Pagi yang menyusul setelah kehancuran Tujuh Bintang Pemusnah tidak membawa ketenangan yang biasa. Sebaliknya, atmosfer di seluruh Benua Pusat terasa tegang, seolah-olah udara itu sendiri telah jenuh dengan muatan listrik statis yang siap meledak. Di puncak Gunung Dewa Langit, Li Feng berdiri di atas balkon paviliun utama, menatap hamparan awan yang kini tampak lebih rendah dari biasanya. Di sampingnya, Yue Er duduk di kursi malas yang dilapisi sutra lembut. Meskipun warna di pipinya telah kembali berkat energi origin yang dibagikan Li Feng, kelelahan emosional masih membekas di matanya yang indah. Namun, saat ia menatap punggung suaminya yang lebar, rasa takut itu sirna, digantikan oleh kekaguman pada sosok yang kini telah menjadi pilar bagi seluruh dunia bawah.
Li Feng memutar tubuhnya, jubah hitamnya yang kini dihiasi sulaman benang ungu kristal bergerak searah dengan angin. Ia mendekati Yue Er dan berlutut di depannya, menggenggam jemari istrinya dengan kelembutan yang kontras dengan kekejaman yang ia tunjukkan semalam. “Aku telah memutuskan, Yue Er. Bertahan di sini hanya akan membuat Benua Pusat menjadi medan pembantaian terus-menerus. Setiap kali mereka mengirim utusan, rakyat kita yang akan menanggung debunya. Aku akan membawa aliansi kita menuju Gerbang Langit Kuno di Puncak Meru. Kita akan membuka jalan secara paksa ke Dimensi Ketiga.”
Yue Er menatap mata Li Feng, mencari keraguan namun hanya menemukan samudra tekad yang tak berdasar. “Puncak Meru adalah tempat yang terkutuk, Li Feng. Legenda mengatakan gerbang itu telah disegel oleh para dewa purba agar tidak ada satu pun manusia yang bisa menantang langit. Jika kau membukanya, kau tidak hanya menantang Dimensi Ketiga, tapi kau menantang tatanan semesta yang telah ada selama jutaan tahun.” Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Tapi aku tahu, suamiku bukanlah pria yang tunduk pada legenda. Jika kau pergi, maka aku akan menjadi panglima logistikmu. Aku akan memastikan setiap prajurit aliansi membawa obat-obatan terbaik dari Lembah Persik.”
Li Feng mencium telapak tangan Yue Er. “Terima kasih telah selalu mengerti, cintaku. Aku telah memanggil para pemimpin aliansi. Hari ini, Seruan Perang akan bergema.”
Beberapa jam kemudian, lapangan utama Sekte Dewa Langit penuh sesak oleh ribuan pendekar elit. Tidak hanya dari empat sekte besar, tetapi juga dari sekte-sekte kecil yang sebelumnya bersembunyi di balik bayang-bayang. Mereka semua telah mendengar berita tentang kemenangan mutlak Li Feng semalam. Kehadiran Li Feng di podium utama, dengan aura Ranah Keabadian Tahap Akhir yang memancar tipis, membuat seluruh area tersebut sunyi senyap. Tidak ada yang berani berbisik; bahkan napas mereka seolah tertahan oleh gravitasi yang dipancarkan sang Penguasa Kehampaan.
“Penduduk Benua Pusat!” suara Li Feng tidak keras, namun frekuensinya merambat melalui tanah dan beresonansi di dalam dada setiap orang yang hadir. “Selama ribuan tahun, kita telah hidup dalam ketakutan terhadap apa yang ada di atas kita. Kita menyebut mereka dewa, kita memberi mereka upeti, dan kita membiarkan mereka menganggap kita sebagai ternak energi. Semalam, mereka mencoba mengambil permaisuriku. Semalam, mereka mencoba membakar rumah kita. Aku bertanya pada kalian… apakah kalian ingin terus hidup berlutut sambil menunggu giliran untuk disembelih?”
“TIDAK!” teriakan serempak dari ribuan pendekar mengguncang gunung tersebut.
“Maka hari ini, kita berhenti berlari!” Li Feng menghunus pedang hitamnya, menunjuk langsung ke arah langit yang paling tinggi. “Kita akan mendaki Puncak Meru. Kita akan merobek Gerbang Langit itu. Kita akan membawa kehampaan ke dalam cahaya palsu mereka. Siapa pun yang memiliki keberanian di dalam hatinya, ikuti aku! Kita akan membuktikan bahwa cinta dan kesetiaan manusia lebih kuat dari keangkuhan dewa mana pun!”
Mobilisasi besar-besaran dimulai. Li Feng tidak hanya memimpin dengan kekuatan, tetapi juga dengan strategi yang cerdas. Ia membagi aliansi menjadi tiga divisi utama. Divisi pertama, yang dipimpin oleh Master Ling dari Sekte Pedang Langit, bertugas sebagai ujung tombak serangan fisik. Divisi kedua, di bawah komando Tabib Mu dan Yue Er, mengelola pertahanan energi dan pemulihan. Sedangkan divisi ketiga, yang terdiri dari para ahli formasi, bertugas menjaga stabilitas ruang di sekitar perjalanan mereka.
Perjalanan menuju Puncak Meru memakan waktu tujuh hari. Sepanjang jalan, Li Feng tidak beristirahat. Ia menggunakan kemampuannya untuk terus menyerap energi dari alam liar dan menyalurkannya kembali ke seluruh anggota aliansi melalui formasi berjalan yang ia ciptakan. Ini membuat pasukan aliansi tidak hanya tidak merasa lelah, tetapi kekuatan rata-rata mereka justru meningkat selama perjalanan. Banyak pendekar yang tadinya terjebak di Ranah Aliran Qi tiba-tiba mengalami terobosan ke Ranah Inti Bumi karena kualitas energi murni yang dibagikan Li Feng.
Pada hari ketujuh, mereka tiba di kaki Puncak Meru. Gunung ini tidak menyerupai gunung biasa; ia adalah sebuah menara batu raksasa yang puncaknya hilang di balik awan yang berputar secara vertikal. Udara di sini sangat tipis dan mengandung partikel petir yang menyengat kulit. Di lereng-lereng gunung, terlihat bangkai-bangkai naga dan monster purba yang membatu, saksi bisu dari kegagalan mereka yang mencoba mendaki tempat ini di masa lalu.
“Li Feng, lihat itu,” Yue Er menunjuk ke arah lereng tengah. Terdapat ribuan patung manusia yang membeku dalam posisi ketakutan. “Mereka adalah para pencari keabadian yang terkena kutukan Pembekuan Jiwa dari gerbang atas.”
Li Feng menatap patung-patung itu dengan iba, namun tidak ada ketakutan di matanya. Ia melangkah ke depan barisan. “Kutukan ini hanyalah sisa-sisa energi cahaya yang membeku. Bagi mereka, ini adalah kematian. Bagi aku, ini adalah santapan.” Li Feng membuka telapak tangannya. Seni Menelan: Pembersihan Atmosfer! Sebuah pusaran ungu raksasa keluar dari tubuhnya, menyapu seluruh lereng gunung. Kabut kutukan yang telah ada selama ribuan tahun itu tersedot masuk ke dalam tubuh Li Feng dalam waktu singkat. Patung-patung batu itu hancur menjadi debu, membebaskan jiwa-jiwa yang terperangkap di dalamnya.
Perjalanan mendaki pun dimulai. Setiap langkah semakin berat karena tekanan gravitasi dimensional mulai terasa. Namun, Li Feng berjalan paling depan, menggunakan tubuhnya sebagai pemecah gelombang tekanan bagi pasukannya. Yue Er berjalan tepat di belakangnya, menggunakan tongkat gioknya untuk menciptakan zona oksigen bagi para prajurit. Keserasian mereka berdua memberikan semangat yang luar biasa bagi seluruh aliansi. Mereka melihat pemimpin mereka bukan sebagai diktator, melainkan sebagai pasangan yang berjuang demi masa depan bersama.
Saat mereka mencapai puncak tertinggi, mereka menemukan sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari bahan yang menyerupai perak cair. Gerbang itu tidak memiliki engsel, namun di permukaannya terdapat ukiran mata raksasa yang terus bergerak mengawasi siapa pun yang mendekat. Inilah Gerbang Langit Kuno, pintu masuk tunggal yang menghubungkan dunia bawah dengan Dimensi Ketiga.
“Berhenti!” sebuah suara yang sangat jernih dan berwibawa muncul dari gerbang tersebut. Dua sosok raksasa setinggi tiga puluh meter muncul dari perak cair tersebut. Mereka adalah Penjaga Gerbang Meru, entitas yang diciptakan langsung dari hukum alam untuk menjaga batas antar dunia. Mereka memegang kapak raksasa yang terbuat dari petir murni.
“Manusia fana, kau telah melanggar batas yang ditentukan oleh langit,” kata salah satu penjaga. “Kembalilah, atau jiwamu akan diceraiberaikan hingga tidak bisa masuk ke dalam siklus reinkarnasi.”
Li Feng melangkah maju sendirian, meninggalkan Yue Er dan pasukannya di jarak yang aman. Ia menatap dua raksasa itu dengan tangan yang tetap tenang di samping tubuhnya. “Aku tidak mencari reinkarnasi. Aku mencari keadilan. Gerbang ini telah menahan dunia kami dalam kegelapan terlalu lama. Minggir, atau kalian akan menjadi bagian dari kehampaan yang aku bawa.”
“LANCANG!” Kedua penjaga itu menyerang secara bersamaan. Kapak petir mereka menghantam ke bawah, menciptakan ledakan yang seharusnya bisa membelah gunung tersebut menjadi dua.
Namun, Li Feng tidak menghindar. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas.
Seni Menelan: Penangkapan Hukum Alam!
Telapak tangan Li Feng menyentuh bilah kapak petir tersebut. Bukannya hancur, petir-petir raksasa itu justru melilit lengan Li Feng seperti ular yang jinak, lalu perlahan-lahan meredup dan tersedot ke dalam Dantiannya. Li Feng menggunakan energi petir yang baru saja ia serap untuk memperkuat tinjunya. Dengan kecepatan yang tak tertangkap mata, ia meluncurkan dua pukulan ke arah dada para penjaga.
KRAAAAAAK!
Zirah hukum alam milik para penjaga hancur berkeping-keping. Tubuh raksasa mereka mulai retak dan bercahaya ungu dari dalam. Li Feng tidak hanya menghancurkan fisik mereka; ia “menelan” fungsi hukum yang membuat mereka tetap ada. Dalam hitungan detik, dua penjaga legendaris itu hancur menjadi serpihan perak cair yang kemudian membeku di tanah.
Gerbang perak raksasa itu mulai bergetar hebat. Ukiran mata di permukaannya membelalak ketakutan sebelum akhirnya retak. Li Feng menoleh ke arah Yue Er dan tersenyumβsenyuman seorang pemenang yang siap menghadapi tantangan terakhir. “Yue Er, gerbangnya sudah terbuka. Apakah kau siap melihat apa yang selama ini mereka sembunyikan dari kita?”
Yue Er mendekat, menggenggam tangan Li Feng erat-erat. “Selama aku bersamamu, bahkan jika di balik gerbang ini adalah kehancuran total, aku tidak akan menyesal.”
Li Feng mengangguk, lalu menoleh ke arah ribuan pasukan aliansi di belakangnya. “Persiapkan diri kalian! Kita tidak lagi mendaki gunung. Kita akan memasuki surga sebagai penakluk!”
Li Feng menghantamkan pedang hitamnya ke tengah gerbang perak tersebut. Sebuah ledakan energi kehampaan yang luar biasa besar terjadi, merobek segel dimensional yang telah bertahan selama ribuan tahun. Sebuah terowongan cahaya putih yang menyilaukan muncul, menghisap Li Feng, Yue Er, dan seluruh pasukan aliansi ke dalamnya.
Bab ke-28 ditutup dengan adegan epik di mana ribuan pendekar dunia bawah menghilang masuk ke dalam gerbang langit, dipimpin oleh Li Feng yang auranya kini menyatu dengan cakrawala. Mereka meninggalkan dunia lama yang penuh ketakutan, dan bersiap mengukir sejarah baru di tanah para dewa. Di sisi lain gerbang, di Dimensi Ketiga, Arkon Agung sedang berdiri di balkon istananya, menatap ke arah pintu masuk dimensinya yang kini bergetar hebat. Ia menyadari bahwa badai yang ia remehkan kini telah tiba di depan pintunya, dan badai itu memiliki nama: Li Feng.