Malam yang sama. Rumah panggung kayu yang hancur itu kini dipenuhi keheningan yang mencekam. Bau darah—darah manusia dan darah yang ditumpahkan—memenuhi setiap sudut ruangan. Lampu minyak di sudut ruangan berkedip-kedip, seolah ikut bergidik menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
Tubuh Rahang Maut terbujur kaku di lantai, dadanya masih sedikit bergerak naik turun—ia masih hidup, meskipun tidak sadar. Dua pembunuh lainnya tewas di tangan Xuan Qingzi dan anak panah Yue'er. Satu lagi pingsan, Qi-nya terkuras habis oleh Tianji.
Namun pemenang pertarungan malam itu sama sekali terlihat seperti pemenang.
Xiao Tianji terbaring di atas tikar bambu, tubuhnya gemetar hebat. Urat-urat hitam menonjol di bawah kulitnya, dari leher hingga ke ujung jari. Mulutnya mengeluarkan desisan aneh—bukan suara manusia, melainkan sesuatu yang lebih mirip desiran angin di lorong kuburan. Dadanya naik turun tidak beraturan, kadang terlalu cepat, kadang hampir berhenti sama sekali.
"Tianji, dengar kau bisa mendengarku?" Liu Yue'er berlutut di sampingnya, tangannya memegang erat tangan Tianji yang sedingin es. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Setetes, dua tetes, membasahi lengan baju putih Tianji. "Jangan lakukan ini padaku! Kau tidak boleh mati, kau dengar?! Aku belum selesai memarahimu karena sikap bodohmu tadi!"
Xuan Qingzi berdiri di dekat pintu yang hancur, tangannya memegang pedang biru yang kini telah bersih dari darah. Matanya yang tua namun tajam tidak lepas dari tubuh Tianji. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ekspresi wajahnya menunjukkan sesuatu yang mendekati—kekhawatiran. Bukan. Ketakutan.
"Ia tidak akan mati," kata Xuan Qingzi akhirnya. Suaranya berat. "Tapi mungkin ia akan menyesal masih hidup."
"Apa maksudmu?" Yue'er menoleh, matanya sembab. "Kau gurunya! Kau harus menyelamatkannya!"
"Gadis, dengarkan baik-baik." Xuan Qingzi melangkah mendekat, lalu berjongkok di samping Tianji. Ia meletakkan dua jari di pergelangan tangan Tianji, merasakan denyut nadinya. "Meridian Penelan adalah ilmu yang terkutuk. Ia diciptakan oleh pembunuh iblis seratus tahun yang lalu—seorang pendekar sesat yang ingin menguasai dunia dengan mencuri kekuatan orang lain. Ilmu ini melawan hukum alam. Setiap kali kau menggunakannya, kau mencuri Qi orang lain, dan Qi itu tidak akan pernah benar-benar menjadi milikmu."
"Apa maksud Guru?"
"Qi asing akan selalu asing," Xuan Qingzi melanjutkan. "Ia akan menggeliat di dalam tubuhmu, mencoba menguasai meridianmu, meracuni darahmu, dan pada akhirnya… mengubahmu menjadi monster." Ia menghela napas panjang. "Malam ini, Tianji menyerap Qi Rahang Maut—seorang pembunuh yang telah membantai lebih dari seratus orang. Qi itu penuh dengan dendam, kebencian, dan kegilaan. Kekuatan seperti itu terlalu besar untuk tubuh pemuda seusianya."
"Tapi ia melakukannya untuk menyelamatkanku!" Yue'er berkata, suaranya bergetar. "Kau lihat sendiri! Rahang Maut hampir membunuhku!"
"Aku tahu." Xuan Qingzi menatap Yue'er. Matanya yang tajam sedikit melunak. "Aku tahu. Dan itulah satu-satunya alasan aku tidak mengutuk kebodohannya. Tapi kau harus mengerti, Yue'er—Tianji bukan lagi pemuda biasa yang kau temui di pantai tiga minggu lalu. Ia sekarang memiliki kekuatan yang bisa menghancurkannya dari dalam. Atau…"
"Atau apa?"
"Atau mengubahnya menjadi ancaman yang lebih besar dari Rahang Maut."
Kata-kata itu terasa seperti pukulan fisik bagi Yue'er. Ia menunduk, menatap tangan Tianji yang masih menggenggam erat tangannya. Bahkan dalam keadaan tidak sadar, Tianji tidak melepaskannya.
Tiba-tiba, suara mengerikan terdengar dari luar. Seperti pintu kayu dipaksa terbuka. Lalu suara langkah—tidak stabil, terseret-seret.
"Yue'er… Yue'er…"
"AYAH!" Yue'er berdiri, jantungnya hampir berhenti. Ia berlari ke pintu, dan di sana, di teras rumah panggung, Liu Dahan merangkak masuk. Seluruh bagian depan jubahnya basah oleh darah. Sebuah luka robek menganga di perutnya, dalam dan mengerikan.
"Ayah, TIDAK!" Yue'er menjerit, berlutut di samping ayahnya. Tangannya mencoba menekan luka itu, tapi darah terus mengalir di sela-sela jarinya. "Ada apa?! Siapa yang melakukan ini?!"
"Di pos… lima belas orang… mereka tahu…" Liu Dahan terbatuk, darah mengalir dari sudut mulutnya. "Mata-mata… ada mata-mata di desa… sudah kubunuh tiga… tapi terlalu banyak…"
Xuan Qingzi segera mendekat. Ia mengeluarkan jubahnya sekantong kecil ramuan dan jarum perak. "Gadis, minggirlah. Biarkan aku menanganinya."
"Tapi—"
"PERCAYA PADAKU! Jika kau ingin ayahmu hidup, lakukan apa yang kuperintahkan!" suara Xuan Qingzi keras, menggetarkan ruangan. "Bawakan aku air bersih, kain, dan api. CEPAT!"
Yue'er mengangguk, lalu berlari ke dapur. Ketakutannya ditelan oleh kebutuhan untuk bertindak. Ia tidak bisa membiarkan ayahnya mati. Tidak setelah ia kehilangan begitu banyak orang.
Selagi air dipanaskan dan kain disiapkan, Xuan Qingzi bekerja dengan cepat. Ia merobek jubah Liu Dahan, memperlihatkan luka yang dalam. Sebuah tebasan pedang—tepat, mematikan—hampir mengenai usus. Jika satu centimeter lebih dalam, Liu Dahan pasti sudah tewas.
"Beruntung kau masih hidup," gumam Xuan Qingzi, sambil membersihkan luka dengan ramuan. Liu Dahan meringis, tangannya mencengkeram lantai kayu hingga remuk.
"Aku sudah tua… tapi belum cukup tua untuk mati," jawab Liu Dahan, suaranya serak. Matanya mencari-cari di sekeliling ruangan. "Tianji… bagaimana kabar Tianji?"
"Dia menyerap Qi Rahang Maut untuk menyelamatkan putrimu. Sekarang ia koma, gelombang Qi gelap mengamuk di dalam tubuhnya."
Liu Dahan menutup matanya. "Bocah bodoh… tapi berani…"
"Ya, dia memang bodoh," Xuan Qingzi mulai menjahit luka Liu Dahan dengan jarum perak dan benang sutra. Tangannya terampil, meskipun usianya sudah lanjut. Tapi ada kekaguman yang tak bisa disembunyikan dari suaranya. "Bodoh yang mulia. Tipe yang paling berbahaya."
Selang beberapa menit, Yue'er kembali dengan air panas dan kain bersih. Ia meletakkannya di samping Xuan Qingzi, lalu matanya beralih ke Tianji yang masih gemetar.
"Ayah, aku… aku harus ke Tianji."
"Pergilah," kata Liu Dahan, napasnya mulai teratur berkat pengobatan Xuan Qingzi. "Ayah tidak apa-apa. Pendekar Xuan Qingzi sangat ahli."
Yue'er berjalan mendekat ke arah Tianji, lalu duduk di sampingnya. Ia meraih tangan pemuda itu lagi. Kali ini, ia merasakan sesuatu yang aneh—seperti ada aliran listrik yang menjalar dari tangan Tianji ke tangannya. Ia hampir melepaskan, tapi menahan diri.
"Tianji… kalau kau bisa mendengarku…" bisik Yue'er. "Kau harus kembali. Aku masih punya banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Aku belum memberitahumu tentang masa kecilku yang memalukan. Atau tentang resep rahasia bubur milik ibuku. Atau tentang kenapa aku tidak pernah meninggalkan desa ini meskipun aku bisa."
Tidak ada jawaban. Tapi denyut nadi Tianji mulai sedikit stabil.
"Kau tahu," Yue'er melanjutkan, air matanya jatuh lagi, "aku tidak pernah memberitahu siapa pun, tapi sejak kau datang, aku merasa… berbeda. Aku punya alasan untuk bangun pagi selain memberiku ayah. Aku punya seseorang yang bisa membuatku tertawa meskipun hari sedang buruk. Jangan tinggalkan aku, Tianji. Aku tidak akan bisa memaafkanmu."
Tiba-tiba, alis Tianji bergerak.
"Yue… er…"
"TIANJI!" Yue'er berteriak kegirangan. Ia meraih wajah Tianji, memaksanya menatapnya. Tianji membuka matanya, tapi tidak seperti biasanya. Matanya—yang seharusnya hitam kecoklatan—kini berganti-ganti antara hitam pekat dan putih normal. Seperti ada dua entitas yang bertarung di dalam dirinya.
"Kau… selamat…" suara Tianji nyaris tidak terdengar.
"Jangan bicara, dasar bodoh!" Yue'er menangis sambil tertawa. "Kau hampir mati! Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti itu lagi!"
"Tapi kau… selamat…"
"SELAMAT! Aku selamat! Tapi kau…!" Yue'er tidak bisa melanjutkan. Ia memeluk Tianji dengan erat, dan Tianji yang lemah tidak bisa menolak.
Xuan Qingzi, yang telah selesai merawat Liu Dahan, berjalan mendekat. Wajahnya serius. "Tianji, kau mungkin merasa baik sekarang. Tapi Qi gelap di dalam tubuhmu belum padam. Ia hanya tertidur."
Tianji menatap gurunya. "Aku tahu… aku bisa merasakannya. Seperti ada ular di dalam dadaku."
"Lebih dari satu ular," Xuan Qingzi mengoreksi. "Ratusan. Ribuan. Setiap jiwa yang dibunuh Rahang Maut, setiap dendam dan kebencian mereka—semuanya kini ada di dalam dirimu. Mereka akan berusaha menguasaimu, Tianji. Dan jika mereka berhasil…"
"Aku akan menjadi monster," Tianji menyelesaikan kalimatnya.
Xuan Qingzi tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban yang paling jelas.
Yue'er memeluk Tianji lebih erat. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menjaganya."
"Kau tidak bisa menjaganya sepanjang waktu," kata Xuan Qingzi. "Dan kekuatan ini akan tumbuh. Semakin sering ia menggunakannya, semakin cepat Qi gelap itu menguasai tubuhnya. Ia bagaikan duduk di atas gunung berapi yang siap meletus kapan saja."
Tianji terdiam. Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang telah menyerap nyawa Rahang Maut. Atau setidaknya sebagian dari nyawanya. Tangan yang sama yang akan terus menyerap, terus mengambil, terus membunuh, sampai suatu hari ia tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"Aku harus pergi," kata Tianji tiba-tiba.
"Apa?" Yue'er terkejut. "Pergi ke mana? Tubuhmu masih—"
"Justru karena tubuhku seperti ini," potong Tianji. Suaranya tenang, tapi ada keputusan yang tak tergoyahkan di dalamnya. "Aku berbahaya, Yue'er. Setiap hari aku tinggal di sini, setiap hari aku bersama kalian, aku membawa bahaya. Mawar Hitam tahu tentang aku. Mereka akan datang lagi. Dan lain kali, mungkin bukan lima orang, tapi lima puluh. Atau lima ratus."
"Tapi—"
"Aku tidak bisa membiarkan desa ini hancur karena aku."
Liu Dahan, yang mendengar percakapan itu dari tempatnya berbaring, bersusah payah untuk duduk. "Tianji… kau memang benar. Desa ini tidak aman untukmu. Tapi kau juga tidak bisa pergi begitu saja."
"Aku tahu, Paman. Tapi…" Tianji menatap Yue'er. "Aku tidak punya pilihan."
Yue'er menatapnya. Air matanya, yang sempat berhenti, kini mengalir lagi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan kesedihan. Bukan kemarahan. Tapi tekad.
"Kalau kau pergi," kata Yue'er, suaranya bergetar tapi mantap, "aku ikut."
Ruangan menjadi sunyi.
"Yue'er, kau tidak bisa—" Liu Dahan memulai.
"Aku TAHU aku bisa!" Yue'er berdiri, menatap ayahnya. "Ayah, selama delapan belas tahun aku hidup di desa ini. Aku tahu meditasi. Aku tahu memanah. Tapi aku tidak pernah tahu apa yang ada di luar sana. Dan sekarang… sekarang ada seseorang yang membutuhkanku. Tianji butuh seseorang yang bisa menjaganya tetap waras. Dan aku tidak akan membiarkan dia pergi sendirian."
"Tapi Yue'er—"
"Aku tidak peduli, Ayah!" suara Yue'er pecah. "Aku tidak peduli kalau itu berbahaya! Aku tidak peduli kalau aku bisa mati! Yang aku pedulikan adalah… adalah…" Ia menunjuk Tianji. "Orang bodoh ini! Yang selalu berpikir dia harus menanggung semuanya sendirian! Yang tidak pernah meminta tolong! Yang hampir mati demi menyelamatkanku!"
Tianji membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
"Yue'er," kata Liu Dahan lembut. "Ayah mengerti perasaanmu. Tapi kau harus sadar—"
"Ayah, lihat aku," potong Yue'er. Ia berlutut di samping ayahnya, meraih tangannya. "Ayah mengajariku memanah sejak aku bisa berjalan. Ayah mengajariku untuk berani. Ayah selalu bilang bahwa seorang gadis desa bisa menjadi apa pun yang ia inginkan. Nah, sekarang aku ingin menjadi seseorang yang menemani temanku dalam perjalanannya. Bukan sebagai beban, tapi sebagai pelindung. Aku ingin melindunginya, seperti ia melindungiku."
Liu Dahan menatap putrinya. Matanya—yang telah melihat begitu banyak hal dalam hidupnya—tiba-tiba berkaca-kaca.
"Kau sangat mirip ibumu," bisiknya.
Yue'er tersenyum, meskipun air matanya masih mengalir. "Ibu juga keras kepala?"
"Ibumu adalah orang paling keras kepala yang pernah aku kenal. Dan dialah wanita paling berani yang pernah aku temui."
Xuan Qingzi, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Kalau kalian sudah selesai dengan drama keluarga kalian, sebaiknya kita bicarakan apa yang sebenarnya terjadi malam ini."
Semua menoleh ke arahnya.
"Liu Dahan," kata Xuan Qingzi, "kau mantan pengawal Pangeran Ning. Kau tahu apa artinya Mawar Hitam datang ke desa kecil sepertimu."
Liu Dahan mengangguk perlahan. "Mereka mencari sesuatu."
"Atau seseorang."
"Tianji?" tanya Yue'er.
"Mungkin," kata Xuan Qingzi. "Atau mungkin sesuatu yang lain. Yang pasti, Rahang Maut bukanlah level teratas dari organisasi ini. Lord Hitam memiliki pembunuh yang jauh lebih kuat. Jika Lord Hitam sendiri yang turun tangan…"
"Bahkan aku tidak bisa mengalahkannya," selesaikan Liu Dahan.
Keheningan kembali menguasai ruangan.
Di sudut ruangan, Tianji terus-menerus mengatur napasnya. Qi gelap di dalam dadanya masih menggeliat, menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Ia bisa merasakannya—seperti binatang buas yang sedang mengintai di dalam gua gelap tubuhnya.
"Guru," panggil Tianji tiba-tiba. "Ajari aku cara mengendalikannya."
Xuan Qingzi menatapnya. "Ilmu ini tidak bisa dikendalikan. Ia hanya bisa… diredam. Sementara."
"Kalau begitu, ajari aku cara meredamnya. Cukup lama sampai aku menemukan cara untuk menyingkirkannya."
"Dan jika kau tidak bisa menyingkirkannya?"
Tianji tersenyum pahit. "Maka aku akan membawanya ke liang kubur."
Yue'er meraih tangannya lagi. "Kau tidak akan mati. Aku tidak akan membiarkanmu mati."
"Aku juga tidak akan mati," Tianji berkata, setengah bercanda. "Setidaknya sampai aku membayar hutang budiku padamu."
"Hutang budi?"
"Kau memberiku makan tiga minggu. Tiga minggu bubur buatanmu. Itu adalah hutang yang tidak bisa dibayar dengan uang."
Yue'er mencubit lengannya. "Berani sekali kau mengejek masakanku! Buburku enak!"
"Tidak bilang tidak enak. Tapi setiap hari bubur… aku mulai rindu nasi."
Yue'er memukul lengannya, tapi kali sambil tertawa. Xuan Qingzi menggeleng-gelengkan kepala, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
Di tikar lainnya, Liu Dahan menatap langit-langit rumahnya yang bocor. Melalui celah atap, ia bisa melihat bintang-bintang berkelap-kelip. Di kejauhan, suara burung malam terdengar—tanda bahwa fajar akan segera tiba.
Tapi bagi Liu Dahan, malam ini akan menjadi malam terakhir yang panjang.
Karena besok, ia harus rela melepaskan anaknya.
Bersambung…