di mana kau pergi, di situ aku pergi. Aku sudah mengikat nasibku denganmu sejak kau menyelamatkanku dari Mawar Hitam dulu. Ingat?"
"Aku ingat. Tapi…"
"Tapi apa? Kau pikir aku takut?" Yue'er mencibir. "Aku Yue'er! Yang kutakut cuma kelaparan dan tidak punya uang! Bukan lord busuk macam Lord Hitam!"
Xiao Yu'er tersenyum pahit. "Kalau kalian pergi, aku ikut."
"Kau?" Tianji menatapnya. "Kau tidak punya urusan dengan ini, Xiao Yu'er. Ini masalahku sendiri."
"Masalahmu adalah masalahku," Xiao Yu'er berkata dengan tenang. "Aku tidak punya keluarga, tidak punya sekte, tidak punya apa-apa. Yang kumiliki hanyalah persahabatan kalian. Jika aku kehilangan itu… aku bukan siapa-siapa."
"Aduh, kalian berdua," Yue'er memegang kepala. "Kenapa kalian begitu dramatis? Ini bukan adegan teater! Kita pergi, kita cari bukti, kita tampar Lord Hitam di depan semua orang, selesai!"
Tianji dan Xiao Yu'er saling pandang. Lalu Tianji tersenyum โ untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, senyum yang tulus.
"Kau benar," katanya. "Kita tidak boleh menyerah."
"Itu baru muridku!" Yue'er menepuk punggungnya keras. "Sekarang… ayo kita makan sup ayam dulu. Percuma mati dengan perut kosong."
—===—
Keheningan malam Kota Lintas Angin dipecahkan oleh derap langkah kaki. Puluhan orang bersenjata berjalan berbaris di jalan utama. Obor-obor menyala, menerangi wajah-wajah keras penuh dendam.
Di depan rombongan, seorang pria paruh baya berjubah putih dengan sulaman naga perak di dada. Namanya Ouyang Lie, ketua Sekte Naga Putih. Di sampingnya, seorang pendekar wanita berambut perak dengan pedang di pinggang โ Nyonya Song, dari Partai Pedang Es.
"Mereka ada di Penginapan Naga Mengantuk," kata Ouyang Lie. "Aku sudah minta pemilik penginapan itu mengawasi mereka."
"Kau yakin bocah itu berbahaya?" Nyonya Song bertanya. "Dia baru enam belas tahun."
"Usia tidak penting. Ilmu adalah ilmu. Dan ilmu yang menghisap jiwa manusia adalah kekejian yang harus dibasmi." Ouyang Lie mengepalkan tangan. "Li Qingfeng adalah sahabatku. Jika bocah itu benar-benar membunuhnya, aku akan merobek jantungnya dengan tanganku sendiri."
"Aku dengar dia menggunakan Meridian Penelan," Nyonya Song bergumam. "Ilmu yang sudah lenyap seratus tahun. Darimana bocah itu mendapatkannya?"
"Itulah yang harus kita cari tahu. Sebelum kita menghabisi nyawanya."
Mereka tiba di depan Penginapan Naga Mengantuk. Ouyang Lie mengangkat tangan, dan seluruh rombongan berhenti.
"Tianji!" teriaknya, suaranya bergema di malam yang sunyi. "Keluarlah! Atau kami akan membakar penginapan ini!"
Tak ada jawaban.
"Tianji! Aku, Ouyang Lie dari Sekte Naga Putih, menuntutmu keluar dan mempertanggungjawabkan dosa-dosamu!"
Hening.
Ouyang Lie mengerutkan kening. Ia memberi isyarat, dan dua muridnya mendobrak pintu penginapan.
Mereka masuk, memeriksa seluruh ruangan. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dengan wajah kosong.
"Ketua… mereka sudah pergi. Ruangan kosong. Tak ada barang."
Ouyang Lie menggeram. "Dia melarikan diri."
"Ia pasti sudah diberi peringatan," Nyonya Song mendesis. "Lady Hong. Perempuan itu selalu bermain aman."
"Tak masalah." Ouyang Lie berbalik. "Sebarkan kabar ke seluruh penjuru. Tianji, pembawa Meridian Penelan, adalah buruan seluruh Jianghu. Siapa pun yang memberinya tempat berteduh akan dianggap sebagai musuh Sekte Naga Putih. Siapa pun yang membawanya hidup atau mati akan mendapat hadiah seribu tael perak."
"Seribu tael?" Nyonya Song terkejut. "Kau serius?"
"Lord Hitam menjanjikan lima ribu," Ouyang Lie tersenyum getir. "Aku hanya mengikutinya."
—===—
Di ujung timur Kota Lintas Angin, tiga bayangan bergerak di antara atap-atap rumah. Mereka melompat dari satu genteng ke genteng lain dengan ringan, bagaikan dedaunan yang diterbangkan angin.
Tianji memimpin di depan. Meridian Penelan-nya membantunya merasakan aliran qi di sekitarnya โ termasuk kehadiran para pemburu yang semakin dekat.
Mereka mendarat di balik tembok batas kota. Di luar, hutan gelap membentang seperti lautan hitam.
"Kita harus masuk ke hutan," bisik Tianji. "Di sana kita bisa bersembunyi."
"Aku benci hutan," gerutu Yue'er. "Ada nyamuk. Dan ular. Dan… makhluk menjijikkan lainnya."
"Kau lebih suka ditangkap Ouyang Lie?"
Yue'er bergidik. "Baiklah. Hutan lebih baik."
"Tunggu," Xiao Yu'er menghentikan mereka. "Ada sesuatu."
Mereka membeku. Dari kejauhan, suara langkah kaki mendekat. Banyak. Puluhan. Mungkin ratusan.
"Mereka sudah mengepung kota," Xiao Yu'er berbisik. "Mereka tahu kita akan melarikan diri."
"Bagaimana mereka tahu?"
"Karena Lord Hitam tahu segalanya. Dia mungkin memiliki mata-mata di mana-mana."
Tianji mengepalkan tangan. Darahnya mendidih. Meridian Penelan di tubuhnya berdenyut, seperti ular yang terbangun dari tidur panjang. Ia merasa kekuatan yang mengalir di meridiannya โ kekuatan yang dulu memberinya harapan, kini hanya membawa bencana.
"MP-ku," bisiknya. "Ini semua karena MP-ku."
"Hei, bocah, jangan mulai lagi," Yue'er menjewer telinganya. "Kau tidak bersalah. MP-mu tidak bersalah. Lord Hitam-lah yang biadab! Ingat itu!"
"Yue'er benar," Xiao Yu'er menambahkan. "Kita akan melalui ini bersama. Tapi sekarang… kita harus pergi. Cari jalan lain."
Tianji mengangguk. Dalam hatinya, sebuah keyakinan baru tumbuh โ bukan keyakinan bahwa ia akan selamat, tapi keyakinan bahwa ia harus melindungi dua orang di sisinya. Apapun yang terjadi.
Di balik tembok kota, suara Ouyang Lie bergema lagi, diikuti teriakan massa yang haus darah.
Tianji menutup mata. Saat membukanya lagi, matanya bersinar dengan tekad baja.
"Ayo," katanya. "Kita pergi."
Dan tiga bayangan itu lenyap ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan Kota Lintas Angin yang bergolak di belakang mereka.
—===—
Di puncak menara tertinggi Kota Lintas Angin, Lady Hong berdiri sendiri. Dari tempatnya, ia bisa melihat kobaran obor dan bayangan-bayangan yang bergerak di kejauhan.
"Maafkan aku, Tianji," bisiknya pada angin malam. "Dunia ini tidak adil. Tapi kau harus bertahan."
Sehelai surat di tangannya berkibar. Surat dari Lord Hitam, yang tiba dua hari lalu. Isinya singkat:
"Lindungi bocah itu, dan kotamu akan rata dengan tanah."
Lady Hong meremas surat itu. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, air mata mengalir di pipinya โ air mata yang tidak akan pernah dilihat siapa pun.
"Kuharap kau bisa memaafkanku suatu hari nanti."
—===—
Malam itu, di kegelapan hutan, Tianji berhenti di tepi sungai kecil. Ia memandang bayangannya sendiri di air โ wajah muda, namun mata yang sudah terlalu tua untuk usianya.
"Ayah… Guru Li… Guru Xuan…" bisiknya. "Aku tidak akan mengecewakan kalian. Aku akan hidup. Aku akan membalaskan dendam kalian. Aku akan membuat Lord Hitam membayar."
Yue'er duduk di sampingnya, meletakkan kepala di bahu Tianji.
"Kau tidak sendiri," katanya lembut โ sesuatu yang jarang terjadi. "Ingat itu."
Dan Tianji mengangguk, merasakan hangatnya bahu Yue'er di sampingnya. Untuk sesaat, dunia terasa tidak begitu gelap.
Tapi di kejauhan, lolongan serigala terdengar โ dan juga suara langkah kaki para pemburu yang terus mendekat.
Perburuan baru saja dimulai.