๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 15: BAYANGAN LAMA

← BAB 14: FRAGMEN KITAB BAB 16: JEJAK DI PASIR →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Hutan bambu di luar Kota Lintas Angin tampak berbeda di malam hari. Batang-batang bambu menjulang tinggi seperti tiang-tiang kuil raksasa, dan daun-daunnya berdesir dalam paduan suara yang tidak selaras โ€” kadang seperti bisikan, kadang seperti lolongan panjang. Kabut bergerak lambat di antara pepohonan, menciptakan bayangan-bayangan yang seolah hidup.

Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er berjalan cepat di jalan setapak yang nyaris tidak terlihat. Batu giok bercahaya di tangan Tianji menjadi satu-satunya penerang.

"Kita harus mencari tempat berlindung," kata Xiao Yu'er, matanya terus bergerak waspada. "Di hutan terbuka seperti ini, Serigala Malam bisa mencium kita dari jauh."

"Setuju!" Yue'er mengangguk-angguk. "Aku tidak ingin menjadi makanan serigala. Ayahku dulu pernah bercerita tentang seorang pemburu yang dimakan serigala di hutan. Katanya, serigala itu tidak langsung membunuhnya โ€” mereka menggigit kakinya dulu, lalu menunggu sampai ia kehabisan darah, laluโ€”"

"Yue'er," potong Tianji. "Kau tidak membantu."

"Maaf! Aku gugup! Kalau aku gugup, aku banyak bicara! Ayahku bilang itu kebiasaan ibuku. Aku mewarisinya. Ibu juga dulunyaโ€”"

"SSST!" Xiao Yu'er tiba-tiba berhenti, tangan kirinya terangkat.

Sunyi.

Angin berhenti bertiup. Daun bambu tidak bergerak. Bahkan suara jangkrik โ€” yang sedari tadi terdengar โ€” tiba-tiba lenyap.

"Ada sesuatu," bisik Xiao Yu'er, belatinya sudah terhunus. "Aku bisa menciumnya. Bau… darah dan tanah basah."

Tianji merasakan Qi-nya bergetar. Sesuatu di dalam dirinya โ€” mungkin efek dari fragmen yang baru dipelajari โ€” memberinya peringatan. Ia menutup mata, mencoba mengingat teknik Mata Lautan dari fragmen.

"Lihat dengan Qi, bukan dengan mata," kata kitab itu. "Rasakan kehadiran energi di sekitarmu."

Tianji memusatkan pikirannya. Perlahan, di balik kelopak matanya yang tertutup, ia mulai melihat โ€” tidak dengan mata, tapi dengan kesadaran Qi-nya. Dunia berubah menjadi lautan warna redup. Pepohonan tampak sebagai pilar-pilar hijau pucat. Yue'er adalah percikan kuning hangat di sebelah kirinya. Xiao Yu'er adalah semburat biru dingin di kanannya.

Dan di depan mereka โ€” sekitar lima puluh langkah โ€” ada tiga gumpalan Qi merah gelap yang berdenyut dengan kebencian.

"Mereka di depan," bisik Tianji, membuka matanya. "Tiga orang. Qi mereka… gelap. Seperti api hitam."

"Mata Lautan?" Yue'er berserit kagum. "Kau sudah bisa menggunakannya? Padahal baru semalam membaca fragmen itu? Kau benar-benar monster, Tianji!"

"Sekarang bukan waktunya memuji," Xiao Yu'er memotong. "Tiga orang โ€” terlalu banyak untuk kita hadapi secara frontal. Aku punya racun asap di kantongku. Bisa memberi kita waktu untukโ€”"

Tapi sebelum ia selesai bicara, lolongan panjang mengguncang hutan.

AUUUUUUUโ€”

Dari kiri, kanan, dan belakang. Bukan tiga orang. Serigala.

"Lingkaran!" teriak Xiao Yu'er.

Dari balik bambu, puluhan serigala hitam melompat keluar. Mata mereka merah menyala. Di punggung mereka, ada lambang Mawar Hitam yang dicap dengan besi panas. Di antara serigala-serigala itu, berjalan seorang pria dengan langkah berat.

Rahang Maut.

Wajahnya yang penuh luka bakar tampak lebih mengerikan di bawah cahaya bulan. Di tangannya, ia membawa kapak perang besar yang sudah berlumuran darah. Senyumnya โ€” senyum orang gila โ€” mengembang ketika melihat Tianji.

"Xiao Tianji," geramnya, suaranya seperti batu bergesekan. "Sudah lama kita tidak bertemu."

"Rahang Maut," Tianji menatapnya dingin. "Kau masih hidup."

"MASIH HIDUP?" Rahang Maut tertawa โ€” tawa yang pecah dan tidak menyenangkan. "Tentu aku masih hidup! Aku tidak akan mati sebelum kuremas lehermu dengan tanganku sendiri! Setelah apa yang kau lakukan padaku di Desa Muaraโ€”" Ia menyentuh bekas luka di wajahnya. "Kau membuatku kehilangan segalanya. Mawar Hitam menertawaiku. Aku menjadi bahan ejekan di seluruh Jianghu!"

"Itu bukan salahku. Kau menyerang desaku terlebih dahulu."

"Diam!" Rahang Maut mengayunkan kapaknya, memotong setengah batang bambu. "Kata-kata tidak berguna! Hanya darah yang bisa membayar hutang!"

Ia melompat. Kapaknya turun dengan kekuatan yang bisa membelah batu.

Tianji bergerak ke samping โ€” lebih cepat dari sebelumnya. Metode Samudra Terbuka telah mulai mengubah cara Qi mengalir di tubuhnya. Gerakannya tidak lagi kaku; ia mengalir seperti ombak, menghindari tebasan kapak dengan gesit.

"Bagus!" Rahang Maut berputar, kapaknya menyambar horizontal. "Kau lebih cepat dari sebelumnya! Tapiโ€”" Kapak itu berubah arah di tengah ayunan, turun dari atas. "โ€”apakah cukup?"

Tianji mengelak, tapi ujung kapak masih mengenai bahunya. Jubahnya robek, dan darah mulai mengalir.

"TIANJI!" Yueier menarik busurnya. Anak panah melesat โ€” tepat ke leher Rahang Maut.

Tapi Rahang Maut hanya memiringkan kepalanya. Anak panah itu mengenai telinganya dan memantul. Ia tertawa.

"Tembakan yang bagus untuk gadis desa. Tapi untuk melukai akuโ€”"

"Kau lupa satu hal!" Yueier menarik dua anak panah sekaligus. "Aku punya lebih dari satu anak panah!"

Dua anak panah melesat bersamaan โ€” satu ke mata, satu ke jantung. Rahang Maut terpaksa memblokir dengan kapaknya, mundur selangkah.

"Sekarang, Xiao Yu'er!" teriak Yue'er.

"Sudah." Suara Xiao Yu'er terdengar dari balik Rahang Maut. Ia telah bergerak selama pertarungan berlangsung, menyusup di antara serigala-serigala yang bingung. Di tangannya, ada jarum berkilau โ€” ujungnya berwarna ungu.

Ia menusuk.

Tapi Rahang Maut, meskipun besar, ternyata cepat. Ia menangkap pergelangan tangan Xiao Yu'er dan membantingnya ke tanah.

"Anak kecil, kau pikir aku tidak tahu kau ada di sana?" Rahang Maut tertawa. "Aku sudah bertarung sejak sebelum kau lahir!"

"Tapi kau tidak tahuโ€”" Xiao Yu'er tersenyum โ€” senyum dingin. "โ€”bahwa racunku tidak perlu menusuk kulitmu."

Rahang Maut menunduk. Di kakinya, ada awan ungu kecil yang keluar dari kantong yang hancur saat ia membanting Xiao Yu'er ke tanah. Racun asap.

"APAโ€”" Rahang Maut batuk, mundur terhuyung. Matanya memerah.

"Racun pernapasan," kata Xiao Yu'er, bangkit sambil mengusap punggungnya yang sakit. "Hanya membuat pusing dan mual selama beberapa menit. Tapi beberapa menitโ€”"

"โ€”cukup," Tianji menyelesaikan kalimat.

Ia melompat. Qi di dalam tubuhnya berputar seperti pusaran. Metode Samudra Terbuka โ€” ia tidak lagi menahan Qi asing di dalam tubuhnya. Ia membiarkannya mengalir, seperti ombak yang pasang, lalu โ€” pada puncak kekuatan โ€” ia melepaskan semuanya dalam satu serangan.

Telapak tangannya mengenai dada Rahang Maut.

BUM.

Rahang Maut terpental ke belakang, tubuhnya menghantam pohon bambu besar. Batang bambu itu patah. Rahang Maut ambruk, kapaknya terlepas dari tangannya.

"Aku… kalah?" bisiknya, darah mengalir dari mulutnya.

Tianji berdiri di hadapannya, napasnya terengah-engah. Serangan tadi telah menguras hampir seluruh Qi-nya. Ia belum sepenuhnya menguasai teknik itu.

"Sudah berakhir," kata Tianji.

"Berakhir?" Rahang Maut tertawa โ€” tawa yang pahit dan hancur. "Kau pikir… kau menang? Kau tidak tahu apa-apa, Xiao Tianji. Kau tidak tahuโ€”" Ia terbatuk, darah menyembur. "Hati-hati… dengan orang terdekatmu…"

Tianji mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Rahang Maut tersenyum โ€” senyum terakhirnya. "Mawar Hitam… tidak pernah menyerang tanpa memiliki… mata di dalam… seseorang yang kau percaya…"

"SUDAH!" Tianji mencekal kerah Rahang Maut. "Siapa? Katakan!"

Tapi Rahang Maut tertawa lagi โ€” dan tidak pernah berhenti.

Ia telah mati dengan senyum di wajahnya yang mengerikan.

Yue'er berjalan mendekat dengan hati-hati, anak panahnya masih siap. "Apa yang ia katakan? Sesuatu tentangโ€”"

"Tidak ada," kata Tianji cepat.

Terlalu cepat.

Ia menatap Yue'er. Lalu menatap Xiao Yu'er. Keduanya adalah satu-satunya orang terdekat yang ia miliki. Rahang Maut berkata "seseorang yang kau percaya."

Siapa?

Pikirannya melayang ke Lady Hong. Ke gurunya, Xuan Qingzi. Ke Liu Dahan di Desa Muara.

Atau… ke dua orang yang berdiri di hadapannya sekarang?

"Tianji?" Yue'er memiringkan kepala. "Kau kenapa? Wajahmu pucat. Mungkin kau kehilangan terlalu banyak darah. Ayo, kita cari tempat istirahat. Aku melihat sebuah gua kecil di utara tadi. Ayoโ€”"

"Ya," potong Tianji. "Kita istirahat."

Tapi dalam hatinya, kegelisahan mulai tumbuh.

"Hati-hati dengan orang terdekatmu…"

Kata-kata itu terus bergema di kepala Tianji seperti palu yang memukul-mukul tanpa henti. Ia berjalan di belakang Yue'er dan Xiao Yu'er, matanya mengamati setiap gerakan mereka. Mungkin ini yang diinginkan Rahang Maut โ€” menabur kecurigaan di saat-saat terakhirnya. Mungkin itu hanya tipu muslihat musuh yang kalah, cara terakhir untuk menyakiti Tianji tanpa pedang.

Tapi mungkinโ€” hanya mungkinโ€” itu adalah peringatan nyata.

Tianji mengingat kembali semua orang yang pernah dekat dengannya. Xuan Qingzi, gurunya yang bijaksana. Liu Dahan, yang merawatnya sejak kecil. Yue'er, yang selalu ceria dan banyak bicara. Xiao Yu'er, yang baru saja mengkhianati tapi sudah dimaafkan. Lady Hong, yang tahu terlalu banyak.

Siapa di antara mereka yang mungkin menjadi mata Mawar Hitam?

Ia menggelengkan kepalanya. Pikirannya terlalu kacau. Luka di bahunya masih terasa perih, dan kelelahan mulai merayap masuk ke tulang-tulangnya.

"Hei, Tianji!" Yue'er menoleh ke belakang. "Kau kenapa? Jalanmu lambat sekali. Luka di bahumu semakin parah? Aku bisa membalutnya kalau mau. Ayahku dulu mengajarkan pertolongan pertama โ€” katanya, aku harus tahu karena aku suka berkelahi dengan anak-anak lelaki di desa. Bukan maksudku suka berkelahi, tapi mereka sering menggodaku, jadiโ€”"

"Tidak perlu," potong Tianji. "Aku baik-baik saja."

"Kau tidak kelihatan baik-baik saja," kata Xiao Yu'er tiba-tiba. Matanya โ€” mata yang selama ini dingin dan penuh rahasia โ€” kini tampak cemas. "Wajahmu pucat. Dan kau terus menatap kami bergantian. Seperti… seperti kau mencari sesuatu."

Tianji tidak menjawab.

Xiao Yu'er berhenti. Ia menatap Tianji dengan serius. "Rahang Maut mengatakan sesuatu sebelum mati. Sesuatu tentang orang terdekat, bukan?"

Yue'er ikut berhenti. "Apa? Ada apa lagi? Jangan bilang Rahang Maut itu sempat mengutuk kita sebelum mati? Orang-orang seperti dia suka mengutuk. Ayahku bilang, penjahat kelas kakap selalu punya kata-kata terakhir yang dramatis. Biasanya tentangโ€”"

"Dia bilang hati-hati dengan orang terdekat," potong Tianji datar. "Bahwa Mawar Hitam punya mata di antara kita."

Sunyi.

Hutan bambu berdesir. Yue'er menatap Xiao Yu'er. Xiao Yu'er menatap Yue'er. Lalu keduanya menatap Tianji.

"Kau… kau curiga pada kami?" Suara Yue'er tiba-tiba kehilangan keceriaannya.

"Aku tidak curiga pada siapa pun," jawab Tianji. "Tapi aku juga tidak bisa tidak curiga pada semua orang."

"Itu gila!" Yue'er menghentakkan kaki. "Kami baru saja bertarung bersamamu! Aku hampir mati karena serigala-serigala itu! Xiao Yu'er menghancurkan kantong racunnya yang terakhir untuk menyelamatkanmu! Dan kauโ€”" Suaranya bergetar. "Kau curiga pada kami?"

"Aku tidak bilang curiga. Aku bilangโ€”"

"Kau tidak perlu bilang apa-apa." Xiao Yu'er memotong, suaranya dingin kembali โ€” tapi ada nada sakit di dalamnya. "Aku mengerti. Aku baru saja mencoba meracunimu tadi malam. Wajar jika kau curiga."

"Itu berbedaโ€”"

"Tidak." Xiao Yu'er menatap Tianji dengan mata yang tajam. "Tidak berbeda. Aku memang pantas dicurigai. Tapiโ€”" Ia menunjuk Yue'er. "Dia tidak. Ia bersamamu sejak awal. Jika kau curiga padanya juga, maka kau sudah kehilangan akal sehatmu."

"Xiao Yu'er…" Yue'er menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kau membelaku?"

"Kita satu tim," kata Xiao Yu'er pendek. "Itu artinya kita saling percaya โ€” atau kita mati."

Tianji menatap mereka berdua. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berkata apa. Lalu ia menghela napas panjang.

"Maaf," katanya akhirnya. "Kau benar, Xiao Yu'er. Aku membiarkan kata-kata orang mati mempengaruhiku. Seharusnya aku lebih kuat dari itu."

"Tidak apa-apa," jawab Xiao Yu'er. "Kau baru saja kehilangan seorang ayah angkat, menemukan jati dirimu yang sebenarnya, dan bertarung melawan pembunuh orang tuamu โ€” semua dalam beberapa minggu. Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau sedikit gila."

"Aku tidak gila." Tapi Tianji tersenyum. Mungkin sedikit gila.

"Ayo," Yue'er meraih lengan Tianji. "Ada gua di utara, seperti yang kukatakan. Kita bisa istirahat di sana. Besok kita cari jalan ke Pulau Terbang. Danโ€”" Ia menatap Tianji dengan serius. "Kalau kau masih curiga, silakan. Tapi jangan lupa โ€” kita adalah temanmu. Satu-satunya yang kau miliki di dunia ini."

Tianji mengangguk. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari pedang mana pun.

Hutan bambu berdesir, dan bulan perlahan muncul dari balik awan. Di bawah sinar peraknya, tiga bayangan bergerak meninggalkan medan pertempuran. Tapi satu dari tiga bayangan itu โ€” ada yang tidak beres. Tianji tidak tahu siapa. Dan mungkin, ia tidak ingin tahu.

Namun seperti ombak yang terus bergulung, kebenaran tidak bisa ditahan selamanya. Ia akan datang โ€” dengan pasangnya โ€” dan menghancurkan segala yang ada di jalannya.

Angin malam bertiup, dan lolongan serigala terdengar dari jauh. Tapi kali ini, lolongan itu bukan lagi ancaman. Itu adalah ratapan โ€” ratapan untuk sesuatu yang akan segera hilang.

Dan Tianji, dengan fragmen Kitab Suci Lautan di jubahnya dan kecurigaan di hatinya, melanjutkan perjalanan ke timur.

Menuju Pulau Terbang.

Menuju kebenaran yang mungkin akan menghancurkannya.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 14: FRAGMEN KITAB BAB 16: JEJAK DI PASIR →