Bayu kembali ke Losmen Seribu Mimpi dengan langkah cepat. Pertemuannya di Kedai Tiga Musim telah memberinya satu petunjuk penting: ada seseorang di luar lingkaran Naga Hitam yang ingin menghentikannya. Seseorang dengan cincin naga giok hijau di jarinya. Seseorang yang mungkin tahu lebih banyak tentang Lembah Bayangan daripada yang ia kira. Sepanjang perjalanan pulang, Bayu terus memikirkan cincin itu. Kenapa terasa begitu familiar? Di mana ia pernah melihatnya sebelumnya? Semakin ia mencoba mengingat, semakin samar bayangan itu. Seperti mimpi yang hilang saat terbangunâada di ujung ingatan, tapi tidak bisa diraih.
Matahari mulai condong ke barat ketika Bayu tiba di losmen. Sinar jingga menyapu atap-atap rumah Chang’an, menciptakan bayangan yang memanjang di jalanan. Paman Kwee sedang menyapu halaman depan losmen, sapu bambu di tangannya bergerak perlahan dalam gerakan yang sudah menjadi kebiasaan selama dua puluh tahun. Saat melihat Bayu, ia menghentikan sapunya dan berjalan mendekat dengan wajah serius.
“Tuan Bayu, ada yang menunggu Tuan di dalam,” kata Paman Kwee dengan suara pelan, nyaris berbisik. “Nona Sien sudah setengah jam di kamar Tuan. Wajahnya pucat sekali. Sepertinya ada berita penting.”
Bayu mengangguk dan masuk ke dalam. Di dalam kamarnya yang sempit, Sien duduk gelisah di pinggir dipan bambu. Wajahnya memang pucatâbukan pucat karena sakit, tapi pucat karena ketakutan. Ia memegang erat ujung bajunya, jari-jarinya gemetar. Ketika melihat Bayu masuk, ia langsung berdiri dengan mata yang sedikit merah.
“Ayahku setuju bertemu denganmu malam ini,” kata Sien tanpa basa-basi. Suaranya bergetar, campuran antara lega dan cemas. “Tapi ada yang aneh. Ketika aku meninggalkan markas tadi, sekitar setengah jam setelah matahari terbenam, aku melihat sesosok bayangan di atap rumah sebelah. Bukan bayangan biasaâia sengaja bersembunyi, mengawasi pintu belakang markas. Seseorang mengawasi kita, Bayu.”
Bayu mengerutkan kening. “Bayangan? Apa kau bisa melihat wajahnya?”
“Tidak. Jaraknya terlalu jauh dan ia memakai topeng setengah wajah. Tapi satu hal yang pastiâia memakai jubah hitam panjang, dan di tangannya… ada cincin hijau yang menyala redup di kegelapan. Cincin naga giok hijau. Aku yakin, Bayu. Aku melihatnya dengan jelas.”
Darah Bayu mendidih. Cincin yang sama. Orang yang sama yang mengirim empat pembunuh bayaran di Kedai Tiga Musim. Orang yang sama yang tidak ingin ia bertemu dengan Naga Hitam. “Dia sudah bergerak cepat,” gumam Bayu, tangannya mengepal. “Ia tahu tentang pertemuanku dengan ayahmu. Bahkan mungkin ia sudah tahu sejak awal.”
Sien menggigit bibirnya, menahan tangis. “Apa yang harus kita lakukan? Mungkin kita harus membatalkan pertemuan ini? Atau mencari tempat lain?”
“Tidak.” Bayu menggeleng tegas. “Kita tetap pergi malam ini. Tapi kita akan lebih berhati-hati. Kita tidak akan lewat jalan utama.” Ia berjalan ke jendela dan mengintip ke luar melalui celah tirai. Langit mulai gelap. Beberapa bintang pertama mulai muncul di ufuk timur. Tidak ada yang mencurigakan di jalanan losmenâhanya beberapa pedagang yang sedang menutup lapak mereka dan seorang pemuda yang berjalan sambil memanggul kayu bakar. Tapi di dunia Jianghu, apa yang terlihat tidak selalu kenyataan. Kadang-kadang, hal yang paling berbahaya adalah hal yang terlihat paling biasa.
Malam tiba dengan cepat, menelan Chang’an dalam selimut kegelapan. Kota yang ramai berubah menjadi kota yang sunyi. Hanya suara jangkrik di celah-celah dinding batu dan derit lentera angin dari kelenteng yang terdengar di keheningan malam. Bayu dan Sien berjalan menyusuri lorong-lorong belakang yang sempit, menghindari jalan utama yang terang benderang oleh lentera minyak. Mereka bergerak seperti bayanganâcepat, sunyi, dan waspada terhadap setiap gerakan di sekitar mereka. Bayu memimpin di depan, pedangnya sudah setengah terhunus, siap ditarik penuh kapan saja. Sien mengikuti di belakangnya, belati kecilnya tergenggam erat di tangan yang berkeringat.
Di pertigaan jalan menuju markas Naga Hitam, Bayu berhenti mendadak. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Sien untuk diam dan tidak bergerak. Ada sesuatu yang tidak beres. Suara langkah kakiâtapi bukan langkah biasa. Langkah yang terlalu ringan, terlalu teratur, terlalu sempurna. Langkah seorang pembunuh profesional yang sudah puluhan tahun berlatih.
“Kita diikuti,” bisik Bayu, suaranya nyaris tidak terdengar. Matanya bergerak cepat, memindai setiap sudut gelap di sekitar mereka.
“Berapa orang?” bisik Sien, suaranya bergetar.
“Tiga. Mungkin empat. Mereka bersembunyi di atap-atap rumah di sekitar kita. Aku bisa mendengar napas mereka.” Bayu memandang Sien. Di bawah cahaya bulan yang redup, ia bisa melihat ketakutan di mata gadis ituâtapi juga api tekad yang kuat. “Kau bisa melindungi dirimu sendiri?” tanyanya.
“Aku bukan gadis bodoh yang tidak bisa apa-apa,” desis Sien, mencoba terdengar berani meskipun suaranya gemetar. Ia mengeluarkan belati kecil dari balik bajunyaâbelati dengan gagang kayu yang diukir kasar, polos dan tanpa hiasan. “Ayahku mengajarkanku beberapa jurus dasar ketika aku masih kecil. Ilmu belati dasar. Tapi aku tidak pernah benar-benar menggunakannya dalam pertarungan sungguhan.”
“Itu tidak akan cukup untuk menghadapi mereka. Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.” Bayu merendahkan posisinya, bersiap untuk bergerak. “Tetap di belakangku. Jangan maju. Dan jika aku bilang lariâkau lari. Jangan menoleh, jangan berhenti.”
“Maka kau harus mengajariku setelah ini,” kata Sien dengan setengah bercanda, mencoba meredakan ketegangan.
Bayu hampir tersenyum. Tapi sebelum ia sempat menjawab, sesosok bayangan melesat dari atap di atas mereka. Tidak ada suaraâhanya desiran angin yang tiba-tiba berubah arah. Pedang berkilat di bawah cahaya bulan, menuju ke arah Sien dalam garis lurus yang mematikan. Targetnya jelas: leher Sien.
“Menunduk!” teriak Bayu.
Sien merendahkan tubuhnya dengan cepatârefleks yang lebih cepat dari pikirannya sendiri. Pedang itu melesat di atas kepalanya, hanya beberapa inci dari rambutnya yang terurai. Bayu bergerak dalam waktu yang sama, tubuhnya melesat ke depan. Pedangnya terhunus dalam satu gerakan mulus, menangkis serangan kedua yang datang dari arah yang berbeda. Bunyi benturan logam memecah kesunyian malam. Percikan api beterbangan dari pertemuan dua bilah pedang. Lalu Bayu berputar, pedangnya menyambar ke arah lawan dengan kecepatan yang membuat lawan terpaksa mundur.
Tapi musuh-musuh ini berbeda dari yang ia hadapi di Kedai Tiga Musim. Mereka lebih cepat, lebih terorganisir, dan mereka bergerak dalam formasi yang sudah direncanakan dengan matang. Dua orang menahan Bayu dari depan dengan serangan yang bergantianâsatu menusuk rendah, satu menebas tinggiâsementara yang lain mengepung Sien dari belakang.
Bayu bisa mendengar teriakan Sien. Teriakan pendek yang terputus di tengah jalan. Ia menoleh dan melihat Sien jatuh ke tanah, lengannya berlumuran darah merah segar yang mengalir deras membasahi lengan bajunya. Belati Sien terlepas dari tangannya dan jatuh dengan bunyi berdenting di atas batu jalan yang dingin.
“Sien!” Bayu berteriak. Separuh dirinya ingin berlari ke arah Sien, melindunginya, memastikan ia tidak apa-apa. Separuh lainnyaânaluri bertarungnyaâsadar bahwa jika ia lengah sedetik saja, pedang lawan akan menembus punggungnya. Tubuhnya bergerak secara otomatis: menangkis, memutar, menusuk. Dua lawan mundur, memberi jarak.
“Itu bukan luka fatal,” kata salah satu penyerang dari atas atap. Suaranya dingin, datar, tanpa emosiâsuara seorang pembunuh profesional yang sudah terbiasa melihat darah. “Luka goresan di lengan. Tapi luka berikutnya akan lebih dalam, Pendekar Bayangan. Pilih sekarang: selamatkan gadis itu, atau kejar kami yang akan membawa kabar ini pada Naga Hitam?”
Bayu ragu. Hanya sepersekian detikâtapi dalam dunia pertarungan, sepersekian detik bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati. Pikirannya bekerja cepat. Jika ia mengejar penyerang, ia bisa mendapatkan petunjuk tentang siapa dalang di balik semua ini. Tapi Sien akan mati kehabisan darah sendirian di jalan. Jika ia tinggal, ia kehilangan kesempatan untuk mengikuti jejak musuh.
Penyerang itu tertawaâtawa yang dingin dan mengejek. “Kau tidak bisa menyelamatkan semuanya, Pendekar Bayangan. Itulah pelajaran pertama di Jianghu. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang lengkap. Setiap pilihan mengorbankan sesuatu.”
Mereka mulai mundur, meninggalkan Sien yang tergeletak di tanah dengan luka menganga di lengannya. Bayu tahu itu jebakan. Jika ia mengejar mereka, ia meninggalkan Sien yang terluka dan tidak berdaya. Jika ia tinggal, ia kehilangan jejak musuh yang mungkin adalah kunci menuju seluruh misteri Lembah Bayangan.
Ia memilih Sien.
Bayu melesat ke samping Sien, berlutut dan memeriksa lukanya dengan cepat. Sayatan di lengan kirinya cukup dalamâtapi tidak mengenai urat nadi utama. Darah mengalir cukup deras, membasahi lantai batu di bawahnya, tapi masih bisa dihentikan. Ia merobek lengan jubahnya dengan gigi, lalu membalut luka Sien dengan tekanan yang pasâtidak terlalu keras agar tidak memutus aliran darah, tapi cukup untuk menghentikan pendarahan.
“Kenapa… kenapa kau tidak mengejar mereka?” tanya Sien dengan suara lemah, wajahnya pucat kehilangan banyak darah. Matanya setengah tertutup.
“Karena kau lebih penting daripada petunjuk apa pun di dunia ini.” Bayu mengangkat Sien dengan hati-hati, menggendongnya seperti seorang kakak menggendong adiknya yang terluka. Tubuh Sien ringan, hampir tidak berbobot di pelukannya. “Malam ini, prioritas kita adalah kau. Pertemuan dengan ayahmu bisa menunggu. Tapi kehilanganmu… tidak.”
Sien tidak menjawab. Ia hanya meletakkan kepalanya di dada Bayu, merasakan detak jantung pria itu yang stabil dan kuat. Di dalam dadanya, ia merasakan kehangatan yang anehâkehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kehilangan ibunya sepuluh tahun lalu.
Bayu membawa Sien kembali ke Losmen Seribu Mimpi dengan cepat. Di belakangnya, di atap-atap rumah yang gelap, dua pasang mata mengawasi mereka dari kejauhan. Salah satu dari mata ituâmata yang tajam dan dinginâmilik pemilik cincin naga giok hijau.
“Biarkan mereka pergi malam ini,” kata pemilik cincin itu pada anak buahnya dengan suara tenang. Ia memutar cincin di jarinya, giok hijau itu berkilat dalam gelap. “Kita sudah menanam benih keraguan di hati Pendekar Bayangan. Dan keraguan adalah racun yang lebih mematikan daripada racun ular mana pun. Dalam beberapa hari, ia akan mulai bertanya-tanya: apakah ia bisa mempercayai siapa pun di sekitarnya?”
Di Losmen Seribu Mimpi, Paman Kwee bergegas membuka pintu ketika melihat Bayu datang dengan Sien dalam gendongannya. Ia segera memandu Bayu ke kamar kosong di lantai dasar, lalu membuka lemari obatnya yang penuh dengan ramuan herbal. Dengan gerakan yang cekatanâgerakan seorang yang sudah bertahun-tahun merawat lukaâia membersihkan sayatan di lengan Sien dengan air jahe hangat, mengoleskan bubuk obat herbal yang berwarna hijau kecokelatan, lalu membalutnya dengan perban kain bersih.
“Lukanya tidak parah,” kata Paman Kwee, menyeka keringat di dahinya. “Satu inci lebih dalam, dan urat nadinya akan putus. Tapi syukurlah, hanya goresan di permukaan. Nona Sien akan pulih dalam beberapa hari. Ia hanya butuh istirahat dan banyak minum.”
Sien tertidur karena kehilangan darah dan kelelahan. Napasnya mulai stabil, dadanya naik turun secara teratur. Wajahnya yang tadinya pucat mulai kembali sedikit warna.
Bayu duduk di kursi kayu di samping dipan Sien, menatap wajah gadis itu yang tenang dalam tidurnya. Di tangannya, ia memegang belati Sien yang ia ambil dari tempat kejadian. Belati itu kecil dan sederhanaâbukan senjata seorang pembunuh, tapi senjata seorang gadis muda yang ingin melindungi dirinya sendiri. Tapi di ujung gagangnya, di bagian yang tersembunyi, terukir sebuah lambang kecil: seekor naga dengan tiga cakar yang melingkar membentuk cincin.
Bayu tersentak. Lambang naga tiga cakar yang sama seperti yang ia lihat di dada para pembantai Lembah Bayangan. Tapi lambang ini tidak sama persis. Ada perbedaan halus di ukiran matanya. Mata naga di lambang ini tidak garang dan mengancam, melainkan sedih. Seperti naga yang menangis.
“Apa yang kau sembunyikan, Sien?” bisik Bayu, menatap lambang itu dengan pandangan kosong. “Siapa sebenarnya kau? Dan apa hubunganmu dengan cincin naga giok hijau?”