๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 19: KEJARAN DI LAUT

← BAB 18: RAHASIA YUE’ER BAB 20: PULAU TERBANG →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Rakit kecil itu melaju di atas permukaan laut yang mulai bergelora lagi. Matahari pagi yang baru terbit memberikan cahaya kemerahan, tapi tidak memberikan kehangatan โ€” angin laut terasa dingin menusuk tulang, dan kabut tipis mulai menyelimuti permukaan air.

Tianji mendayung dengan seluruh tenaganya. Lengannya sudah pegal, otot-ototnya terasa seperti ditarik dari dalam, tapi ia tidak berhenti. Di belakang mereka, suara pertempuran masih terdengar samar โ€” teriakan, benturan, dan suara kayu pecah. Kakek Nelayan sedang bertarung melawan Mawar Hitam.

"Apa dia akan baik-baik saja?" Xiao Yu'er bertanya, suaranya bergetar.

"Dia Penakluk Ombak," kata Tianji, nadanya berusaha yakin. "Dia pasti punya rencana."

"Atau dia hanya ingin mati sebagai pendekar." Yue'er menyeka air matanya. "Aku lihat di matanya tadi. Itu mata seseorang yang sudah pasrah."

"Apa pun yang terjadi, kita tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanannya." Tianji mendayung lebih keras. "Lihat! Di depan! Ada kabut tebal!"

Benar. Di kejauhan, sekitar satu li dari posisi mereka, gumpalan kabut putih menggantung di atas laut. Kabut itu tidak biasa โ€” tebal seperti tembok kapas, dan berkilau aneh ketika terkena sinar matahari.

"Itu pasti awal dari area formasi Qi di sekitar Pulau Terbang," kata Tianji, mengingat peta yang ia lihat. "Begitu kita masuk ke dalamnya, Mawar Hitam tidak akan bisa mengejar. Perahu mereka terlalu besar untuk melewati celah formasi."

"Tapi kalau kita masuk ke kabut itu, kita juga bisa tersesat," Xiao Yu'er mengingatkan.

"Aku sudah hafal peta jalur amannya," kata Tianji. "Ikuti aku."

Mendadak Yue'er berteriak, "Tianji! Lihat!"

Tianji menoleh. Kapal hitam Mawar Hitam sudah meninggalkan pulau dan mulai bergerak ke arah mereka. Di geladak, ia bisa melihat sosok-sosok berpakaian hitam bersiap dengan busur panah. Tapi yang paling membuatnya terkejut โ€” di haluan kapal, berdiri seorang pria berjubah hitam panjang, berdiri tegak seperti patung.

Pria itu berbeda dari anggota Mawar Hitam lainnya. Jubah hitamnya dihiasi sulaman perak berbentuk mawar mekar, dan di wajahnya โ€” topeng perak tanpa ekspresi. Rambut panjangnya terurai tertiup angin, memberi kesan angker.

"Sepertinya yang memimpin," gumam Tianji.

Pria bertopeng perak mengangkat tangannya. Orang-orang Mawar Hitam di geladak segera menarik busur mereka. Tapi pria itu menurunkan tangannya โ€” sebuah perintah berbeda.

Mereka tidak akan menembak. Mereka akan mengejar.

"Dayung!" teriak Tianji. "Dayung sekuat tenaga!"

Mereka bertiga mendayung dengan seluruh sisa tenaga. Rakit kecil itu melaju lebih cepat, meninggalkan jejak buih di permukaan laut. Tapi kapal Mawar Hitam โ€” kapal itu lebih besar, lebih cepat, dengan dua baris dayung di setiap sisinya. Dalam hitungan menit, jarak mereka menyusut drastis.

"Tianji, mereka akan sampai!" suara Yue'er panik.

"Selisih satu li… setengah li… tiga ratus langkah…"

Pria bertopeng perak di haluan kapal mengangkat tangannya lagi. Kali ini, telapak tangannya menyala โ€” api Qi berwarna merah gelap menyala di telapaknya.

"Awas! Dia akan menyerang!" teriak Tianji.

Pria itu melepaskan serangan. Bola api Qi melesat seperti meteor, meluncur di atas permukaan air, meninggalkan jejak uap di belakangnya. Tianji segera mengeluarkan Qi hitamnya, membentuk perisai di depan rakit.

DOR!

Bola api menghantam perisai Qi Tianji. Percikan api berhamburan ke segala arah. Tianji mundur selangkah, tubuhnya terguncang oleh benturan.

"Kau baik-baik saja?!" Yue'er memegang lengan Tianji.

"Kuat…" Tianji mengatupkan giginya. "Dia kuat…"

Pria itu menyiapkan serangan kedua. Tapi kali ini, Xiao Yu'er bangkit. Di tangannya, sebilah pisau kecil โ€” berkilau kehijauan. Pisau beracun.

"Xiao Yu'er! Jangan!" teriak Yue'er.

Tapi Xiao Yu'er sudah melompat. Bukan ke depan, tapi ke samping โ€” ia melompat ke laut.

"Apa yang kau lakukan?!" Yue'er menjerit.

Xiao Yu'er menyelam ke dalam air. Sesaat kemudian, dari bawah kapal Mawar Hitam, sesuatu melesat. Pisau-pisau kecil โ€” entah berapa banyak โ€” ditembakkan dari bawah air, mengenai lambung kapal.

Racun di ujung pisau tidak bisa membahayakan kapal besar. Tapi bukan itu tujuannya. Xiao Yu'er ingin mengalihkan perhatian.

Pria bertopeng perak menoleh ke bawah, ke arah air. Dan pada saat itu, Tianji melihat celah.

"Sekarang!" Tianji menarik Yue'er. "Lompat ke kabut!"

"Tapi Xiao Yu'erโ€”"

"Dia akan menyusul!"

Tianji meraih tangan Yue'er dan melompat dari rakit, masuk ke dalam kabut tebal. Kabut itu terasa dingin dan aneh โ€” seperti memasuki dunia lain. Suara-suara dari luar langsung hilang, digantikan oleh keheningan yang nyaman.

Tianji tersandung, jatuh ke sesuatu yang keras โ€” bukan air, tapi… tanah? Ia memejamkan mata dan membukanya lagi. Kabut tebal, tapi matanya bisa menembus sedikit. Mereka berdiri di atas hamparan karang datar. Pulau? Atau bagian dari formasi karang?

"Yue'er? Kau aman?"

"Aku di sini." Suara Yue'er terdengar dari samping, gemetar. "Tapi Tianji… di mana Xiao Yu'er?"

Mereka menunggu. Satu menit. Dua menit. Tidak ada tanda-tanda Xiao Yu'er.

"Aku akan mencariโ€”"

Splash!

Dari permukaan air di tepi karang, Xiao Yu'er muncul. Wajahnya pucat, menggigil kedinginan, matanya merah karena iritasi air laut. Tapi ia tersenyum.

"Mereka… tidak akan mengejar… dalam waktu dekat," katanya, terengah-engah. "Aku menusuk… dayung mereka… dengan racun… membuat… kayunya rapuh…"

"Kau gila!" Yue'er memeluk Xiao Yu'er erat. "Melompat ke laut di tengah pengejaran! Bunuh diri namanya!"

"Tapi berhasil." Xiao Yu'er tersenyum lemah. "Dan sekarang… kita di sini…"

Tianji menatap Xiao Yu'er dengan tatapan berbeda. Anak ini โ€” yang pernah mencoba meracuninya โ€” sekarang rela mempertaruhkan nyawanya untuk mereka. Manusia memang bisa berubah.

"Kau hebat, Xiao Yu'er," kata Tianji.

Xiao Yu'er tersipu. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum tulus.

Yue'er melepaskan pelukannya dan menghela nafas. "Baiklah. Sekarang kita di dalam kabut. Tapi aku tidak melihat apa-apa di sini. Tianji, kau bilang kau hafal peta? Terus, mana arah Pulau Terbang?"

Tianji mengeluarkan peta sutra dari balik jubahnya. Tapi begitu terkena udara kabut, peta itu mulai bersinar โ€” aksara-aksara emas menyala, menerangi kabut di sekitar mereka.

"Peta ini… terkoneksi dengan formasi Qi," kata Tianji takjub. "Xuan Qingzi memang sudah merencanakan semuanya."

Garis-garis emas di peta membentuk jalur. Tianji mengikuti arah garis itu โ€” mengarah ke timur laut, di antara celah-celah karang yang menjulang seperti tiang-tiang raksasa.

"Ayo. Ikuti aku."

Mereka berjalan di atas karang, hati-hati menjaga keseimbangan. Permukaan karang tajam dan licin, dipenuhi lumut yang membuat kaki mereka hampir terpeleset berkali-kali. Kabut tebal menyelimuti mereka seperti selimut basah, dan suara ombak terdengar dari bawah โ€” pertanda bahwa mereka berjalan di atas formasi karang yang menjorok di atas lautan.

"Seperti berjalan di atas punggung naga," gumam Yue'er.

Tianji setuju. Formasi karang ini memang mirip tulang belakang naga raksasa yang membatu โ€” meliuk-liuk, naik turun, dengan lekukan-lekukan yang tajam.

Setelah berjalan sekitar setengah jam, mereka melihat sesuatu di kejauhan. Seberkas cahaya โ€” bukan cahaya biasa, melainkan cahaya biru kehijauan yang berdenyut seperti detak jantung.

"Apa itu?" Xiao Yu'er bertanya.

"Pulau Terbang," jawab Tianji. "Atau setidaknya, sumber Qi-nya."

Mereka mempercepat langkah. Tapi tiba-tiba, Yue'er berhenti.

"Tianji… aku dengar sesuatu."

Mereka diam. Dari balik kabut, terdengar suara โ€” suara gesekan, seperti ular raksasa merayap di atas batu.

"Itu bukan ular," kata Xiao Yu'er, matanya menyipit. "Itu… lebih besar."

Dari balik kabut, muncul siluet raksasa. Seekor naga? Tidak. Terlalu besar untuk naga. Siluet itu menjulang setinggi pohon kelapa, dengan mata menyala merah di kegelapan.

"Formasi Qi ini punya penjaga," Tianji bergumam. "Aku tidak membaca ini di peta."

Siluet itu mengeluarkan suara gemuruh yang membuat karang bergetar. Dan ia bergerak โ€” lebih cepat dari yang diperkirakan โ€” langsung ke arah mereka.

"Lari!" teriak Tianji.

Mereka berlari. Kabut tebal membutakan mereka, tapi Tianji terus mengikuti garis emas di petanya. Di belakang, suara gemuruh semakin dekat, dan tanah di bawah kaki mereka bergetar semakin keras.

"Tianji! Cepat!" suara Yue'er panik.

"Di sini! Belok kiri โ€” sekarang!"

Mereka membelok masuk ke celah sempit di antara dua tebing karang. Tubuh mereka hampir tersangkut, tapi mereka berhasil melewatinya. Di belakang, siluet raksasa itu berhenti โ€” terlalu besar untuk masuk ke celah.

"Nafas…" Yue'er terengah-engah. "Apa… itu tadi…"

"Tidak tahu. Tapi kita aman dulu." Tianji melihat ke peta. "Tinggal setengah li lagi. Di balik tebing ini, kita akan sampai."

Mereka berjalan lebih hati-hati. Kabut mulai berkurang, dan sinar biru kehijauan semakin terang. Udara terasa berbeda โ€” lebih segar, lebih berenergi, seolah setiap tarikan nafas memberinya kekuatan.

"Itu Qi," Tianji bergumam. "Qi murni. Aku bisa merasakannya."

Mereka melewati tebing terakhir. Dan di hadapan mereka…

Pulau Terbang.

Pulau itu tidak besar โ€” mungkin hanya seluas dua lapangan. Tapi pemandangannya… tidak seperti apa pun yang pernah mereka lihat. Tanaman-tanaman aneh tumbuh di mana-mana โ€” pohon dengan daun keperakan, bunga bercahaya yang memancarkan cahaya redup, lumut-lumut berwarna pelangi yang menutupi setiap permukaan batu. Di tengah pulau, sebuah bangunan kuno dari batu putih menjulang โ€” seperti kuil, tapi dengan arsitektur yang tidak dikenal.

Dan dari tanah pulau, terus menerus keluar gelembung-gelembung Qi โ€” seperti air mendidih โ€” yang naik ke udara dan membentuk kabut bercahaya di sekelilingnya.

"Pulau Terbang…" bisik Yue'er. "Sungguh… tempat yang aneh."

"Awas," kata Xiao Yu'er, tangannya sudah meraba kantong racun. "Aku bisa merasakan banyak Qi di sini. Tapi ada juga… Qi lain. Qi manusia."

Tianji mengangguk. Ia juga bisa merasakannya. Dari dalam kuil batu, terpancar Qi yang sangat kuat โ€” lebih kuat dari siapa pun yang pernah ia temui. Bahkan lebih kuat dari Kakek Nelayan.

"Penjaga fragmen," gumam Tianji. "Mari kita lihat siapa dia."

Mereka melangkah maju, melewati taman aneh dengan tanaman-tanaman yang bergerak sendiri. Bunga-bunga bercahaya menoleh ke arah mereka, seperti mengamati. Dari dalam tanah, akar-akar tipis menjulur, menyentuh kaki mereka โ€” bukan untuk menyerang, tapi seperti menyambut.

"Tanaman di sini… hidup," kata Yue'er takjub. "Mereka sadar."

"Karena Qi," jawab Tianji. "Qi di sini sangat pekat sehingga memberi kehidupan pada segala sesuatu."

Mereka tiba di pintu kuil. Pintu itu terbuat dari batu putih polos, tanpa ukiran, tanpa hiasan. Tapi di permukaannya, tergores sebuah kalimat dalam aksara kuno:

"Yang mencari kekuatan, akan kehilangan dirinya. Yang mencari dirinya, akan menemukan segalanya."

"Apa artinya itu?" Yue'er mengerutkan kening.

"Peringatan," kata Tianji. "Peringatan dari penjaga tempat ini."

Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh pintu batu. Pintu itu terbuka โ€” tanpa suara, tanpa debu. Seperti air yang membelah.

Di dalam kuil, suasananya sunyi. Hanya satu ruangan โ€” tanpa atap, sehingga sinar matahari masuk langsung dari atas. Di tengah ruangan, di atas altar batu, duduk bersila seorang lelaki tua.

Tapi bukan lelaki tua biasa.

Lelaki itu โ€” ia seperti patung. Seluruh tubuhnya โ€” dari kepala hingga kaki โ€” ditutupi oleh lumut dan tanaman menjalar. Rambutnya yang putih menjuntai hingga ke lantai seperti air terjun. Jenggotnya sudah menyatu dengan lumut di dadanya. Ia sangat, sangat tua โ€” seolah ia sudah duduk di sana selama berabad-abad.

Tapi matanya… matanya terbuka. Dua bola mata yang masih bersinar, menatap mereka dengan tatapan tajam seperti elang.

"Sudah lama," suara lelaki itu bergema, seperti suara dari dasar sumur. "Sudah lama aku menunggu."

Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er berdiri membeku. Qi yang memancar dari lelaki itu sangat kuat, sangat pekat โ€” seperti berdiri di depan gunung yang hidup.

"Aku…" Tianji mencoba bicara, tapi suaranya tersangkut.

"Kau Xiao Tianji," kata lelaki itu. Bukan pertanyaan. "Murid Xuan Qingzi."

Tianji terkejut. "Kakek… tahu siapa aku?"

Lelaki itu tersenyum โ€” senyum yang membuat keriput di wajahnya semakin dalam. "Aku sudah tahu kau akan datang sejak tiga puluh tahun lalu. Xuan Qingzi memberitahuku."

"Kakek… siapa kakek sebenarnya?"

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Tianji dengan tatapan yang dalam, seperti mencari sesuatu di dalam jiwa Tianji. Lalu ia berkata:

"Aku adalah penjaga fragmen ketiga. Tapi sebelum itu… aku adalah guru dari Xuan Qingzi."

Udara di dalam kuil terasa berhenti bergerak. Tianji merasa kakinya lemas. Guru dari gurunya? Berarti… orang ini adalah…

"Selamat datang, Xiao Tianji," kata lelaki tua itu. "Atau lebih tepatnya… selamat datang, cucu muridku."

Udara di dalam kuil terasa berhenti bergerak. Tianji merasa kakinya lemas. Guru dari gurunya? Berarti… orang ini adalah…

"Jadi kau murid Xuan Qingzi… Sudah kuduga."

[— BERSAMBUNG —]

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 18: RAHASIA YUE’ER BAB 20: PULAU TERBANG →