📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 30: PILIHAN

← BAB 29: LORD HITAM BAB 31: PERJALANAN KE LEMBAH N… →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Malam itu, Istana Pangeran Ning diterangi oleh ribuan lentera — lentera perayaan, kata Lord Hitam. Pangeran Ning telah dibebaskan dari tuduhan, dan para bangsawan setempat mengadakan jamuan untuk merayakannya. Tapi tidak ada yang benar-benar merayakan.

Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er duduk di taman belakang istana, di bawah pohon sakura yang mulai berbunga. Jauh dari keramaian, jauh dari politik, jauh dari Lord Hitam. Hanya mereka bertiga dan suara jangkrik di malam hari.

"Jadi," Yue'er memecah keheningan, suaranya datar, "besok kita ke Lembah Naga Tidur."

"Besok," Tianji mengangguk.

"Bersama Lord Hitam."

"Ya."

"Dan Mawar Hitam mungkin akan mengikuti kita dari belakang. Dan Kaisar menunggu di ujung jalan. Dan kita tidak tahu apa yang sebenarnya menanti di lembah itu."

"Kedengarannya suram kalau kau bilang gitu," Xiao Yu'er bergumam.

Yue'er tertawa — tawa pahit. "Maaf. Aku lagi capek. Tiga hari ini terlalu banyak."

"Aku juga," kata Tianji jujur. "Tapi kita tidak punya pilihan."

"Kita selalu punya pilihan." Xiao Yu'er mengeluarkan sebilah belati dari balik jubahnya, memainkannya di antara jari-jari. "Kita bisa kabur malam ini. Aku sudah memetakan lima jalan keluar dari istana. Kalau kita bergerak cepat, Lord Hitam tidak akan sadar sampai besok pagi."

"Lalu ke mana?" tanya Tianji.

"Entahlah. Ke utara. Ke gunung. Ke mana saja yang tidak ada Lord Hitam."

"Dan meninggalkan Ayahku?" Yue'er menggeleng. "Aku tidak bisa."

"Ayahmu bisa ikut."

"Kau pikir Lord Hitam akan biarkan?" Tianji menghela napas. "Dia sudah mengatur semuanya. Liu Dahan adalah jaminan. Selama dia di sini, kita tidak akan kabur."

Xiao Yu'er memasukkan belatinya kembali. "Aku benci politik."

"Kita semua benci politik. Tapi politik yang menentukan hidup kita sekarang."

Mereka diam lagi. Angin malam bertiup, membawa aroma bunga sakura dan — samar-samar — bau laut dari pelabuhan. Tianji menatap bulan sabit di langit, pikirannya melayang ke masa kecil di Gunung Qingcheng — hari-hari yang sederhana, saat satu-satunya musuhnya adalah batu dan sungai.

"Guruku pernah bilang," Tianji memulai, suaranya pelan, "bahwa hidup adalah serangkaian pilihan. Dan pilihan terberat bukanlah antara baik dan buruk, tapi antara buruk dan lebih buruk."

"Kedengarannya seperti omong kosong," kata Yue'er.

"Memang. Tapi semakin tua aku, semakin aku mengerti apa maksudnya."

Yue'er menatapnya. "Kalau begitu, pilihan apa yang akan kau ambil? Antara buruk dan lebih buruk?"

Tianji terdiam lama.

"Aku akan memilih jalan yang membuatku bisa tidur di malam hari," katanya akhirnya. "Lord Hitam mungkin bisa mengancam, mungkin bisa menyiksa, mungkin bisa membunuh. Tapi dia tidak bisa mengendalikan hatiku. Selama aku tahu apa yang benar, selama aku punya prinsip — aku tidak akan kalah."

Yue'er tersenyum — senyum yang hangat di malam yang dingin. "Kau benar-benar aneh, Xiao Tianji."

"Aneh bagaimana?"

"Kau berumur enam belas tahun, tapi bicaramu seperti kakek-kakek delapan puluh tahun."

Xiao Yu'er terkikik — suara langka yang jarang keluar darinya.

"Setidaknya aku tidak bicara sebanyak kau," balas Tianji.

"Heh! Aku bicara banyak karena ada yang perlu dibicarakan! Coba kalau kau diam, dunia ini sunyi —"

"Ngomong-ngomong," Xiao Yu'er memotong, "apa kita punya rencana setelah sampai di Lembah Naga Tidur?"

Tianji mengernyit. "Aku belum —"

"Dengar." Xiao Yu'er mencondongkan tubuh ke depan, suaranya merendah. "Aku tahu Lord Hitam. Aku tahu cara Mawar Hitam bekerja. Dia tidak akan begitu saja membawa kita ke lembah itu lalu membebaskan kita. Pasti ada rencana di balik rencana."

"Maksudmu?"

"Dia bilang Kaisar sakit. Mungkin itu benar. Tapi apa hubungannya dengan Lembah Naga Tidur? Makam leluhur Penyerap Lautan — apa yang bisa menyembuhkan Kaisar di sana?"

Tianji terdiam memikirkan itu. Selama ini, ia terlalu fokus pada Lord Hitam sebagai ancaman, sehingga lupa mempertanyakan tujuannya.

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi aku curiga ini ada hubungannya dengan fragmen yang kita kumpulkan."

"Fragmen?" Yue'er mengerutkan dahi. "Dua fragmen yang kita dapat — dari Kota Lintas Angin dan Pulau Terbang?"

"Ya. Aku sudah merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar 'mencari makam'. Mungkin… mungkin Lord Hitam ingin mengaktifkan sesuatu di lembah itu. Sesuatu yang membutuhkan fragmen."

"Atau seseorang," tambah Xiao Yu'er, suaranya suram.

Udara di sekitar mereka terasa dingin. Tianji memandangi Pedang Penyerap Lautan di pangkuannya — pedang pusaka yang sejak kecil ia rawat, yang kini bersinar redup di bawah sinar bulan, seolah merespon pikirannya.

"Kita harus siap untuk apa pun," kata Tianji akhirnya. "Besok, saat kita masuk ke lembah itu — mungkin kita tidak akan keluar."

"Aku siap," kata Yue'er, tanpa ragu.

"Aku juga," Xiao Yu'er mengangguk.

"Kalau begitu —" Tianji berdiri, "— kita istirahat. Besok pagi, kita berangkat."

Mereka berpisah — Yue'er ke kamarnya di sayap barat, Xiao Yu'er ke loteng yang ia pilih sebagai tempat persembunyian, dan Tianji ke taman kecil di samping kolam, tempat ia biasanya bermeditasi.

Tapi Tianji tidak bisa tidur.

Ia duduk di tepi kolam, matanya menatap bayangan bulan di air. Pikirannya berputar seperti pusaran — tentang Lord Hitam, tentang Lembah Naga Tidur, tentang Yue'er dan Xiao Yu'er yang ia bawa ke dalam bahaya ini.

"Kau masih bangun?"

Suara itu — Yue'er.

Gadis itu duduk di sampingnya, tanpa suara seperti kucing. Ia membawa dua cangkir teh panas — teh jahe, yang harumnya menenangkan.

"Aku juga tidak bisa tidur," Yue'er menyerahkan satu cangkir. "Pikiran terlalu penuh."

"Terima kasih."

Mereka minum teh dalam diam — keheningan yang nyaman, bukan keheningan yang canggung.

"Aku takut," Yue'er tiba-tiba berkata, suaranya nyaris berbisik. "Bukan karena Lord Hitam. Bukan karena mati. Tapi karena… aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Ayah. Pada kita. Pada —" Ia berhenti, menelan ludah. "Pada kau."

Tianji menatap Yue'er. Di bawah sinar bulan, gadis itu terlihat rapuh — sangat berbeda dari Liu Yue'er yang cerewet, galak, dan selalu penuh semangat.

"Aku juga takut," Tianji mengaku. "Tapi kalau aku biarkan ketakutan mengendalikanku — aku sudah mati sejak lama."

"Gurumu yang ngajarin itu?"

"Bukan. Kehidupan yang ngajarin."

Yue'er tersenyum — senyum yang membuat hati Tianji berdebar sedikit lebih cepat. "Kau tahu, kadang aku lupa kalau kau enam belas tahun. Karena kau bicara seperti pahlawan di buku cerita."

"Aku bukan pahlawan."

"Kau pahlawanku."

Keheningan. Tianji merasakan wajahnya memanas — dan untungnya, di kegelapan malam, Yue'er tidak bisa melihatnya.

"Aku… terima kasih," katanya canggung.

"Jangan canggung gitu. Aku cuma bilang fakta." Yue'er tertawa kecil. "Dari semua orang yang bisa kutemui di petualangan ini — dari semua pembunuh bayaran, iblis berjubah putih, dan bocah culun — aku senang bertemu denganmu."

"Bocah culun — kau bicara tentang Xiao Yu'er?"

"Siapa lagi?"

Mereka tertawa bersama — tawa kecil di malam yang dingin, yang entah bagaimana membuat beban di dada mereka sedikit lebih ringan.

"Janji sama aku," kata Yue'er tiba-tiba serius.

"Apa?"

"Besok, di lembah itu — apapun yang terjadi, jangan korbankan dirimu untukku. Atau untuk Xiao Yu'er. Atau untuk Ayah. Oke?"

Tianji mengerutkan dahi. "Tapi —"

"Tapi apa? Aku serius, Tianji. Kalau kau mati untuk menyelamatkan kami, aku tidak akan pernah memaafkanmu."

"Aku lebih baik kau hidup marah daripada mati bahagia."

"Dasar keras kepala." Yue'er memukul lengan Tianji. "Dengar: aku lebih baik mati daripada hidup dengan penyesalan karena kau mengorbankan dirimu. Kalau kau benar-benar peduli padaku — kau harus hidup. Untuk terus dukung aku. Untuk terus bersamaku. Janji?"

Tianji menatap mata Yue'er — mata yang berbinar di bawah cahaya bintang.

"Janji."

"Bagus." Yue'er berdiri, meregangkan tubuhnya. "Sekarang tidur. Besok kita harus bugar — siapa tahu harus bertarung dengan naga beneran di lembah."

"Naga tidak ada."

"Di dunia ini, apapun mungkin. Ayahku pernah cerita soal naga di Laut Selatan —"

"Kau bohong."

"Ah, kau tahu aku bohong. Tapi ceritanya asyik! Nanti dalam perjalanan aku ceritain —"

Dan Yue'er melangkah pergi sambil terus bicara, seperti biasanya, suaranya menghilang di antara pepohonan.

Tianji tersenyum — senyum yang tidak bisa ia tahan.

Ia berbaring di rumput, menatap langit malam. Bintang-bintang bersinar terang, dan untuk sesaat, dunia terasa damai. Tapi di dalam hatinya, firasat buruk terus menggerogoti.

"Besok," bisiknya pada dirinya sendiri. "Besok semuanya akan berubah."

Pagi datang lebih cepat dari yang diharapkan.

Mentari baru saja muncul di ufuk timur saat Tianji bangun — ia tidur hanya dua jam, di bangku batu di taman. Tubuhnya pegal, pikirannya masih berkabut, tapi ia sudah siap.

Di pelataran depan Istana Pangeran Ning, rombongan sudah bersiap. Lord Hitam duduk di atas kuda putihnya — jubah putihnya bersih tidak bercela, rambutnya tersanggul rapi, senyumnya tipis seperti biasa. Di belakangnya, dua puluh prajurit kekaisaran berkuda, tombak mereka berkilau di pagi hari.

"Selamat pagi, Xiao Tianji," sapa Lord Hitam, suaranya ceria. "Kau tidur nyenyak?"

"Tidak."

"Bagus. Hari yang penting harus dimulai dengan pikiran yang waspada."

Yue'er dan Xiao Yu'er muncul dari pintu istana — Yue'er membawa tas kecil, Xiao Yu'er dengan jubah hitamnya yang khas dan topi jeruk yang selalu ia pakai. Liu Dahan berjalan di belakang mereka, ia memeluk Yue'er erat.

"Hati-hati, Nak."

"Aku akan kembali, Ayah. Janji."

"Kau selalu bilang gitu."

"Dan aku selalu kembali."

Liu Dahan tertawa — tawa yang dipaksakan. "Pergilah. Dan jaga dirimu."

Xiao Yu'er melompat ke atas kuda — seekor kuda hitam kecil yang diberikan Lord Hitam untuknya — dengan gerakan lincah. "Ayo. Semakin cepat kita pergi, semakin cepat kita kembali."

"Atau semakin cepat kita mati," tambah Lord Hitam, tersenyum. "Tergantung bagaimana kau melihatnya."

"Diam, iblis," geram Yue'er.

Lord Hitam terkekeh. "Aku suka gadis ini. Pedas."

Tianji naik ke kudanya — kuda coklat yang tenang, berbeda dengan kuda putih Lord Hitam yang garang. Ia merasakan Pedang Penyerap Lautan di pinggangnya, dan untuk sesaat, rasa hangat menjalari tangannya — seolah pedang itu memberinya kekuatan.

"Berangkat," perintah Lord Hitam, dan rombongan mulai bergerak.

Pintu gerbang istana terbuka. Tianji menatap ke belakang — melihat Liu Dahan yang berdiri di pintu, Pangeran Ning di sampingnya, dan para prajurit yang memberi hormat. Kemudian istana itu menghilang di balik tikungan jalan.

Mereka meninggalkan Mo Yang.

Tapi perjalanan menuju Lembah Naga Tidur masih panjang. Melewati hutan, melewati sungai, melewati desa-desa yang sunyi. Dan di setiap langkah, Tianji merasa semakin dalam masuk ke dalam sarang laba-laba yang dijalin Lord Hitam.

Di belakang rombongan, di atas bukit yang jauh, sesosok bayangan hitam berdiri — mengawasi mereka dengan mata tanpa ekspresi. Mawar Hitam, setia mengikuti seperti bayangan.

Di dalam tandu yang berjalan di belakang rombongan, Lord Hitam membuka matanya — ia tidak tidur, hanya berpura-pura. Ia tersenyum pada dirinya sendiri.

"Lembah Naga Tidur," bisiknya. "Akhirnya… setelah dua puluh tahun."

Dan di jendela kamar Liu Dahan di Istana Pangeran Ning, sesosok bayangan tipis melintas — tidak terlihat oleh siapa pun. Bayangan itu menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan hanya sehelai bulu hitam di ambang jendela.

Bulu elang.

Bulu elang Mawar Hitam.

"Mereka sudah pergi," bisik bayangan itu ke dalam kegelapan. "Laksanakan Rencana Kedua."

Di kejauhan, Tianji tidak tahu bahwa bahaya yang lebih besar menanti di depan — bukan hanya Lord Hitam, tapi sesuatu yang telah lama tertidur di Lembah Naga Tidur, sesuatu yang bahkan Lord Hitam sendiri tidak sepenuhnya pahami.

Perjalanan baru saja dimulai.

— BERSAMBUNG —

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 29: LORD HITAM BAB 31: PERJALANAN KE LEMBAH N… →