Langit di Timur Laut belum sepenuhnya terang ketika Tianji dan Yue'er meninggalkan gua persembunyian mereka di lereng Gunung Karang Hitam. Kabut pagi menyelimuti lembah di bawah, tipis bagai selendang putih yang direntangkan di antara puncak-puncak pohon cemara. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan lumut.
Tianji berjalan di depan, langkahnya mantap meskipun hatinya dipenuhi oleh seribu prahara. Di punggungnya tersandang pedang pendek pemberian Xiao Yu'er โ satu-satunya pusaka yang tersisa dari gurunya yang telah gugur. Di dadanya, Kitab Suci Lautan tersimpan rapat, bersandar pada jantung yang berdetak tak kenal takut.
"Hei, bocah penyedot laut," suara Yue'er memecah keheningan dari belakang. Gadis itu berjalan dengan tongkat kayu yang dipungutnya di tengah hutan, rambutnya diikat ekor kuda sederhana. "Kau berjalan terlalu cepat. Apa kau lupa bahwa aku masih belum pulih sepenuhnya?"
Tianji menghentikan langkah. Ia menoleh, melihat Yue'er yang memang tampak pucat. Luka di bahu kanannya โ akibat serangan Lord Hitam tiga malam lalu โ masih dibalut kain kumal. Namun matanya, mata Yue'er tetap menyala dengan api yang tak pernah padam.
"Maaf," kata Tianji pendek.
Yue'er mendengus, lalu mendekat. "Maaf, maaf. Itu saja yang bisa kau katakan? Setelah semua yang kita lalui, kau masih bicara seperti bocah gunung yang baru pertama kali turun ke kota."
Tianji tersenyum tipis. "Aku memang bocah gunung."
"Bocah gunung yang menguasai Meridian Pelangi Lv4," sahut Yue'er cepat. "Bocah gunung yang membaca Kitab Suci Lautan dari awal sampai akhir. Bocah gunung yangโ"
"Yang hampir kehilangan kau dan Xiao Yu'er dalam satu malam."
Ucapan Tianji membuat Yue'er terdiam. Angin bertiup lebih kencang, mengibarkan ujung jubah Tianji yang robek di sana-sini. Keduanya berdiri berhadapan di tengah jalan setapak yang berkelok menuruni bukit.
"Xiao Yu'er…" Yue'er menunduk. "Dia memilih jalannya sendiri. Dia gugur sebagai pendekar sejati."
"Aku tahu." Tianji menggenggam gagang pedang di punggungnya. "Tapi aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri."
"Hei." Yue'er meraih bahu Tianji, memaksa pemuda itu menatapnya. "Dengar. Kita akan menghadapi Lord Hitam. Mungkin kita akan mati. Mungkin kita akan menang. Tapi satu hal yang pasti โ aku tidak ingin kau bertarung dengan penyesalan di hatimu. Itu hanya akan melemahkanmu."
"Kau pikir aku lemah?"
"Bukan itu maksudku." Yue'er menghela napas. "Aku hanya… ah, sudahlah. Kau ini keras kepala seperti batu karang."
"Dan kau cerewet seperti burung beo."
Yue'er memukul lengan Tianji, tapi pukulan itu ringan, lebih seperti canda daripada kemarahan. "Berani kau membandingkan aku dengan burung!"
Mereka berjalan lagi, kali ini berdampingan. Jalan setapak semakin curam, bebatuan bertebaran di sana-sini. Di kejauhan, samar-samar terlihat puncak benteng Lord Hitam โ sebuah bangunan menjulang dari batu hitam, berdiri angkuh di atas tebing yang menghadap ke Lautan Timur.
"Aku ingin bertanya sesuatu," kata Yue'er tiba-tiba.
"Apa?"
"Jika kau tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirmu… apa yang akan kau lakukan?"
Tianji berhenti. Pertanyaan itu menghentaknya dari lamunan. Ia menatap langit yang mulai cerah, awan-awan berwarna oranye keemasan tersapu sinar matahari pagi.
"Aku akan memastikan kau selamat."
Yue'er tertegun. Untuk sesaat, gadis yang biasanya ceria dan banyak bicara itu kehilangan kata-kata. Ia menunduk, rambutnya menutupi sebagian wajahnya.
"Bodoh," bisiknya.
"Mungkin."
"Aku tidak ingin kau mati untukku."
"Kau juga tidak ingin aku mati, kan?"
Yue'er mengangkat wajahnya. Di sudut matanya, mengkilat setitik embun โ atau mungkin air mata. "Aku tidak ingin siapa pun mati. Tapi jika harus memilih, aku lebih baik mati bersamamu daripada hidup tanpamu."
Kali ini Tianji yang kehilangan kata-kata. Ia menatap Yue'er lama, gadis yang telah menemaninya melewati ribuan bahaya, yang telah melihatnya jatuh dan bangkit, yang telah bersamanya sejak awal perjalanan ini.
"Aku bukan pahlawan," kata Tianji akhirnya. "Aku hanya bocah yang ingin melindungi orang-orang yang kusayangi."
"Itu sudah cukup untuk menjadi pahlawan, Tianji. Pahlawan sejati tidak lahir dari keinginan menjadi besar. Pahlawan lahir dari hati yang rela berkorban. Dan kau, bocah penyedot laut, memiliki hati itu."
"Kau terlalu memujiku."
"Aku tidak memuji. Aku hanya mengatakan kebenaran." Yue'er menyenggol lengan Tianji. "Dan kau harus terbiasa mendengar kebenaran, karena aku akan terus mengatakannya."
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Namun di antara mereka, ada ikatan yang lebih kuat dari sebelumnya โ ikatan yang telah ditempa oleh air mata, darah, dan janji yang tak terucapkan. Sesekali Yue'er bersenandung lagu-lagu daerah yang dikenalnya dari kampung halamannya, dan Tianji mendengarkan dalam diam, merasakan ketenangan yang aneh di tengah badai yang akan datang.
"Lagu apa itu?" tanya Tianji akhirnya.
"Lagu pengantar tidur. Ibuku dulu sering menyanyikannya untukku."
"Aku tidak pernah mendengar lagu pengantar tidur."
Yue'er menatapnya dengan iba. "Kau benar-benar tidak punya masa kecil yang bahagia, ya?"
"Aku punya. Hidup di gunung, belajar dari alam, tidak perlu memikirkan urusan duniawi. Itu sudah cukup bahagia bagiku."
"Bocah aneh."
"Kau juga aneh."
Yue'er tertawa, tawanya renyah bagai air mengalir di bebatuan. "Kau tahu, meskipun kita akan mati hari ini… aku tidak menyesal bertemu denganmu, Tianji."
"Aku juga tidak menyesal."
Mereka berjalan bergandengan tangan, melewati medan berbatu yang semakin terjal. Angin dari arah laut membawa aroma garam dan rumput laut, mengingatkan Tianji pada rumahnya di tepi pantai โ pada kehidupan yang dulu, sebelum semuanya berubah.
"Aku ingin bertanya sesuatu, Yue'er."
"Apa?"
"Jika aku tidak bisa mengalahkan Lord Hitam… apa yang akan kau lakukan?"
Yue'er berhenti. Ia menatap Tianji dengan serius. "Aku akan mati bersamamu."
"Jangan."
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan. Aku sudah memutuskan. Ke mana kau pergi, aku ikut. Jika kau mati, aku juga mati. Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."
Tianji menunduk, hatinya terasa sesak. "Aku tidak layak mendapatkan pengorbanan seperti ini."
"Bukan kau yang memutuskan apa yang layak atau tidak," kata Yue'er tegas. "Ini pilihanku. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bangga dengan pilihanku."
***
Menjelang tengah hari, mereka tiba di kaki bukit tempat benteng Lord Hitam berdiri. Dari dekat, benteng itu tampak lebih mengerikan daripada yang mereka bayangkan. Dinding-dindingnya terbuat dari batu basal hitam yang disusun tanpa celah, setinggi sepuluh tombak, dihiasi ukiran-ukiran ular naga yang melilit dengan mata merah menyala. Di puncak tembok, puluhan prajurit berjaga, tombak mereka berkilau di bawah sinar matahari.
"Sepertinya dia sudah tahu kita datang," gumam Yue'er.
"Tentu saja." Tianji mengamati benteng itu dengan mata tajam. "Lord Hitam bukanlah musuh yang bodoh. Dia pasti sudah memasang jaring-jaringnya."
"Dan kita masuk ke dalam perangkapnya?"
"Kita tidak punya pilihan lain."
Yue'er tertawa kecil. "Kau tahu, saat pertama kali bertemu denganmu, aku mengira kau hanya bocah lugu yang tersesat. Tapi sekarang… kau telah berubah."
"Berubah menjadi apa?"
"Menjadi lebih bodoh," canda Yue'er. "Bocah lugu yang nekat."
Tianji tersenyum. "Mungkin kau benar. Tapi kadang, kebodohan adalah satu-satunya jalan yang tersisa."
Mereka berjalan mendekati gerbang benteng. Gerbang itu terbuat dari kayu jati hitam yang dipaku dengan besi, tingginya mencapai lima tombak. Di atas gerbang, terukir lambang tengkorak dengan dua ular melingkar di sekelilingnya.
"Berhenti!" teriak seorang prajurit dari atas tembok. "Siapa kalian? Berani mendekati Benteng Naga Hitam tanpa izin!"
"Katakan pada tuanmu," seru Tianji dengan suara lantang, "bahwa Tianji, si Penyerap Lautan, datang untuk menagih nyawa!"
Para prajurit di tembok saling berpandangan. Beberapa dari mereka tampak terkejut, beberapa lagi tampak bingung. Nama Tianji telah tersebar luas โ pendekar muda yang mampu mengalahkan tiga pembunuh bayaran Lord Hitam dalam satu malam.
Gerbang berderit, perlahan terbuka. Dari celahnya, muncul seorang pria jangkung berpakaian hitam dengan wajah penuh bekas luka. Ia tersenyum sinis, memperlihatkan gigi-gigi kuningnya.
"Tianji," katanya dengan suara serak. "Tuan sudah menunggumu. Silakan masuk… ke dalam rumahmu yang terakhir."
Tianji tidak bergeming. "Kau menghalangi jalanku."
Pria itu tertawa. "Aku adalah Komandan Kamb, tangan kanan Lord Hitam. Jika kau ingin bertemu tuanku, kau harus melewatiku terlebih dahulu."
"Kau tidak sebanding dengan waktuku."
"Berani!" Kamb melompat, tangannya yang berkuku panjang menyambar ke arah leher Tianji. Gerakannya cepat โ sangat cepat untuk ukuran manusia biasa. Namun bagi Tianji, yang telah menguasai Meridian Pelangi Lv4, gerakan itu terlihat lambat bagai kura-kura merangkak.
Tianji menggerakkan tubuhnya sedikit ke samping. Serangan Kamb meleset. Sebelum pria itu bisa bereaksi, Tianji telah mendorong telapak tangannya ke dadanya โ dorongan yang mengandung Qi Meridian Pelangi.
Kamb terpental ke belakang, tubuhnya menghantam tembok benteng dengan suara keras. Ia jatuh tersungkur, mulutnya mengeluarkan darah.
"Sudah kubilang," kata Tianji dingin. "Kau tidak sebanding."
Yue'er bersiul pelan. "Hei, ternyata kau semakin kuat. Aku jadi iri."
"Aku hanya beruntung memiliki guru yang baik."
"Xiao Yu'er pasti bangga melihatmu sekarang."
Sebutan nama Xiao Yu'er membuat Tianji terdiam sejenak. Namun ia segera menguasai diri, melangkah melewati tubuh Kamb yang tak berdaya.
Mereka memasuki benteng. Di dalamnya, suasana lebih suram daripada yang mereka bayangkan. Lorong-lorong sempit diapit oleh dinding batu yang lembab, obor-obor menyala redup di sepanjang dinding. Bau anyir darah dan dupa bercampur menjadi satu, menciptakan aroma yang memualkan.
Di ujung lorong, sebuah ruangan besar terbentang. Di tengah ruangan, duduk seorang pria di singgasana dari tulang manusia. Tubuhnya tinggi kurus, wajahnya separuh tertutup topeng besi hitam. Dari balik topeng itu, dua mata merah menyala memandang Tianji dengan penuh kebencian.
"Tianji," suara Lord Hitam menggema di seluruh ruangan, berat dan penuh tekanan. "Akhirnya kau datang."
"Aku datang untuk membunuhmu," jawab Tianji tenang.
"Bunuh aku?" Lord Hitam tertawa, tawanya panjang dan mengerikan. "Bocah ingusan sepertimu? Setelah kudapatkan fragmen Kitab Suci Kegelapan, bahkan gurumu yang dulu โ Xiao Yu'er โ tidak bisa mengalahkanku. Apa yang bisa kau lakukan?"
Tianji tidak menjawab. Ia hanya menggenggam pedang di punggungnya, bersiap untuk mencabutnya.
"Tunggu." Yue'er meraih lengannya. "Ingat apa yang kukatakan. Jangan biarkan emosi menguasaimu."
"Aku ingat."
Lord Hitam berdiri, jubah hitamnya berkibar meskipun tidak ada angin di ruangan itu. Dari sekujur tubuhnya, mulai menyebar kabut hitam pekat โ Qi hitam dari fragmen palsu Kitab Suci Kegelapan.
"Hari ini, salah satu dari kita akan mati," kata Lord Hitam. "Dan aku bisa memastikan, itu bukan aku."
"Kita lihat saja nanti."
Tianji melangkah maju, menghadapi musuh terbesarnya. Di belakangnya, Yue'er bersiap dengan tongkatnya. Pertempuran terakhir akan segera dimulai.
Dan di luar benteng, matahari tepat di atas kepala โ pertanda bahwa waktu telah tiba untuk pertarungan yang akan menentukan nasib seluruh dunia persilatan.