Laut di selatan itu bagaikan sutra biru yang terbentang luas, riak-riak kecil berkilauan di bawah sinar mentari pagi. Namun ketenangan itu palsu — seperti senyuman sebelum belati menusuk punggung.
Perahu nelayan kecil melaju di antara karang-karang tajam, layar compang-camping berkibar kencang diterpa angin. Tiga sosok duduk di dalamnya, tubuh-tubuh mereka masih basah kuyup, napas tersengal-sengal, mata masih waspada menatap cakrawala.
"Mereka masih mengejar?" Xiao Tianji bertanya, suaranya serak karena kelelahan. Pemuda enam belas tahun itu duduk di buritan, tangan kanan masih memegang pedangnya — Pedang Penyerap Lautan, pusaka Leluhur yang kini bersinar redup, seolah ikut merasakan keletihan tuannya.
Xiao Yu'er menggeleng, mengernyitkan mata ke arah garis laut di belakang. Bocah tujuh belas tahun itu punya penglihatan setajam elang, warisan dari tahun-tahunnya melarikan diri dari Mawar Hitam. "Belum. Tapi mereka akan datang. Mawar Hitam tidak pernah melepaskan sasarannya."
"Apa kau harus bicara seperti pertanda kematian terus?" Liu Yue'er mendengus. Gadis delapan belas tahun itu tangannya memegang dayung, rambutnya acak-acakan, bajunya basah menempel di tubuh. Tapi matanya — matanya masih menyala seperti bara api. "Setiap kali kau bilang 'mereka akan datang', mereka selalu datang. Coba sekali saja kau bilang 'mereka sudah menyerah', lihat apa itu jadi kenyataan."
"Aku hanya bicara fakta."
"Fakta bisa diatur. Ayahku bilang —"
"Kau sudah cerita soal ayahmu," Xiao Yu'er memotong datar. "Tiga kali sejak kita meninggalkan Pulau Terbang. Sekali waktu kau bilang dia peramal, sekali kau bilang dia penjudi, sekali kau bilang dia mantan algojo istana. Mana yang benar?"
Yue'er terdiam sejenak, lalu menyipitkan mata. "Semuanya."
"Mustahil."
"Dengar, bocah — di dunia ini, satu orang bisa jadi seribu hal. Kau kira Lord Hitam cuma pembunuh bayaran? Dia juga diplomat, juga saudagar, juga —"
"Diam!" Tianji bangkit, tubuhnya kaku seperti busur yang diregang. Matanya yang biasanya tenang kini menyipit tajam, menatap ke arah timur laut. "Mereka datang."
Dan benar saja. Dari kejauhan, tiga titik hitam muncul di cakrawala — kapal-kapal perang Mawar Hitam, layar hitamnya berkibar seperti sayap burung gagak raksasa. Mereka bergerak cepat, terlalu cepat untuk perahu nelayan sederhana dan compang-camping ini.
"Sialan," Xiao Yu'er menggeram. Tangannya sudah merogoh ke dalam jubah, mengeluarkan sejumlah kecil jarum beracun. "Aku bisa menghambat mereka. Tapi takkan bertahan lama."
"Tidak." Tianji menatap laut di depan. Karang-karang tajam menghadang di kiri kanan, tetapi di kejauhan, ia bisa melihat garis pantai — daratan! "Kita ke darat. Langsung. Jangan berhenti."
"Perahu ini takkan bisa —"
"Aku bilang langsung!"
Tianji melompat ke buritan, kedua telapak tangannya menempel pada lambung perahu yang rapuh. Ia menarik napas panjang, dan sesuatu terjadi — sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya di pertempuran sungguhan.
MP Lv2 — Energi Mistik Level Dua.
Di bawah telapak tangannya, kayu perahu mulai bergetar. Bukan getaran biasa, tapi getaran yang mengirim riak ke permukaan air di sekeliling mereka. Wajah Tianji memucat, urat-urat di pelipisnya menonjol, tapi matanya — matanya bersinar biru redup, seperti bara laut yang menyala di kedalaman.
"Laut… dengarkan aku," bisiknya.
Dan laut menjawab.
Ombak di belakang perahu mendadak membengkak, bukan ombak alami tapi lebih seperti tembok air yang didorong oleh kekuatan tak terlihat. Perahu nelayan itu melesat ke depan, melompat di atas karang-karang seperti ikan terbang. Yue'er menjerit kaget, nyaris jatuh, sementara Xiao Yu'er mencengkeram sisi perahu dengan jari-jari putih.
"APA YANG —"
"PEGANGAN!"
Perahu itu melesat melewati celah sempit di antara dua karang, hampir hancur berkeping-keping. Tapi Tianji tidak berhenti. Ia terus mengalirkan energinya ke dalam perahu, ke dalam air di sekeliling mereka, memanipulasi ombak seperti dalang memanipulasi boneka.
Di belakang mereka, kapal-kapal Mawar Hitam melambat — karang-karang terlalu berbahaya untuk kapal besar. Tapi dari dek salah satu kapal, sosok tinggi kurus melompat. Jubah hitamnya berkibar. Sosok itu berlari di atas air — bayangan hitam yang melesat cepat, tidak terhalang oleh karang atau ombak.
"Pemburu Tingkat Satu," Xiao Yu'er mendesis, wajahnya pucat. "Mereka mengirim Pemburu. Kita mati."
"Jangan kau bilang 'kita mati'!" Yue'er memukul kepala Xiao Yu'er. "Kita tidak mati! Tianji, apa kau dengar? Kita — TIDAK — MATI!"
Tianji tidak menjawab. Ia terlalu fokus mempertahankan konsentrasinya. MP Lv2 menguras tenaganya luar biasa — ia merasa seperti jantungnya mau meledak, pembuluh darahnya mau pecah. Tapi ia tidak bisa berhenti. Tidak sekarang.
Bayangan hitam itu — Pemburu Mawar Hitam — semakin dekat. Kini Tianji bisa melihat wajahnya. Pria berusia sekitar empat puluh, wajah panjang dan pucat seperti mayat hidup, dengan mata hitam pekat tanpa putih mata. Di tangannya, sebilah pedang lurus tipis berkilauan, ujungnya berlumuran sesuatu — mungkin racun.
"Tiga Anak Muda," suara Pemburu itu terdengar aneh, seperti dua batu digesekan. "Kapten mengirimku untuk kalian. Dia bilang kalian berharga. Hidup atau mati — terserah aku."
"Kami tidak punya urusan dengan Mawar Hitam!" teriak Yue'er.
"Setiap orang punya urusan dengan Mawar Hitam. Mereka hanya belum tahu."
Pemburu itu melompat — tubuhnya melayang di udara seperti burung hantu raksasa, pedangnya menusuk ke arah Tianji. Tianji tidak bisa mengelak — ia harus tetap memegang perahu, harus tetap mengendalikan ombak. Kalau ia melepaskan konsentrasinya, perahu mereka akan hancur di karang.
"YU'ER!"
Xiao Yu'er sudah bergerak sebelum Tianji selesai berbicara. Tubuhnya yang kecil melesat ke atas, kedua tangan melemparkan jarum beracun — dua belas jarum, masing-masing diarahkan ke titik-titik vital. Tapi Pemburu itu hanya mengibaskan lengan bajunya, dan jarum-jarum itu berbelok arah, jatuh ke laut tanpa menyentuhnya.
"Racunmu lemah," Pemburu itu mendengus. "Bocah culun."
Xiao Yu'er mendengus marah. Bocah culun — kata-kata itu adalah kenangan pahit dari masa lalunya, dari hari-hari ia diejek di Mawar Hitam karena tubuhnya yang kecil dan lemah. Tapi sekarang ia bukan yang dulu.
"Aku akan tunjukkan siapa yang culun —"
"Yu'er, mundur!" Tianji berteriak.
Perahu itu mendadak berbelok tajam, melesat ke samping kanan. Pedang Pemburu itu nyaris mengenai sisi perahu — hanya terpaut beberapa inci. Tapi manuver itu membuat Tianji kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terduduk, napasnya terengah-engah, energi di tangannya mulai meredup.
"Tianji!" Yue'er berlari ke sisinya. "Kau kenapa?"
"Aku… baik-baik saja," Tianji terbata.
Tapi dia tidak baik-baik saja. MP Lv2 benar-benar menguras tenaganya — lebih dari yang ia bayangkan. Peluh dingin mengalir di dahinya, tangannya gemetar, dan di dalam dadanya, ada rasa sakit yang menusuk-nusuk.
"Lihat," kata Pemburu itu, berdiri di atas batu karang, pedangnya menunjuk ke arah mereka. "Tenagamu habis. Dan kau masih jauh dari daratan. Menyerahlah."
"Sialan," Xiao Yu'er menggeram, tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya, ada rasa takut di matanya — bukan takut mati, tapi takut gagal. Takut kembali ke Mawar Hitam.
"Kita belum kalah," kata Yue'er, suaranya keras dan jelas. Ia berdiri, mengambil dayung, dan mulai mendayung dengan sekuat tenaga. "Kau dengar, iblis hitam? Kami belum kalah!"
"Aku kagum pada semangatmu," Pemburu itu tersenyum — senyuman yang dingin dan kosong. "Tapi semangat tidak akan menyelamatkanmu dari —"
Dia berhenti.
Sesuatu melesat dari arah daratan — cahaya perak yang bergerak begitu cepat, begitu lurus, hingga udara seolah terbelah. Pemburu itu baru sadar ketika cahaya itu sudah lewat di samping kepalanya, sebuah anak panah perak menancap di karang di belakangnya dengan suara DOR!
"SAUDARAKU! SIAPKAN BUSUR!"
Suara itu — berat, berwibawa, seperti genderang perang yang dipukul — menggema dari pantai. Tianji dan yang lain menoleh. Di garis pantai, sekelompok prajurit berseragam merah dan hitam berdiri, busur-busur mereka sudah terentang, ujung panah mengarah ke arah Pemburu Mawar Hitam.
"Pasukan Pangeran Ning," bisik Xiao Yu'er.
"Mereka… mereka di sini?" Yue'er tercekat.
Pemburu itu menatap prajurit-prajurit di pantai dengan dingin, lalu kembali menatap Tianji. "Kali ini kau beruntung, Anak Muda. Tapi Mawar Hitam punya kesabaran. Kita akan bertemu lagi."
Ia melompat ke belakang, tubuhnya menghilang di antara karang-karang. Dalam hitungan detik, ia sudah tidak terlihat — bayangan hitam yang melebur ke dalam bayang-bayang laut.
Tianji jatuh berlutut di perahu, napasnya tersengal. "Kita… selamat?"
"Sementara," jawab Xiao Yu'er muram. "Tapi lihat — pantainya sudah dekat. Kita bisa —"
"Bocah!" teriak prajurit itu dari kejauhan. "Perahu kalian menuju ke area terlarang Istana Pangeran Ning. Turunkan layar dan bersiaplah untuk diperiksa, atau kami panah —"
"Ayah!" Yueier tiba-tiba berteriak, suaranya melengking seperti elang. "AKU LIU YUE'ER! ANAK LIU DAHAN! BILANG PADA AYAHKU — KAMI KEMBALI!"
Prajurit-prajurit itu saling pandang. Salah satu dari mereka menunduk, berbisik pada yang lain. Beberapa detik berlalu — terasa seperti berjam-jam bagi Tianji.
Kemudian prajurit yang memimpin — seorang kapten berjanggut tebal — melambai. "Dekati! Tapi perlahan! Kalau ada gerakan mencurigakan —"
"Kami tidak akan melakukan apa-apa! KAMI HANYA INGIN DARATAN!"
Satu jam kemudian, mereka bertiga duduk di sebuah pos militer kecil di tepi pelabuhan, tubuh kering namun jiwa masih basah oleh ketakutan. Kapten berjanggut itu — namanya Kapten Wu — memberi mereka teh hangat dan selimut kering.
"Jadi kau benar-benar Liu Yue'er?" Kapten Wu menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Putri Liu Dahan? Aku dengar kau kabur dari rumah setahun lalu."
"Aku tidak kabur! Aku pergi mencari petualangan! Ada bedanya."
Kapten Wu tertawa. "Terserah kau, Nona. Tapi ayahmu — dia ada di istana, kau tahu? Pangeran Ning memanggilnya beberapa hari lalu. Ada urusan penting."
"Pangeran Ning?" Yue'er mengernyit. "Paman Ning? Kenapa dia —"
"Kau belum dengar?" Kapten Wu menatap mereka dengan ekspresi serius. "Dari mana kalian datang? Dari dasar laut?"
"Pulau Terbang," jawab Xiao Yu'er datar.
Kapten Wu tercengang. "Pulau Terbang? Tempat yang dikuasai Mawar —" Ia berhenti, menyadari sesuatu. "Jadi benar. Mawar Hitam ada di mana-mana, ya?"
"Ada apa dengan Pangeran Ning?" Tianji bertanya, rasa dingin mulai menjalari punggungnya.
Kapten Wu menatap mereka lama, lalu menurunkan suaranya. "Pangeran Ning dituduh memberontak. Kaisar di ibu kota telah mengirim utusan — seorang yang dikenal sebagai Lord Hitam — untuk menyelidiki. Katanya, kalau terbukti, Pangeran Ning akan dieksekusi."
Udara di tenda itu terasa beku.
"Dan Liu Dahan?" Yue'er berbisik, suaranya bergetar untuk pertama kalinya. "Ayahku… apa dia terlibat?"
Kapten Wu menghela napas. "Dia yang dipanggil sebagai saksi. Katanya, dia yang akan menentukan apakah Pangeran Ning bersalah atau tidak."
Yue'er jatuh terduduk. Xiao Tianji menatapnya, jantungnya berdegup kencang. Lord Hitam — nama itu, bayangan itu — akhirnya muncul. Di daratan. Di istana. Dan Liu Dahan, ayah Yue'er, ada di pusat badai yang akan datang.
"Kita harus ke Istana Pangeran Ning," kata Tianji pelan.
"Gila," Xiao Yu'er menggeleng. "Kita baru sampai di darat, tubuh kita masih —"
"Aku peduli?" Tianji menatapnya dengan mata yang tajam. "Kau yang bilang Mawar Hitam tidak pernah melepaskan sasarannya. Kalau Lord Hitam sudah di sini, itu artinya dia sudah selangkah di depan kita. Dan Liu Dahan —"
"Kita pergi," potong Yue'er, bangkit berdiri. Matanya masih sembab, tapi api di dalamnya tidak padam. "Ayahku butuh aku. Dan aku butuh kalian."
Xiao Yu'er menghela napas panjang. "Aku benci kalian berdua."
Tianji hampir tersenyum. "Benci nanti. Sekarang — berangkat."
Malam itu, tiga bayangan meninggalkan pos militer, bergerak menuju kota pelabuhan Mo Yang — kota di mana Istana Pangeran Ning berdiri. Angin laut bertiup kencang, membawa bau garam dan darah. Di langit, awan hitam menutupi bulan.
Di kejauhan, di menara tertinggi kapal Mawar Hitam, Lord Hitam tersenyum tipis.
"Tikus-tikus kecil… akhirnya masuk perangkap."