📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 33: PERTARUNGAN DENGAN LORD HITAM

← BAB 32: MAKAM KUNO BAB 34: XIAO YU’ER SEKAR… →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Lord Hitam bergerak tanpa peringatan. Tubuhnya melesat seperti anak panah, telapak tangannya yang hitam pekat menyambar ke arah Tianji. Serangan itu begitu cepat sehingga Tianji hampir tidak sempat mengelak — ia hanya bisa memiringkan tubuhnya, dan telapak tangan itu menyambar tepat di samping telinganya, menimbulkan suara siulan yang memekakkan.

"Bagus! Refleksmu lumayan," Lord Hitam terkekeh. "Tapi lihat ini!"

Tangan kirinya menyusul, kali ini dari arah yang berbeda. Tianji mengangkat lengannya untuk memblokir, tapi saat telapak tangan itu mengenai lengannya, ia merasakan sambaran listrik yang membuat seluruh tubuhnya gemetar. Qi hitam merayap masuk ke dalam urat nadinya, mencoba merusak aliran tenaga dalamnya.

"Tianji!" Yue'er berteriak cemas.

"Aku baik-baik saja," Tianji memaksakan diri, tapi ia sudah bisa merasakan bahwa Lord Hitam berada di level yang berbeda. Meskipun sama-sama level 2, Lord Hitam memiliki pengalaman bertahun-tahun yang tidak dimiliki Tianji. Setiap gerakan Lord Hitam adalah pembunuhan yang sempurna, tanpa cacat, tanpa keraguan.

"Kau pikir karena kau berhasil menguasai Keterampilan Penyatuan Laut level 2, kau sudah bisa melawanku?" Lord Hitam mencibir. "Anak naif. Aku sudah berada di level ini selama lima belas tahun. Aku sudah menguasai setiap sudut dan celah dari teknik ini. Sementara kau… kau baru belajar beberapa bulan."

"Ini bukan tentang berapa lama aku belajar," kata Tianji, mengatur ulang napasnya. "Ini tentang untuk apa aku menggunakan ilmu ini."

"Omong kosong filosofis. Di dunia persilatan, hanya kekuatan yang berbicara."

Lord Hitam menyerang lagi, kali dengan serangkaian pukulan cepat yang bertubi-tubi. Tianji mundur, memblokir dan mengelak sebisanya. Tapi setiap blokir membuat lengannya mati rasa, setiap elakan membuatnya semakin kehilangan keseimbangan.

"Aku harus membantunya," Xiao Yu'er bergumam, tangannya sudah berada di gagang pedang.

"Tapi kau…" Yue'er ragu.

"Aku tidak sekuat dia, tapi aku bisa menjadi gangguan."

Dan Xiao Yu'er menyerang. Pedang pendeknya melesat seperti kilat, menusuk ke arah titik kelemahan di bawah ketiak Lord Hitam. Serangan itu cerdik dan tepat — jika Lord Hitam terus fokus pada Tianji, ia akan terluka.

Tapi Lord Hitam sepertinya memiliki mata di belakang kepalanya. Ia berputar dengan anggun, dan jubahnya yang berkibar tiba-tiba menjadi keras seperti perisai baja. Pedang Xiao Yu'er membentur jubah itu dan terpental.

"Pengkhianat kecil," desis Lord Hitam. "Sudah kuduga kau akan berpaling. Tapi tidak apa — aku sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu."

Lord Hitam mengulurkan tangannya dan dari telapak tangannya, semburan Qi hitam melesat membentuk rantai-cahaya. Rantai itu melingkar di sekitar Xiao Yu'er, mengikat kedua tangannya ke samping tubuhnya.

"Xiao Yu'er!" Yue'er berlari ke arahnya, tapi Lord Hitam hanya mengibaskan tangannya dan Yue'er terpental ke dinding.

"Jangan sentuh dia!" Tianji berteriak, matanya merah. Ia melesat maju, kedua telapak tangannya dikumpulkan penuh dengan Qi. "Gelombang Pasang Penghancur!"

Serangan itu adalah teknik yang ia pelajari dari fragmen kedua — gelombang Qi yang menyerupai ombak raksasa, menghantam dengan kekuatan dahsyat. Lord Hitam terkejut — ia tidak menyangka Tianji sudah menguasai teknik itu. Ia mengangkat kedua lengannya untuk memblokir, dan gelombang itu menghantamnya dengan keras, membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah.

"Bagus!" Lord Hitam tertawa. "Kau benar-benar anak yang berbakat. Semakin aku ingin mengambil alih tubuhmu."

"Apa yang kau bicarakan?" Tianji terengah-engah.

"Kau pikir aku hanya ingin fragmen-fragmen itu?" Lord Hitam mencibir. "Aku ingin ilmu Lautan Pengetahuan yang lengkap. Tapi untuk menguasainya, aku membutuhkan tubuh yang cocok — tubuh dengan bakat alami yang sebesar milikmu."

"Kau gila."

"Mungkin. Tapi kegilaan adalah harga yang harus dibayar untuk kekuatan sejati."

Lord Hitam melepaskan jubahnya, dan untuk pertama kalinya Tianji melihat tubuh di balik jubah hitam itu. Tubuh itu… tidak normal. Setengah dari tubuh Lord Hitam adalah luka bakar yang mengerikan, kulitnya mengerut dan hitam seperti arang. Matanya yang satu bersinar merah, sementara yang lainnya adalah bola mata putih tanpa pupil.

"Kau lihat apa yang dilakukan oleh Lautan Pengetahuan padaku?" Lord Hitam berkata, suaranya berubah menjadi geram. "Saat aku mencoba mengambil fragmen pertama lima belas tahun lalu, aku hampir mati. Tubuhku hancur. Tapi aku selamat, dan selama lima belas tahun aku menunggu, memulihkan kekuatanku, merencanakan balas dendam."

"Dendam pada siapa?"

"Pada pemilik ilmu ini! Pada orang yang menciptakan Lautan Pengetahuan! Pada dunia yang menolak memberiku kekuatan!"

Lord Hitam melesat maju dengan kecepatan yang jauh melebihi sebelumnya. Tangannya mencengkeram leher Tianji dan mengangkatnya ke udara. Tianji meronta, berusaha melepaskan diri, tapi genggaman Lord Hitam seperti linggis baja.

"Rasakan," bisik Lord Hitam. "Rasakan bagaimana rasanya berhadapan dengan kegelapan sejati."

Qi hitam mulai merayap masuk ke dalam tubuh Tianji melalui lehernya. Tianji merasakan dingin yang luar biasa, seolah-olah jiwanya sendiri sedang dibekukan. Pengetahuannya, ingatannya, teknik-teknik yang telah ia pelajari — semuanya mulai tercabut satu per satu.

"Tianji-gege!" teriak Yue'er, mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah setelah terbentur dinding.

"Aku… tidak bisa… menyerah…" Tianji menggertakkan giginya. Di dalam tubuhnya, Keterampilan Penyatuan Laut mulai bereaksi secara instingtif. Qi-nya berputar membentuk pusaran, menolak Qi hitam yang mencoba masuk.

"Oh? Masih bisa melawan?" Lord Hitam terkekeh. "Bagus. Semakin keras kau melawan, semakin manis kemenanganku."

Tapi tiba-tiba, Xiao Yu'er bergerak. Dengan kekuatan terakhirnya, ia membanting tubuhnya ke Lord Hitam dari belakang. Meskipun tangannya masih terikat, ia menggunakan seluruh berat badannya untuk membuat Lord Hitam kehilangan keseimbangan.

Genggaman Lord Hitam mengendur, dan Tianji jatuh ke lantai, batuk-batuk.

"Lari!" teriak Xiao Yu'er. "Bawa Yue'er dan fragmen itu! Lari!"

"Tapi kau—"

"Jangan pedulikan aku! LARI!"

Tianji ragu. Hatinya terbelah antara menyelamatkan Xiao Yu'er dan melindungi Yue'er serta fragmen. Tapi logikanya mengatakan bahwa jika ia tetap di sini, mereka semua akan mati.

"Xiao Yu'er… maafkan aku."

Tianji meraih lengan Yue'er, yang masih setengah pingsan, dan menariknya ke arah lorong.

"Kau pikir bisa lari?" Lord Hitam menggeram. Ia melepaskan Xiao Yu'er dengan satu kibasan, membuat pemuda itu terpental ke dinding dengan bunyi keras. Tulang-tulang Xiao Yu'er retak — Tianji bisa mendengarnya dari suara benturan.

"Xiao Yu'er!" Tianji berteriak, tapi ia terus berlari.

Lord Hitam melesat mengejar, tapi Xiao Yu'er, dengan luka parah di sekujur tubuhnya, meraih kaki Lord Hitam.

"Kau… tidak akan… mengejar mereka…" Xiao Yu'er terbatuk, darah mengalir dari mulutnya.

"Bajingan!" Lord Hitam menendang Xiao Yu'er, tapi pemuda itu tidak melepaskan genggamannya. Dengan susah payah, Xiao Yu'er mengumpulkan sisa tenaga dalamnya dan menyalurkannya ke tangan yang mencengkeram kaki Lord Hitam.

"Apa yang kau…!" Lord Hitam merasakan sesuatu yang aneh — Qi Xiao Yu'er meledak, bukan untuk menyerang, tapi untuk mengikat. Ini adalah teknik bunuh diri yang mengorbankan seluruh tenaga dalam dalam satu ledakan — membuat penggunanya lumpuh seumur hidup atau mati.

"Tianji… kawan…" Xiao Yu'er tersenyum, darah mengalir deras dari mulut dan hidungnya. "Terima kasih… sudah mempercayaiku…"

"LEPASKAN!" Lord Hitam mengamuk. Ia memukul kepala Xiao Yu'er dengan telapak tangannya, sekali, dua kali, tiga kali. Tapi Xiao Yu'er tidak melepaskan. Matanya mulai kosong, namun tubuhnya masih menolak melepaskan.

Tianji dan Yue'er terus berlari menaiki tangga, keluar dari reruntuhan, keluar dari lembah. Air mata Tianji mengalir deras, tapi ia tidak bisa berhenti. Ia harus hidup. Ia harus menyelamatkan gurunya. Ia harus membuat pengorbanan Xiao Yu'er tidak sia-sia.

Setelah berjalan cukup jauh, Tianji akhirnya berhenti di bawah pohon besar. Ia meletakkan Yue'er yang masih pucat dan tidak sadarkan diri di akar pohon, lalu berlutut, mengatur napasnya yang memburu.

"Xiao Yu'er…" isak Yue'er, air matanya mengalir deras saat ia berlari di samping Tianji. "Dia… dia mungkin mati!"

"Jangan pikirkan itu sekarang!" Tianji menggertakkan giginya, menahan diri untuk tidak berbalik. Setiap langkah yang ia ambil menjauh dari reruntuhan itu terasa seperti menginjak paku. Tapi ia harus terus berlari. Untuk Yue'er. Untuk fragmen. Untuk Xiao Yu'er yang sudah mengorbankan segalanya.

Mereka berlari tanpa henti selama hampir setengah jam, melewati hutan bambu, menyeberangi sungai kecil, naik turun bukit. Hingga akhirnya Tianji merasa yakin mereka sudah cukup jauh.

Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara ledakan di Lembah Naga Tidur, diikuti oleh tawa Lord Hitam yang bergema panjang. Tianji meraba dadanya — gulungan sutra itu masih ada. Tapi saat ia mengeluarkannya, jantungnya hampir berhenti.

Ini bukan fragmen asli. Ini hanya tiruan sutra kosong yang dilipat rapi. Fragmen asli… pasti sudah diambil Lord Hitam saat ia mencengkeram leher Tianji tadi.

"TIDAK!" Tianji berteriak, suaranya bergema di hutan. "Tidak!"

Segala pengorbanan — Li Qingfeng, Xiao Yu'er, perjalanan panjang ini — semuanya sia-sia. Fragmen ketiga direbut. Dan Xiao Yu'er… apakah ia masih hidup?

Tianji memaksakan diri untuk berpikir jernih. Ia harus kembali. Ia harus memastikan nasib Xiao Yu'er. Meskipun berbahaya, ia tidak bisa meninggalkan temannya begitu saja.

"Yue'er," Tianji mengguncang bahu gadis itu pelan. "Bangun. Kita harus kembali."

Yue'er mengerang, membuka matanya perlahan. "Tianji-gege… apa yang terjadi? Xiao Yu'er…"

"Aku tidak tahu. Tapi aku harus mengeceknya."

"Kau gila?" Yue'er bangkit dengan susah payah. "Lord Hitam masih di sana!"

"Mungkin. Tapi mungkin juga dia sudah pergi. Dan jika Xiao Yu'er masih hidup… aku tidak bisa meninggalkannya."

Yue'er menatap Tianji lama, lalu menghela napas. "Kau benar. Aku pergi bersamamu."

Mereka kembali ke reruntuhan, bergerak dengan hati-hati. Keheningan menyambut mereka — tidak ada suara, tidak ada tawa Lord Hitam. Hanya angin yang berdesir di antara batu-batu runtuhan.

Di dalam ruangan bawah tanah, Tianji menemukan Xiao Yu'er terbaring di lantai, dikelilingi genangan darah. Tubuhnya penuh luka, dadanya naik turun lemah — ia masih hidup, tapi nyawanya hanya tinggal setapak lagi.

"Xiao Yu'er!" Yue'er berlutut di sampingnya, air mata mengalir. "Dia masih hidup! Tianji-gege, tolong dia!"

Tianji memeriksa denyut nadi Xiao Yu'er — lemah, hampir tidak terasa. Tulang rusuknya patah, organ dalamnya rusak parah akibat pukulan Lord Hitam. Luka di dadanya menganga, memperlihatkan tulang putih di balik daging yang hancur. Dalam keadaan normal, luka seperti ini pasti membawa maut.

"Apa yang bisa kulakukan?" tanya Yue'er, suaranya gemetar.

"Kain bersih. Air. Api untuk menghangatkannya. Dan yang terpenting — keheningan. Aku perlu konsentrasi penuh untuk ini."

Yue'er mengangguk dan segera bergegas melakukan tugasnya. Tianji tetap berlutut di samping Xiao Yu'er, telapak tangannya memegang tangan pemuda itu yang dingin.

"Dengar, kau tidak boleh mati," bisik Tianji pelan. "Aku belum menyelesaikan pertandingan kita. Di Kota Lintas Angin dulu, kau hampir mengalahkanku. Aku ingin tanding ulang suatu hari nanti."

Tidak ada jawaban. Tapi Tianji merasa — atau mungkin hanya imajinasinya — jari-jari Xiao Yu'er bergerak sedikit, menggenggam tangannya balik.

"Bagus. Kau masih bisa mendengarku. Bertahanlah."

Tianji memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Di dalam tubuhnya, Keterampilan Penyatuan Laut mulai bergerak, gelombang Qi mengalir dari pusat tenaganya di bawah pusar. Ia harus mentransfer Qi-nya ke Xiao Yu'er — sebuah proses yang sangat berbahaya karena jika alirannya salah, Xiao Yu'er bisa langsung tewas, atau Tianji sendiri bisa kehabisan tenaga dan mengalami cedera permanen.

— BERSAMBUNG —

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 32: MAKAM KUNO BAB 34: XIAO YU’ER SEKAR… →