📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 62: LORD HITAM SIAP

← BAB 61: MENUJU PERTEMPURAN BAB 63: PERTARUNGAN DIMULAI →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Di dalam ruang bawah tanah Benteng Naga Hitam, jauh di bawah singgasana Lord Hitam, sebuah altar kegelapan berdiri megah. Altar itu terbuat dari batu obsidian hitam yang dipoles hingga mengkilat, di atasnya tergeletak sebuah fragmen buku — fragmen palsu Kitab Suci Kegelapan yang telah dicari Lord Hitam selama bertahun-tahun.

Lord Hitam berdiri di depan altar, kedua tangannya direntangkan. Dari ujung jari-jarinya, kabut hitam pekat mengalir keluar, menyelimuti seluruh ruangan. Matanya yang merah menyala semakin terang, bagai bara api di tengah kegelapan.

"Fragmen ini… meskipun palsu, kekuatannya luar biasa," gumamnya. "Jika fragmen yang asli seribu kali lipat lebih kuat… maka Tianji yang menguasai Kitab Suci Lautan adalah ancaman yang harus dilenyapkan."

"Tuan."

Seorang wanita muncul dari balik tirai beludru hitam. Ia berpakaian serba hitam, wajahnya cantik namun dingin bagai patung es. Di tangannya, ia membawa sebuah pedang panjang berwarna perak.

"Apa laporanmu, Lyra?" tanya Lord Hitam tanpa menoleh.

"Komandan Kamb telah dikalahkan," kata Lyra datar. "Tianji dan gadis itu sudah memasuki benteng. Mereka menuju ke sini."

Lord Hitam tersenyum — senyum yang menyeramkan. "Biarkan mereka datang. Aku sudah menyiapkan sambutan yang pantas."

"Tuan, izinkan aku menghadapi mereka."

"Tidak." Lord Hitam akhirnya menoleh, menatap Lyra dengan matanya yang merah. "Kau memiliki tugas yang lebih penting. Jaga gadis itu. Jika Tianji lengah, tangkap Yue'er dan bawa ke sini."

Lyra mengangguk. "Seperti yang tuan perintahkan."

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Tianji sangat peduli pada gadis itu. Jika kita bisa menjadikannya sandera, pertempuran ini akan menjadi milik kita."

"Tapi tuan, bukankah tuan ingin bertarung secara adil?"

"Adil?" Lord Hitam tertawa, tawanya bergema di ruangan bawah tanah. "Dalam dunia persilatan, tidak ada yang namanya adil. Yang ada hanyalah menang dan kalah. Hidup dan mati. Aku sudah hidup selama enam puluh tahun, dan satu hal yang kupelajari — orang yang mati adalah orang yang terlalu percaya pada keadilan."

Lyra menundukkan kepalanya. "Aku mengerti."

"Lakukan tugasmu dengan baik. Jika kau berhasil, aku akan memberimu hadiah yang tak ternilai."

Setelah Lyra pergi, Lord Hitam kembali menghadap altar. Ia mengangkat kedua tangannya, dan kabut hitam di sekelilingnya mulai berputar, membentuk pusaran yang semakin cepat. Di atas altar, fragmen Kitab Suci Kegelapan itu mulai bersinar dengan cahaya ungu kehitaman.

"Aku telah mengorbankan seratus nyawa untuk mendapatkan kekuatan ini," bisik Lord Hitam. "Seratus pendekar terkuat di dunia persilatan. Dan sekarang, dengan kekuatan ini, aku akan menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalanku."

Ia menarik napas dalam-dalam, dan kabut hitam itu mulai memasuki tubuhnya melalui pori-pori kulitnya, melalui hidungnya, melalui mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat, urat-urat di leher dan wajahnya menonjol, berdenyut-denyut dengan irama yang tidak alami.

"Aaaarrrggghhh!" Lord Hitam berteriak, suaranya bercampur antara kesakitan dan kenikmatan. Matanya bersinar merah terang, dan di dahi, mulai muncul sebuah simbol — lingkaran dengan tiga garis melengkung yang membentuk mata.

Setelah proses itu selesai, Lord Hitam jatuh berlutut, napasnya terengah-engah. Namun di matanya, ada kilatan kemenangan. Ia telah berhasil menyerap sepuluh persen kekuatan fragmen palsu itu — cukup untuk menghadapi seorang pendekar muda yang menguasai Meridian Pelangi Lv4.

"Kekuatan ini… luar biasa," desisnya. "Jika aku berhasil mendapatkan Kitab Suci Lautan dari Tianji… aku bisa menjadi penguasa mutlak dunia ini."

Ia berdiri, tubuhnya kini dikelilingi oleh aura hitam pekat yang berdenyut-denyut. Di telapak tangannya, bola energi hitam terbentuk, mendesis dan memercikkan listrik hitam ke sekeliling.

"Aku siap untukmu, Tianji."

***

Di atas, di ruang utama benteng, Tianji dan Yue'er terus bergerak maju. Mereka telah melewati tiga lapis penjagaan — prajurit-prajurit Lord Hitam yang berusaha menghentikan mereka, namun semuanya berhasil dikalahkan dengan mudah.

"Hei," kata Yue'er, napasnya sedikit tersengal. "Sepertinya Lord Hitam sengaja membiarkan kita masuk."

"Ya." Tianji mengamati sekeliling. "Aku juga merasakannya. Semua penjaga ini hanya pengalih perhatian. Dia ingin kita lelah sebelum menghadapinya."

"Pintar juga dia."

"Tapi kita tidak akan jatuh ke dalam perangkapnya."

Mereka tiba di sebuah ruangan besar berbentuk bundar. Di langit-langit, tergantung lampu gantung dari besi tempa dengan lusinan lilin yang menyala terang. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan pertempuran — adegan-adegan mengerikan yang menggambarkan pembantaian dan kekejaman.

Di tengah ruangan, sebuah panggung batu berdiri, tingginya sekitar setengah tombak. Di atas panggung itu, duduk seorang pria bersila — bukan Lord Hitam, melainkan seorang pendekar tua dengan jubah putih bersih.

"Siapa kau?" tanya Tianji curiga.

Pendekar tua itu membuka matanya. Matanya putih bersih, tanpa bola mata — ia buta. Namun senyumnya tenang, penuh kebijaksanaan.

"Aku adalah Guru Yin, guru dari aliran Bayangan Putih," katanya dengan suara lembut. "Dulu aku adalah salah satu pendekar yang dikalahkan Lord Hitam. Sekarang, aku menjadi budaknya, dipaksa untuk menjaga pintu ini."

"Kau buta," kata Yue'er. "Bagaimana kau bisa menjaga pintu?"

Guru Yin tertawa kecil. "Buta tidak berarti tidak bisa melihat, Nona. Aku melihat dengan hatiku, dan hatiku mengatakan bahwa kalian adalah orang-orang baik."

"Lepaskan kami, dan kami tidak akan menyakitimu," kata Tianji.

"Aku tidak bisa." Guru Yin menggeleng. "Lord Hitam telah memasang racun dalam tubuhku. Jika aku membiarkan kalian lewat tanpa bertarung, racun itu akan membunuhku dalam sekejap."

"Lalu apa yang harus kami lakukan?"

"Kalahkan aku, dan jalan akan terbuka. Tapi jika aku mengalahkan kalian… kalian akan menjadi bagian dari koleksi Lord Hitam."

Tianji menghela napas. "Aku tidak ingin melawan orang yang tidak bersalah."

"Kadang, yang tidak bersalah harus dikorbankan demi kebaikan yang lebih besar." Guru Yin berdiri, jubah putihnya berkibar. "Ayo, Pendekar Muda. Tunjukkan padaku seberapa kuat Meridian Pelangi Lv4 yang kau kuasai."

Tanpa menunggu jawaban, Guru Yin melesat maju. Tangannya yang terulur berubah menjadi bayangan putih, menyerang ke arah Tianji dengan kecepatan luar biasa. Tianji terpaksa mengelak, dan serangan itu mengenai tiang batu di belakangnya — tiang itu hancur berkeping-keping.

"Dia kuat!" seru Yue'er.

Tianji tidak menjawab. Ia sudah fokus penuh pada lawannya, mengukur kekuatan dan kelemahan Guru Yin. Pendekar tua itu buta, sehingga ia mengandalkan pendengaran dan indra keenam — dan untuk ukuran orang buta, kemampuannya sungguh mencengangkan.

"Kau ragu," kata Guru Yin, berhenti sejenak. "Di mataku, meskipun aku buta, aku bisa melihat keraguan itu. Kau takut melukaiku, karena kau menganggapku tidak bersalah."

"Kau benar."

"Kebijaksanaanmu terpuji, Pendekar Muda. Tapi dalam pertarungan, keraguan adalah kematian."

Guru Yin menyerang lagi, kali ini dengan kedua telapak tangan. Gerakannya menciptakan bayangan putih di sekelilingnya, membuat Tianji sulit menentukan dari mana serangan yang sebenarnya akan datang.

Tianji memejamkan matanya. Ia mengingat ajaran Xiao Yu'er — dalam pertempuran, mata sering menipu. Yang harus diikuti adalah aliran Qi lawan.

Ia mengambil napas dalam-dalam, merasakan Qi di sekelilingnya. Dan di sana, di tengah pusaran bayangan putih, ia merasakan titik lemah Guru Yin — sebuah celah kecil di bawah ketiak kirinya.

Tanpa membuka mata, Tianji menyerang. Telapak tangannya, yang mengandung Qi Meridian Pelangi, menghantam tepat di titik lemah itu.

Guru Yin terhuyung, bayangan putih di sekelilingnya menghilang. Ia jatuh berlutut, mulutnya mengeluarkan darah.

"Kau… kau bisa melihatnya?" tanya Guru Yin, suaranya penuh kekaguman.

"Aku tidak melihatnya. Aku merasakannya," jawab Tianji.

Guru Yin tertawa, meskipun darah terus mengalir dari mulutnya. "Luar biasa. Xiao Yu'er telah mengajarimu dengan baik. Kau layak mewarisi ilmunya."

"Maaf, Guru."

"Jangan minta maaf. Kau telah melakukan apa yang benar." Guru Yin terbatuk-batuk. "Dan untuk hadiah terakhirku… biarkan aku membukakan jalan untukmu."

Ia mengangkat tangannya yang gemetar, dan dari telapak tangannya, cahaya putih menyebar. Di belakang panggung, dinding batu mulai bergeser, membuka sebuah lorong rahasia.

"Lorong ini akan membawamu langsung ke ruang tahta Lord Hitam," kata Guru Yin, suaranya semakin melemah. "Pergilah. Dan kalahkan dia… untuk semua orang yang telah ia sakiti. Aku telah berdosa dengan menjadi budaknya selama bertahun-tahun. Biarlah kematianku menjadi penebus dosa-dosaku."

"Terima kasih, Guru."

Tianji dan Yue'er membungkuk hormat, lalu memasuki lorong itu. Di belakang mereka, Guru Yin tersenyum, tubuhnya perlahan ambruk ke lantai.

"Tianji," panggil Guru Yin, dengan napas terakhirnya. "Hati-hati… Lord Hitam memiliki senjata rahasia… seorang wanita… Lyra… dia…"

Suaranya menghilang. Guru Yin telah tiada.

Tianji mengepalkan tangannya. "Lyra. Aku akan ingat nama itu."

Mereka berjalan lebih dalam ke dalam lorong. Yue'er yang biasanya banyak bicara kini diam, memikirkan kata-kata terakhir Guru Yin.

"Hei," kata Tianji, mencoba memecah keheningan. "Kau tidak apa-apa?"

"Aku hanya berpikir… tentang pengorbanan Guru Yin." Yue'er menghela napas. "Dia adalah musuh kita, tapi pada akhirnya, dia memilih untuk membantu kita. Manusia memang rumit, ya?"

"Ya. Tidak ada yang sepenuhnya hitam atau putih dalam hidup ini."

"Kau menjadi bijaksana, bocah penyedot laut."

"Aku belajar dari guruku."

Mereka tersenyum, dan untuk sesaat, beban di pundak mereka terasa lebih ringan.

***

Lorong itu panjang dan gelap. Tianji berjalan di depan, tangan kanannya memegang obor yang diambil dari dinding. Di belakangnya, Yue'er mengikuti dengan langkah hati-hati.

"Hei," kata Yue'er tiba-tiba. "Aku ingin mengatakan sesuatu."

"Apa?"

"Aku… aku bangga padamu."

Tianji berhenti. Ia menoleh, melihat Yue'er yang tersenyum di bawah cahaya obor.

"Kenapa tiba-tiba?"

"Karena kau telah berubah, Tianji. Dari bocah lugu yang tidak tahu apa-apa, menjadi pendekar sejati yang tahu kapan harus bertarung dan kapan harus mengasihani." Yue'er tersenyum lebih lebar. "Xiao Yu'er pasti tersenyum di surga melihatmu."

"Kau membuatku malu."

"Biasakan saja. Aku akan terus memujimu sampai kau besar kepala."

Tianji tertawa kecil. Ini pertama kalinya ia tertawa sejak Xiao Yu'er gugur. Dan untuk sesaat, beban di hatinya terasa sedikit lebih ringan.

Mereka terus berjalan, dan di ujung lorong, cahaya mulai terlihat. Cahaya merah — dari obor-obor di ruang tahta.

Tianji menggenggam gagang pedangnya. "Sudah siap?"

"Sudah."

"Kalau begitu, mari kita akhiri semua ini."

Dan mereka melangkah keluar dari lorong, memasuki ruang di mana Lord Hitam telah menunggu, dengan kekuatan gelap yang siap dilepaskan.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 61: MENUJU PERTEMPURAN BAB 63: PERTARUNGAN DIMULAI →