Benteng Naga Hitam berguncang hebat. Dari luar, gelombang energi hitam meledak dahsyat, merobek dinding-dinding yang tersisa, menghancurkan pilar-pilar yang masih tegak, dan menerbangkan atap bangunan. Langit di atas berubah menjadi hitam pekat, seolah malam tiba di siang bolong.
Lord Hitam melayang di udara, tubuhnya kini diselimuti oleh kabut hitam yang berdenyut-denyut. Di sekelilingnya, puluhan pusaran energi hitam berputar, masing-masing mengandung kekuatan yang cukup untuk menghancurkan satu desa.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan serangan murahan itu?" teriak Lord Hitam, suaranya menggema bagai petir. "Aku telah menyerap kekuatan seratus pendekar! Aku telah menguasai fragmen Kitab Suci Kegelapan! Aku adalah DEWA!"
Tianji berdiri di reruntuhan benteng, tubuhnya penuh luka. Pakaiannya robek, rambutnya acak-acakan, dan darah mengalir dari sudut mulutnya. Namun matanya masih menyala — api perlawanan yang tak pernah padam.
"Dewa?" Tianji menyeka darah dari bibirnya. "Dewa sejati tidak perlu membual seperti itu."
"KAU BERANI MENGHINAKU!"
Lord Hitam menggerakkan tangannya, dan salah satu pusaran hitam melesat ke arah Tianji. Tianji mencoba menghindar, tapi kecepatan pusaran itu di luar perkiraannya. Pusaran itu menghantam bahu kirinya, membuatnya terpental dan jatuh ke tumpukan puing.
"Tianji!" Yue'er berteriak, berlari ke arahnya.
"Jangan mendekat!" teriak Tianji, bangkit kembali. "Dia… dia lebih kuat dari sebelumnya!"
"Tentu saja," Lord Hitam tertawa. "Seranganmu sebelumnya tidak cukup untuk mengalahkanku. Yang kau lakukan hanyalah membuatku marah. Dan kemarahan ini membuatku lebih kuat!"
Lord Hitam menggerakkan kedua tangannya, dan puluhan pusaran hitam melesat serempak ke arah Tianji. Pemuda itu bergerak secepat mungkin, menghindari satu per satu pusaran itu, tapi jumlahnya terlalu banyak. Beberapa berhasil mengenai tubuhnya, meninggalkan luka-luka baru.
"Aku tidak bisa bertahan seperti ini," gumam Tianji. "Qi-ku hampir habis."
Ia jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Di sekelilingnya, pusaran hitam terus berputar, menunggu perintah untuk menyerang lagi.
"Kau sudah lemah," kata Lord Hitam, mendekat perlahan. "Meridian Pelangi Lv4-mu sudah habis. Kitab Suci Lautan tidak bisa membantumu lagi. Sekarang, kau hanyalah bocah sekarat yang tidak berdaya."
Tianji menunduk. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Xiao Yu'er… maafkan aku. Aku tidak bisa membalaskan dendammu."
"Guru… aku gagal."
"Ayah… Ibu… maafkan Tianji."
Lord Hitam berdiri di depannya, telapak tangannya yang hitam terangkat, siap menghabisi Tianji. "Selamat tinggal, Tianji, si Penyerap Lautan. Nasibmu berakhir di sini."
Tapi saat telapak tangan itu hendak turun, tiba-tiba…
"Jangan SENTUH DIA!"
Yue'er melesat, tubuhnya menghalangi antara Tianji dan Lord Hitam. Ia membentangkan kedua tangannya, melindungi Tianji dengan tubuhnya sendiri.
"Heh, gadis tolol," Lord Hitam mencibir. "Kau pikir kau bisa menghentikanku? Aku bisa membunuh kalian berdua dalam satu pukulan."
"Aku tidak peduli," jawab Yue'er. Suaranya bergetar, tapi matanya tegas. "Kalau kau ingin membunuhnya, kau harus membunuhku dulu."
"Menyedihkan."
Lord Hitam mengangkat tangannya lagi, siap meluncurkan serangan yang akan menghancurkan mereka berdua.
Tapi sesuatu terjadi.
Di belakang Yue'er, Tianji mengangkat kepalanya. Matanya — yang tadinya redup — kini menyala dengan cahaya emas yang terang benderang. Bukan cahaya hijau kebiruan Meridian Pelangi. Bukan pula cahaya emas Kitab Suci Lautan. Tapi cahaya yang berbeda — lebih murni, lebih panas, lebih dahsyat.
"Yue'er," kata Tianji, suaranya berubah — dalam, tenang, penuh kekuatan. "Menyingkirlah."
Yue'er menoleh, dan matanya membelalak melihat pemandangan di belakangnya. Tianji berdiri, tubuhnya dikelilingi oleh aura emas yang berkilauan. Di sekelilingnya, udara bergetar, dan puing-puing mulai melayang karena tekanan energi yang luar biasa.
"Tianji… kau…?"
"Menyingkirlah. Aku tidak ingin melukaimu."
Tanpa sadar, Yue'er melangkah ke samping. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Tianji, tapi instingnya mengatakan bahwa ia harus menjauh.
Lord Hitam menyipitkan matanya. "Apa yang kau lakukan, bocah? Teknik terakhir putus asa?"
Tianji tidak menjawab. Ia hanya menatap Lord Hitam dengan mata emas yang bersinar.
"Aku mengingat sesuatu."
"Apa?"
"Ajaran guruku — Xiao Yu'er."
***
Di dalam pusaran ingatan Tianji, ia melihat kembali saat-saat terakhir bersama Xiao Yu'er. Gurunya yang telah gugur, yang telah mengajarinya segala hal tentang Meridian Pelangi, tentang Kitab Suci Lautan, tentang kehidupan.
"Tianji," kata Xiao Yu'er dalam ingatannya, "Meridian Pelangi Lv4 adalah puncak dari teknik ini. Tapi di atas Lv4, ada sesuatu yang lebih tinggi. Bukan level, tapi pemahaman."
"Apa itu, Guru?"
"Kemarahan."
Tianji tertegun. "Kemarahan?"
"Bukan kemarahan yang buta, Tianji. Bukan kemarahan yang menghancurkan dirimu sendiri. Tapi kemarahan yang murni — kemarahan yang lahir dari cinta, dari keinginan untuk melindungi, dari tekad yang tak tergoyahkan."
"Aku tidak mengerti, Guru."
"Suatu hari nanti, kau akan mengerti. Saat kau marah bukan karena dendam, bukan karena ego, tapi karena kau sangat peduli pada seseorang sehingga kau rela melakukan apa pun untuk melindunginya. Saat itu, Meridian Pelangi-mu akan mencapai dimensi yang baru."
***
Kilas balik itu berakhir. Tianji membuka matanya, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti apa yang dimaksud gurunya.
Kemarahan.
Bukan kemarahan karena dendam pada Lord Hitam atas kematian Xiao Yu'er. Bukan kemarahan karena ego yang terluka. Tapi kemarahan suci — kemarahan yang lahir dari keinginan untuk melindungi Yue'er, untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah, untuk melindungi dunia dari kejahatan Lord Hitam.
"SEKARANG AKU MENGERTI, GURU!"
Tubuh Tianji meledak dengan cahaya emas yang membutakan. Meridian Pelangi Lv4-nya, yang tadinya sudah hampir habis, kini pulih seketika — bahkan melampaui batas sebelumnya. Energi emas mengalir deras di seluruh tubuhnya, membanjiri setiap meridian, setiap titik akupuntur, setiap sel dalam tubuhnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Lord Hitam mundur, merasakan tekanan yang luar biasa dari Tianji.
"Aku marah," jawab Tianji, suaranya dingin namun bergetar. "Bukan marah karena dendam padamu. Tapi marah karena kau berani menyentuh orang-orang yang kucintai. Marah karena kau telah membuat dunia ini menderita. Marah karena kejahatanmu."
"OMONG KOSONG!"
Lord Hitam melancarkan seluruh pusaran hitamnya sekaligus — puluhan pusaran energi hitam melesat ke arah Tianji dengan kecepatan luar biasa.
Tianji hanya mengangkat satu tangan.
Dan semua pusaran itu berhenti.
Hanya dengan satu gerakan tangan, puluhan pusaran hitam Lord Hitam membeku di udara, tidak bisa bergerak.
"Apa…?!"
Tianji mengepalkan tangannya, dan semua pusaran hitam itu hancur seketika, lenyap tanpa bekas.
"Kau… kau…"
"Giliranku sekarang."
Tianji melesat. Bukan dengan kecepatan, tapi dengan gerakan yang seolah-olah ia muncul begitu saja di depan Lord Hitam. Sebelum Lord Hitam bisa bereaksi, tinju Tianji sudah menghantam wajahnya.
Pukulan pertama — pipi kanan hancur. Pukulan kedua — rahangnya patah. Pukulan ketiga — dadanya berlubang.
Lord Hitam terpental, tubuhnya meluncur di udara sebelum jatuh ke tanah, mengakibatkan kawah selebar sepuluh tombak. Ia berusaha bangun, tapi Tianji sudah berdiri di atasnya.
"Kau bilang fragmen palsu itu membuatmu abadi?" Tianji menatap Lord Hitam dengan mata emasnya. "Mari kita buktikan."
Ia mengangkat tangannya, dan di telapak tangannya, terbentuk bola energi emas yang berkilauan. Bola itu berputar perlahan, mengandung kekuatan yang cukup untuk menghancurkan seluruh benteng.
"TUNGGU! AKU MENYERAH!" teriak Lord Hitam, untuk pertama kalinya menunjukkan ketakutan. "AKU AKAN MEMBERIKAN SEMUA HARTANYA! AKU AKAN PERGI DAN TIDAK AKAN KEMBALI!"
"Menyedihkan," kata Tianji. "Kau adalah tuan kegelapan yang mengaku dewa. Tapi saat menghadapi kematian, kau merengek seperti cacing."
"Aku mohon…"
"Xiao Yu'er juga memohon padamu," kata Tianji, suaranya bergetar. "Namun kau tetap membunuhnya. Puluhan pendekar yang kau korbankan untuk fragmen palsu itu — mereka juga memohon. Tapi kau tidak peduli."
"Aku… aku akan berubah…"
"Terlambat."
Tianji menjatuhkan bola energi emas itu tepat di dada Lord Hitam.
Cahaya emas meledak, menyelimuti seluruh area. Lord Hitam berteriak — teriakan panjang yang penuh penderitaan — sebelum tubuhnya hancur berkeping-keping, lenyap ditelan cahaya emas yang suci.
Ketika cahaya itu mereda, yang tersisa hanyalah kawah besar di tanah. Tubuh Lord Hitam telah lenyap, tak tersisa. Bahkan fragmen palsu Kitab Suci Kegelapan pun ikut hancur, tidak meninggalkan sisa.
Tianji jatuh berlutut.
Kemarahannya telah mereda. Energi emas di sekelilingnya perlahan menghilang, dan ia kembali menjadi Tianji yang biasa — bocah lelah dengan tubuh penuh luka.
"Tianji!" Yue'er berlari ke arahnya, memeluknya erat. "Kau berhasil! Kau mengalahkannya!"
Tianji tidak menjawab. Ia hanya memeluk Yue'er kembali, erat, seolah takut kehilangannya.
"Aku… berhasil?" bisiknya, suaranya serak.
"Ya. Kau berhasil. Lord Hitam sudah mati. Semuanya sudah berakhir."
Tianji menunduk, dan air mata mulai mengalir — bukan karena sakit, bukan karena lelah, tapi karena lega.
"Xiao Yu'er… aku sudah membalaskan dendammu," bisiknya. "Guru… istirahatlah dengan tenang."
Yue'er mengusap punggung Tianji, menenangkannya. "Dia pasti bangga padamu, Tianji. Sangat bangga. Dari bocah gunung yang tidak tahu apa-apa, kau telah menjadi pendekar sejati. Xiao Yu'er tersenyum di surga sekarang."
"Aku merindukannya."
"Aku juga." Yue'er memeluk Tianji lebih erat. "Tapi dia akan selalu hidup di dalam hatiku — di dalam hati kita."
"Yue'er…"
"Apa?"
"Terima kasih." Tianji melepaskan pelukannya, menatap Yue'er dengan mata yang masih basah. "Terima kasih sudah bersamaku sampai akhir. Terima kasih sudah percaya padaku. Terima kasih sudah menjadi cahayaku."
Yue'er tersipu, wajahnya memerah. "Hei, hei, jangan tiba-tiba menjadi puitis! Kau membuatku malu!"
"Aku serius."
"Aku tahu… dan aku juga…" Yue'er menunduk, suaranya nyaris berbisik. "Aku juga bersyukur bertemu denganmu, Tianji. Tanpamu, aku mungkin masih menjadi gadis pasar yang tidak punya tujuan. Tapi sekarang… aku merasa hidupku berarti."
Mereka berpelukan lagi, kali ini lebih lama, lebih hangat.
Angin bertiup, membawa sisa-sisa kabut hitam yang perlahan menghilang. Matahari semakin tinggi, menyinari bumi dengan hangatnya. Burung-burung mulai bernyanyi lagi, seolah merayakan berakhirnya kegelapan.
"Jadi… apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Yue'er, melepaskan pelukannya.
"Pertama, kita harus memastikan tidak ada sisa-sisa kekuatan Lord Hitam yang tersisa. Kedua…" Tianji menatap langit yang cerah. "Kita harus melanjutkan hidup. Untuk Xiao Yu'er. Untuk semua yang telah gugur."
"Itu terdengar seperti rencana yang bagus."
"Tapi sebelum itu…" Tianji meraih tangan Yue'er. "Ada satu hal yang harus kulakukan."
"Apa?"
"Berjanjilah padaku. Mulai sekarang, jangan pernah kau korbankan dirimu untukku lagi."
Yue'er tersenyum nakal. "Aku tidak bisa berjanji."
"Yue'er!"
"Tapi aku bisa berjanji bahwa jika kau mati, aku akan menghidupkanmu kembali hanya untuk membunuhmu lagi karena membuatku khawatir."
Tianji tertawa — tawa yang bebas, tanpa beban. "Kau benar-benar tidak bisa serius, ya?"
"Kau salah. Aku sangat serius. Sekarang, ayo kita tinggalkan tempat mengerikan ini. Aku lapar."
Mereka berjalan meninggalkan reruntuhan benteng, bergandengan tangan. Di belakang mereka, Benteng Naga Hitam perlahan runtuh, terkubur oleh tanah dan bebatuan. Tidak ada yang tersisa dari Lord Hitam.
Matahari mulai muncul dari balik awan hitam yang perlahan memudar. Sinar keemasan menyinari reruntuhan Benteng Naga Hitam, tempat dua anak muda berdiri berpelukan, menandai berakhirnya perjuangan panjang melawan kejahatan.
Namun di kejauhan, di atas bukit yang jauh, seorang sosok berjubah putih mengamati pemandangan itu. Sosok itu tersenyum tipis, lalu berbalik dan menghilang ke dalam bayangan.
Perjalanan Tianji mungkin belum selesai. Tapi untuk hari ini, kegelapan telah dikalahkan.
*** TAMAT BATCH 13 ***