📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 31: PERJALANAN KE LEMBAH NAGA TIDUR

← BAB 30: PILIHAN BAB 32: MAKAM KUNO →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Matahari pagi belum sepenuhnya muncul dari balik pegunungan timur ketika tiga bayangan mulai menapaki jalan setapak yang berkelok-kelok menuju utara. Tianji berjalan paling depan, langkahnya mantap dan matanya awas mengamati setiap sudut hutan. Di belakangnya, Yue'er berjalan sambil sesekali memungut bunga liar atau melompati batu kecil dengan riang. Xiao Yu'er menjadi penutup barisan, wajahnya datar seperti biasa namun matanya tidak pernah berhenti bergerak, mengikuti setiap gerakan di sekeliling mereka.

"Tianji-gege," panggil Yue'er tiba-tiba, suaranya memecah kesunyian hutan yang hanya diisi suara burung dan desiran daun. "Kau yakin Lembah Naga Tidur ada di arah ini? Dari pagi tadi kita cuma naik turun bukit dan belum melihat apa-apa selain pohon dan batu."

Tianji berhenti sejenak, mengeluarkan peta kulit yang diberikan oleh Pangeran Ning dari dalam jubahnya. Peta itu sudah usang, garis-garisnya mulai pudar dimakan usia, namun masih bisa terbaca. "Menurut peta ini, kita harus melewati Hutan Bambu Hitam sebelum mencapai kaki Gunung Naga Tidur. Dari sana, lembahnya berada di balik air terjun."

"Hutan Bambu Hitam?" Yue'er mengerutkan keningnya yang mungil. "Namanya saja sudah terdengar angker. Apa di sana ada macam-macam siluman?"

Xiao Yu'er mendengus pelan. "Siluman tidak ada. Tapi bisa jadi ada pembunuh bayaran Lord Hitam."

"Oh, Xiao Yu'er, kau ini," Yue'er memonyongkan bibirnya. "Selalu saja bicara soal bahaya. Apa tidak bisa sesekali kau bicara soal keindahan alam? Lihatlah bunga-bunga ini, warnanya sungguh cantik!"

"Cantik atau tidak, bunga itu tetap bisa beracun," jawab Xiao Yu'er datar.

"Kau…!" Yue'er menghentakkan kaki, namun Tianji sudah melangkah lagi, membuat gadis itu segera menyusul. "Tianji-gege, bilanglah pada Xiao Yu'er yang keras kepala itu! Dia selalu merusak suasana!"

Tianji tersenyum tipis. "Xiao Yu'er hanya berhati-hati, Yue'er. Di dunia persilatan, kecantikan sering menyembunyikan bahaya. Aku yakin kau juga tahu itu."

Yue'er mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat. "Baiklah, karena Tianji-gege yang bilang. Tapi Xiao Yu'er, kau harus tahu bahwa kadang-kadang hati yang gembira lebih berguna daripada kewaspadaan yang berlebihan. Lihatlah, sejak tadi kau cemberut terus, pasti wajahmu sudah kaku!"

"Wajahku memang selalu seperti ini," jawab Xiao Yu'er tanpa ekspresi.

"Ya ampun!" Yue'er tertawa. "Setidaknya kau jujur."

Mereka berjalan terus selama berjam-jam. Medan semakin berat saat mereka memasuki kawasan perbukitan yang lebih curam. Tianji, dengan latihan Keterampilan Penyatuan Lautnya yang terus berkembang, tidak mengalami kesulitan berarti. Napasnya tetap teratur, langkahnya ringan di atas bebatuan. Yue'er, yang meskipun cengengesan, ternyata memiliki kemampuan meringankan tubuh yang lumayan — ia melompat dari batu ke batu dengan lincah seperti kijang.

Xiao Yu'er adalah yang paling menarik perhatian. Pemuda itu bergerak dengan efisiensi yang menakutkan — tidak ada satu gerakan pun yang terbuang percuma. Setiap langkah diperhitungkan, setiap hembusan napas diatur. Tianji kadang-kadang melirik ke belakang dan merasa ada sesuatu yang aneh pada Xiao Yu'er. Pemuda itu terlalu diam, terlalu waspada, seolah-olah sedang menunggu sesuatu terjadi.

"Hari mulai sore," kata Tianji akhirnya, menunjuk ke sebuah tempat teduh di bawah pohon beringin besar. "Kita beristirahat di sini sebentar."

"Syukurlah!" Yue'er segera duduk di atas akar pohon yang menonjol, mengipas-ngipaskan wajahnya dengan tangan. "Kakiku sudah mau lepas. Tianji-gege, mengapa kau tidak mengajarkan aku teknik meringankan tubuhmu? Pasti menyenangkan bisa berjalan di atas pucuk-pucuk pohon seperti katamu."

"Teknik itu membutuhkan dasar tenaga dalam yang kuat, Yue'er. Kau belum siap."

"Belum siap, belum siap," Yue'er menirukan suara Tianji. "Kau selalu bilang begitu. Tapi bagaimana aku bisa siap kalau tidak pernah diajari?"

Xiao Yu'er, yang sedang duduk bersila agak jauh, berkata tanpa membuka mata, "Dia benar. Dasar tenaga dalammu masih terlalu lemah. Kalau kau nekat mempelajari teknik itu, bisa-bisa urat nadimu putus."

"Kau diam saja!" Yue'er mengambil sepotong ranting kering dan melemparkannya ke arah Xiao Yu'er. Ranting itu melayang namun ditepis dengan gerakan tangan yang hampir tidak terlihat.

"Lihat!" Yue'er menunjuk dengan jemarinya. "Dia memamerkan kemampuannya lagi! Tianji-gege, ajarilah orang ini sopan santun!"

Tianji tertawa kecil. Sudah lama ia tidak merasakan suasana seperti ini — perjalanan dengan teman-teman, canda tawa di tengah kesulitan. Sejak kepergian Li Qingfeng, hatinya selalu terasa berat. Tapi kehadiran Yue'er yang ceria dan Xiao Yu'er yang meskipun dingin namun setia, sedikit banyak menghangatkan dadanya.

"Ayo kita makan," kata Tianji, mengeluarkan bekal roti kering dan daging asin dari tasnya.

Yue'er mengambil sepotong roti dengan rakus, tapi tiba-tiba mengerutkan kening. "Tianji-gege, setelah kita mendapatkan fragmen ketiga di Lembah Naga Tidur, apa yang akan kau lakukan?"

Pertanyaan itu membuat Tianji terdiam sesaat. "Aku… aku harus mengumpulkan ketujuh fragmen. Hanya dengan begitu aku bisa menguasai Lautan Pengetahuan dan menyelamatkan guruku."

"Dan setelah itu?" desak Yue'er.

"Setelah itu…" Tianji menatap langit di sela-sela dedaunan. "Setelah itu, mungkin aku akan mencari kehidupan yang tenang. Atau mungkin… aku tidak tahu."

"Aku tahu!" Yue'er menepuk pahanya. "Kau harus mendirikan perguruan sendiri! Tianji, Pendiri Aliran Penyerap Lautan! Terdengar hebat, bukan?"

"Omong kosong," Xiao Yu'er tiba-tiba bersuara. "Sejak kapan dunia persilatan memberi kesempatan pada orang untuk hidup tenang? Semakin kuat seseorang, semakin besar masalah yang akan menghampirinya."

Kata-kata Xiao Yu'er menusuk tepat ke jantung. Tianji merasakan dadanya sesak. Benarkah? Apakah ia akan terus-menerus dikejar oleh takdir seperti ini?

"Xiao Yu'er," kata Yue'er dengan nada yang tiba-tiba serius. "Kau boleh saja pesimis, tapi jangan merusak semangat Tianji-gege. Dia sudah berjuang begitu keras. Memberinya sedikit harapan tidak akan membunuhmu, kan?"

Xiao Yu'er membuka matanya dan menatap Yue'er. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mirip dengan kehangatan di matanya yang dingin. "Harapan adalah pisau bermata dua. Bisa memberi kekuatan, bisa juga menghancurkan seseorang saat kenyataan datang."

"Kau terlalu suram!" Yue'er mendengus. "Aku lebih suka hidup dengan harapan daripada hidup dalam ketakutan terus-menerus seperti dirimu!"

"Aku tidak takut," kata Xiao Yu'er pelan. "Aku hanya… sadar."

Tianji memperhatikan percakapan mereka dengan seksama. Ada kedalaman pada Xiao Yu'er yang jarang ia tunjukkan. Pemuda itu menyembunyikan sesuatu, Tianji yakin akan hal itu. Tapi apa?

"Sudah cukup istirahat," Tianji berdiri dan merapikan jubahnya. "Kita harus mencapai mulut lembah sebelum malam tiba."

Mereka melanjutkan perjalanan. Hutan semakin lebat, pohon-pohon semakin tinggi hingga menutupi hampir seluruh sinar matahari. Suasana berubah menjadi suram dan lembab. Yue'er yang tadinya ceria mulai diam, matanya awas mengamati kegelapan di antara pepohonan.

"Tianji-gege," bisik Yue'er. "Aku merasa ada yang mengikuti kita."

Tianji mengangguk pelan. Ia sudah merasakannya sejak setengah jam yang lalu. Kehadiran aneh, seperti bayangan yang selalu berada di sudut mata. "Aku tahu. Jangan berhenti, jangan menoleh. Terus berjalan."

Xiao Yu'er tanpa berkata-kata telah menggeser posisinya, sekarang berjalan di samping Yue'er bukannya di belakang. Tangannya sudah berada di gagang pedang pendeknya.

Mereka berjalan sekitar setengah jam lagi ketika tiba-tiba hutan terbuka. Di hadapan mereka terbentang sebuah lembah yang dikelilingi tebing-tebing tinggi menjulang. Di kejauhan, samar-samar terdengar gemuruh air terjun. Namun yang paling mencolok adalah udara di sekitar lembah itu — terasa berat, dingin, dan penuh dengan energi aneh yang membuat bulu roma mereka berdiri.

"Ini dia," bisik Tianji. "Lembah Naga Tidur."

Yue'er menelan ludah. "Tempat ini… terasa tidak benar. Seperti ada sesuatu yang besar sedang menunggu di dalam."

"Itu hanya sugesti," kata Xiao Yu'er, tapi suaranya tidak meyakinkan.

Tianji memejamkan mata, merasakan aliran Qi di sekitarnya. Dengan Keterampilan Penyatuan Laut level 2, ia bisa merasakan gelombang energi jauh lebih jelas daripada sebelumnya. Dan apa yang ia rasakan membuat jantungnya berdetak lebih kencang.

Di dalam lembah itu, terpendam kekuatan yang luar biasa besarnya. Bukan kekuatan manusia — ini adalah kekuatan alam, kekuatan kuno yang telah terkubur selama ribuan tahun. Apakah ini fragmen ketiga? Atau sesuatu yang lain?

"Ayo masuk," kata Tianji akhirnya.

"Tunggu," Yue'er meraih lengan Tianji. "Kau tidak merasa aneh? Tempat ini terlalu sunyi. Bahkan suara burung pun tidak ada."

Tianji menatap lembah di hadapannya. Yue'er benar. Hutan yang mereka lalui tadi dipenuhi suara binatang, tapi di sini… benar-benar hening. Hanya gemuruh air terjun di kejauhan yang terdengar.

"Itu semakin memperkuat kecurigaanku bahwa fragmen ketiga ada di sini," kata Tianji. "Kekuatan macam apa yang bisa membuat seluruh binatang menghindari tempat ini?"

Xiao Yu'er melangkah maju. "Aku akan memimpin."

"Tidak," Tianji menggeleng. "Aku yang paling kuat di antara kita. Jika ada bahaya, aku yang harus menghadapinya."

"Kau juga yang paling penting," balas Xiao Yu'er. "Jika kau mati, semua perjuangan kita sia-sia. Biarkan aku yang jadi perisai."

"Xiao Yu'er…" Yue'er menatap pemuda itu dengan tatapan tak percaya. "Selama ini kau selalu dingin dan menjengkelkan, tapi ternyata kau rela berkorban?"

Xiao Yu'er tidak menjawab, tapi Tianji melihat sekilas senyum di sudut bibirnya. Atau mungkin hanya bayangan.

"Kita masuk bersama," putus Tianji. "Tidak ada yang maju sendirian. Kita adalah tim."

Mereka melangkah memasuki lembah. Udara langsung terasa lebih berat, dingin yang tidak wajar merayap ke tulang-tulang mereka. Kabut tipis menyelimuti tanah, membuat mereka sulit melihat lebih dari sepuluh langkah ke depan.

Setelah berjalan beberapa ratus langkah, mereka tiba di sebuah area yang lebih terbuka. Di tengah-tengah area itu, berdiri sebuah bangunan batu kuno, setengah runtuh, ditutupi lumut dan tanaman merambat.

"Itu pasti reruntuhan yang disebutkan dalam peta," kata Tianji.

Saat mereka mendekati reruntuhan itu, tiba-tiba…

"AUMMMMMM!"

Sebuah auman dalam dan bergema meledak dari dalam lembah, membuat tanah bergetar dan burung-burung yang tadinya tidak ada tiba-tiba terbang panik dari celah-celah tebing. Suara itu bukan suara binatang biasa — ada kekuatan di dalamnya, kekuatan yang membuat Tianji merasakan tekanan luar biasa di dadanya.

"Apa… apa itu?" Yue'er memucat, tangannya meraih lengan Tianji dengan erat.

Tianji mengerutkan kening. Auman itu mengandung jejak Qi, seperti seseorang yang menggunakan tenaga dalam untuk mengeluarkan suara. Siapa? Atau apa yang ada di dalam lembah ini?

"Itu suara peringatan," kata Xiao Yu'er pelan, tangannya sudah mencabut pedang pendeknya. "Seseorang — atau sesuatu — tidak ingin kita masuk lebih dalam."

Tianji memejamkan mata, merasakan arah datangnya auman itu. Dari dalam gua di balik reruntuhan. Dari tempat yang sama di mana fragmen ketiga diduga berada.

"Apa kau masih ingin masuk?" tanya Yue'er, suaranya bergetar.

Tianji membuka matanya. Bola matanya hitam pekat bersinar dengan tekad baja. "Aku datang sejauh ini. Tidak ada yang bisa membuatku mundur sekarang."

Dan ia melangkah maju, menuju reruntuhan, menuju auman misterius itu, dengan Yue'er dan Xiao Yu'er mengikuti di belakangnya. Perjalanan mereka baru saja dimulai.

— BERSAMBUNG —

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 30: PILIHAN BAB 32: MAKAM KUNO →