Kegelapan hutan pinus di utara Kota Awan Selatan terasa lebih bersahabat bagi Li Feng dibandingkan kemegahan palsu di dalam tembok kota. Di bawah naungan pepohonan raksasa yang batangnya sekeras besi, Li Feng terus memacu langkahnya. Darah yang mengering di jubah abu-abunya mulai mengelupas, meninggalkan noda kehitaman yang menjadi saksi bisu pertarungannya dengan Tetua Gu. Meskipun tubuhnya babak belur, Dantian Li Feng justru terasa hangatβenergi yang ia “telan” dari serangan raksasa Tetua Gu perlahan-lahan mulai dimurnikan oleh sirkulasi Seni Menelan Semesta.
Setelah menempuh perjalanan selama dua malam tanpa henti, pemandangan di depannya mulai berubah. Hutan pinus yang rapat perlahan memberi jalan pada sebuah lembah tersembunyi yang diselimuti kabut abadi berwarna keperakan. Di tengah lembah itu, menjulang sisa-sisa kemegahan masa lalu: Reruntuhan Langit Tua.
Pilar-pilar raksasa yang telah patah berserakan di tanah, ditumbuhi oleh lumut bercahaya yang memberikan nuansa mistis. Bangunan pusatnya tampak seperti kuil yang terbelah dua oleh pedang raksasa dari langit. Aura di tempat ini sangat berat, seolah-olah waktu sendiri telah berhenti berputar di sini selama ribuan tahun.
“Tempat ini… energinya sangat murni, namun sangat liar,” gumam Li Feng.
Ia bisa merasakan pedang hitam di punggungnya bergetar hebat. Pedang itu bukan lagi berteriak minta darah, melainkan seolah-olah sedang bernyanyi, menyambut rumah yang telah lama ia tinggalkan. Li Feng melangkah masuk ke area pelataran utama, namun baru beberapa langkah, ia merasakan kehadiran seseorang.
“Berhenti di sana, pendekar liar. Tempat ini bukan untuk mereka yang berhati kotor.”
Sebuah suara dingin namun semerdu petikan kecapi terdengar dari balik pilar besar. Li Feng segera waspada, tangannya meraih gagang pedang. Namun, saat sosok itu muncul dari balik kabut, jantung Li Feng berdegup kencang karena alasan yang berbeda.
Gadis itu mengenakan jubah biru laut yang sangat elegan, rambutnya yang hitam panjang diikat dengan pita perak. Meskipun ia mengenakan cadar, Li Feng akan mengenali tatapan mata itu di antara jutaan orang.
“Yue Er?” bisik Li Feng, suaranya gemetar oleh kerinduan.
Gadis itu tertegun. Ia menurunkan posisi tangannya yang tadinya bersiap melepaskan jarum medis pelumpuh. Ia menatap Li Feng dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan jubahnya yang koyak dan bekas darah di wajahnya.
“Li Feng… kau benar-benar datang?” Yue Er melangkah maju, suaranya kini melunak, penuh dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan. “Putri Lin mengirim pesan lewat burung merpati bahwa kau membuat kekacauan besar di Kota Awan. Aku pikir… aku pikir kau tertangkap.”
Li Feng melepaskan cengkeramannya pada pedang dan berlari kecil mendekati Yue Er. Tanpa mempedulikan etika atau jarak, ia menggenggam tangan Yue Er yang lembut. “Aku berjanji padamu bahwa aku akan menyusulmu. Tidak ada Tetua sekte atau pasukan kota yang bisa menghalangiku untuk kembali ke sisimu.”
Pipi Yue Er merona di balik cadarnya. Ia tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia menyentuh luka gores di pipi Li Feng dengan jemarinya yang dingin. “Kau pria bodoh yang nekat. Menelan serangan Tetua Gu… kau beruntung tubuhmu tidak meledak.”
“Aku memiliki alasan untuk tetap hidup, Yue Er,” jawab Li Feng dengan tatapan mata yang sangat tulus. “Selama kau menungguku, aku tidak akan membiarkan maut menjemputku.”
Momen romantis itu berlangsung sejenak sebelum sebuah getaran hebat mengguncang bumi di bawah kaki mereka. Suara raungan rendah terdengar dari kedalaman reruntuhan.
“Kita tidak punya banyak waktu,” kata Yue Er, wajahnya kembali serius. “Aku datang ke sini untuk mencari Inti Roh Langit guna menyembuhkan penyakit guruku di Lembah Persik. Namun, reruntuhan ini telah terbangun. Sekte-sekte besar lain, termasuk Sekte Pedang Darah, sudah mengirimkan tim elit mereka. Mereka sedang bertarung di dalam untuk memperebutkan akses ke ruang utama.”
“Maka kita harus masuk lebih dulu,” kata Li Feng tegas. “Aku akan membukakan jalan untukmu. Apa pun yang kau butuhkan, aku akan mendapatkannya.”
Mereka berdua bergerak cepat menuju pintu masuk kuil utama yang merupakan sebuah lubang besar di bawah tanah. Di dalam, udaranya terasa sangat tipis dan dipenuhi oleh jebakan formasi sihir kuno. Li Feng menggunakan indra energinya yang tajam untuk mendeteksi jebakan-jebakan tersebut. Setiap kali ada panah energi yang melesat dari dinding, Li Feng hanya perlu mengibaskan tangan dan menggunakan Seni Menelan untuk menghisap energi panah tersebut sebelum menyentuh mereka.
“Teknikmu… ia berkembang sangat pesat,” puji Yue Er.
“Ia belajar dari setiap musuh yang kuhadapi,” jawab Li Feng.
Setelah melewati lorong panjang, mereka tiba di sebuah aula bundar yang sangat luas. Di tengah aula tersebut, melayang sebuah bola energi berwarna emas yang dikelilingi oleh rantai-rantai cahaya. Itulah Inti Roh Langit. Namun, di bawahnya, sudah terjadi pertempuran sengit.
Sepuluh pendekar dari Sekte Pedang Darah, yang dipimpin oleh seorang pria jangkung bermata satu, sedang terkepung oleh puluhan patung penjaga batu yang hidup. Patung-patung itu sangat kuat karena mereka terus-menerus mendapatkan pasokan energi dari Inti Roh tersebut.
“Itu Kapten Iron-Eye dari Sekte Pedang Darah,” bisik Yue Er. “Dia berada di Ranah Inti Bumi Tingkat 3. Sangat berbahaya.”
Li Feng menatap patung-patung penjaga itu. “Mereka bergerak karena energi Inti Roh. Jika aku bisa memutus aliran energi tersebut, patung-patung itu akan berhenti, dan kita bisa mengambil Inti Roh sebelum Kapten itu menyadarinya.”
“Itu sangat berbahaya, Li Feng. Memutus aliran energi Inti Roh berarti kau harus menyerap beban energi murni yang sangat besar dalam satu waktu,” Yue Er memperingatkan.
Li Feng menatap Yue Er, lalu tersenyum tipis. Ia melepaskan liontin giok dari lehernya dan meletakkannya kembali ke tangan Yue Er. “Jika sesuatu terjadi, lari dan jangan menoleh. Tapi percayalah padaku, aku tidak akan membiarkan cahaya ini padam.”
Tanpa menunggu jawaban, Li Feng melompat dari balkon lantai dua. Ia tidak menyerang para pendekar Sekte Pedang Darah, melainkan ia meluncur lurus ke arah rantai-rantai cahaya yang mengikat Inti Roh.
“SIAPA ITU?!” teriak Kapten Iron-Eye sambil menebaskan pedang besarnya yang berlumuran darah.
Li Feng mengabaikan teriakan itu. Ia mendarat di atas salah satu rantai cahaya. Ia menancapkan pedang hitamnya tepat ke titik pertemuan rantai-rantai tersebut.
“SENI MENELAN SEMESTA: PENGHISAP LANGIT!”
Tiba-tiba, seluruh aula bergetar. Aliran energi emas yang sangat besar, yang tadinya mengalir ke patung-patung penjaga, berbelok arah secara drastis menuju Li Feng. Tubuh Li Feng seketika diselimuti oleh cahaya emas yang menyilaukan. Rasa sakitnya sepuluh kali lipat lebih hebat daripada saat mandi obat di kota.
Patung-patung penjaga itu seketika membeku dan hancur menjadi debu karena kehilangan pasokan energi.
“Hahaha! Lihat bocah bodoh itu! Dia menghisap energi yang bahkan para dewa pun akan kesulitan menahannya!” tawa Kapten Iron-Eye jahat. “Biarkan dia meledak, lalu kita ambil sisanya!”
Yue Er yang menonton dari atas merasa jantungnya hampir copot. “Li Feng! Berhenti! Kau akan hancur!”
Namun Li Feng tidak berhenti. Di tengah rasa sakit yang menghancurkan setiap inci ototnya, ia memvisualisasikan wajah Yue Er. Ia mengingat janjinya untuk menjadi tidak terkalahkan agar bisa melindunginya. Ia memaksa Dantiannya untuk melebar, memaksa Seni Menelan untuk bekerja melampaui batas normalnya.
Bukan aku yang menelan energi ini… tapi pedang ini! batin Li Feng.
Pedang hitam itu mulai berubah warna. Bagian tengah bilahnya kini memancarkan garis merah darah yang menyala. Pedang itu menyerap sebagian besar beban energi murni tersebut, bertindak sebagai filter bagi tubuh Li Feng.
Perlahan, cahaya emas di aula memudar. Inti Roh Langit yang tadinya liar kini mengecil dan menjadi sebuah permata emas yang tenang di tangan Li Feng. Li Feng jatuh berlutut, napasnya sangat berat, namun matanya memancarkan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
[Selamat! Anda telah menembus Ranah Tubuh Perunggu dan memasuki Ranah Aliran Qi Tingkat 2!]
Li Feng telah melompati beberapa tingkat sekaligus karena kemurnian energi Inti Roh tersebut.
“Kerja bagus, bocah! Sekarang, serahkan permata itu dan aku akan memberimu kematian yang tidak terlalu menyakitkan!” Kapten Iron-Eye melangkah maju, pedang besarnya mengeluarkan aura merah yang haus darah.
Li Feng berdiri perlahan. Ia tidak menatap Kapten tersebut dengan takut. Ia justru menatapnya dengan rasa haus yang sama dengan pedangnya.
“Kau ingin ini?” Li Feng mengangkat permata emas itu sejenak, lalu memasukkannya ke dalam jubahnya. “Kemarilah dan ambil. Tapi aku peringatkan kau… aku baru saja makan besar, dan aku masih merasa lapar.”
Pertempuran pun pecah. Kapten Iron-Eye menyerang dengan kekuatan penuh, menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan pilar-pilar di sekitarnya. Namun Li Feng yang kini berada di Ranah Aliran Qi bergerak dengan kelincahan yang mustahil. Ia bisa memanipulasi udara di sekitarnya dengan Qi yang ia miliki.
Setiap kali pedang mereka beradu, Kapten Iron-Eye merasa tangannya gemetar. “Kekuatan apa ini? Bagaimana mungkin seorang pemuda tingkat rendah memiliki berat serangan seperti ini?”
Li Feng tidak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk berpikir. Ia menggunakan teknik baru yang ia pelajari dari Inti Roh tadi.
“Langkah Bayangan Cahaya!”
Li Feng muncul di belakang Kapten tersebut dalam sekejap mata. Ia tidak menebas dengan pedangnya, melainkan memukul punggung Kapten dengan telapak tangan yang berisi energi Menelan.
“ARGH!” Kapten Iron-Eye terpental menabrak dinding altar. Ia batuk darah, dan ia menyadari dengan ngeri bahwa Qi di dalam tubuhnya mulai bocor keluar menuju tempat Li Feng berdiri.
“Kau… kau adalah monster!” teriak Kapten itu ketakutan. Ia menyadari ia tidak bisa menang. Dengan sisa tenaganya, ia melemparkan bom asap beracun dan melarikan diri bersama sisa anak buahnya melalui pintu belakang.
Li Feng tidak mengejarnya. Ia tahu tubuhnya sudah mencapai batas maksimal untuk hari ini. Ia menoleh ke atas, menatap Yue Er yang segera melompat turun dan memeluknya dengan erat.
“Kau gila… kau benar-benar gila,” isak Yue Er di pundak Li Feng. Ia tidak peduli lagi dengan citranya sebagai tabib yang tenang.
Li Feng membalas pelukan itu, mencium kening Yue Er dengan lembut di balik cadarnya. “Aku gila karenamu, Yue Er. Dan aku akan melakukan hal yang lebih gila lagi jika itu artinya aku bisa menjagamu tetap aman.”
Li Feng mengeluarkan permata emas itu dan memberikannya kepada Yue Er. “Ini untuk gurumu. Ambillah.”
Yue Er menatap permata itu, lalu menatap Li Feng. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini bukan lagi sekadar pemuda desa yang ia tolong di hutan. Ia adalah seorang pria yang siap menantang seluruh dunia demi dirinya. Kesetiaan Li Feng bukanlah sekadar kata-kata, melainkan tindakan yang mempertaruhkan nyawa.
“Terima kasih, Li Feng,” bisik Yue Er. “Sekarang, kita harus keluar dari sini sebelum sekte lain datang. Dan kali ini… aku tidak akan membiarkanmu berjalan di belakangku. Kita akan berjalan berdampingan.”
Mereka meninggalkan reruntuhan kuno itu tepat saat matahari terbenam. Di bawah sinar jingga yang indah, dua sosok manusia tersebut tampak berjalan bersama, satu dengan pedang hitam yang mematikan, dan satu dengan cahaya penyembuh yang lembut.
Li Feng menatap ke depan. Jalannya masih panjang, musuh-musuhnya akan semakin kuat, namun di tangannya yang menggandeng Yue Er, ia merasakan kekuatan yang lebih besar dari energi mana pun yang pernah ia telan. Itulah kekuatan cinta dan janji setia yang akan membawanya hingga menjadi yang tak terkalahkan di bawah langit yang berbahagia.