Kota Mo Yang bukanlah kota besar. Dibandingkan dengan gemerlap ibu kota, Mo Yang hanyalah sebuah pelabuhan kecil yang ramai hanya di musim dagang — saat kapal-kapal dari selatan datang membawa rempah dan sutra. Namun kini, suasana kota itu tegang seperti tali busur yang siap putus.
Prajurit berseragam merah-hitam ada di setiap sudut. Pedagang-pedagang berbisik-bisik saat berbicara tentang politik. Di kedai kopi, di pasar, di dermaga — satu nama yang diucapkan dengan berbisik: Pemberontakan.
"Kudengar Kaisar sudah kirim pembunuh bayaran," kata seorang pedagang tua di kedai, suaranya hampir tidak terdengar. "Lord Hitam… katanya dia algojo paling kejam di seluruh kerajaan."
"Diam kau!" potong rekannya. "Kau mau mati?"
Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er duduk di sudut kedai itu, menyamar sebagai pedagang muda dari desa. Tianji mengenakan jubah biru sederhana yang mereka curi dari jemuran — lebih baik daripada jubah basah kuyup. Yue'er memakai pakaian anak desa biasa, rambutnya diikat ke belakang, tanpa perhiasan. Xiao Yu'er — yang paling sulit disamarkan karena tubuhnya yang kecil — memakai topi jeruk besar yang menutupi setengah wajahnya.
"Kota ini penuh dengan mata-mata," bisik Xiao Yu'er di bawah topinya. "Aku sudah hitung tiga orang Mawar Hitam sejak kita masuk."
"Kau yakin?" tanya Yue'er.
"Percayalah. Aku dulu salah satu dari mereka."
Yue'er menggigit bibir, menahan diri untuk tidak membentak. Dalam dua belas jam terakhir sejak mereka tiba di Mo Yang, ketegangan semakin meningkat. Kabar buruk terus berdatangan — Pangeran Ning sudah dikurung di istananya sendiri, pasukan kekaisaran mengepung di luar, dan Lord Hitam dikabarkan akan tiba besok.
"Aku harus menemui Ayah," desah Yue'er. "Kalau Ayah tahu aku di sini —"
"Ayahmu tahu kau di sini," potong Tianji tenang.
"Apa?"
Tianji mengeluarkan selembar kertas dari balik bajunya — kertas yang sempat diberikan seorang pengemis buta kepada mereka saat masuk kota. Pengemis itu hanya berkata, "Untuk Nona Liu dari senior Liu." Saat dibuka, isinya hanya tiga baris:
"Yue'er sayang, Aku tahu kau kembali. Jangan datang ke istana — terlalu berbahaya. Temui aku di Kuil Lonceng Putih, malam bulan purnama. Tiga hari lagi.
— Ayah."
"Itu tulisan Ayah!" Yue'er hampir berteriak, tapi Tianji cepat menutup mulutnya. "Dia… dia tahu aku di sini?"
"Pasti ada mata-mata Pangeran Ning di pelabuhan. Mereka melihat kita turun dari kapal." Tianji melipat surat itu. "Tapi kenapa dia minta kita menunggu tiga hari? Ada sesuatu yang sedang terjadi."
Xiao Yu'er mengangkat tangannya, memberi isyarat pada mereka untuk diam. Matanya menyipit tajam ke arah pintu kedai. Seorang pria jangkung masuk — mengenakan jubah hijau gelap, wajahnya seperti batu, matanya menyapu ruangan dengan cepat. Bukan prajurit biasa. Bukan Mawar Hitam juga. Tapi ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Xiao Yu'er berdiri.
"Siapa itu?" bisik Yue'er.
"Tidak tahu. Tapi dia bukan orang sini," jawab Xiao Yu'er.
Pria jangkung itu berjalan ke arah meja pelayan, memesan teh, lalu duduk di sudut lain. Tidak ada yang aneh — terlalu normal, terlalu biasa. Itulah yang membuatnya mencurigakan.
Kemudian, dari luar, terdengar suara trompet — suara panjang dan dalam, seperti raungan naga besi. Semua orang di kedai menoleh. Wajah-wajah pucat.
"Utusan Istana," desis pedagang tadi. "Lord Hitam datang lebih awal!"
Tianji bangkit. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan ke pintu, Yue'er dan Xiao Yu'er mengikuti dari belakang. Di luar, jalanan telah kosong — penduduk kota berlarian ke dalam rumah mereka, menutup pintu dan jendela. Hanya prajurit yang tersisa, berbaris di kedua sisi jalan utama.
Dan dari ujung jalan, rombongan itu datang.
Empat baris prajurit kekaisaran — berseragam kuning keemasan, simbol naga bersulam di dada — berjalan dengan langkah serempak. Di belakang mereka, sebuah tandu besar yang diusung dua belas pria bertelanjang dada. Tandu itu terbuka, dan di dalamnya duduk sesosok pria yang…
Tianji menahan napas.
Lord Hitam — jika itu benar Lord Hitam — tidak hitam sama sekali. Pria itu mengenakan jubah putih seputih salju, rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde giok hijau. Wajahnya tampan, terlalu tampan, dengan kulit pucat dan mata yang setajam silet. Di bibirnya ada senyuman tipis — senyuman yang tidak pernah mencapai mata.
"Jadi itu Lord Hitam?" bisik Yue'er, suaranya bergetar. "Dia… dia terlihat seperti pujangga."
"Itulah yang membuatnya berbahaya," jawab Xiao Yu'er, suaranya tercekat. "Aku pernah lihat dia sekali, di markas Mawar Hitam. Dia datang, tersenyum, dan sebelum malam tiba, tiga orang yang tidak setuju dengannya sudah mati — dengan senyuman yang sama persis di wajahnya."
Lord Hitam menoleh.
Matanya — untuk sesaat — bertemu dengan mata Tianji.
Hanya satu detik. Tapi Tianji merasa seperti ditusuk dari dalam. Jantungnya berhenti, napasnya tercekat, dan di dalam pikirannya, ada suara — bukan suara sungguhan, tapi sensasi, kehadiran — yang berbisik:
"Aku tahu kau, Anak Muda. Aku sudah lama menunggumu."
Kemudian Lord Hitam tersenyum — sedikit mengangguk — dan rombongannya berlalu.
Tianji jatuh terduduk di tanah, napasnya tersengal.
"Tianji! Tianji!" Yue'er menepuk pipinya. "Kau kenapa?"
"Aku… tidak tahu. Itu dia… dia mengenalku."
"Mustahil. Kalian tidak pernah —"
"Dia mengenalku. Aku yakin."
Xiao Yu'er mengerutkan dahi. "Lord Hitam punya ilmu membaca pikiran — rumor di Mawar Hitam bilang begitu. Tapi aku pikir itu cuma omong kosong."
"Bukan omong kosong," kata Tianji, suaranya serak. "Dia… dia ada di kepalaku. Dia tahu."
Malam itu, mereka memutuskan — tidak bisa menunggu tiga hari lagi. Sesuatu terjadi. Lord Hitam ada di sini lebih cepat dari yang diantisipasi, dan Liu Dahan terperangkap di istana.
"Kita masuk Istana Pangeran Ning malam ini," kata Tianji, suaranya tegas. "Gunakan jalan bawah tanah."
"Jalan bawah tanah?" Xiao Yu'er mengerutkan kening.
Yue'er mengangguk. "Aku tahu satu. Waktu kecil, aku sering main dengan Pangeran Ning — dia mengajariku cara masuk ke istana lewat lorong rahasia. Dulu kupikir itu cuma permainan, tapi sekarang…"
"Itu bisa jadi nyawa kita."
Dini hari. Kota Mo Yang gelap gulita — tidak ada lentera, tidak ada suara. Penduduk terlalu takut untuk keluar rumah. Bahkan para prajurit pun berpatroli setengah hati, lebih banyak bergosip daripada menjaga.
Tiga bayangan bergerak di antara bangunan. Xiao Yu'er memimpin, indra penciumannya — terlatih sejak kecil untuk mendeteksi bahaya — menghindari setiap patroli. Yue'er di tengah, hafal jalanan Mo Yang seperti punggung tangannya. Tianji di belakang, tangannya selalu di gagang Pedang Penyerap Lautan.
"Mereka masuk," bisik Xiao Yu'er, menunjuk sebuah sumur tua di belakang pasar. "Di sanalah mulut lorong."
"Kau yakin?" tanya Yue'er, wajahnya ragu.
"Aku mencium bau mereka. Setidaknya lima prajurit masuk ke sini satu jam yang lalu."
Yue'er menghela napas. Di tangannya, ia memegang lentera kecil — api yang berkedip-kedip, memberi cahaya redup. "Ayo."
Sumur itu tua, berlumut, dan tampak seperti sudah tidak dipakai bertahun-tahun. Tapi saat mereka menuruni tangga batu yang licin, Tianji menemukan bahwa di dasar sumur, ada pintu besi berkarat — tersembunyi di balik batu-batu palsu.
"Pangeran Ning bilang ini lorong darurat," bisik Yue'er, membuka pintu dengan susah payah. "Dari sini, kita bisa ke ruang sidang utama tanpa melewati gerbang."
Mereka masuk ke dalam. Lorong itu gelap, sempit, dan lembab. Bau tanah basah dan sesuatu yang busuk menyengat hidung. Xiao Yu'er mengeluarkan sebotol kecil — minyak wangi penawar racun — dan mengoleskannya di bawah hidung mereka. "Udara di sini tidak sehat. Ada sesuatu yang mati di sini."
"Jangan bicara horor," gerutu Yue'er.
"Aku tidak bicara horor. Aku bicara fakta."
"Fakta kau — diam!"
Mereka berjalan selama sepuluh menit, dua puluh menit. Lorong itu menurun, lalu mendaki, berbelok-belok seperti ular. Tapi akhirnya, di ujung lorong, mereka melihat cahaya — cahaya kuning dari lentera minyak.
"Kita sampai," bisik Yue'er.
Tianji mengintip dari celah. Ruang besar — aula sidang Istana Pangeran Ning — megah dengan pilar-pilar kayu ukiran naga, lantai marmer putih, dan di ujung ruangan, singgasana tinggi tempat Pangeran Ning duduk. Tapi Pangeran Ning tidak duduk di singgasana itu sekarang.
Pangeran Ning — pria berusia awal lima puluhan, janggut tipis, wajah lelah — berdiri di depan meja panjang, dikelilingi dokumen-dokumen. Di sebelahnya, seorang pria kurus berjubah abu-abu — Liu Dahan.
"Ayah!" Yue'er nyaris berteriak, tapi Tianji menutup mulutnya.
"Tunggu. Ada sesuatu."
Dan Tianji benar. Di sudut ruangan, duduk dengan tenang di kursi kayu sederhana — sosok berjubah putih. Lord Hitam. Ia memegang cangkir teh, menyesapnya dengan nikmat, sementara matanya — mata yang tahu segalanya — menatap Pangeran Ning dan Liu Dahan seperti kucing menatap tikus.
"Jadi begini," kata Lord Hitam, suaranya halus seperti sutra. "Kalian berdua bersekongkol sejak awal. Pangeran Ning menyembunyikan Liu Dahan di istana, dan Liu Dahan menjadi mata-mata untuk —"
"Itu tuduhan palsu!" Pangeran Ning membanting meja. "Liu Dahan adalah pengawal setiaku selama dua puluh tahun! Kau datang ke istanaku, kau bercokol seperti ular berbisa, dan kau berani menuduh —"
"Paman," Lord Hitam tersenyum. "Boleh aku panggil kau Paman? Kau paman Kaisar. Kau anggota keluarga kerajaan. Tapi itu tidak membuatmu kebal dari hukum."
"Kau bukan apa-apa di mataku," desis Pangeran Ning. "Hanya antek Kaisar yang baru dapat pangkat —"
"Antek?" Lord Hitam tertawa — tawa yang lembut, hampir merdu. Dan tawa itu membuat Tianji merinding. "Kau benar. Aku antek. Tapi tahukah kau, Paman, bahwa antek biasanya yang paling berbahaya? Karena antek tidak punya batas — tidak punya harga diri — tidak punya apa-apa yang bisa hilang."
Lord Hitam berdiri, meletakkan cangkir tehnya. Ia berjalan mendekati Pangeran Ning, langkahnya pelan, seperti harimau yang mengelilingi mangsanya.
"Aku punya bukti," katanya, mengeluarkan sebuah dokumen dari lengan bajunya. "Surat-surat antara Pangeran Ning dan panglima perang di utara. Surat-surat yang — menurut analisaku — cukup untuk menjatuhkan hukuman mati."
Pangeran Ning pucat. "Itu palsu! Aku tidak pernah —"
"Tentu kau tidak pernah," Lord Hitam tersenyum lebih lebar. "Tapi pengadilan tidak akan peduli. Yang peduli adalah: apakah kau setuju untuk 'mengaku' dan menyelamatkan keluargamu, atau kau bertahan dalam 'kebohongan' dan melihat seluruh klanmu binasa?"
"KAU —"
"Diam, Pangeran." Liu Dahan akhirnya bicara, suaranya berat dan tenang — suara seorang pria yang sudah melihat terlalu banyak kematian. "Dia ingin kau marah. Semakin marah kau, semakin mudah kau dijatuhkan."
Lord Hitam menatap Liu Dahan dengan rasa baru. "Liu Dahan. Aku dengar banyak tentangmu. Mantan algojo istana, mantan bajak laut, mantan pedagang… kau orang yang sulit dilacak."
"Aku bukan siapa-siapa."
"Justru itu. Orang yang 'bukan siapa-siapa' yang tahu terlalu banyak — itulah yang paling berbahaya." Lord Hitam mendekat, berbisik di telinga Liu Dahan. "Kau punya anak perempuan, bukan? Cantik, katanya. Namanya Liu Yue'er. Usia delapan belas tahun. Baru kembali dari laut bersama dua pemuda."
Udara di lorong terasa membeku. Tianji merasakan Yue'er gemetar di sampingnya — gemetar karena marah, bukan takut.
"Kalau kau sentuh sehelai rambutnya pun," kata Liu Dahan, suaranya rendah, "aku akan —"
"Kau akan apa?" potong Lord Hitam. "Bunuh aku? Banyak yang sudah mencoba. Mereka semua mati. Dan tahukah kau, Liu Dahan — rahasia terbesarku? Bukan ilmu pedangku, bukan jaringanku, bukan kedekatanku dengan Kaisar."
Ia membungkuk, mulutnya persis di telinga Liu Dahan.
"Rahasia terbesarku adalah: aku tidak peduli. Tidak pada apa pun. Tidak pada siapa pun. Tidak pada hidup atau mati. Kebebasan — itulah kekuatanku. Karena saat kau tidak peduli, tidak ada yang bisa menahanmu."
Xiao Yu'er menarik lengan Tianji. "Kita pergi. Sekarang."
"Tidak," kata Tianji, suaranya keras. "Kita —"
"Suara!" bisik Xiao Yu'er panik. "Kau bicara terlalu keras!"
Di dalam ruangan, Lord Hitam berhenti. Matanya — mata yang tahu segalanya — menoleh ke arah dinding tempat lorong rahasia itu berada. Senyumnya melebar — bukan senyum yang menyenangkan.
"Oh," katanya pelan. "Kelihatannya kita punya tamu."
Ia melangkah ke arah dinding, tepat ke arah tempat Tianji bersembunyi. Jari-jarinya menyentuh batu, dan dalam satu gerakan cepat, ia memukul — dan batu itu hancur.
Cahaya membanjiri lorong, dan Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er terlihat — tiga sosok yang membeku, mata terbelalak, dan hati yang berdegup kencang.
"Selamat malam, Anak Muda," kata Lord Hitam, senyumnya lebar. "Sudah kubilang — kita akan bertemu lagi."