Perjalanan ke markas Mawar Hitam memakan waktu tiga hari. Mereka memutuskan untuk tidak menggunakan kuda — terlalu mencolok. Lebih baik berjalan kaki, menyamar sebagai pengembara biasa. Tapi bagi Tianji, tiga hari itu terasa seperti tiga tahun. Setiap langkah terasa berat, setiap detik terasa seperti siksaan.
Di malam pertama perjalanan, mereka beristirahat di sebuah hutan bambu. Bulan bersinar terang, menyinari batang-batang bambu yang berkilau seperti perak. Yue'er sibuk membuat api unggun, sementara Xiao Yu'er pergi mencari air sungai.
Tianji duduk bersandar di pohon, surat gurunya di tangan. Ia sudah membaca surat itu berkali-kali, tapi masih ada bagian yang belum ia pahami sepenuhnya. Atau mungkin ia pahami, tapi hatinya belum siap menerimanya.
"Kau masih membaca surat itu?" Yue'er duduk di sampingnya, melemparkan beberapa ranting ke dalam api. "Apa isinya tidak sudah kau hafal di luar kepala?"
"Sudah," aku Tianji. "Tapi membacanya dan memahaminya adalah dua hal yang berbeda."
"Ah, kau ini filosof sekali." Yue'er menghela napas. "Boleh aku lihat? Aku penasaran dengan apa yang ditulis gurumu."
Tianji ragu sejenak, lalu menyerahkan surat itu. Yue'er menerimanya dengan hati-hati, seolah-olah surat itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Xiao Zhan," gumamnya membaca. "Penjaga Markas Pusat. Aku pernah mendengar nama itu. Ayahku pernah menyebutnya sekali. Katanya, Xiao Zhan adalah pendekar pedang terbaik yang pernah ia lihat."
Tianji menegakkan tubuh. "Ayahmu tahu ayahku?"
"Mungkin." Yue'er mengerutkan kening. "Tapi ayahku tidak pernah bercerita banyak. Hanya bilang bahwa Xiao Zhan mati terlalu muda, dalam sebuah misi yang tidak seharusnya ia jalani."
"Misi? Misi apa?"
Yue'er menggeleng. "Ayahku tidak bilang. Tapi dari caranya berbicara, sepertinya itu adalah misi yang berhubungan dengan Mawar Hitam. Ayahku selalu curiga bahwa Lord Hitam ada di balik kematian Xiao Zhan. Tapi dia tidak punya bukti."
Tianji merasakan dadanya sesak. "Jadi selama ini, ayahku dibunuh oleh Lord Hitam? Dan tidak ada yang berbuat apa-apa?"
"Bukan tidak ada yang berbuat apa-apa," kata Yue'er pelan. "Tapi Mawar Hitam terlalu kuat. Terlalu licin. Mereka seperti bayangan — kau bisa melihat mereka, tapi kau tidak bisa menangkap mereka. Setiap kali seseorang mencoba melawan, mereka lenyap, meninggalkan jejak yang membingungkan."
"Kecuali sekarang," kata Tianji, matanya menyala. "Sekarang mereka punya markas. Guruku tahu di mana markas mereka."
"Dan gurumu juga tahu bahwa dia tidak akan bisa keluar hidup-hidup," sahut Yue'er. "Itu sebabnya dia meninggalkan surat ini. Dia tahu dia akan mati."
"Aku tidak akan membiarkannya mati."
"Tianji…" Yue'er menggigit bibirnya. "Aku tahu kau kuat. Tapi kadang, kekuatan saja tidak cukup. Kadang, kita harus menerima kenyataan bahwa beberapa pertarungan tidak bisa kita menangkan."
"Aku tidak peduli," kata Tianji tegas. "Aku lebih baik mati berusaha daripada hidup dalam penyesalan."
Yue'er menghela napas panjang. "Kau keras kepala. Tapi itulah yang membuatku… menyukaimu."
Kata-kata itu keluar begitu saja. Yue'er segera menunduk, wajahnya memerah. Tianji menatapnya, terkejut.
"Apa yang kau katakan?"
"Tidak ada!" Yue'er buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Aku bilang… aku bilang… bacakan saja surat itu dengan keras. Aku ingin mendengar sisanya."
Tianji menatapnya curiga, tapi tidak mendesak. Ia mengambil surat itu dan mulai membacakan dengan suara keras.
"Tianji, anakku.
Jika kau membaca ini, mungkin kau sudah tahu bahwa aku pergi ke markas Mawar Hitam. Tapi aku belum sempat menceritakan tentang orang tuamu. Jadi, dengarkan baik-baik.
Ayahmu bernama Xiao Zhan. Nama itu mungkin tidak berarti apa-apa bagimu sekarang, tapi percayalah, dia adalah salah satu pendekar terhebat yang pernah hidup di dunia persilatan ini. Ilmu pedangnya tidak tertandingi. Kecepatannya seperti kilat. Dan hatinya… hatinya sebesar lautan.
Aku mengenalnya saat kami masih muda. Kami berlatih di markas yang sama, di bawah guru yang sama. Xiao Zhan adalah murid paling berbakat yang pernah kulihat. Apa pun yang ia pelajari, ia kuasai dalam waktu singkat. Tapi ia tidak pernah sombong. Ia selalu rendah hati, selalu membantu yang lemah.
Ibumu bernama Lin Xue. Nya, nama yang berarti salju. Dan memang, ia seputih salju, secantik salju, tapi juga sedingin salju — setidaknya bagi orang yang tidak dikenalinya. Tapi bagi orang yang dicintainya, ia hangat seperti mentari musim semi.
Aku mencintai ibumu. Tapi bukan sebagai pria yang mencintai wanita. Aku mencintainya sebagai saudara, sebagai teman seperjuangan. Ia adalah orang pertama yang menyambutku saat aku bergabung dengan markas. Ia mengajariku cara bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Suatu hari, Lin Xue — ibumu — ditemukan tewas di sebuah hutan di luar markas. Tubuhnya penuh luka. Pedangnya patah. Matanya masih terbuka, seolah ia tidak percaya bahwa ia bisa dikalahkan.
Xiao Zhan hancur. Aku belum pernah melihat pria sekuat dia menangis sesedih itu. Ia menggendong tubuh Lin Xue selama tiga hari tiga malam, tidak mau melepaskannya. Ia seperti orang gila.
Dan kemudian, ia menemukan petunjuk. Mawar Hitam yang membunuh Lin Xue. Lord Hitam yang memerintahkan pembunuhan itu.
Xiao Zhan bersumpah akan membalaskan kematian istrinya. Ia pergi sendirian ke markas Mawar Hitam — waktu itu lokasinya berbeda dengan sekarang. Ia tidak membawa siapa pun. Katanya, ini urusan pribadi.
Itu adalah kali terakhir aku melihatnya hidup."
Tianji berhenti. Suaranya bergetar. Air mata mengalir di pipinya, tapi ia tidak menyadarinya. Ia terlalu fokus pada kata-kata gurunya.
"Lanjutkan," bisik Yue'er.
Tianji mengangguk dan melanjutkan.
"Xiao Zhan ditemukan tegas seminggu kemudian. Tubuhnya hancur. Tidak ada yang tahu persis bagaimana ia mati, tapi dari luka-lukanya, jelas bahwa ia bertarung dengan sengit sampai akhir.
Tapi sebelum ia mati, ia sempat menitipkan sesuatu padaku. Seorang bayi. Kau, Tianji.
'Jaga dia,' katanya. 'Jangan biarkan dia mengikuti jejakku. Jangan biarkan dendam menguasainya. Biarkan dia hidup normal, bahagia, jauh dari dunia persilatan yang kejam ini.'
Itu adalah kata-kata terakhir ayahmu.
Dan aku gagal. Aku gagal menjagamu dari dunia persilatan. Aku gagal menjagamu dari dendam. Aku gagal menjagamu dari Mawar Hitam.
Tapi aku tidak gagal dalam satu hal: aku tidak pernah berhenti mencintaimu sebagai anakku sendiri.
Maafkan aku, Tianji. Maafkan aku karena tidak pernah memberitahumu tentang ini lebih awal. Maafkan aku karena terlalu pengecut untuk mengakui kebenaran. Maafkan aku karena meninggalkanmu sendirian.
Tapi percayalah, apapun yang terjadi, aku mencintaimu. Seperti aku mencintai ayah dan ibumu. Kalian adalah keluargaku. Satu-satunya keluarga yang pernah kumiliki.
Jika aku tidak kembali, jangan berkabung terlalu lama. Lanjutkan hidupmu. Temukan kebahagiaan. Itu yang selalu diinginkan ayah dan ibumu. Itu yang selalu kuinginkan untukmu.
Jangan biarkan dendam menghancurkan dirimu.
— Xuan Qingzi"
Ketika Tianji selesai membaca, keheningan menyelimuti mereka. Api unggun berderak pelan, mengirimkan percikan-percikan ke langit malam. Xiao Yu'er telah kembali dari sungai, dan ia duduk diam, tidak berani memecahkan kesunyian.
Yue'er adalah orang pertama yang berbicara.
"Kau tahu," katanya, suaranya lembut. "Dari semua cerita yang pernah kudengar, ini yang paling menyedihkan."
"Ayahku dibunuh oleh Lord Hitam," kata Tianji, suaranya kosong. "Ibuku juga. Guruku sekarang akan menyusul mereka. Dan aku di sini, tidak berdaya."
"Kau tidak tidak berdaya," kata Yue'er tegas. "Kau memiliki ilmu pedang yang hebat. Kau memiliki kecerdasan. Kau memiliki kami."
"Itu tidak akan cukup."
"Mungkin tidak," aku Yue'er. "Tapi lebih baik daripada tidak memiliki apa-apa."
Tianji menatap api unggun. Wajahnya di dalam api itu berubah-ubah — kadang murka, kadang sedih, kadang kosong.
"Guruku bilang jangan biarkan dendam menghancurkanku," katanya pelan. "Tapi bagaimana caranya? Bagaimana aku bisa tidak dendam setelah semua ini?"
"Aku tidak tahu," kata Yue'er jujur. "Aku juga belum pernah mengalami hal seperti ini. Tapi aku tahu satu hal: dendam tidak akan mengembalikan orang tuamu. Dendam tidak akan mengembalikan gurumu. Dendam hanya akan membuatmu kehilangan dirimu sendiri."
"Apa kau pernah kehilangan seseorang yang kau cintai?" Tianji bertanya, matanya menusuk Yue'er.
Yue'er terdiam. Untuk sesaat, topeng ceria itu jatuh. Di baliknya, ada kesedihan yang dalam.
"Ibuku," katanya akhirnya. "Ibuku meninggal saat aku berusia dua belas tahun. Bukan dibunuh. Sakit. Tapi itu tetap terasa seperti… seperti ada bagian dari diriku yang hilang."
"Apa yang kau lakukan?" tanya Tianji.
"Aku menangis. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Ayahku tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya membiarkanku menangis." Yue'er tersenyum getir. "Tapi kemudian, suatu hari, aku sadar bahwa ibuku tidak ingin melihatku menangis. Ia ingin melihatku tersenyum. Jadi aku tersenyum. Setiap hari. Sampai akhirnya senyum itu menjadi nyata."
"Kau tersenyum untuk menutupi kesedihanmu?"
"Mungkin. Tapi setidaknya, dengan tersenyum, aku membuat orang-orang di sekitarku tidak ikut bersedih. Dan itu, bagiku, sudah cukup."
Tianji merenungkan kata-kata Yue'er. Ia mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Yue'er. Tapi apakah ia bisa melakukannya? Apakah ia bisa memaafkan? Apakah ia bisa melupakan?
"Kau terlalu baik untuk dunia ini," katanya akhirnya.
"Ah, jangan merayuku," Yue'er tertawa, kembali ke sikap biasanya. "Nanti aku bisa besar kepala."
"Kepalamu sudah besar," ledek Xiao Yu'er tiba-tiba.
"Heh! Kau diam saja, bocah!" Yue'er melemparkan ranting ke arah Xiao Yu'er, yang dengan mudah menangkapnya dan tersenyum puas.
Tawa kecil terdengar di antara mereka. Tawa itu tipis, seperti kaca yang siap pecah, tapi setidaknya itu adalah tawa. Di malam yang penuh kesedihan itu, tawa adalah obat yang paling berharga.
"Tianji," kata Yue'er kemudian, lebih serius. "Apa yang akan kau lakukan ketika kita sampai di markas Mawar Hitam?"
"Aku akan menyelamatkan guruku."
"Lalu setelah itu?"
Tianji terdiam. Ia belum berpikir sejauh itu.
"Setelah itu… aku akan mencari tahu siapa yang membunuh orang tuaku. Dan aku akan memastikan mereka mendapat balasan yang setimpal."
"Dan setelah itu?"
"Aku…" Tianji menghela napas. "Aku tidak tahu."
"Kalau begitu, pikirkanlah," kata Yue'er. "Pikirkan apa yang akan kau lakukan setelah semua ini selesai. Karena jika kau hanya fokus pada dendam, kau tidak akan pernah melihat apa yang ada di depanmu."
"Apa yang ada di depanku?"
Yue'er tersenyum. Manis. Tulus.
"Dunia, Tianji. Dunia yang luas dengan ribuan kemungkinan. Petualangan baru. Teman-teman baru. Atau mungkin…" ia menunduk, wajahnya memerah lagi. "…cinta baru."
Tianji menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Yue'er bukan sebagai teman perjalanan, bukan sebagai pengawal yang cerewet, tapi sebagai seorang wanita. Seorang wanita yang kuat, ceria, dan memiliki hati yang begitu besar.
"Aku…" Tianji tidak tahu harus berkata apa.
"Kau tidak perlu menjawab sekarang," potong Yue'er cepat. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa… ada hal-hal lain di dunia ini selain dendam. Hal-hal yang lebih layak diperjuangkan."
Malam itu, Tianji tidur dengan pikiran kacau. Surat gurunya, dendamnya, dan kata-kata Yue'er semuanya bercampur aduk dalam kepalanya. Ia bermimpi tentang ayah dan ibunya — dua wajah yang tidak pernah ia kenal, tapi yang ia rasakan kehilangannya begitu dalam.
Dalam mimpinya, ayahnya berkata, "Hiduplah, Nak. Jangan mati untuk masa lalu. Hiduplah untuk masa depan."
Dan ibunya berkata, "Cinta lebih kuat dari dendam. Jangan lupa itu."
Ketika ia terbangun keesokan paginya, air mata membasahi pipinya. Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Sesuatu yang telah berubah.
Mungkin ia masih dendam. Mungkin ia masih marah. Tapi di suatu tempat di dalam hatinya, benih-benih pengertian mulai tumbuh.
Gurunya tidak ingin ia membalas dendam. Ayah dan ibunya tidak ingin ia membalas dendam. Mereka ingin ia hidup.
"Yue'er," panggilnya ketika mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
"Ya?"
"Terima kasih."
Yue'er tersenyum. "Kau sudah bilang itu kemarin."
"Aku tahu. Tapi kali ini, aku benar-benar mengatakannya dari hati."
Yue'er tersenyum lebih lebar. "Nah, ini dia Tianji yang kukenal. Mulai belajar lagi."
"Ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Aku akan membalas dendam," kata Tianji, dan sebelum Yue'er bisa protes, ia melanjutkan. "Tapi setelah itu, aku akan hidup. Seperti yang guru inginkan. Seperti yang orang tuaku inginkan."
Yue'er menatapnya, dan matanya berkaca-kaca.
"Itu janji?" tanyanya.
"Itu janji."
Mereka melanjutkan perjalanan. Dua hari lagi mereka akan sampai di markas Mawar Hitam. Tianji tidak tahu apa yang menantinya di sana. Tapi yang ia tahu, ia tidak akan sendirian. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Di dalam dadanya, surat gurunya masih tersimpan, dekat dengan hatinya. Kata-kata di dalamnya akan selalu ia ingat. Tapi ia tidak akan lagi dikuasai oleh kata-kata itu. Ia akan melampauinya.
Karena itulah yang diinginkan oleh orang-orang yang mencintainya.
Dan ia tidak akan mengecewakan mereka.