📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 24 — FRAGMEN KEDUA

← BAB 23 — KEHIDUPAN DI PULAU BAB 25 — PERPISAHAN DENGAN PUL… →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Tujuh hari setelah Tianji berhasil mencapai MP level dua, Li Qingfeng memanggilnya ke gua kitab — ruang rahasia di dalam gua utama yang tidak pernah ditunjukkan kepada Yue'er maupun Xiao Yu'er.

Gua kitab itu kecil, hanya selebar lima langkah, dengan dinding batu yang dipenuhi ukiran aksara kuno. Di tengah ruangan, sebuah altar batu menjulang setinggi dada, dan di atasnya, lilin menyala dengan nyala api biru pucat.

"Fragmen kedua," kata Li Qingfeng, meletakkan sutra tua di atas altar. "Kau sudah membaca dan menghafalnya. Sekarang saatnya kau mempraktikkan isi yang sebenarnya."

Tianji mengerutkan kening. "Bukankah aku sudah melakukannya? Membuka titik LA, mengendalikan penyerapan…"

"Itu hanya sebagian kecil," potong Li Qingfeng. "Fragmen kedua berisi lebih dari sekadar metode penguasaan. Di dalamnya, tersembunyi cara PEMURNIAN — metode untuk menghilangkan efek Qi asing dari tubuh."

Tianji terkejut. "Tapi Kakek bilang metode pemurnian ada di fragmen ketiga."

"Aku berbohong."

Udara di gua terasa membeku. Tianji menatap Li Qingfeng dengan mata terbelalak. "Kakek berbohong?"

"Untuk melindungimu," kata Li Qingfeng, tanpa rasa bersalah di matanya. "Jika kau tahu bahwa fragmen kedua sudah berisi metode pemurnian, kau mungkin akan terburu-buru mempraktikkannya. Dan jika tubuhmu belum siap, kau bisa mati."

Tianji tidak tahu harus marah atau bersyukur. Ia menekan emosinya. "Jadi, sekarang aku sudah siap?"

"Tubuhmu sudah cukup kuat untuk menahan proses pemurnian," kata Li Qingfeng. "Tapi jiwamu — itu yang harus kuuji."

"Jiwa?"

"Pemurnian bukanlah proses fisik semata. Ini adalah pertempuran batin. Saat Qi asing keluar dari tubuhmu, kau akan merasakan emosi dari pemilik Qi itu — kemarahan, ketakutan, penderitaan. Jika kau tidak bisa mengendalikan emosi itu, kau akan kehilangan dirimu sendiri."

Tianji merasakan dingin merambat di punggungnya. "Apa yang harus aku lakukan?"

"Duduk. Tutup mata. Buka titik LA seperti yang sudah kuajarkan. Tapi kali ini, jangan hanya menyerap — kau harus memisahkan."

"Memisahkan?"

"Qi yang kau serap terdiri dari dua bagian: energi murni dan sisa-sisa kesadaran. Energi murni bisa kau serap dan kau gunakan. Tapi sisa-sisa kesadaran — emosi, ingatan, keinginan — harus kau buang. Jika tidak, mereka akan menumpuk di dalam dirimu dan pada akhirnya mengendalikanmu."

Tianji duduk di lantai batu yang dingin. Ia mengatur napasnya, menenangkan pikirannya. Perlahan, ia membuka titik LA.

Segera, ia bisa merasakan Qi di sekitarnya — Qi Li Qingfeng yang dingin, Qi Yue'er yang hangat di luar gua, Qi Xiao Yu'er yang gelap. Tapi kali ini, ia tidak hanya merasakan kekuatan mereka. Ia merasakan emosi mereka.

Kesepian Li Qingfeng yang dalam. Semangat Yue'er yang membara. Kepedihan Xiao Yu'er yang tersembunyi.

"Sekarang, lihat ke dalam dirimu sendiri," bisik Li Qingfeng. "Rasakan Qi asing yang telah kau serap selama ini."

Tianji mengalihkan perhatiannya ke dalam tubuhnya sendiri. Di sana, di samping Qi emasnya yang bersih, ada gumpalan-gumpalan Qi berwarna gelap — Qi yang ia serap dari musuh-musuhnya.

Ia menyentuh salah satunya — Qi dari Pendekar Maut yang ia bunuh di pelabuhan.

Seketika, gelombang kemarahan membanjiri dirinya. Ia merasakan amarah Pendekar Maut — amarah terhadap dunia yang kejam, terhadap guru yang mengkhianati, terhadap semua orang yang meremehkannya. Amarah itu begitu kuat, begitu murni, sehingga Tianji hampir tenggelam di dalamnya.

"Jangan melawan!" perintah Li Qingfeng. "Rasakan, tapi jangan menjadi bagian darinya!"

Tianji mencoba mengikuti perintah itu. Ia merasakan amarahnya, tapi ia tidak membiarkan amarah itu mengambil alih. Ia seperti mengamati ombak dari kejauhan — melihatnya, tapi tidak ikut terseret.

Perlahan, amarah itu mulai mereda. Qi gelap itu mulai memisahkan diri — energi murninya mengalir ke Qi emas Tianji, sementara sisa-sisa kesadaran menguap seperti kabut terkena sinar matahari.

Tianji membuka mata. Napasnya terengah-engah, tapi wajahnya berseri-seri. "Aku… aku berhasil memurnikan satu."

"Bagus," kata Li Qingfeng, suaranya penuh kepuasan. "Tapi kau masih punya banyak Qi asing di dalam tubuhmu. Berapa banyak yang sudah kau serap?"

"Banyak," aku Tianji. "Puluhan, mungkin ratusan. Dari para pemburu bayaran, dari Pendekar Maut, dari beberapa anggota Mawar Hitam yang kuhadapi."

"Pemurnian akan memakan waktu," kata Li Qingfeng. "Setiap hari, kau harus memurnikan setidaknya dua Qi asing. Jika tidak, penumpukan akan terjadi dan kau akan kehilangan kendali."

"Aku mengerti."

"Tapi ada hal lain yang lebih penting," kata Li Qingfeng. "Sekarang setelah kau bisa memurnikan, kau bisa mulai menyerap Qi secara sengaja — tidak hanya menunggu disentuh musuh. Kau bisa MENARIK Qi dari lawan dari jarak tertentu."

Mata Tianji membelalak. "Menarik Qi dari jarak jauh?"

"Dengan syarat," kata Li Qingfeng. "Jarak maksimal lima langkah, dan lawan harus lebih lemah darimu. Jika lawan lebih kuat, ia bisa membalikkan seranganmu dan kau yang akan kehilangan Qi."

"Aku mengerti." Tianji berpikir sejenak. "Kakek Li, Kakek bilang fragmen ketiga ada di Lembah Naga Tidur. Tapi Kakek juga bilang bahwa pemurnian ada di fragmen kedua. Jadi apa isi fragmen ketiga yang sebenarnya?"

Li Qingfeng tersenyum misterius. "Fragmen ketiga berisi cara PENGGABUNGAN — cara menggabungkan Qi dari berbagai sumber untuk menciptakan serangan yang mematikan. Tanpa fragmen ketiga, kau hanya bisa menyerap dan memurnikan. Dengan fragmen ketiga, kau bisa menggunakan Qi yang telah kau serap sebagai senjatamu sendiri."

Tianji merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. "Itu… itu luar biasa."

"Luar biasa dan berbahaya," kata Li Qingfeng. "Kombinasi Qi yang salah bisa meledak di dalam tubuhmu. Kau harus sangat berhati-hati."

"Kakek punya peta ke Lembah Naga Tidur?"

Li Qingfeng mengangguk. Ia berjalan ke altar dan menekan ukiran tertentu. Terdengar bunyi klik, dan laci rahasia terbuka di bawah altar.

Di dalam laci itu, tergeletak selembar peta kulit kambing yang telah menguning. Peta itu digambar dengan tinta merah, menunjukkan pegunungan, sungai, dan hutan.

"Ini peta ke Lembah Naga Tidur," kata Li Qingfeng, memberikan peta itu kepada Tianji. "Lembah ini terletak di Pegunungan Kunlun, di perbatasan barat daratan. Perjalanan dari sini memakan waktu sekitar satu bulan dengan kapal dan ongkos."

Tianji menerima peta itu dengan tangan gemetar. Kulitnya kasar, penuh lubang kecil — mungkin dimakan rayap seiring usia.

"Ada tiga jebakan di lembah itu," kata Li Qingfeng. "Pertama, Hutan Bambu Beracun — setiap bambu di hutan itu mengeluarkan racun yang bisa melumpuhkan dalam hitungan napas. Kedua, Jurang Seribu Iblis — jembatan batu yang rapuh, satu langkah salah dan kau jatuh ke jurang. Ketiga, Gua Naga — tempat fragmen ketiga disimpan, dijaga oleh ular piton raksasa."

"Ular piton?" Tianji mengerutkan kening.

"Bukan ular biasa. Ular itu sudah berusia lebih dari seratus tahun. Panjangnya mencapai sepuluh zhang. Racunnya bisa membunuh seratus orang dalam sekejap."

Tianji merasakan tenggorokannya kering. Tapi ia menelan ketakutannya. "Aku akan menghadapinya."

"Kau tidak akan sendirian," kata Li Qingfeng. "Kau punya Yue'er dan Xiao Yu'er. Tapi ingat — di Lembah Naga Tidur, mereka tidak bisa membantumu. Jebakan-jebakan itu hanya bisa dihadapi oleh orang yang memiliki Qi khusus — orang sepertimu."

"Mengapa?"

"Karena jebakan-jebakan itu diciptakan oleh leluhurmu. Mereka dirancang untuk merespons Qi Keluarga Penyerap. Orang lain yang masuk akan terjebak."

Tianji meremas peta di tangannya. "Kakek Li… kapan waktu yang tepat untuk pergi?"

Li Qingfeng memandang ke luar gua. Langit mulai gelap. Bulan sabit tergantung di ufuk barat.

"Besok malam," katanya tiba-tiba.

"BESOK?" Tianji terkejut. "Tapi… tapi kami baru saja mulai…"

"Waktunya habis," kata Li Qingfeng. Suaranya tiba-tiba tegang. "Aku bisa merasakannya. Mereka sudah dekat."

"Siapa?"

"Mawar Hitam."

Dada Tianji seperti diremas. "Mereka sudah menemukan pulau ini?"

"Belum. Tapi mereka sudah di laut. Aku bisa merasakan Qi mereka — dingin, gelap, penuh kebencian. Mereka akan tiba dalam dua atau tiga hari."

Tianji mengepalkan tangannya. "Kalau begitu, kita harus pergi malam ini juga."

"Tidak," kata Li Qingfeng. "Kau harus pergi besok malam. Ada satu hal lagi yang harus kau pelajari sebelum pergi."

"Apa itu?"

"Metode DINGIN — cara menyembunyikan Qi-mu. Jika kau membiarkan Qi-mu terbuka, Mawar Hitam akan bisa melacakmu dari jarak bermil-mil. Tapi jika kau bisa menutup Qi-mu sepenuhnya, mereka tidak akan bisa mendeteksimu."

"Bisakah Kakek mengajarkannya dalam satu malam?"

"Bisa," kata Li Qingfeng. "Tapi kau harus berjanji padaku satu hal."

"Apa pun."

"Jangan gunakan MP level dua untuk balas dendam," kata Li Qingfeng, matanya menatap tajam ke arah Tianji. "MP adalah anugerah, bukan kutukan. Tapi juga bukan senjata. Gunakan untuk melindungi, bukan untuk membunuh. Janji?"

Tianji menatap mata tua yang penuh kebijaksanaan itu. Ia ingat semua yang telah ia lalui — kematian Xuan Qingzi, pengkhianatan, perburuan. Ia ingin membalas dendam. Ia ingin membuat Mawar Hitam merasakan penderitaan yang sama.

Tapi di mata Li Qingfeng, ia melihat sesuatu yang lebih besar.

"Janji," kata Tianji akhirnya. "Aku tidak akan menggunakan MP untuk balas dendam."

Li Qingfeng tersenyum — senyum tulus pertamanya sejak Tianji tiba di Pulau Terbang. "Bagus. Sekarang, duduklah. Malam ini akan panjang. Kau harus belajar metode Dingin sebelum fajar."

Tianji duduk bersila. Li Qingfeng duduk di hadapannya, dan untuk pertama kalinya, ia meletakkan kedua tangannya di pundak Tianji.

"Tutup matanya. Rasakan Qi-ku. Ikuti alirannya."

Tianji memejamkan mata. Ia merasakan Qi Li Qingfeng memasuki tubuhnya — hangat, lembut, seperti air sungai di musim semi. Qi itu mengalir melalui meridiannya, menuju ke titik-titik akupuntur tertentu, dan…

Dan tiba-tiba, Qi Tianji seperti padam.

Bukan menghilang, tapi menyusut, memadat, menjadi sangat kecil sehingga hampir tidak terdeteksi. Seperti lilin yang apinya dikecilkan hingga hampir padam.

"Metode Dingin," bisik Li Qingfeng. "Kau menekan Qi-mu ke titik terendah. Cukup untuk bertahan hidup, tapi tidak cukup untuk dideteksi."

Tianji membuka mata. Di cermin batu di dinding gua, ia melihat dirinya sendiri — dan terkejut. Ia terlihat… berbeda. Kurang bertenaga. Seperti orang biasa yang tidak memiliki Qi sama sekali.

"Ini luar biasa," bisik Tianji.

"Tapi ingat," kata Li Qingfeng, melepaskan tangannya. "Metode Dingin hanya bisa bertahan selama sehari penuh. Setelah itu, Qi-mu akan kembali normal secara perlahan. Kau harus mengaktifkannya kembali setiap dua belas jam."

"Aku mengerti."

Di luar gua, suara burung malam terdengar. Bulan telah naik tinggi.

"Pergilah," kata Li Qingfeng. "Kumpulkan teman-temanmu. Besok malam, saat bulan terbenam, kau harus sudah meninggalkan pulau ini."

Tianji berdiri, memberi hormat dalam-dalam. "Terima kasih, Kakek Li. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Kakek."

"Jangan berterima kasih dulu," kata Li Qingfeng, suaranya tiba-tiba serak. "Kau belum tahu apa yang menantimu di Lembah Naga Tidur. Dan kau belum tahu harga yang harus kau bayar untuk kekuatan ini."

"Harga?"

Li Qingfeng tidak menjawab. Ia hanya memandang Tianji dengan mata penuh arti — mata yang tahu lebih banyak daripada yang diucapkannya.

"Pergilah," katanya sekali lagi. "Dan ingat — jangan pernah meremehkan Mawar Hitam. Mereka bukan sekadar organisasi pembunuh. Mereka adalah bayangan yang telah ada selama seribu tahun. Dan bayangan tidak pernah mati."

Tianji melangkah keluar dari gua dengan hati berat. Di depannya, laut terbentang gelap, tak berujung.

Di suatu tempat di seberang lautan itu, Lembah Naga Tidur menunggu.

Dan di belakangnya, Mawar Hitam mendekat.

[/AKHIR BAB 24]

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 23 — KEHIDUPAN DI PULAU BAB 25 — PERPISAHAN DENGAN PUL… →