Su Yue masih berdiri mematung di bawah naungan pohon persik kuno, napasnya tertahan di kerongkongan. Angin pagi yang dingin berhembus, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang terlepas dari ikatan, namun ia sama sekali tidak mempedulikannya. Matanya yang bulat dan jernih terpaku pada wajah Ye Chen. Jantungnya berdetak dengan ritme yang kacau, bergemuruh menabrak tulang rusuknya seolah ingin melompat keluar. Di satu sisi, ia merasa ngeri dengan kekejaman instan yang baru saja ditunjukkan pemuda itu. Suara retakan tulang Lin Mu masih terngiang jelas di telinganya, sebuah melodi kematian yang mengerikan. Namun di sisi lain, senyum lembut Ye Chen yang kini terarah padanya, mata hitam pekat yang memancarkan kehangatan musim semi itu, seakan menghapus semua darah dan kekerasan yang baru saja terjadi.
“Kakak Su?” Suara Ye Chen mengalun kembali, kali ini setingkat lebih rendah, bergetar dengan nada menggoda yang membuat bulu kuduk Su Yue meremang karena antisipasi. Jari telunjuk Ye Chen yang panjang dan lentik terulur, dengan lembut menyingkirkan sehelai kelopak bunga persik yang tak sengaja jatuh di bahu gadis itu. Sentuhan sekilas itu seringan sayap kupu-kupu, namun panasnya menjalar menembus lapisan sutra jubah Su Yue, langsung membakar kulitnya.
“Ah… a-aku…” Su Yue terbata-bata, wajahnya kembali merona merah padam hingga ke telinga. Ia menundukkan pandangannya, tak sanggup menatap langsung ke dalam jurang pesona di mata Ye Chen. Jari-jarinya bertaut gelisah di depan perut. “A-aku harus kembali ke paviliun alkimia. Guru menyuruhku menyiapkan tungku sebelum matahari sepenggalah. Diskusi kita… kita bisa melanjutkannya lain waktu, Adik Ye.”
Ye Chen menarik tangannya kembali, melipatnya di belakang punggung dengan keanggunan seorang pangeran dari kerajaan langit. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya hingga hembusan napasnya yang beraroma daun mint liar menyapa pipi Su Yue. “Sungguh disayangkan. Padahal aku sudah menyiapkan banyak pertanyaan tentang Kitab Angin Puyuh yang hanya bisa dijawab oleh kecerdasan Kakak Su. Tapi baiklah, aku tidak akan menahanmu. Hati-hati di jalan, dan jangan biarkan tungku alkimia itu membakar tanganmu yang selembut sutra ini. Jika sampai ada luka sekecil apa pun di sana, hatiku pasti akan hancur berkeping-keping.”
Su Yue tidak bisa menahan diri lagi. Ia membalikkan badannya dengan cepat, menutupi wajahnya yang sudah tidak bisa diselamatkan dari warna merah tomat, dan setengah berlari meninggalkan pelataran luar. Langkahnya sedikit gontai, mabuk oleh kata-kata manis yang baru saja menyiram hatinya yang gersang. Beberapa murid perempuan lain yang masih tersisa hanya bisa menatap punggung Su Yue dengan tatapan iri yang menyala-nyala, sebelum mereka pun perlahan membubarkan diri, menyadari bahwa panggung pertunjukan pagi ini telah usai.
Sepeninggal kerumunan, senyum di bibir Ye Chen perlahan memudar, digantikan oleh garis lurus yang dingin dan tanpa ekspresi. Kehangatan di matanya menguap lenyap, menyisakan ketajaman sebilah belati yang baru saja diasah. Ia menatap ke arah tempat Lin Mu tadi terkapar, di mana hanya tersisa bercak darah kehitaman yang mulai mengering di atas paving batu biru.
“Lapisan Kelima Alam Pengumpulan Qi,” gumam Ye Chen pada dirinya sendiri, suaranya kini terdengar datar dan penuh perhitungan. “Hanya kumpulan energi kotor yang tidak dimurnikan dengan benar. Jika bukan karena Akar Dewa Penelan Semesta yang langsung menyaring ampasnya, menyerap Qi sampah seperti itu hanya akan merusak fondasi kultivasiku.”
Tanpa membuang waktu lebih lama, Ye Chen melangkah meninggalkan pelataran utama, mengambil jalan setapak kecil yang meliuk-liuk menuju bagian belakang Gunung Awan Biru. Daerah itu adalah area yang jarang dikunjungi murid luar, dipenuhi oleh hutan bambu ungu yang rapat dan tebing-tebing curam. Gubuk reyot miliknya terletak tepat di pinggir jurang, terisolasi dari keramaian sekte.
Sepanjang perjalanan, Ye Chen memusatkan perhatiannya ke dalam tubuh. Di pusat Dantiannya, sebuah ruang hampa kegelapan yang tak berujung terbuka lebar. Di tengah-tengah ruang hampa itu, sebuah pusaran hitam pekat berputar perlahan namun pasti. Itulah wujud dari Akar Dewa Penelan Semesta. Garis keturunan anomali yang membawanya melintasi ruang dan waktu, merenggut nyawanya di bumi modern dan memasukkannya ke dalam tubuh seorang murid sampah yang kebetulan memiliki nama yang sama di dunia kultivasi ini.
Saat pusaran itu berputar, Ye Chen bisa melihat aliran Qi berwarna merah keemasan—gabungan dari elemen api Lin Mu dan elemen angin miliknya—mengalir dengan deras melintasi meridiannya. Sensasi panas yang menyenangkan merayap di setiap inci otot dan tulang-tulangnya, seolah miliaran semut kecil sedang memijat titik-titik akupunturnya, membuka sumbatan-sumbatan yang selama bertahun-tahun menghambat tubuh asli ini untuk berkultivasi.
Krak… Krak…
Suara retakan halus terdengar dari dalam tubuhnya. Ye Chen tersenyum tipis. Meridian yang sebelumnya sempit dan rapuh, kini melebar dan menguat. Qi murni mengalir membasuh organ-organ dalamnya, memperkuat vitalitasnya, dan menstabilkan ranah kultivasinya yang baru saja menembus Lapisan Keempat Alam Pengumpulan Qi.
Begitu ia tiba di depan gubuknya, Ye Chen tidak langsung masuk. Ia berjalan melewati bangunan kayu yang reot itu, menuju sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh formasi batu-batu alam raksasa. Angin gunung berhembus kencang di tempat ini, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Namun bagi Ye Chen, ini adalah tempat latihan yang sempurna.
Ia menutup matanya, mengambil napas dalam-dalam hingga dadanya membusung. Saat ia menghembuskan napas, udara di sekitarnya tiba-tiba terdistorsi.
“Tinju Harimau Api… Langkah Angin Mengambang…” batinnya berkonsentrasi.
Akar Dewa Penelan Semesta tidak hanya memberinya kemampuan menyerap esensi kehidupan, tetapi juga memori otot dan pemahaman instan terhadap teknik apa pun yang ia lihat dan serap. Dalam benaknya, Ye Chen membedah struktur teknik tinju Lin Mu. Ia melihat bagaimana Qi api disalurkan terlalu kasar, membuang banyak energi di udara kosong sebelum tinju itu benar-benar mengenai sasaran. Itu adalah kelemahan fatal.
“Jika aku menggabungkannya dengan Langkah Angin, aku bisa memadatkan api itu dengan putaran angin, menciptakan bor api yang menembus pertahanan lawan, bukan sekadar ledakan tumpul di permukaan,” analisis Ye Chen dingin.
Seketika, ia membuka matanya. Mata hitam itu memancarkan kilatan cahaya merah dan hijau yang mematikan. Kaki kanannya menggeser tanah, tubuhnya melesat ke depan dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan buram. Tangannya ditarik ke belakang pinggang, lalu ditinju ke depan dengan kekuatan penuh.
WUSSS!
Bukan auman harimau yang keluar, melainkan raungan angin puting beliung yang bercampur dengan derak api yang membakar. Pusaran api keemasan meledak dari kepalan tangan Ye Chen, membentuk silinder yang berputar dengan kecepatan gila, langsung menghantam sebuah batu raksasa di depannya.
BOOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang area tersebut. Debu dan serpihan batu berterbangan ke segala arah, menghalangi pandangan. Ketika debu perlahan menipis tersapu angin gunung, sebuah lubang menganga sebesar dada manusia dewasa terlihat menembus batu raksasa tersebut hingga ke sisi sebaliknya. Tepi lubang itu meleleh menjadi cairan magma yang menetes perlahan ke tanah, mendesis dan mengeluarkan asap kelabu.
Ye Chen menurunkan tangannya, menatap hasil serangannya dengan kepuasan yang terukur. “Tidak buruk untuk modifikasi pertama. Kekuatan penembusannya meningkat tiga kali lipat. Aku akan menyebutnya Tinju Bor Angin Berapi. Sayangnya, ini sangat menguras Qi. Aku hanya bisa menggunakannya maksimal tiga kali dalam kondisiku saat ini.”
Pemuda tampan itu mendesah pelan, menengadah menatap langit yang mulai beranjak terang. Kebutuhannya akan sumber energi baru terasa semakin mendesak. Akar Dewa Penelan Semesta adalah sebuah lubang tanpa dasar yang kelaparan; jika ia tidak terus memberinya makan dengan esensi energi dari luar, perkembangan kultivasinya akan melambat.
“Sepertinya aku harus mulai berburu,” gumam Ye Chen, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai predator. “Lembah Kupu-Kupu Ilusi di lereng barat seharusnya memiliki banyak Binatang Spiritual tingkat rendah.”
Tanpa membuang waktu, Ye Chen mengaktifkan Langkah Angin Mengambang, tubuhnya berkelebat menembus hutan bambu ungu bagai hantu di siang bolong. Tujuannya adalah Lembah Kupu-Kupu Ilusi, sebuah area terlarang bagi murid luar yang berada di bawah Lapisan Kelima, karena lembah itu dipenuhi kabut beracun dan binatang buas yang mematikan. Namun bagi Ye Chen, tempat itu adalah ladang prasmanan yang menggiurkan.
Setelah setengah jam perjalanan melintasi medan yang curam dan berbahaya, udara mulai terasa lembab. Kabut tipis berwarna merah muda menyelimuti pepohonan raksasa yang daunnya bercahaya dalam gelap. Lembah Kupu-Kupu Ilusi terhampar di depannya, menyimpan misteri dan mara bahaya di balik keindahannya yang surealis.
Baru saja Ye Chen melangkahkan kaki melewati batas lembah, telinganya yang kini jauh lebih tajam menangkap suara dentingan logam yang beradu, disusul oleh riak energi air yang sangat murni membelah udara berkabut.
Alis Ye Chen bertaut. Ada orang lain di sini? Dan dilihat dari kemurnian Qi-nya, orang ini jauh melampaui tingkat murid luar.
Didorong oleh rasa penasaran dan insting pencurinya, Ye Chen menyelinap di balik akar pohon raksasa yang menonjol keluar dari tanah. Ia menekan seluruh fluktuasi Qi di tubuhnya hingga titik terendah, menahan napas, dan mengintip melalui celah dedaunan semak belukar.
Di tepi sebuah danau kecil berair jernih yang memantulkan warna merah muda dari kabut, pertunjukan tarian mematikan sedang berlangsung.
Seorang gadis berpakaian sutra seputih salju sedang mengayunkan sebilah pedang panjang yang tipis dan lentur bak pita air. Gadis itu memiliki sosok yang akan membuat para bidadari kayangan menangis karena iri. Pinggangnya ramping, kakinya jenjang, dan setiap gerakannya memancarkan keanggunan yang tidak duniawi. Rambutnya yang panjang terurai bebas, menari mengikuti putaran tubuhnya. Meskipun wajahnya ditutupi oleh cadar sutra putih transparan, sepasang mata sebiru samudra es yang menatap tajam di baliknya sudah cukup untuk membekukan jiwa siapa pun yang menatapnya.
Dia adalah Liu Ruyan, murid inti jenius dari Puncak Salju Abadi, yang dijuluki sebagai Dewi Es Sekte Awan Biru. Kultivasinya telah mencapai puncak Alam Pembentukan Fondasi, ranah yang jauh berada di luar jangkauan Ye Chen saat ini.
Namun, yang membuat Ye Chen terpaku bukan hanya kecantikan sang dewi, melainkan lawan yang sedang dihadapinya. Seekor Ular Piton Sisik Baja tingkat dua sedang mendesis marah, tubuh raksasanya yang sepanjang sepuluh meter meliuk-liuk mematahkan pepohonan di sekitarnya. Sisiknya memancarkan kilau logam yang tebal, memantulkan setiap sabetan pedang Liu Ruyan dengan percikan api.
“Teknik Pedang Tiga Ribu Aliran Air,” gumam Ye Chen di dalam hatinya. Matanya yang hitam pekat seketika memancarkan pendar cahaya yang aneh. Akar Dewa Penelan Semesta di Dantiannya bereaksi kuat, berputar liar saat mendeteksi teknik bela diri tingkat tinggi yang sedang diperagakan di depan matanya.
Ye Chen memfokuskan seluruh perhatiannya. Ia tidak mengedipkan mata sedikit pun. Di otaknya, setiap ayunan pedang Liu Ruyan, setiap putaran pergelangan tangannya, dan setiap aliran Qi berunsur air yang mengalir di meridian gadis itu direkam dengan sempurna. Ia membedah teknik itu, menelanjangi rahasianya, dan menyalinnya ke dalam kesadarannya sendiri.
Tebasan pertama, aliran air tenang yang menyembunyikan arus deras di bawahnya. Tebasan kedua, gelombang pasang yang menghancurkan karang. Tebasan ketiga, pusaran air yang menelan segalanya.
Pemahaman itu membanjiri pikiran Ye Chen bagai air bah. Ia tersenyum lebar. Meskipun ia tidak memiliki senjata pedang dan elemen dasarnya bukan air, ia yakin bisa memodifikasi teknik ini menggunakan elemen anginnya. Teknik Angin Ribuan Tebasan!
Sementara Ye Chen sibuk mencuri ilmu, pertarungan di tepi danau mencapai puncaknya. Liu Ruyan menjejakkan kaki rampingnya di atas permukaan air danau, menciptakan riak melingkar tanpa tenggelam. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke langit, Qi sedingin es meledak dari tubuhnya, membekukan kabut merah muda di sekitarnya menjadi kristal-kristal es yang melayang di udara.
“Mati!” Suara Liu Ruyan sedingin angin badai musim dingin. Ia mengayunkan pedangnya ke bawah.
Ribuan kristal es di udara melesat turun bagai hujan panah perak, menyatu menjadi seekor naga es raksasa yang meraung menerkam Ular Piton Sisik Baja. Serangan pamungkas itu begitu dahsyat hingga membelah udara dengan suara robekan yang mengerikan.
CRAAATT!
Naga es itu menembus pertahanan sisik baja sang ular piton dengan mudah, memenggal kepala monster itu dalam satu sapuan bersih. Darah segar menyembur ke udara, mewarnai tepian danau menjadi merah pekat. Tubuh raksasa ular itu berdebum jatuh ke tanah, menimbulkan gempa kecil yang menggetarkan pepohonan.
Liu Ruyan mendarat dengan anggun di atas batu besar. Ia mengibaskan pedangnya, membuang sisa darah sebelum memasukkannya kembali ke dalam sarung. Napasnya sedikit memburu, dadanya yang proporsional naik turun di balik jubah sutranya yang ketat. Membunuh monster tingkat dua sendirian bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk seorang jenius sepertinya.
Tepat pada saat ia sedang mengatur napas dan menurunkan kewaspadaannya, sepasang mata esnya tiba-tiba menyipit. Aura membunuh yang mengerikan memancar dari tubuhnya, membekukan rumput liar di sekitar kakinya.
“Siapa yang bersembunyi di sana? Keluar, atau aku akan membekukan aliran darahmu!” ancam Liu Ruyan, suaranya tajam mengiris keheningan lembah, pedangnya kembali tercabut setengah dari sarungnya.
Ye Chen yang berada di balik akar pohon mendesah pelan. Ia tahu ia tidak sengaja membocorkan sedikit fluktuasi Qi ketika proses penyalinan Teknik Pedang Tiga Ribu Aliran Air baru saja selesai. Insting gadis ini sungguh menakutkan.
Namun, alih-alih panik, Ye Chen justru merapikan jubah putihnya yang sedikit kusut. Senyum miring yang jenaka dan mematikan kembali menghiasi wajah tampannya. Ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dengan langkah santai, tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut saat dihadapkan pada aura menekan dari seorang kultivator Alam Pembentukan Fondasi.
“Astaga, Kakak Senior sungguh galak. Padahal aku hanya seekor burung kecil malang yang tersesat di lembah ini, dan malah disuguhi tarian pedang yang begitu memukau hingga membuatku lupa cara bernapas,” ucap Ye Chen santai. Ia berjalan perlahan mendekati danau, menatap langsung ke dalam mata biru sedingin es milik Liu Ruyan tanpa gentar. “Jika aku tahu tarian seindah itu diakhiri dengan ancaman pembunuhan, aku pasti akan membawa sekotak manisan persik sebagai biaya menonton.”
Liu Ruyan menatap pemuda di depannya dengan dahi berkerut. Pemuda itu hanya berada di Lapisan Keempat Alam Pengumpulan Qi, seperti semut yang bisa ia injak kapan saja. Namun, yang membuatnya bingung adalah sorot mata pemuda itu. Tidak ada ketakutan, tidak ada kerendahan hati; yang ada hanyalah ketenangan mutlak seorang pemangsa yang menatap mangsanya, dibalut dengan senyum jenaka yang entah mengapa membuat jantungnya, yang selama ini sedingin es, berdetak satu ketukan lebih cepat.
“Mulut yang sangat manis untuk seorang murid luar yang sebentar lagi akan menjadi mayat beku,” balas Liu Ruyan dingin, ujung pedangnya kini menunjuk lurus ke arah tenggorokan Ye Chen. “Berikan satu alasan mengapa aku tidak boleh mencungkil kedua matamu karena berani mengintip teknik rahasia Puncak Salju Abadi.”
Ye Chen menghentikan langkahnya tepat lima meter dari Liu Ruyan. Senyum di bibirnya semakin lebar, namun matanya memancarkan ketajaman yang menembus jiwa.
“Satu alasan?” Ye Chen memiringkan kepalanya, terkekeh pelan. “Bagaimana jika alasannya adalah… karena aku bisa menunjukkan padamu, bahwa ayunan pedang ketigamu tadi masih memiliki celah selebar lautan yang bisa membuatmu terbunuh jika lawanmu adalah aku?”
Udara di sekitar mereka seketika membeku. Angin berhenti berhembus. Daun-daun yang jatuh tertahan di udara. Pertarungan sebenarnya di Lembah Kupu-Kupu Ilusi, baru saja dimulai.