Malam berikutnya, bulan terbenam di ufuk barat. Laut berwarna perak di bawah sinar bintang. Angin bertiup lembut, membawa bau garam dan rumput laut.
Di pantai Pulau Terbang, sebuah perahu kayu kecil telah disiapkan. Li Qingfeng telah memperbaikinya selama tiga hari terakhir — menambal lubang, mengganti layar, memastikan semuanya berfungsi dengan baik.
"Ini bukan perahu bagus," kata Li Qingfeng, menepuk lambung perahu yang penuh tambalan. "Tapi cukup untuk membawa kalian ke daratan. Dalam tiga hari, kalian akan sampai di Pelabuhan Timur."
Tianji memandangi perahu itu, lalu memandangi Li Qingfeng. Di bawah cahaya bintang, wajah tua Li Qingfeng terlihat pucat. Ada kerutan di dahinya yang tidak ada sebelumnya. Tangannya — yang biasanya kokoh — kini sedikit gemetar.
"Kakek Li," kata Tianji, "Kakek tidak sehat."
"Aku sehat," kata Li Qingfeng cepat. Terlalu cepat. "Hanya sedikit lelah. Usia sudah tidak muda lagi."
"Kakek berbohong," suara Yue'er terdengar dari belakang. Ia berjalan mendekat, busur di punggung, tempat anak panah di pinggang. Matanya tajam, penuh kecurigaan. "Wajah Kakek pucat seperti mayat. Tangan Kakek gemetar. Dan sejak kemarin, Kakek batuk terus."
Li Qingfeng tertawa — tawa yang berakhir dengan batuk. Kali ini, batuknya parah. Ia membungkuk, tangannya menutup mulut.
Ketika ia menegakkan tubuh, Tianji melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Darah. Di sela-sela jari Li Qingfeng.
"Kakek!" Tianji melangkah maju, meraih lengan Li Qingfeng. "Kakek sakit parah!"
"Bukan apa-apa," kata Li Qingfeng, menyembunyikan tangannya di balik jubah. "Hanya batuk biasa. Udara pantai tidak cocok untukku."
"Batuk biasa tidak mengeluarkan darah," kata Xiao Yu'er dingin. Ia berjalan mendekat, matanya mengamati Li Qingfeng dari kepala hingga kaki. "Kakek, biarkan aku memeriksa denyut nadi Kakek."
"Tidak perlu," kata Li Qingfeng, mundur selangkah.
Tapi Xiao Yu'er sudah bergerak. Ia mencengkeram pergelangan tangan Li Qingfeng — dan Li Qingfeng terlalu lemah untuk melepaskan diri.
Semakin lama Xiao Yu'er meraba denyut nadi Li Qingfeng, semakin pucat wajahnya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Tianji cemas.
Xiao Yu'er melepaskan pergelangan tangan Li Qingfeng. Matanya gelap. "Meridiannya rusak. Paru-parunya bocor. Qi-nya… hampir habis."
"APA?" Tianji dan Yue'er berkata bersamaan.
"Ini bukan penyakit biasa," kata Xiao Yu'er. "Ini luka dalam. Luka yang sudah lama, mungkin puluhan tahun. Dan baru-baru ini ada yang memperparahnya."
Li Qingfeng menghela napas panjang. "Kau benar, Xiao Yu'er. Anak yang cerdas. Seharusnya aku tahu kau akan menemukannya."
"Apa yang terjadi?" desak Tianji.
Li Qingfeng duduk di atas batu. Untuk pertama kalinya, ia terlihat benar-benar tua. Punggungnya bungkuk, bahunya merosot, matanya redup.
"Tiga puluh tahun lalu," katanya pelan, "aku melawan seorang ahli Mawar Hitam. Pertarungan sengit. Aku berhasil mengalahkannya, tapi telapak tangannya mengenai dadaku. Qi beracunnya masuk ke dalam tubuhku dan merusak meridianku. Sejak itu, tubuhku tidak pernah sama lagi."
"Tapi Kakek masih kuat," kata Yue'er. "Kakek bisa melompat, berlari, mengajarkan memanah…"
"Kekuatan itu hanya topeng," kata Li Qingfeng. "Setiap kali aku menggunakan Qi, luka lamaku terbuka kembali. Semakin sering aku menggunakan tenaga, semakin cepat tubuhku hancur."
Tianji merasakan dadanya sesak. "Selama ini… selama Kakek mengajarkanku… Kakek menyakiti dirinya sendiri?"
"Tidak apa-apa," kata Li Qingfeng. "Tubuhku sudah tua. Hidupku tidak lama lagi. Lebih baik aku menghabiskan sisa waktuku untuk hal yang berguna daripada duduk diam menunggu kematian."
"Aku tidak bisa menerima ini," kata Tianji, suaranya bergetar. "Kakek sudah berkorban begitu banyak untukku."
"Korban?" Li Qingfeng tertawa — tawa parau yang berakhir dengan batuk. "Kau pikir aku berkorban? Bodoh. Aku melakukan ini untuk menebus dosaku."
"Dosa?"
"Aku bilang kan, tiga puluh tahun lalu, aku diam saat Guru Besar Taiyi dibunuh. Aku takut. Aku lari. Aku meninggalkan sahabatku — Xuan Qingzi, gurumu — untuk menghadapi Mawar Hitam sendirian. Selama tiga puluh tahun, aku hidup dalam penyesalan."
Air mata mengalir di pipi tua Li Qingfeng. "Ketika Xuan Qingzi datang ke pulau ini sepuluh tahun lalu, ia sudah sekarat. Ia bercerita tentang muridnya — kau, Tianji — yang memiliki kemampuan penyerapan. Ia memohon padaku untuk menjagamu jika suatu hari kau datang ke Pulau Terbang."
"Aku bilang ya. Bukan karena aku baik. Tapi karena aku ingin menebus kesalahanku."
Tianji berlutut di depan Li Qingfeng. "Kakek Li, Kakek tidak bersalah. Kakek adalah… Kakek adalah guruku. Kakek adalah orang yang mengajariku tentang arti sebenarnya dari kekuatan ini."
"Kau terlalu baik, anak muda," kata Li Qingfeng, menyentuh kepala Tianji. Tangannya dingin — lebih dingin dari air laut. "Tapi kau harus pergi. Fajar akan segera tiba. Dan Mawar Hitam sudah di depan pintu."
"Mereka sudah dekat?" tanya Yue'er.
"Lihat," kata Li Qingfeng, menunjuk ke kejauhan.
Di cakrawala, titik-titik api kecil berkelap-kelip. Obor. Obor dari kapal-kapal yang mendekat.
Tianji menghitung. Lima. Enam. Mungkin delapan kapal.
"Itu armada," bisik Xiao Yu'er. "Armada Mawar Hitam."
"Kalian harus pergi sekarang," kata Li Qingfeng. "Jika mereka sampai, kalian tidak akan bisa melarikan diri."
Tianji berdiri. Hatinya perih, tapi ia tahu Li Qingfeng benar. "Kakek, ikutlah dengan kami."
"Aku tidak bisa," kata Li Qingfeng. "Tubuhku sudah tidak kuat untuk perjalanan laut. Dan aku harus tetap di sini — untuk mengalihkan perhatian mereka."
"Tidak!" seru Tianji. "Kakek akan mati!"
"Mati?" Li Qingfeng tersenyum — senyum damai yang membuat Tianji tertegun. "Anak muda, kematian bukanlah akhir. Kematian adalah… istirahat. Dan aku sudah lelah. Sangat lelah."
"Tapi…"
"Dengar," kata Li Qingfeng, memotong. "Aku sudah hidup tujuh puluh tiga tahun. Aku telah melihat keindahan dunia ini. Aku telah merasakan cinta, persahabatan, pengkhianatan, penyesalan. Dan sekarang, di akhir hidupku, aku bertemu dengan kalian — tiga anak muda yang memberiku harapan."
"Kau memberikan harapan itu padaku, Tianji. Melihatmu berlatih, melihatmu tumbuh, melihatmu menguasai MP level dua — itu sudah cukup untuk membuat sisa hidupku berarti."
Air mata Tianji jatuh. Ia tidak bisa menahannya. "Kakek…"
"Jangan menangis," kata Li Qingfeng. "Pendekar sejat tidak menangis. Mereka berjuang."
Ia berdiri, meski tubuhnya goyah. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sesuatu — sebuah gelang giok hijau tua, diukir dengan naga melingkar.
"Ini untukmu, Yue'er," katanya, memberikan gelang itu kepada Yue'er. "Gelang ini milik istriku. Ia meninggal tiga puluh tahun lalu, saat melahirkan anak kami. Anak itu juga tidak selamat. Aku menyimpan gelang ini selama ini sebagai kenangan."
"Sekarang, aku memberikannya padamu. Kau mengingatkanku padanya — ceria, keras kepala, dan penuh semangat. Jagalah gelang ini."
Yue'er menerima gelang itu dengan tangan gemetar. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa berkata-kata. Air mata mengalir di pipinya.
"Terima kasih, Kakek," bisiknya.
"Dan untukmu, Xiao Yu'er," kata Li Qingfeng, memberikan sebuah buku kecil bersampul kulit. "Ini catatanku tentang racun dan pengobatan. Aku menulisnya selama dua puluh tahun. Semua pengetahuanku tentang tanaman obat, racun, dan penawarnya ada di sini."
Xiao Yu'er menerima buku itu, wajahnya tidak menunjukkan emosi. Tapi tangannya — tangannya gemetar.
"Aku… aku tidak tahu harus berkata apa," katanya akhirnya.
"Kau tidak perlu berkata apa-apa," kata Li Qingfeng. "Hanya janji padaku — gunakan pengetahuan ini untuk kebaikan. Bukan untuk balas dendam."
"Janji," kata Xiao Yu'er.
"Bagus." Li Qingfeng berbalik ke arah Tianji. "Dan untukmu, muridku… aku hanya punya satu pesan."
"Apa pun, Guru."
"Jangan kehilangan dirimu sendiri," kata Li Qingfeng. "Kekuatan bisa mengubah seseorang. MP level dua, fragmen ketiga, fragmen keempat — semua itu hanyalah alat. Yang paling penting adalah hatimu. Jika hatimu baik, kekuatanmu akan menjadi anugerah. Jika hatimu jahat, kekuatanmu akan menjadi kutukan."
"Aku mengerti," kata Tianji.
"Aku tidak yakin kau mengerti," kata Li Qingfeng. "Tapi suatu hari, kau akan mengerti."
Ia memandangi tiga anak muda di depannya. Matanya berbinar — seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Sekarang, pergilah," katanya. "Sebelum terlambat."
Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er naik ke perahu. Tianji mengambil dayung, Xiao Yu'er mengangkat layar, Yue'er duduk di haluan mengawasi laut.
Ketika perahu mulai menjauh dari pantai, Tianji menoleh ke belakang.
Li Qingfeng masih berdiri di pantai, tubuhnya tegak meski rapuh. Di kejauhan, obor-obor Mawar Hitam semakin dekat — begitu dekat sehingga Tianji bisa melihat bayangan-bayangan gelap di atas kapal.
"Kakek! Ikutlah dengan kami!" teriak Tianji.
Tapi Li Qingfeng hanya menggeleng. Ia mengangkat tangannya — memberi salam perpisahan.
Perahu bergerak semakin jauh. Pulau Terbang semakin kecil di cakrawala.
Dan tiba-tiba — dari arah pulau — Tianji melihat sesuatu.
Asap.
Asap hitam membumbung tinggi ke langit.
Pulau Terbang terbakar.
"TIDAK!" teriak Tianji. Ia hampir melompat ke laut, tapi Yue'er menahannya.
"Jangan! Kau tidak bisa membantunya!"
"Aku harus kembali! Dia masih di sana!"
"Lihat!" Xiao Yu'er menunjuk.
Di pantai yang terbakar, Tianji melihat bayangan kecil — Li Qingfeng, berdiri di antara api, menghadapi puluhan bayangan hitam yang menyerbu ke arahnya.
Bayangan tua itu tidak mundur. Ia mengangkat tangannya, dan meski dari kejauhan, Tianji bisa merasakan Qi-nya — meledak dengan kekuatan terakhir yang dimilikinya.
Li Qingfeng bertarung.
Seorang diri melawan seluruh armada Mawar Hitam.
"GURU!" teriak Tianji, suaranya pecah.
Tapi tidak ada jawaban. Hanya suara angin dan ombak.
Dan di kejauhan, api semakin membesar, menelan Pulau Terbang dalam amukan merah.
***
Tiga hari kemudian, perahu kecil itu mencapai daratan.
Mereka mendarat di Pelabuhan Timur — kota pelabuhan yang ramai, dengan kapal-kapal bersandar di dermaga, pedagang berteriak menjual barang, dan aroma ikan asin di mana-mana.
Tapi Tianji tidak merasakan keramaian itu. Matanya kosong, memandangi laut di belakangnya — laut yang telah menelan gurunya.
"Tianji." Suara Yue'er lembut. Ia meraih tangan Tianji. "Kita harus mencari penginapan. Istirahat. Lalu kita lanjutkan perjalanan."
"Kemana?" tanya Tianji, suaranya hampa.
"Ke Lembah Naga Tidur," kata Xiao Yu'er tegas. "Untuk fragmen ketiga. Itu yang diinginkan Kakek Li."
Tianji mengepalkan tangannya. Air mata tidak lagi mengalir — sudah habis sejak semalam.
"Ya," katanya akhirnya. "Ke Lembah Naga Tidur."
Ia menatap ke arah barat, di mana pegunungan menjulang di kejauhan.
"Aku akan melanjutkan perjalanan ini, Guru," bisiknya dalam hati. "Aku akan menguasai semua fragmen. Aku akan mengungkap rahasia MP. Dan suatu hari — aku akan menghancurkan Mawar Hitam sampai ke akar-akarnya."
Ia tidak tahu bahwa di belakangnya, di antara kerumunan pelabuhan, ada mata-mata Mawar Hitam yang telah mengawasi mereka sejak mereka mendarat.
Dan di istana Pangeran Ning, ribuan li di utara, Yue'er akan segera dihadapkan pada pilihan yang akan mengubah segalanya.
Tapi untuk saat ini, mereka hanyalah tiga anak muda — seorang penyerap, seorang pemanah, dan seorang peracik — yang memulai perjalanan menuju Lembah Naga Tidur.
Perjalanan yang akan menentukan nasib dunia persilatan.
[/AKHIR BAB 25]