📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 23 — KEHIDUPAN DI PULAU

← BAB 22 — METODE PENGUASAAN BAB 24 — FRAGMEN KEDUA →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Tiga minggu berlalu di Pulau Terbang seperti mimpi panjang. Pagi-pagi, Tianji berlatih di air terjun sementara kabut masih menggantung di puncak-puncak pohon. Siang hari, ia duduk bersila di gua bersama Li Qingfeng, mempelajari seluk-beluk MP level dua — cara membuka penyerapan tanpa suara, cara menutupnya dalam satu kedipan mata, cara membedakan Qi ramah dari Qi bermusuhan hanya dari rasanya.

Sore hari, Tianji bergabung dengan Yue'er dan Xiao Yu'er, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan apa artinya hidup normal.

Atau setidaknya, semirip mungkin dengan normal.

"Ayo, tembak lagi!" seru Yue'er, menarik busur kayu yang dibuatkan Li Qingfeng untuknya.

Li Qingfeng berdiri di sampingnya, matanya tajam mengamati setiap gerakan Yue'er. Gadis itu telah berlatih memanah setiap sore selama dua minggu terakhir. Awalnya, ia sangat payah — anak panahnya sering meleset jauh, bahkan kadang meluncur ke arah yang salah.

Tapi Yue'er tidak pernah menyerah. Ia berlatih setiap hari, dari pagi hingga petang, sampai jari-jarinya lecet dan kapalan. Dan perlahan, hasilnya mulai terlihat.

Busur direntangkan. Yue'er memejamkan satu mata, membidik dengan saksama. Targetnya adalah buah kelapa yang digantung di pohon, sekitar lima puluh langkah dari tempatnya berdiri.

"Ingat," kata Li Qingfeng, "jangan tegangkan bahu. Biarkan lenganmu rileks. Tarik napas saat membidik, lepaskan saat menghembuskan napas."

Yue'er mengangguk. Ia menarik napas panjang, busur direntangkan penuh, lalu — lepaskan.

Anak panah meluncur cepat, membelah udara dengan suara mendesing. Dan…

"MENGENA!" Yue'er melompat-lompat kegirangan. Anak panah itu tertancap tepat di tengah kelapa, getah kelapa menetes dari lubang kecil.

Li Qingfeng tersenyum tipis — senyum langka yang jarang terlihat di wajah tuanya. "Bagus. Posturmu sudah membaik. Tapi masih ada yang perlu diperbaiki."

"Apa lagi?" keluh Yue'er.

"Kau bergerak terlalu banyak saat melepaskan anak panah. Dalam memanah, yang paling penting adalah kestabilan. Tubuhmu harus seperti batu — tidak bergerak meski angin kencang menerpa."

Yue'er mengangguk, matanya berbinar semangat. "Ajar aku lagi, Kakek Li! Aku ingin bisa membidik dari jarak seratus langkah!"

"Tergesa-gesa," gumam Li Qingfeng, tapi ada nada bangga dalam suaranya. "Baiklah. Tapi kali ini, kau harus berdiri dengan satu kaki."

"Satu kaki?"

"Ya. Keseimbangan adalah dasar dari semua ilmu persilatan. Jika kau bisa memanah dengan stabil dalam posisi satu kaki, kau bisa memanah dalam posisi apa pun."

Yue'er mengangkat salah satu kakinya, mencoba berdiri tegak. Tubuhnya bergoyang-goyang seperti bambu ditiup angin.

"Jangan kaku," kata Li Qingfeng. "Rileks. Bayangkan kakimu adalah akar pohon yang mencengkeram tanah."

Yue'er menarik napas, berusaha rileks. Tubuhnya mulai stabil. Perlahan, ia merentangkan busur dan membidik.

Di kejauhan, Tianji menyaksikan dengan senyum di wajahnya. Ia duduk di atas batu besar, menyelesaikan latihan MP-nya untuk hari itu. Melihat Yue'er begitu bersemangat, begitu hidup, membuat hatinya hangat.

"Kau menyukainya." Suara Xiao Yu'er tiba-tiba muncul dari sampingnya.

Tianji sedikit terkejut. Xiao Yu'er bisa bergerak sangat sunyi — kebiasaan dari masa lalunya sebagai korban Mawar Hitam.

"Menyukai apa?"

"Yue'er."

Tianji tersipu. Matanya menghindar. "Aku… tentu saja aku menyukainya. Dia adalah temanku."

Xiao Yu'er menggeleng. "Bukan seperti itu. Maksudku, kau menyukainya. Lebih dari teman."

Tianji tidak menjawab. Jari-jarinya memainkan ujung jubahnya. "Apa kau tidak punya kerjaan lain, Xiao Yu'er?"

"Aku sedang meracik obat," jawab Xiao Yu'er datar. Ia duduk di samping Tianji dan mengeluarkan sekantong daun-daunan kering dari sakunya. "Kakek Li mengajariku tentang tanaman obat di pulau ini. Ada beberapa jenis jamur langka yang hanya tumbuh di tebing utara."

"Jamur?" Tianji mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Untuk menyembuhkan luka dalam," kata Xiao Yu'er. "Pertarungan kalian melawan Mawar Hitam — suatu hari, mungkin kita akan terluka. Aku ingin bisa membantu."

Tianji menatap Xiao Yu'er dengan penuh rasa hormat. "Kau telah berubah, Xiao Yu'er."

Xiao Yu'er mengangkat bahu. "Atau mungkin aku hanya menemukan diriku yang sebenarnya." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan. "Pulau ini… entah kenapa, terasa aman. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak takut."

Tianji mengangguk. Ia mengerti perasaan itu. Pulau Terbang, dengan tebing-tebing terjalnya, hutan lebatnya, dan laut biru yang mengelilinginya — tempat ini terasa terisolasi dari dunia. Dari kekacauan di daratan. Dari Mawar Hitam.

Tapi ia tahu — isolasi ini tidak akan bertahan selamanya.

"Xiao Yu'er," kata Tianji tiba-tiba, "apa kau tidak ingin kembali ke daratan? Mencari keluargamu?"

Xiao Yu'er terdiam. Matanya menerawang jauh. "Keluargaku… sudah tiada. Mawar Hitam membunuh mereka semua."

"Maaf, aku tidak tahu."

"Tidak apa. Sudah lama." Xiao Yu'er tersenyum — senyum pahit yang tidak mencapai matanya. "Sekarang, satu-satunya 'keluarga' yang aku miliki adalah kalian. Kau, Yue'er, dan Kakek Li yang menyebalkan itu."

"Kakek Li memang menyebalkan," Tianji setuju, tertawa kecil. "Tapi dia baik."

"Dia lebih dari sekadar baik," kata Xiao Yu'er. Suaranya tiba-tiba serius. "Menurutku, dia mungkin adalah pendekar terkuat yang pernah aku temui. Meski usianya sudah tua dan tenaganya melemah, pengetahuannya tentang ilmu persilatan sangat dalam."

"Kau bisa belajar banyak darinya."

"Itulah yang aku lakukan." Xiao Yu'er mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. "Dia memberiku catatan tentang racun dan penawarnya. Pulau ini memiliki banyak tanaman beracun — dan banyak juga tanaman obat. Aku ingin menguasai keduanya."

Tianji menepuk pundak Xiao Yu'er. "Kau akan menjadi pendekar yang hebat suatu hari nanti."

Xiao Yu'er tidak menjawab. Tapi di sudut matanya, ada kilatan harapan.

***

Malam itu, mereka makan malam bersama di depan gua. Yue'er memasak sup ikan yang ditangkapnya dari laut, Xiao Yu'er menambahkan rempah-rempah dari hutan, dan Tianji menyediakan kelapa muda untuk diminum.

"Sup ini enak sekali!" seru Yue'er, menyeruput kuahnya dengan lahap. "Meskipun ikannya kurang besar."

"Berterima kasihlah aku bisa menangkap apa pun," gerutu Li Qingfeng, tapi tangannya sudah mengambil porsi kedua. "Di usiaku, memanjat tebing untuk mencari sarang burung bukanlah hal yang mudah."

"Tapi Kakek masih gesit!" Yue'er memuji. "Aku lihat Kakek lompat dari batu ke batu seperti kijang muda!"

"Jangan mencoba merayuku," kata Li Qingfeng, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

Malam itu, untuk sesaat, mereka lupa tentang Mawar Hitam. Lupa tentang fragmen-fragmen. Lupa tentang bahaya yang menanti.

Mereka hanya menikmati kebersamaan — di bawah bintang-bintang, di tepi laut, di Pulau Terbang yang sunyi.

Tapi ketika Tianji melihat ke arah Xiao Yu'er, ia melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang membuat jantung Tianji berdetak lebih cepat.

Xiao Yu'er merasa terpinggirkan.

Semua perhatian — semua kasih sayang — yang diberikan Li Qingfeng kepada Tianji dan Yue'er, tidak diberikan kepada Xiao Yu'er dalam jumlah yang sama. Li Qingfeng mengajarkan Tianji tentang MP, mengajarkan Yue'er tentang memanah, tapi untuk Xiao Yu'er, ia hanya memberikan catatan tentang racun dan tanaman obat — lalu membiarkannya belajar sendiri.

Tianji ingin bicara, untuk meyakinkan Xiao Yu'er bahwa ia juga berharga. Tapi sebelum ia bisa membuka mulut, Xiao Yu'er berdiri.

"Aku lelah," katanya datar. "Aku tidur duluan."

Ia berjalan ke arah gua kecil yang mereka jadikan tempat tidur, tanpa menoleh sekali pun.

Yue'er memandang Tianji dengan alis berkerut. "Ada apa dengan dia?"

"Aku tidak tahu," jawab Tianji, meskipun di dalam hatinya, ia tahu persis.

***

Malam itu juga, Tianji tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi tebing, memandangi laut yang gelap di bawah sinar bulan. Ombak berdebur lembut, angin malam membawa bau garam.

"Apa yang kau pikirkan?" suara Yue'er terdengar lembut dari samping.

Tianji menoleh. Yue'er duduk di sampingnya, rambutnya tergerai, wajahnya bersih tanpa riasan. Dalam cahaya bulan, ia terlihat seperti dewi — dewi yang tidak sengaja jatuh ke dunia manusia.

"Xiao Yu'er," jawab Tianji jujur.

Yue'er mengangguk. "Aku juga memikirkannya. Dia merasa ditinggalkan."

"Aku tahu. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara membantunya."

"Kadang," kata Yue'er pelan, "membantu seseorang bukan berarti memberinya sesuatu. Tapi mendengarkannya. Menemaninya. Membiarkannya tahu bahwa ia tidak sendirian."

Tianji menatap Yue'er. Dalam diam, ia menyadari betapa bijaknya gadis ini. Di balik keceriaannya, Liu Yue'er menyimpan kebijaksanaan yang dalam — mungkin dari pengalaman pahit yang ia alami bersama Pangeran Ning.

"Kau benar," kata Tianji. "Besok aku akan bicara dengannya."

"Besok?" Yue'er tersenyum. "Kenapa tidak sekarang?"

Tianji tersentak. "Malam-malam begini? Dia pasti sudah tidur."

"Xiao Yu'er? Tidur?" Yue'er terkekeh. "Aku dengar dia mondar-mandir di dalam gua sejak tadi. Dia juga tidak bisa tidur."

Tianji ragu. Tapi kemudian ia ingat kata-kata Yue'er: menemaninya, membiarkannya tahu bahwa ia tidak sendirian.

"Baiklah," kata Tianji, berdiri. "Tapi kau temani aku."

"Tentu saja." Yue'er ikut berdiri, lalu merangkul lengan Tianji. "Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi Xiao Yu'er sendirian. Siapa tahu dia marah dan kau jadi korban racunnya."

Tianji tertawa. Its terasa ringan — untuk pertama kalinya malam ini.

Mereka berjalan menuju gua, dan di kejauhan, Tianji bisa melihat bayangan Xiao Yu'er yang duduk di mulut gua, memandangi bintang-bintang.

"Xiao Yu'er," panggil Tianji lembut.

Bayangan itu menoleh. Matanya — dalam gelap — bersinar seperti dua bara api.

"Apa yang kalian berdua inginkan?"

"Bicara," kata Yue'er. "Atau lebih tepatnya, mendengarkan."

Xiao Yu'er terdiam lama. Lalu, tanpa suara, ia menepuk tanah di sampingnya — undangan untuk duduk bersama.

Tianji dan Yue'er duduk di samping Xiao Yu'er. Mereka tidak bicara. Hanya duduk, memandangi bintang-bintang, mendengarkan suara malam.

Tapi dalam keheningan itu, Xiao Yu'er merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sejak orang tuanya dibunuh.

Ia merasa aman. Ia merasa diterima.

Dan di sudut matanya, untuk pertama kalinya sejak ia menjadi yatim piatu, setetes air mata jatuh.

Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Tidak perlu. Dalam keheningan malam itu, di bawah bintang-bintang yang berkelap-kelip, tiga anak muda yang telah dipertemukan oleh takdir duduk bersama — bukan sebagai kawan seperjuangan, tapi sebagai keluarga.

Keluarga yang aneh. Keluarga yang terbentuk dari luka dan harapan. Tapi keluarga tetap keluarga.

Dan untuk sesaat, di Pulau Terbang yang sunyi, mereka merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.

[/AKHIR BAB 23]

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 22 — METODE PENGUASAAN BAB 24 — FRAGMEN KEDUA →