Malam itu, Desa Muara diselimuti kegelapan yang terasa lebih pekat dari biasanya. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, seolah enggan menjadi saksi atas apa yang akan terjadi. Angin laut berhembus membawa aroma garam dan sesuatu yang lain—sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding. Aroma darah.
Di rumah panggung kayu milik Liu Dahan, lampu minyak masih menyala remang-remang. Xiao Tianji duduk bersila di sudut ruangan, matanya terpejam, berusaha menenangkan aliran Qi yang masih kacau di dalam tubuhnya. Tiga minggu telah berlalu sejak pertemuannya dengan Xuan Qingzi, dan meskipun sang guru tua telah mengajarinya dasar-dasar pengendalian napas, Tianji masih belum mampu menguasai sepenuhnya ilmu aneh yang kini bersemayam di dalam dirinya—Meridian Penelan.
"Kau masih bermeditasi?" suara ceria Liu Yue'er terdengar dari ambang pintu. Gadis berusia delapan belas tahun itu melangkah masuk dengan membawa nampan berisi dua mangkuk bubur panas. Rambutnya yang diikat ekor kuda sedikit basah oleh embun malam. "Sudah tiga jam kau duduk seperti patung. Aku bisa mendengar perutmu keroncongan dari dapur, kau tahu?"
Tianji membuka matanya perlahan. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Yue'er, kau selalu tahu kapan harus mengganggu."
"Mengganggu?" Yue'er meletakkan nampan di meja rendah di depan Tianji. "Aku ini penyelamatmu. Kalau tidak ada aku, kau akan mati kelaparan sambil bermeditasi. Bayangkan berita kematian yang memalukan—Pendekar Xiaohan Tianji meninggal karena lupa makan." Ia tertawa kecil, suaranya bagaikan gemerincing lonceng perak di malam yang sunyi.
"Aku belum layak disebut pendekar," sahut Tianji, mengambil mangkuk bubur itu. Kehangatan menjalar ke telapak tangannya. "Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku di pantai itu."
"Kau tahu," Yue'er duduk di depannya, kedua sikunya bertumpu di meja, dagunya bertumpu di tangannya. Matanya yang jernih menatap Tianji dengan serius—sesuatu yang jarang terjadi. "Ayah bilang, orang yang memiliki kekuatan besar tapi tidak mau mengakuinya adalah orang yang paling berbahaya. Baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain."
Tianji terdiam. Perkataan Yue'er, yang biasanya ringan dan penuh canda, kali ini menusuk tepat ke jantung kegelisahannya.
"Tapi," Yue'er tersenyum lagi, suasana seriusnya lenyap secepat datangnya, "aku tidak akan membiarkanmu menjadi orang berbahaya. Karena kalau kau berbahaya, berarti aku juga berbahaya karena aku yang memberimu makan setiap hari. Dan aku jelas-jelas bukan orang berbahaya. Aku hanya seorang gadis desa yang pandai memanah."
Tianji tertawa kecil lagi. Kehadiran Yue'er selalu mampu mencairkan ketegangan di dadanya. Sejak malam ia ditemukan setengah mati di pantai, gadis ini tak pernah lelah merawatnya. Kadang Tianji berpikir, mungkin takdir mempertemukannya dengan keluarga Liu bukan karena kebetulan, melainkan karena ia pantas mendapat setitik kebahagiaan sebelum badai yang lebih besar menghantam.
"Ayahmu sudah pulang?" tanya Tianji.
"Belum. Dia sedang ronda malam di pos sebelah utara. Katanya akhir-akhir ini ada gerombolan asing yang berkeliaran di sekitar desa. Beberapa nelayan melihat bayangan-bayangan hitam bergerak di sepanjang pantai." Suara Yue'er menurun. "Aku khawatir, Tianji."
"Aku juga."
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Tiga malam yang lalu, seorang nelayan tua ditemukan tewas di perahunya. Lehernya tergorok rapi, satu luka—terlalu rapi untuk perampok biasa. Di dadanya terukir simbol yang membuat Liu Dahan terkejut saat melihatnya: sekuntum mawar hitam.
Mawar Hitam.
Organisasi pembunuh paling ditakuti di seluruh penjuru daratan. Konon, setiap anggota Mawar Hitam adalah siluman maut yang tak pernah gagal menjalankan tugas. Tidak ada yang tahu siapa pemimpinnya, markasnya, atau tujuannya. Yang pasti, jika Mawar Hitam datang, darah akan mengalir.
"Kau harus tidur," kata Tianji tiba-tiba. "Besok kau dan ayahmu harus pergi ke kota untuk melapor pada pembesar setempat. Kalau benar Mawar Hitam yang datang, desa ini tidak aman."
Yue'er menggeleng keras. "Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."
"Mendengar ucapanmu seperti mendengar seorang istri yang setia," goda Tianji. Begitu kata-kata itu keluar, ia langsung menyesal. Wajah Yue'er memerah seketika, dari leher hingga ke ujung telinga.
"Ber—berani sekali kau, Xiao Tianji!" Yue'er berdiri, hampir menjatuhkan mangkuk. "Aku hanya… serius, kau ini benar-benar tidak tahu berterima kasih! Menghina orang yang memberimu makan!"
"Aku minta maaf," Tianji buru-buru berkata. "Itu hanya…" Ia menghela napas. "Kadang mulutku bicara sebelum otakku bekerja."
"Bagus kalau kau sadar." Yue'er duduk kembali, meskipun pipinya masih merah padam. "Lain kali kalau kau berani berkata seperti itu lagi, aku akan memotong lidahmu dengan anak panah."
"Aku percaya kau bisa."
Mereka terdiam beberapa saat. Keheningan yang nyaman, seperti dua orang yang sudah saling mengenal puluhan tahun, bukan hanya tiga minggu.
Tapi keheningan itu pecah.
Sesuatu—atau seseorang—mendarat di atap rumah panggung itu dengan bunyi yang hampir tidak terdengar. Namun telinga Tianji, yang telah diasah oleh latihan pernapasan Xuan Qingzi, menangkapnya. Ia langsung berdiri, tubuhnya tegang.
"Yue'er, mundur."
"Apa? Kenapa—"
Tiba-tiba, pintu rumah panggung itu hancur berkeping-keping. Sebuah tendangan raksasa melontarkan papan kayu ke segala arah. Tianji bergerak cepat, menarik Yue'er ke belakangnya, tubuhnya berdiri di antara gadis itu dan bahaya.
Lima sosok hitam melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka semua mengenakan jubah hitam panjang, wajah tertutup kain, hanya menyisakan sepasang mata yang dingin seperti malam musim dingin. Yang paling depan adalah seorang pria tinggi besar dengan bekas luka bakar yang menyeramkan di sekujur wajahnya—dagingnya mengerut, meninggalkan kulit yang mengkilap kemerahan.
Rahang Maut.
Tianji menatap pria itu dan langsung tahu siapa yang mereka hadapi. Informasi dari Xuan Qingzi berkelebat di ingatannya: "Rahang Maut, algojo utama Mawar Hitam. Ia membunuh dengan tangannya sendiri lebih dari seratus orang. Julukannya diberikan karena cara ia merobek rahang korbannya sebelum mereka mati."
"Liu Dahan," suara Rahang Maut serak, seperti batu bergesekan. "Di mana dia?"
"Ayahku tidak ada di sini," jawab Yue'er dari belakang Tianji. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha keras untuk tetap tenang. "Dia sedang… sedang keluar kota. Pergi. Tidak akan kembali dalam waktu dekat."
Rahang Maut tertawa. Suaranya bagaikan lolongan serigala. "Kebohongan yang menyedihkan. Tapi tidak apa-apa. Kalian—keponakan dan anak angkatnya—akan menjadi umpan yang sempurna." Matanya beralih ke Tianji. "Kau, bocah. Ada yang bilang kau memiliki ilmu aneh. Menyerap kekuatan orang lain. Menarik."
Tianji merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Mawar Hitam tahu tentang dirinya. Tapi bagaimana? Tidak ada yang tahu kecuali Xuan Qingzi, Liu Dahan, dan Yue'er.
Siapa yang membocorkan rahasianya?
"Yue'er," bisik Tianji tanpa menoleh. "Siapkan busurmu."
"Sudah," bisik Yue'er. Tangannya telah meraih busur kayu yang selalu ia sandarkan di dekat pintu. Anak panah telah terpasang.
"Bagus. Bidik yang paling kanan. Kalau aku bilang 'sekarang', lepaskan."
Sementara itu, tiga orang dari belakang Rahang Maut bergerak ke samping, mengepung mereka. Mereka semua memegang pedang panjang yang berkilat dalam cahaya lampu minyak.
"Dengar, bocah," Rahang Maut melangkah maju. "Serahkan dirimu. Ikut denganku tanpa perlawanan, dan aku akan membiarkan gadis ini hidup. Tapi kalau kau melawan…" Ia menjentikkan jarinya. Dua pembunuh di sampingnya mengeluarkan pedang beracun, ujungnya mengkilap kehijauan. "…kau akan menyaksikan kematian yang paling menyakitkan sebelum kau sendiri mati."
"Kau pikir aku akan percaya?" suara Tianji tenang, jauh lebih tenang dari yang ia rasakan. "Mawar Hitam terkenal tidak pernah meninggalkan saksi. Aku menyerah atau tidak, Yue'er akan tetap kau bunuh. Jadi buat apa aku menyerah?"
Rahang Maut mengerutkan alis—satu-satunya bagian wajahnya yang masih bisa bergerak. "Cerdik. Tapi kau juga bodoh. Melawan Mawar Hitam sama saja dengan melompat ke laut yang penuh hiu."
"Setidaknya aku akan membawa satu atau dua hiu bersamaku."
"SEKARANG!" teriak Tianji.
Yue'er tidak ragu. Busurnya berbunyi—suara dawai yang bergetar—dan anak panah melesat seperti kilat. Tepat mengenai leher pembunuh paling kanan. Pria itu tersentak, matanya membelalak, lalu roboh tanpa suara.
Pada saat yang sama, Tianji melesat ke depan. Ia tidak punya pedang, tidak punya senjata. Hanya telapak tangan kosong dan satu tujuan: menyentuh Rahang Maut.
"Meridian Penelan—aktifkan!"
Tapi Rahang Maut bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Ia bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya. Tubuhnya berputar, menghindari sentuhan Tianji, dan lututnya terangkat, menghantam perut Tianji dengan kekuatan dahsyat.
Tianji terpental ke belakang, tubuhnya menghantam dinding kayu. Udara di paru-parunya terhempas keluar. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa—seolah-olah dadanya diremukkan oleh batu raksasa.
"Tianji!" Yue'er menarik busurnya lagi, membidik Rahang Maut. Tapi sebelum ia bisa melepaskan anak panah, dua pembunuh lainnya menerjangnya. Yue'er terpaksa berguling ke samping, meninggalkan busurnya, dan meraih belati di pinggangnya.
"Gadis kecil, kau terlalu lemah," salah satu pembunuh berkata dingin. Pedangnya berkilat, menebas ke arah leher Yue'er.
Denting!
Tianji muncul entah dari mana, lengannya menangkis pedang itu—dengan tangan kosong! Kulit lengannya terkoyak, darah berceceran, tapi ia tidak peduli. Dengan tangan lainnya, ia meraih pergelangan tangan pembunuh itu.
"Meridian Penelan!"
Seketika, energi hangus mengalir dari tubuh pembunuh itu ke dalam lengan Tianji. Qi si pembunuh—kotor, penuh amarah dan kebencian—menyusup ke dalam meridian Tianji seperti ular berbisa. Pembunuh itu menjerit, tubuhnya kejang, lalu jatuh pingsan—Qi-nya terkuras habis.
Tapi Tianji juga merasakan dampaknya. Qi kotor itu berputar di dalam dadanya, membuatnya mual. Penglihatannya kabur sejenak.
"Tianji!" Yue'er menangkapnya saat ia hampir roboh. "Kau gila! Menggunakan ilmu itu sembarangan!"
"Aku tidak punya pilihan," desah Tianji, napasnya tersengal. Dua pembunuh tersisa—Rahang Maut dan satu lagi—masih berdiri. Dan Rahang Maut bahkan belum mengeluarkan pedangnya.
"Menarik," Rahang Maut berkata, matanya berkilat penuh minat. "Ilmu itu benar-benar nyata. Lord Hitam akan sangat senang memiliki kemampuan seperti itu." Ia melangkah maju, perlahan, seperti harimau yang mengintai mangsanya. "Kau tahu, bocah, aku bisa membuatmu mati perlahan. Atau aku bisa membuatmu bergabung dengan kami. Pilihan ada di tanganmu."
"Aku tidak akan bergabung dengan pembunuh," Tianji berkata, suaranya serak.
"Sayang sekali." Rahang Maut mengangkat tangannya. "Bunuh gadis itu. Tangkap bocah ini hidup-hidup."
Pembunuh terakhir bergerak—terlalu cepat. Tianji mencoba menahan, tapi tubuhnya sudah di ambang batas. Ia tidak bisa menyelamatkan Yue'er dan melawan Rahang Maut sekaligus.
"JANGAN!" teriak Tianji.
Tapi tiba-tiba, sesosok bayangan melesat dari balik jendela. Pedang berkilat—biru seperti es—memotong serangan pembunuh itu tepat sebelum mengenai Yue'er. Pembunuh itu terpental, dadanya robek.
Seorang lelaki tua berdiri di antara Tianji dan para penyerang. Jubah putihnya bersih, kontras dengan kekacauan di sekelilingnya. Jenggot panjangnya yang putih berkibar tertiup angin malam. Di tangannya, pedang biru itu masih meneteskan darah.
"Guru!" seru Tianji, campuran lega dan terkejut.
Xuan Qingzi menoleh, matanya tajam. "Kau banyak bicara, bocah. Saatnya bertarung, kau malah melamun." Tapi suaranya tidak sepenuhnya marah—ada kehangatan di balik kekasarannya.
Rahang Maut mundur selangkah, waspada. "Xuan Qingzi… Pendekar Pedang Es Biru. Aku kira kau sudah mati."
"Banyak yang mengira begitu," kata Xuan Qingzi dengan tenang. "Tapi kematian adalah sesuatu yang harus kau peroleh, bukan kau cari. Dan aku belum cukup bosan dengan dunia ini untuk mati." Ia mengangkat pedangnya. "Sekarang, bagaimana kalau kita bicarakan masalah ini seperti orang dewasa? Atau kau lebih suka mempertahankan tradisi Mawar Hitam—berbicara dengan pedang?"
Rahang Maut tidak menjawab. Ia menggeram, lalu melesat maju. Tapi bukan ke arah Xuan Qingzi—melainkan ke arah Yue'er!
"CURANG!" teriak Yue'er, tapi ia sudah keburu ditarik ke dalam pelukan raksasa Rahang Maut. Pria itu mencengkeram lehernya, dan Yue'er meronta tak berdaya.
"Satu langkah, dan lehernya patah," Rahang Maut berkata. "Pedangmu mungkin cepat, Xuan Qingzi, tapi tidak lebih cepat dari tanganku."
Xuan Qingzi berhenti. Matanya menyipit.
"Tianji… tolong…" suara Yue'er tersekat.
Tianji merasa dadanya akan meledak. Melihat Yue'er dalam bahaya—gadis yang setiap hari memberinya makan, yang merawat lukanya, yang membuatnya tertawa dengan celotehannya yang tak ada habisnya—membuat sesuatu di dalam dirinya terkoyak.
"Lepaskan dia," suara Tianji berubah. Dalam.
"Mau tak mau?" Rahang Maut tertawa. "Aku punya nyawanya. Kau tidak punya apa-apa."
"Kau salah."
Tianji mengangkat tangannya. Dadanya terasa panas—Qi yang ia serap dari pembunuh tadi masih berputar liar. Tapi ia tidak peduli. Ia membiarkan Qi itu mengalir ke seluruh tubuhnya, merasakan gelombang kekuatan yang memabukkan sekaligus mengerikan.
"KALAU AKU TIDAK PUNYA APA-APA, AKU AKAN MENGAMBIL APAPUN YANG AKU BUTUHKAN!"
Tianji meleset.
Bukan dengan kecepatan biasa. Ia melesat seperti anak panah yang ditembakkan dari busur raksasa. Tubuhnya menjadi bayangan kabur. Rahang Maut terkejut—ia tidak sempat bereaksi. Tianji sudah di depannya, telapak tangannya tepat di dadanya.
"MERIDIAN PENELAN—AKTIFKAN!"
Qi hitam—pekat, dingin, penuh kematian—mengalir dari tubuh Rahang Maut ke dalam lengan Tianji. Ribuan nyawa yang telah direnggut pria itu, ribuan tangis dan penderitaan, semuanya mencekik Tianji dalam sekejap.
Tapi ia tidak melepaskan.
"LEPASKAN DIA!" raung Tianji.
Rahang Maut melepaskan Yue'er, bukan karena patuh, tapi karena tubuhnya kejang tak terkendali. Matanya berbalik putih. Mulutnya berbusa. Qi-nya terkuras dengan paksa.
Tapi ada yang salah.
Qi gelap yang diserap Tianji terlalu kuat. Terlalu banyak. Terlalu jahat. Tubuh Tianji tidak bisa menampungnya. Meridiannya membengkak, urat-uratnya menonjol keluar. Wajahnya berubah pucat, lalu kehitaman.
"Tianji, lepaskan!" teriak Xuan Qingzi, berlari ke arahnya. "Kau akan mati!"
"Aku… tidak bisa…" Tianji jatuh berlutut, tangannya masih menempel di dada Rahang Maut yang kini tak bergerak. Qi gelap bagaikan ular raksasa yang menggeliat di bawah kulitnya. "Sakit… SANGAT SAKIT…"
"TIANJI!" Yue'er berlari ke sisinya, meraih tangannya. "Lepaskan! Aku mohon, lepaskan!"
Tianji mendengar suaranya, tapi seperti dari kejauhan. Tubuhnya terasa diambil alih oleh sesuatu. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang kelaparan.
Matanya berubah menjadi hitam pekat—tanpa putih mata.
Dan ia jatuh pingsan.
Bersambung…