Angin di pegunungan utara menderu lebih kencang daripada di Gunung Meru, membawa kristal-kristal es yang tajam dan mampu menyayat kulit seorang manusia biasa. Di sini, di wilayah yang dikenal sebagai Puncak Beku Kehampaan, vegetasi hampir tidak ada. Yang tersisa hanyalah formasi batuan hitam yang diselimuti salju abadi dan hawa dingin yang mampu membekukan Qi di dalam meridian jika seseorang tidak cukup kuat untuk melindunginya.
Adi Binar berdiri di tepi tebing curam, menatap ke arah lembah tersembunyi yang diselimuti kabut tebal berwarna abu-abu. Berdasarkan ingatan yang ia rampas dari jiwa Lin Feng, di bawah sana terletak pintu masuk ke Istana Bawah Tanah Awan Putih, sebuah tempat rahasia yang bahkan hanya diketahui oleh Penatua Agung dan murid inti terpilih. Di sanalah Inti Dewa itu disimpan, menunggu untuk digunakan dalam ritual bulan purnama.
Tubuh Adi Binar kini memancarkan aura ungu gelap yang halus, menciptakan zona hangat di sekelilingnya yang membuat salju mencair bahkan sebelum menyentuh jubah hitamnya. Sejak mencapai Ranah Pembangunan Fondasi, indranya telah meluas berkali-kali lipat. Ia bisa merasakan denyut energi dari formasi pelindung di bawah sana—sebuah jaring energi yang rumit dan mematikan.
“Formasi Penyaring Jiwa Sembilan Lapis,” gumam Adi Binar. “Sekte Awan Putih benar-benar menjaga tempat ini dengan nyawa mereka.”
Namun, bagi pengguna Sutra Penelan Jiwa, sebuah formasi energi bukanlah penghalang, melainkan sumber nutrisi yang sangat besar.
Adi Binar tidak melompat langsung ke bawah. Ia duduk bersila di puncak tebing, memejamkan matanya. Ia perlu menyempurnakan asimilasi energi dari petir kesengsaraan yang ia telan sebelumnya. Di dalam batinnya, ia melihat sebuah pohon hitam besar yang tumbuh di tengah lautan energinya. Setiap daun dari pohon itu adalah fragmen jiwa yang telah ia telan, dan akarnya adalah meridian barunya yang kini sekeras berlian hitam.
“Sutra Penelan Jiwa: Tahap Kedua—Transformasi Janin Kegelapan.”
Ia mulai memutar energinya dalam pola yang berlawanan arah jarum jam. Tekanan di sekitarnya meningkat drastis. Ruang di sekitar Adi Binar seolah-olah terdistorsi, cahaya bulan yang jatuh ke arahnya tampak melengkung dan terhisap ke dalam tubuhnya. Ini adalah inti dari tahap kedua: kemampuan untuk menelan tidak hanya energi makhluk hidup, tetapi juga energi lingkungan secara pasif.
Dua jam berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Ketika ia membuka mata, pupilnya kini benar-benar ungu tanpa ada warna putih yang tersisa. Ia berdiri dan melangkah ke udara kosong.
Bukannya jatuh, ia seolah-olah berjalan di atas tangga yang tidak terlihat. Setiap langkahnya meninggalkan riak hitam di udara. Inilah kekuatan Ranah Pembangunan Fondasi yang digabungkan dengan teknik Langkah Angin Surgawi yang telah dimodifikasi. Ia turun menuju kabut abu-abu dengan keanggunan seorang predator.
Begitu ia menyentuh lapisan pertama formasi pelindung, sebuah alarm spiritual seharusnya berbunyi di dalam sekte. Namun, Adi Binar meletakkan tangannya di atas penghalang transparan itu.
“Makan,” ucapnya singkat.
Bukannya memicu ledakan atau peringatan, formasi itu justru mulai meredup di titik sentuhan Adi Binar. Benang-benang energi emas yang membentuk formasi itu terurai dan mengalir masuk ke dalam lengan Adi Binar. Ia menciptakan lubang kecil yang cukup untuk dilewati tubuhnya tanpa mengganggu stabilitas keseluruhan formasi. Ia menyusup masuk seperti virus yang menembus sel tanpa terdeteksi.
Di bawah kabut, pemandangan berubah drastis. Sebuah istana kuno yang dibangun dari batu giok hitam berdiri megah, tertanam di dinding tebing lembah. Obor-obor api biru berjajar di sepanjang jalan masuk, memberikan kesan mistis dan menyeramkan.
Dua patung singa batu raksasa di depan gerbang tiba-tiba menggerakkan mata mereka yang terbuat dari batu delima merah.
“Siapa yang berani mengusik kedamaian tempat suci ini?” sebuah suara berat bergema dari patung-patung itu. Ini bukan makhluk hidup, melainkan Golem Penjaga yang ditenagai oleh batu roh kualitas tinggi.
Adi Binar tidak berhenti melangkah. “Hanya seorang penagih utang.”
Kedua singa itu melompat dari alasnya, mengguncang tanah lembah. Berat mereka masing-masing setidaknya sepuluh ton, dan setiap cakaran mereka dilapisi oleh energi yang setara dengan kultivator Pembangunan Fondasi tingkat awal.
Singa pertama menerjang dengan mulut terbuka, mencoba menggigit kepala Adi Binar. Adi Binar hanya mengangkat tangan kanannya, menahan rahang bawah singa batu itu dengan satu tangan. Duar! Tekanan dari tabrakan itu membuat kaki Adi Binar melesap ke dalam lantai batu, namun ia tidak mundur satu inci pun.
“Benda mati tetaplah benda mati,” ucap Adi Binar dingin.
Ia menyalurkan energi Sutra Penelan Jiwa langsung ke dalam inti energi singa tersebut. Dalam sekejap, cahaya merah di mata patung itu meredup, lalu meledak menjadi serpihan batu yang tak bernyawa. Inti energinya telah dikuras habis dalam hitungan detik.
Singa kedua, melihat rekannya hancur, mengeluarkan raungan ultrasonik yang mampu menghancurkan gendang telinga manusia biasa. Namun, bagi Adi Binar, suara itu hanyalah getaran udara yang tidak berarti. Ia melesat maju, Pedang Penghancur Cahaya di tangannya menebas secara horizontal.
Satu tebasan. Singa batu itu terbelah menjadi dua bagian yang sempurna, jatuh berdebum dan hancur menjadi debu.
Adi Binar berdiri di depan gerbang besar giok hitam. Ia bisa merasakan di balik pintu ini, ada sesuatu yang memancarkan aura kehidupan yang sangat masif—Inti Dewa. Tapi ia juga merasakan kehadiran tiga aura kuat lainnya. Para Penatua Penjaga.
“Keluarlah,” ucap Adi Binar. “Jangan bersembunyi di balik dinding batu itu seperti tikus.”
Pintu giok besar itu terbuka perlahan. Tiga orang tua mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman awan emas melangkah keluar. Masing-masing dari mereka memancarkan aura Ranah Pembangunan Fondasi tingkat menengah. Mereka adalah Penatua Bayangan dari Sekte Awan Putih, orang-orang yang telah meninggalkan dunia luar untuk menjaga harta karun terpenting sekte.
“Anak muda, kau memiliki keberanian yang luar biasa untuk datang ke sini,” ucap penatua di tengah, yang memiliki alis sangat panjang. “Tapi kau juga membawa bau kematian yang sangat pekat. Kau adalah orang yang dicari oleh Lin Feng, bukan?”
“Lin Feng sudah mati. Aku datang untuk apa yang ia rencanakan untukku,” jawab Adi Binar.
Ketiga penatua itu saling berpandangan, keterkejutan terlihat jelas di mata mereka. Lin Feng, murid paling berbakat mereka, telah tewas? Dan oleh pemuda di depan mereka ini?
“Jika benar apa yang kau katakan, maka kau adalah ancaman yang tidak boleh dibiarkan hidup,” ucap penatua kedua dengan suara tajam. “Formasi Tiga Matahari!”
Ketiga penatua itu berpencar, membentuk formasi segitiga yang mengelilingi Adi Binar. Mereka mengangkat senjata mereka—sebuah tongkat, sebuah kipas besi, dan sebuah pedang pendek. Energi spiritual mereka menyatu, menciptakan tiga bola cahaya raksasa di atas kepala mereka yang memancarkan panas luar biasa, seolah-olah membawa matahari turun ke dalam lembah.
Udara di sekitar Adi Binar mulai terbakar. Tanah berubah menjadi lava cair.
“Mati kau dalam pemurnian cahaya!” teriak mereka serentak.
Tiga sinar cahaya raksasa melesat dari bola-bola itu, memusat ke arah Adi Binar di tengah. Ledakan cahaya itu begitu terang hingga mampu membutakan siapa pun yang melihatnya. Panasnya mencapai ribuan derajat, cukup untuk menguapkan baja dalam sekejap.
Namun, di tengah-tengah badai api itu, terdengar suara tawa rendah yang dingin.
“Cahaya? Kalian menyebut ini cahaya?”
Saat cahaya mulai memudar, mereka melihat sesuatu yang tidak masuk akal. Adi Binar berdiri di sana, dikelilingi oleh pusaran hitam yang berputar sangat cepat. Semua serangan cahaya mereka tidak mengenai tubuhnya, melainkan terhisap ke dalam pusaran itu seolah-olah tersedot ke dalam lubang hitam.
“Terima kasih atas suplemennya. Energi matahari kalian sangat membantu menstabilkan pondasiku,” ucap Adi Binar.
Wajahnya tampak bersinar dengan kilau ungu yang mengerikan. Ia telah mencapai titik di mana serangan energi murni hanya akan menjadi makanan baginya.
“Sekarang, biarkan aku menunjukkan kepada kalian apa itu kegelapan yang sebenarnya.”
Adi Binar mengangkat Pedang Penghancur Cahaya tinggi-tinggi. Langit di atas lembah yang tadinya abu-abu mendadak menjadi hitam pekat, menelan semua cahaya obor dan energi matahari para penatua.
“Sutra Penelan Jiwa: Tebasan Malam Abadi!”
Sebuah gelombang energi hitam berbentuk bulan sabit melesat keluar dari pedangnya. Tebasan ini tidak hanya menyerang secara fisik, tetapi juga memotong koneksi spiritual para penatua dengan alam semesta.
Cring! Cring! Cring!
Senjata-senjata mereka hancur berkeping-keping. Ketiga penatua itu terlempar ke belakang, menghantam dinding istana giok. Darah segar menyembur dari mulut mereka. Kultivasi mereka yang telah dibangun selama puluhan tahun tiba-tiba terasa goyah, seolah-olah ditarik keluar dari tubuh mereka oleh tangan yang tidak terlihat.
Adi Binar tidak berhenti. Ia muncul di depan penatua beralis panjang dalam sekejap mata. Ia mencengkeram leher orang tua itu.
“Tolong… jangan…” rintih sang penatua.
“Di mana empati kalian saat kalian merencanakan pengorbanan nyawa seorang murid?” tanya Adi Binar dengan nada dingin.
Tanpa menunggu jawaban, ia mulai menyerap seluruh energi dan ingatan dari penatua tersebut. Proses ini jauh lebih cepat sekarang. Dua penatua lainnya mencoba menyerang dari belakang dengan sisa tenaga mereka, namun Adi Binar hanya menggerakkan jubahnya, melepaskan dua rantai hitam yang langsung menembus dada mereka.
Ketiga penatua penjaga terkuat itu kini hanyalah nutrisi bagi Sutra Penelan Jiwa.
Adi Binar merasakan gelombang kekuatan yang sangat besar mengalir ke dalam dirinya. Ingatan-ingatan mereka tentang teknik-teknik rahasia sekte, lokasi harta karun lainnya, dan struktur organisasi Sekte Awan Putih kini menjadi miliknya.
Ia melangkah masuk ke dalam istana giok yang kini sunyi. Di tengah aula utama, di atas sebuah altar yang dikelilingi oleh ribuan batu roh kualitas tinggi, melayang sebuah bola cahaya berwarna putih bersih yang berdenyut lambat. Inti Dewa.
Benda itu memancarkan aura suci yang sangat bertolak belakang dengan aura kegelapan Adi Binar. Begitu Adi Binar mendekat, bola itu bergetar hebat, seolah-olah merasa terancam oleh kehadiran musuh alaminya.
“Jadi ini yang kalian inginkan?” gumam Adi Binar. “Sesuatu yang murni untuk menutupi kebusukan hati kalian.”
Ia menjulurkan tangannya menuju Inti Dewa. Begitu jarinya menyentuh permukaan bola tersebut, sebuah ledakan energi suci mencoba menolak kehadirannya. Rasa sakit yang tajam seperti ribuan jarum perak menusuk telapak tangannya.
“Beraninya kau menolakku!” geram Adi Binar.
Ia melepaskan seluruh energi Sutra Penelan Jiwa miliknya. Kegelapan dan cahaya murni berbenturan di dalam aula itu, menciptakan kilatan-kilatan listrik yang menghancurkan pilar-pilar giok di sekitarnya.
“Jika kau tidak bisa aku kendalikan, maka aku akan menelanmu bulat-bulat!”
Adi Binar menarik Inti Dewa itu paksa ke arah dadanya. Dengan satu teriakan yang menggetarkan seluruh gunung, ia memaksa bola cahaya itu masuk ke dalam Dantian-nya.
Dunia seolah-olah berhenti berputar bagi Adi Binar. Di dalam tubuhnya, terjadi perang besar. Inti Dewa mencoba menghancurkan kegelapan dari dalam, sementara Sutra Penelan Jiwa berusaha mencerna esensi suci tersebut. Tubuh Adi Binar mulai retak, cahaya putih dan ungu memancar dari celah-celah kulitnya.
“Gunakan… kegelapan… untuk membungkus cahaya…” monolog batinnya di tengah rasa sakit yang luar biasa.
Ia memvisualisasikan seluruh energi hitamnya menjadi ribuan lapisan sutra yang melilit Inti Dewa, mengisolasinya, lalu perlahan-lahan memeras energinya tetes demi tetes.
Proses ini berlangsung sepanjang malam. Saat fajar menyingsing di luar lembah, suasana di dalam istana giok akhirnya menjadi tenang. Adi Binar masih berdiri di depan altar, namun penampilannya telah berubah sekali lagi.
Rambut hitamnya kini memiliki helai-helai perak yang berkilau. Di dahinya, muncul sebuah simbol kecil berbentuk mata yang tertutup. Auranya kini tidak lagi hanya gelap, tetapi mengandung tekanan yang sangat berat dan stabil—sebuah perpaduan antara kehampaan dan penciptaan.
Ia telah berhasil menyerap Inti Dewa. Meskipun belum sepenuhnya tercerna, benda itu kini menjadi sumber energi abadi di dalam dirinya.
Pembangunan Fondasi Tingkat Sembilan Puncak!
Hanya dalam satu langkah lagi, ia akan menyentuh Ranah Inti Emas, sebuah pencapaian yang bahkan para Penatua Agung sekte pun kesulitan untuk mencapainya selama berabad-abad.
Adi Binar mengepalkan tangannya. Ia merasakan kekuatan yang mampu meruntuhkan gunung dengan sekali pukulan. Ia melihat ke arah pintu keluar.
“Tujuh hari telah berlalu. Hari ini adalah bulan purnama,” ucapnya pelan. “Saatnya menghadiri pernikahan yang tertunda itu.”
Ia melangkah keluar dari istana giok. Dengan satu lambaian tangan, seluruh bangunan megah itu runtuh menjadi debu, terkubur di bawah tumpukan salju dan batu. Ia tidak ingin meninggalkan jejak apa pun dari sekte yang telah membuangnya.
Ia melesat ke langit, terbang langsung menuju pusat Sekte Awan Putih yang terletak di Puncak Awan Tertinggi. Hari ini, seluruh sekte sedang merayakan apa yang mereka pikir adalah hari kejayaan mereka—pernikahan agung antara Lin Feng dan Xiao Mei, serta ritual penyucian sekte. Mereka tidak tahu bahwa pengantin pria dan wanitanya sudah menjadi pupuk di hutan bambu, dan yang akan datang bukanlah keberkahan, melainkan bencana yang berjalan di atas awan.
Adi Binar terbang menembus lapisan awan dengan kecepatan yang menimbulkan ledakan sonik. Di matanya, hanya ada satu tujuan: kehancuran total bagi mereka yang telah bermain-main dengan takdirnya.
Di bawah sana, lonceng-lonceng sekte mulai berdentang meriah. Para tamu dari berbagai penjuru kekaisaran telah berkumpul. Pesta pora sedang berlangsung. Namun, di tengah keceriaan itu, seorang penatua yang memiliki indra tajam tiba-tiba mendongak ke langit, wajahnya berubah pucat pasi melihat sebuah titik hitam yang membelah awan dengan aura yang begitu menindas sehingga burung-burung di sekitarnya jatuh mati di udara.
“Itu… apa itu?!” teriak sang penatua.
Adi Binar menatap ke bawah, ke arah kompleks bangunan sekte yang tampak kecil di matanya. Ia mengangkat tangan kanannya, mengumpulkan energi dari Inti Dewa yang digabungkan dengan Sutra Penelan Jiwa. Sebuah bola energi raksasa berwarna ungu keputihan terbentuk di atas telapak tangannya, bersinar lebih terang daripada matahari fajar.
“Aku datang, Sekte Awan Putih. Mari kita mulai pestanya.”