📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 87: PERSIAPAN PERNIKAHAN

← BAB 86: LAMARAN BAB 88: PERNIKAHAN →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Semenjak lamaran diterima, Desa Muara berubah menjadi sarang lebah yang sibuk. Hari-hari setelah upacara lamaran dipenuhi dengan hiruk-pikuk persiapan pernikahan, dan yang paling sibuk dari semuanya adalah Yue'er.

"Ibu Lia, tolong jahitkan sulaman naga di ujung kain ini! Bukan, bukan merah, biru laut! Tianji suka biru laut! Dan ombaknya harus bagus, jangan asal jahit!" suara Yue'er terdengar dari halaman rumah.

"Iya, iya, Nona Yue," jawab Ibu Lia, seorang penjahit ulung dari desa tetangga yang didatangkan khusus. "Ini sudah yang keempat kalinya Nona revisi. Apa tidak capek?"

"Capek? Tentu saja capek! Tapi ini pernikahan sekali seumur hidup! Kalau tidak sempurna, aku akan menyesal selamanya!" Yue'er berteriak sambil berlari ke dapur, di mana beberapa ibu sedang mempersiapkan kue-kue tradisional.

Tianji, yang duduk di beranda sambil memperbaiki jaring, hanya bisa tersenyum geleng-geleng kepala. Sejak pagi, Yue'er sudah bolak-balik dari dapur ke ruang jahit, ke halaman, ke dapur lagi, sambil memberi instruksi kepada semua orang.

"Nona Yue, apakah kuenya pakai gula aren atau gula pasir?" tanya seorang ibu.

"Gula aren! Jangan gula pasir! Nanti rasanya kurang legit!" jawab Yue'er.

"Kalau kuenya nanti dibungkus daun pisang atau daun kelapa?"

"Daun pisang! Tapi pastikan daunnya sudah dilayukan dulu supaya lentur!"

"Warnanya?"

"Warna? Semua warna asal cerah!"

Tianji tertawa pelan. Dari kejauhan, ia melihat Liu Dahan sedang membersihkan ikan di dekat sumur. Ia mendekat.

"Ayah," panggil Tianji. Sejak lamaran, ia memanggil Liu Dahan "Ayah" tanpa sungkan lagi. "Apakah semua calon pengantin wanita seribet ini?"

Liu Dahan tertawa terbahak-bahak. "Tianji, anakku, kau belum tahu apa-apa. Ini baru permulaan. Semakin dekat hari pernikahan, semakin cerewet Yue'er. Aku ingat almarhum istriku dulu juga seperti itu. Tiga hari sebelum pernikahan, ia bahkan memarahi ibunya sendiri karena salah melipat kain!"

"Ya ampun," Tianji menggeleng. "Berarti aku harus bersiap."

"Bersiaplah," Liu Dahan menepuk punggung Tianji. "Tapi percayalah, ini semua karena ia peduli. Wanita yang cerewet urusan begini adalah wanita yang ingin segalanya sempurna untuk suaminya. Itu tandanya ia sangat mencintaimu."

Tianji tersenyum. "Aku tahu. Aku hanya… lucu melihatnya."

Yue'er tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur, dengan tangan penuh tepung. "Tianji! Jangan bermalas-malasan! Ada banyak pekerjaan! Kau harus mengecat ulang pagar rumahmu, membersihkan halaman, dan — kenapa kau masih pakai baju itu? Bukankah besok kita harus ke pasar membeli kain untuk bajumu?"

Tianji terkejut. "Bajuku masih bagus."

"Bagus? Bagus?!" Yue'er memandang Tianji dengan tatapan tidak percaya. "Lihat bajumu! Sudah pudar! Ada tambalan di siku! Kau mau menikah dengan pakaian seperti itu? Orang akan mengira aku menikahi pengemis!"

"Aku memang nelayan," Tianji tersenyum santai. "Pakaian nelayan."

"Ah, kau benar-benar tidak mengerti!" Yue'er menghela napas dramatis. "Dengar baik-baik, Tianji. Aku tidak peduli apakah kau dulu pendekar besar penyerap lautan atau bukan. Bagiku, kau hanya Tianji — suamiku kelak. Dan suamiku harus tampan di hari pernikahan! Tidak boleh ada yang bilang Yue'er menikahi laki-laki sembarangan!"

"Pantas saja ayahmu bilang kau cerewet," goda Tianji.

Yue'er memicingkan mata. "Kau bilang aku cerewet?"

"Tidak, tidak, tidak," Tianji langsung mundur selangkah. "Kau sibuk dan penuh semangat. Itu yang kumaksud."

"Hmm," Yue'er masih curiga, tapi senyum kecil mulai menyungging di bibirnya. "Kau beruntung aku lagi sibuk. Kalau tidak, kau akan kujewer sekarang. Ayo! Cepat ganti baju! Kita ke pasar!"

"Sekarang?"

"Iya, sekarang! Besok sudah terlambat! Aku sudah janjian dengan penjahit, dan ia butuh waktu seminggu untuk membuatkan bajumu!"

Tianji menyerah. Ia masuk ke dalam gubuknya, berganti pakaian yang sedikit lebih rapi — meskipun menurut Yue'er tetap belum cukup bagus. Beberapa saat kemudian, mereka berjalan menuju pasar desa yang letaknya sekitar setengah jam perjalanan kaki.

Di sepanjang jalan, Yue'er tidak berhenti bicara.

"Kau tahu, Tianji, aku sudah berpikir tentang dekorasi pernikahan. Aku ingin bunga-bunga di sepanjang pelaminan. Bunga kenanga, melati, dan kalau bisa, mawar liar. Tapi mawar liar mahal. Mungkin kita pakai bunga yang tumbuh di pantai saja."

"Boleh."

"Lalu untuk makanannya, aku ingin sup ikan kuah kuning yang pedas, tumis kangkung, ayam goreng, dan tentu saja ikan bakar. Tapi kita harus pastikan ikannya segar. Kau harus bangun subuh untuk memancing sehari sebelum pernikahan."

"Baik."

"Untuk tamu undangan, aku sudah hitung ada sekitar tujuh puluh orang. Mungkin akan lebih. Bagaimana dengan minumannya? Aku pikir air kelapa muda sudah cukup, tapi beberapa tetua mungkin ingin tuak."

"Tuak tidak banyak-banyak, nanti mabuk."

"Nah, itu benar juga. Baik, kita siapkan air kelapa dan teh hangat saja. Lebih aman."

Tianji hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia menikmati setiap celoteh Yue'er. Di masa lalunya sebagai pendekar, ia terbiasa dengan keheningan dan kesunyian. Kini, suara Yue'er bagaikan musik yang mengisi kekosongan dalam hidupnya.

"Mau kudengar pendapatmu?" tanya Yue'er tiba-tiba.

"Tentang apa?"

"Tentang semua yang kubilang tadi! Apa kau tidak punya saran?"

"Kau sudah mengatur semuanya dengan baik. Aku tidak perlu menambahi apa-apa lagi," jawab Tianji.

Yue'er menghela napas. "Kau selalu seperti itu! Tenang saja! Apa kau tidak punya keinginan terhadap pernikahanmu sendiri?"

"Aku punya satu keinginan."

"Apa?"

"Agar kau menjadi istriku. Itu saja sudah cukup membuatku bahagia. Apapun dekorasinya, apapun makanannya, selama kau di sampingku, itu sudah sempurna."

Yue'er berhenti berjalan. Wajahnya memerah. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan senyumnya. "Dasar tukang omong manis."

"Aku serius."

"Sudah, sudah! Ayo cepat! Pasar sebentar lagi tutup!" Yue'er menarik tangan Tianji, berjalan lebih cepat.

Namun di balik langkah cepatnya, Tianji bisa melihat senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Dan itu membuat hatinya hangat.

Sesampainya di pasar, keramaian menyambut mereka. Pasar desa yang sederhana, dengan tenda-tenda darurat dan barang-barang yang ditata di atas anyaman bambu. Penjual sayur, daging, ikan, kain, dan perhiasan murah bersaing menarik pembeli.

Yue'er langsung menuju ke tempat penjual kain. Matanya yang tajam langsung memilih-milih bahan.

"Yang ini bagus?" tanyanya sambil menunjukkan kain biru tua.

"Bagus," jawab Tianji.

"Yang ini juga bagus?" kain hijau.

"Juga bagus."

"Kalau yang ini?" kain hitam.

"Kurang cocok untuk pernikahan."

"Ah, akhirnya kau punya pendapat juga!" Yue'er tertawa. "Baik, kita ambil yang biru tua dan yang putih untuk kemeja dalam. Dan untuk ikat kepalanya…"

"Apa perlu ikat kepala? Aku tidak suka pakai ikat kepala."

"Tradisi, Tianji! Tradisi! Pengantin pria harus pakai ikat kepala!"

"Baik, baik. Terserahmu."

Setelah membeli kain, mereka berbelanja bahan-bahan masakan. Yue'er sangat teliti — ia memeriksa kesegaran ikan dengan menciumnya, memastikan sayuran masih segar dengan meremasnya, dan menawar harga dengan keterampilan yang membuat Tianji kagum.

"Wanita Desa Muara memang jago menawar," goda Tianji.

"Kau kira perempuan hanya bisa duduk diam? Kami juga harus pintar mengatur rumah tangga!" Yue'er menjawab dengan bangga.

Ketika mereka beristirahat di sebuah kedai kopi sederhana, Yue'er tiba-tiba menjadi lebih tenang. Ia memandangi Tianji dengan tatapan yang berbeda — lebih lembut, lebih serius.

"Tianji," katanya pelan.

"Hm?"

"Apa kau benar-benar tidak menyesal? Meninggalkan dunia persilatan, meninggalkan kekuatanmu, dan memilih hidup sebagai nelayan biasa? Bersamaku?"

Tianji meletakkan cangkir kopinya. "Pertanyaan ini sudah sering kau tanyakan."

"Aku tahu. Tapi aku masih ingin mendengar jawabanmu."

Tianji meraih tangan Yue'er. "Dengarkan aku, Yue'er. Ketika aku kehilangan kekuatanku, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bebas. Bebas dari dendam, bebas dari ambisi, bebas dari beban yang selama ini kupikul. Aku bisa memulai hidup baru. Dan di hidup baru itu, aku bertemu denganmu."

"Tapi dulu kau sangat kuat. Kau adalah pendekar yang namanya digeruni di seluruh persilatan."

"Kekuatan itu tidak membuatku bahagia. Justru sebaliknya — ia membawaku ke dalam kegelapan. Aku hampir melupakan siapa diriku. Tapi kau… kau mengingatkanku bahwa hidup bukan hanya tentang bertarung dan menang. Ada hal-hal sederhana yang lebih berharga."

Yue'er matanya berkaca-kaca. "Kau benar-benar berubah. Dulu kau pendiam dan dingin. Sekarang kau bisa berbicara seperti ini."

"Kau yang mengubahku," Tianji tersenyum. "Setiap hari kau bicara, bicara, dan bicara. Lambat laun, lidahku ikut menjadi fasih."

"Kau mengejekku lagi!"

"Tidak, aku memujimu."

Yue'er memukul lengan Tianji dengan gemas. Tapi matanya penuh kasih. "Baik. Aku percaya padamu. Tapi ingat — kalau suatu hari kau bosan menjadi nelayan dan ingin kembali ke dunia persilatan, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi aku akan ikut!"

"Apa?"

"Kau pikir aku akan tinggal diam di desa sementara suamiku pergi bertualang? Tidak! Kalau kau pergi, aku ikut. Mau ke istana, mau ke gunung, mau ke ujung laut sekalipun!"

Tianji tertawa. "Baik, baik. Aku berjanji, kalau aku pergi, kau akan ikut."

"Kau harus bersumpah!"

"Aku bersumpah atas nama laut."

Yue'er puas. "Bagus. Sekarang, ayo beli gula aren sebelum kehabisan!"

Mereka melanjutkan belanja, dan Tianji kembali mendengarkan celoteh Yue'er yang tak ada habisnya. Pemandangan yang indah bagi siapa pun yang melihat: dua insan muda yang sedang mempersiapkan pernikahan dengan penuh cinta.

Namun jauh di dalam hati, Tianji tahu bahwa kebahagiaan ini mungkin tidak akan bertahan selamanya. Ada firasat samar yang mengganggu pikirannya — sesuatu tentang masa lalu yang belum sepenuhnya selesai. Tapi untuk saat ini, ia memilih untuk menikmati setiap detik kebersamaan dengan Yue'er.

Di sore hari, mereka pulang dengan tangan penuh belanjaan. Lelah tapi bahagia.

"Aku tidak sabar menanti hari pernikahan," kata Yue'er sambil menekan kepalanya di bahu Tianji.

"Aku juga."

"Hanya tinggal tiga minggu lagi."

"Aku siap."

"Benarkah? Siap menghadapi aku setiap hari sebagai suami istri?"

"Siap," Tianji tersenyum. "Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu."

Yue'er tersipu. "Kau benar-benar pandai berkata-kata sekarang. Aku jadi curiga, apa kau berlatih di depan cermin?"

"Tidak. Hanya jujur."

Matahari tenggelam di ufuk barat, melukis langit dengan warna jingga dan ungu. Desa Muara mulai sepi, hanya suara jangkrik dan gemericik air laut yang terdengar.

Di gubuk kecilnya, Tianji duduk seorang diri, merenung. Tangannya menyentuh jimat kecil yang ia kenakan di leher — pemberian Yue'er saat ulang tahunnya yang keenam belas. Jimat itu terbuat dari kayu, diukir dengan nama mereka berdua.

"Tianji dan Yue'er," bisiknya. "Hidup bersama selamanya."

Ia tersenyum. Mungkin ini yang selama ini ia cari.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 86: LAMARAN BAB 88: PERNIKAHAN →