Fajar datang perlahan di pulau tak bernama itu, seolah enggan menyingkap tabir kegelapan yang menyelimuti daratan mungil di tengah lautan. Kabut tipis mengambang di atas pasir pantai, dan suara burung-burung asing terdengar dari dalam hutan โ bukan kicauan merdu, melainkan teriakan panjang yang terdengar seperti tangisan manusia.
Xiao Tianji duduk di batu karang besar, memandangi kepingan-kepingan perahu mereka yang terdampar di sepanjang garis pantai. Perahu pemberian Lady Hong โ hancur total. Tidak ada yang tersisa kecuali peti bekal yang entah terseret arus ke mana.
"Sarapan, Tianji."
Suara Yue'er yang ceria membuat Tianji menoleh. Gadis itu datang dengan seikat kelapa muda di tangannya, wajahnya berseri-seri walau baju basah dan rambut kusut.
"Dari mana kau dapat itu?"
"Itu!" Yue'er menunjuk ke arah pohon kelapa di tepi pantai. "Banyak! Pulau ini penuh pohon kelapa. Setidaknya kita tidak akan mati kehausan."
"Kau benar."
"Heh, sekali lagi aku benar. Kau mulai menghitungnya?" Yue'er duduk di samping Tianji dan membelah kelapa dengan keris kecil di pinggangnya โ keris pemberian Xiao Yu'er. "Xiao Yu'er sedang mengumpulkan kayu bakar di hutan. Katanya mau buat api untuk menghangatkan badan."
"Kau yakin dia tidak akan melarikan diri?"
Yue'er berhenti sebentar. "Mungkin saja. Tapi aku rasa tidak. Dia sudah berubah sejak semalam."
"Aman kau rasa?"
"Aku rasa… aman." Yue'er menyerahkan potongan kelapa pada Tianji. "Minum dulu. Wajahmu pucat sekali. Kemarin kau terlalu banyak mengeluarkan Qi."
Tianji menerima kelapa itu dan meminum airnya. Dingin dan segar. Seteguk demi seteguk, energi dalam tubuhnya mulai pulih.
"Hem…" tiba-tiba Yue'er mengerutkan kening, matanya menyipit ke arah hutan. "Xiao Yu'er sudah lama sekali. Mungkin aku harus mencariโ"
"AKKHH!"
Jeritan Xiao Yu'er menggema dari dalam hutan, disusul suara tumbangnya pohon dan hentakan kaki yang berlari.
Tianji melompat berdiri, Qi hitam sudah menyala di tangannya. "Di sana!"
Mereka berlari menuju sumber suara, melewati semak-semak dan pohon-pohon raksasa. Hutan pulau ini aneh โ pepohonannya tumbuh berliku-liku seperti ular raksasa yang membatu, dan akar-akarnya menjalar di permukaan tanah seperti jaringan urat nadi.
Xiao Yu'er muncul dari balik semak, wajahnya pucat pasi, napasnya terengah-engah. Di tangannya, sebilah pedang pendek sudah terhunus โ tapi ujungnya tidak berlumuran darah.
"Ada… ada di sana…" Xiao Yu'er menunjuk ke belakangnya, suaranya bergetar.
"Siapa? Mawar Hitam?" tanya Tianji.
"Bukan… seorang kakek… kakek tua dengan pancing… dia muncul tiba-tiba… di belakangku…"
"Kakek dengan pancing?" Yue'er mengerutkan kening. "Kau takut sama kakek-kakek?"
"Dia… dia bergerak begitu cepat. Aku tidak melihatnya datang. Tiba-tiba sudah ada di belakangku, tangannya sudah di pundakku."
Wajah Tianji berubah serius. Seorang kakek yang bisa bergerak tanpa terdeteksi oleh Xiao Yu'er โ itu bukan orang biasa. Xiao Yu'er memang masih muda, tapi ia adalah buronan Mawar Hitam yang sudah bertahun-tahun melatih instingnya. Tidak mudah mengejutkannya.
"Bawa aku ke tempat kau melihatnya."
Xiao Yu'er mengangguk. Mereka bertiga berjalan masuk lebih dalam ke hutan. Pepohonan semakin rapat, sinar matahari semakin redup. Di bawah kanopi yang lebat, suasananya seperti senja, bukan pagi.
Setelah berjalan sekitar seratus langkah, mereka sampai di sebuah lapangan kecil โ mungkin bekas tempat tinggal. Di tengah lapangan, sebuah gubuk reot berdiri dengan atap ilalang yang hampir roboh. Di depan gubuk, di atas batu besar, duduk seorang kakek tua.
Kakek itu lebih tua dari yang Tianji bayangkan. Rambut dan jenggotnya putih semua, kusut tidak terawat, menjuntai hingga ke dada. Kulitnya keriput dan hitam terbakar matahari laut. Bajunya compang-camping, tambalan di sana-sini. Di tangannya, sebuah pancing bambu sederhana โ tanpa tali, tanpa kail. Hanya batang bambu sepanjang tiga kaki.
Mata kakek itu… tajam.
Sekilas ia terlihat seperti kakek-kakek renta yang tidak punya daya. Tapi tatapannya โ tajam seperti elang yang melihat mangsanya. Tianji bisa merasakan tekanan Qi yang memancar dari tubuh kakek itu. Samar, tapi jelas. Ini bukan orang biasa.
"Anak-anak muda," suara kakek itu serak, seperti suara amplas menggesek kayu. "Kalian merusak pagiku."
Kakek itu tertawa โ suara yang mirip suara burung gagak. "Aku tidak mengagetkannya. Dia yang mengagetkanku. Anak muda sekarang, berjalan tanpa lihat kanan kiri."
Yue'er melangkah maju, tangan di pinggang. "Hei, kakek! Jangankan bicara seenaknya! Kau ini siapa? Tinggal di mana? Kenapa ada di pulau tak berpenghuni ini?"
Kakek itu menoleh ke arah Yue'er. Matanya menyipit, lalu ia tertawa lagi. "Gadis kecil, mulutmu lebih tajam dari pedang. Tapi hatiku masih muda, jadi kubilang: aku nelayan. Nelayan tua yang sudah tinggal di sini… entah berapa tahun. Aku lupa."
"Nelayan? Di sini? Di pulau kecil ini?" Yue'er tidak percaya. "Laut di sini penuh karang. Mana ada ikan?"
"Ikan tidak hanya di laut dalam, gadis kecil. Ikan juga di darat."
Tianji mengerutkan kening. "Ikan di darat?"
Kakek itu mengangkat pancingnya โ bambu tanpa tali dan kail โ lalu mengayunkannya ke samping. Pancing itu tidak mengenai apa pun, tapi dari semak-semak, sesuatu terbang dan mendarat di tangan kakek itu. Seekor burung hutan kecil, masih hidup, matanya terbelalak kebingungan.
"Lihat? Ikan di darat."
Yue'er dan Xiao Yu'er terbelalak. Kakek itu menggunakan pancingnya โ yang tidak punya tali dan kail โ untuk menangkap burung dengan hanya menggunakan kekuatan angin. Itu bukan ilmu biasa. Itu adalah tingkat penguasaan Qi yang sangat tinggi. Sama sekali tidak wajar untuk seorang kakek nelayan tua.
Tianji melangkah maju dan membungkukkan badan โ hormat dalam tradisi persilatan.
"Aku Xiao Tianji. Ini kedua temanku, Liu Yue'er dan Xiao Yu'er. Kami terdampar di pulau ini karena badai semalam. Mohon maaf jika kehadiran kami mengganggu ketenteraman kakek."
Kakek itu menatap Tianji lama. Matanya yang tajam mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemudian pandangannya berhenti di sekitar dada Tianji โ tepat di tempat fragmen Kitab Suci Lautan tersembunyi.
"Xiao Tianji," kakek itu mengulangi nama itu pelan. "Kau membawa sesuatu yang berharga, bocah."
Tianji terkejut. Kakek itu bisa merasakan fragmennya tanpa melihatnya? Ini menyedihkan. Atau mengerikan.
"Aku…" Tianji ragu.
"Tidak perlu bicara," kakek itu mengangkat tangannya. "Ku tahu kau tidak percaya padaku. Itu bagus. Percaya pada orang asing adalah bodoh." Ia berdiri dengan susah payah โ atau berpura-pura susah payah โ dan berjalan ke gubuknya. "Ikut. Kalian perlu tempat berteduh dan makanan hangat. Setelah itu, kita bicara."
Yue'er melirik Tianji. "Kita ikut?"
Tianji mengangguk. "Dia bisa membunuh kita kapan saja jika mau. Tapi dia tidak melakukannya. Berarti dia ingin bicara."
Mereka mengikuti kakek itu masuk ke gubuk. Di dalam, tempat itu lebih rapi dari dugaan. Sebuah meja kayu sederhana, dua kursi, ranjang bambu, dan di sudut โ tumpukan buku. Bukan buku biasa โ buku-buku kuno dengan sampul kulit dan aksara-aksara yang asing bagi Tianji.
"Buku? Di pulau tak berpenghuni?" Yue'er bertanya heran.
"Aku tak bilang aku buta huruf." Kakek itu mengeluarkan periuk tanah liat dan menyalakan api di tungku kecil. "Air panas. Teh. Kalian pasti kedinginan setelah semalaman di laut."
"Kakek ini baik juga," bisik Yue'er pada Tianji.
"Atau dia meracuni tehnya," balas Tianji datar.
Yue'er tersedak. "Heh, suka curiga kau."
"Kau yang bilang jangan percaya orang asing."
"Aku bilang begitu? Kapan?"
"Lima menit lalu."
"Berisik!"
Xiao Yu'er duduk di sudut gubuk, diam seperti biasa. Tapi matanya awas mengamati setiap gerakan Kakek Nelayan. Tangan kanannya diam-diam meraba kantong racun di pinggangnya โ jaga-jaga.
Sementara air mendidih, Kakek Nelayan duduk di hadapan mereka. Ia memandang Tianji dengan tatapan yang berbeda sekarang โ lebih serius, lebih dalam.
"Kau tahu, bocah, aku sudah tinggal di pulau ini selama… tiga puluh tahun? Atau empat puluh? Aku tidak ingat. Tapi dalam waktu selama itu, belum pernah ada orang yang mendarat di sini. Kau yang pertama."
"Berarti pulau ini tidak ada di peta?" tanya Yue'er.
"Ada. Tapi ditandai sebagai 'Karang Berbahaya'. Tidak ada pelaut yang berani mendekat. Selain karena karang di sekelilingnya, ada pusaran bawah laut yang bisa menghancurkan kapal."
"Lalu kenapa kami bisa selamat?" Xiao Yu'er bertanya, suaranya pelan tapi penasaran.
Kakek itu menatapnya. "Karena kalian tidak datang dengan kapal. Kalian datang dengan perahu kecil. Perahu kecil lebih mudah melewati celah-celah karang. Ditambah lagi, badai semalam mendorong kalian langsung melewati jalur yang aman. Beruntung sekali."
Kata 'beruntung' diucapkan dengan nada yang aneh. Seperti ada makna kedua di baliknya.
"Apa yang Kakek maksud?" tanya Tianji.
"Fragmen itu," kata kakek itu, menunjuk ke arah dada Tianji. "Kitab Suci Lautan. Benda itu punya kemauan sendiri. Ia memilih pemiliknya. Mungkin ia memilihmu, dan membawamu ke sini untuk suatu alasan."
Tianji terkesiap. "Kakek tahu soal Kitab Suci Lautan?"
"Tahu?" Kakek itu tertawa โ tawa panjang yang berubah menjadi batuk. "Anak muda, aku lebih tahu dari yang kau kira. Karena dulu… aku juga mencarinya."
Udara di dalam gubuk tiba-tiba terasa dingin. Bahkan Yue'er yang biasanya banyak bicara terdiam.
"Apa maksud Kakek?" Tianji bertanya, suaranya berhati-hati.
"Aku dulu adalah pendekar," kata kakek itu, matanya menerawang ke masa lalu. "Bukan pendekar biasa. Aku adalah pendekar peringkat sepuluh besar di Jianghu. Julukanku… Penyu Laut. Dalam bahasa silat, mereka memanggilku Penakluk Ombak."
"Mendadak senyap.
"Penakluk Ombak?" Yue'er berbisik pada Tianji. "Kedengarannya keren."
"Aku pernah dengar nama itu," kata Xiao Yu'er pelan. "Dalam catatan Laba-Laba Sutra, ada nama Penakluk Ombak yang tercatat sebagai salah satu pendekar paling kuat di generasi sebelumnya. Sekitar tiga puluh tahun lalu, dia menghilang tanpa jejak."
Kakek itu menatap Xiao Yu'er dengan tatapan kagum. "Laba-Laba Sutra? Lady Hong, ya? Bocah, kau tahu banyak. Dari mana kau tahu soal catatan itu?"
"Aku… bekerja untuk Laba-Laba Sutra," kata Xiao Yu'er ragu. "Tapi sekarang tidak lagi."
"Huh. Organisasi itu." Kakek Nelayan menggeleng. "Lady Hong, ya? Dulu dia masih kecil waktu aku terakhir melihatnya. Sekarang sudah menjadi pemilik jaringan intelijen. Waktu berubah."
Tianji, yang sedari tadi mencoba mencerna semua informasi, akhirnya bertanya: "Kenapa Kakek berhenti mencari Kitab Suci Lautan? Dan kenapa tinggal di pulau tak berpenghuni ini?"
Kakek Nelayan memandang Tianji dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedih? Marah? Pasrah? Atau campuran dari semuanya.
"Karena aku lelah," jawabnya. "Aku menghabiskan dua puluh tahun mencari Kitab Suci Lautan. Berkelana ke setiap sudut lautan, bertarung melawan monster laut, melawan bajak laut, melawan organisasi-organisasi rahasia. Aku kehilangan teman-temanku. Aku kehilangan saudara seperguruanku. Aku kehilangan orang yang kucintai. Dan pada akhirnya, aku sadar: Kitab Suci Lautan bukanlah jawaban."
"Apa jawabannya?" tanya Tianji.
"Pertanyaan yang bagus." Kakek Nelayan menuang teh ke dalam cangkir-cangkir tanah liat. "Apa yang kau cari, Xiao Tianji? Kekuatan? Pengetahuan? Balas dendam? Atau sekadar mencari siapa dirimu?"
"Aku mencari guruku," kata Tianji. "Xuan Qingzi. Dia menghilang setelah memberiku MP ini."
Tangan Kakek Nelayan berhenti di udara. Cangkir teh di tangannya hampir jatuh. Matanya yang redup tiba-tiba menyala.
"Xuan Qingzi?!"
"Kakek kenal?"
"Kenal?" Kakek Nelayan meletakkan cangkirnya dengan keras. "Dasar bocah! Xuan Qingzi adalah… dia adalah… bagaimana kau bisa jadi muridnya?"
"Dia datang ke desaku lima tahun lalu. Mengajariku. Lalu pergi dan tidak kembali."
"Aku mencari gurumu selama sepuluh tahun setelah aku pensiun," kata Kakek Nelayan, suaranya bergetar. "Xuan Qingzi adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahami rahasia Kitab Suci Lautan. Dialah yang memberitahuku bahwa kitab itu ada."
Tianji merasakan dadanya berdebar kencang. Kakek ini mengenal gurunya. Mungkin โ mungkin โ ia bisa memberi petunjuk.
"Kakek, kumohon," Tianji membungkuk dalam-dalam. "Beritahu aku apa pun yang Kakek tahu tentang Xuan Qingzi dan Kitab Suci Lautan."
Kakek Nelayan menatap Tianji untuk waktu yang lama. Lalu ia menghela nafas panjang.
"Aku akan bercerita. Tapi pertama, makan dulu. Kalian lapar. Dan aku tidak suka bercerita dengan perut kosong."
Kakek Nelayan menyajikan makanan: ikan bakar, ubi hutan, dan sup rumput laut. Sederhana, tapi hangat. Mereka makan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran.
Setelah selesai, Kakek Nelayan membawa mereka ke pantai. Duduk di atas batu karang, memandang laut yang mulai tenang setelah badai semalam.
"Xuan Qingzi," kakek itu memulai, "adalah pendekar paling aneh yang pernah kutemui. Ilmunya tidak berasal dari aliran silat mana pun. Ia menciptakan jalannya sendiri. Ia memanggilnya… MP. Metode Penyerapan."
"Itu yang diajarkannya padaku."
"Kau beruntung. Tapi juga sial." Kakek Nelayan menatap Tianji. "MP itu bukan ilmu sembarangan. Ia menyerap Qi dari segala sesuatu โ dari alam, dari manusia, dari kehidupan. Makin banyak kau menyerap, makin besar kekuatanmu. Tapi…"
"Tapi apa?"
"Tapi ada harga yang harus dibayar. Xuan Qingzi sendiri… dia terlalu banyak menyerap. Pada akhirnya, dia tidak bisa mengendalikannya lagi. Tubuhnya menjadi wadah yang terus haus akan Qi. Dan dia pergi โ menghilang โ karena takut menyakiti orang-orang di sekitarnya."
Yue'er menyentuh lengan Tianji. "Tianji… kau baik-baik saja?"
Tianji tidak menjawab. Wajahnya pucat. Tapi matanya… matanya tetap teguh.
"Aku tahu risikonya," katanya akhirnya. "Dia sudah memberitahuku sebelum pergi."
"Dan kau tetap menerimanya?" Kakek Nelayan menggeleng. "Anak muda memang selalu nekat."
"Aku tidak punya pilihan. MP itu memilihku."
Kakek Nelayan mengangguk pelan. "Fragmen Kitab Suci Lautan yang kau bawa โ itu adalah bagian dari MP yang lengkap. Ada tiga fragmen total. Satu di dalam tubuhmu โ dari Xuan Qingzi. Satu lagi yang sekarang kau bawa. Dan satu lagi…"
"Di mana yang terakhir?"
"Di Pulau Terbang. Itu yang dibilang Lady Hong, kan?"
Tianji mengangguk.
"Dia benar. Fragmen ketiga โ yang paling penting โ ada di Pulau Terbang. Tapi untuk sampai ke sana…" Kakek Nelayan menunjuk ke ufuk timur. "Kau harus melewati medan Qi yang sangat kacau. Karena Pulau Terbang tidak hanya dilindungi secara fisik, tapi juga secara spiritual. Ada formasi Qi raksasa di sekelilingnya."
Yue'er mengerutkan kening. "Formasi Qi?"
"Bayangkan pagar tak kasat mata. Tapi bukan dari besi atau kayu โ dari energi. Pendekar kelas bawah tidak akan bisa mendekat karena tubuh mereka akan kewalahan oleh tekanan Qi. Hanya pendekar dengan penguasaan Qi yang tinggi yang bisa menembusnya."
"Aku masih Level 2," kata Tianji.
"Level 2? Kau masih bayi dalam dunia MP. Tapi kau punya fragmen itu. Fragmen itu sendiri bisa membantumu melewati formasi tersebut. Karena ia adalah kuncinya."
Matahari sudah naik tinggi, menerangi pantai dengan cahaya keemasan. Burung-burung kembali berkicau, dan ombak bergulung tenang. Dunia terlihat damai โ sangat kontras dengan apa yang sedang mereka diskusikan.
"Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mencapai Pulau Terbang dari sini?" tanya Tianji.
"Kalau berjalan kaki? Tidak akan bisa. Karena pulau ini juga tidak punya perahu yang layak. Satu-satunya perahuku sudah lapuk dimakan usia sepuluh tahun lalu."
"Lalu bagaimana kamiโ"
"Tapi aku bisa memberimu petunjuk," potong Kakek Nelayan. "Di sisi utara pulau ini, ada sebuah gua. Di dalam gua itu, ada peta yang ditinggalkan oleh Xuan Qingzi โ anehnya, seolah dia sudah menduga akan ada muridnya yang datang ke sini."
Tianji tertegun. Gurunya sudah merencanakan ini? Sejak kapan?
Kakek Nelayan berdiri dan menepuk debu di celananya. "Ikut. Aku akan menunjukkan jalannya. Tapi setelah itu, kalian harus pergi. Aku tidak suka ditemani terlalu lama."
"Kakek sendiri yang tinggal di gubuk itu selama puluhan tahun?" tanya Yue'er. "Tidak kesepian?"
"Sepi?" Kakek Nelayan tersenyum โ senyum pertama yang mereka lihat. "Kesepian adalah pilihan, gadis cilik. Aku memilihnya. Dan di usiaku ini, aku sudah terbiasa."
"Apa Kakek tidak ingin kembali ke Jianghu?"
"Untuk apa?" Kakek Nelayan menatap laut. "Dunia di luar sana sudah bukan tempatku. Biarkan aku menjadi legenda yang hilang. Lebih baik daripada menjadi tua yang menyedihkan dan dilupakan orang."
Mereka berjalan ke sisi utara pulau. Hutan semakin lebat, dan tebing-tebing karang menjulang di hadapan mereka. Di balik tebing, sebuah gua gelap menganga seperti mulut raksasa yang menanti mangsa.
"Ini dia," kata Kakek Nelayan. "Gua Xuan Qingzi."
"Gua Xuan Qingzi?" Tianji mengulangi.
"Tiga tahun lalu, seorang pria paruh baya datang ke pulau ini. Ia tinggal di gua itu selama beberapa hari, lalu pergi. Sebelum pergi, ia berkata: 'Suatu hari, akan ada anak muda yang datang. Beri tahu dia tentang gua ini.' Aku tidak tahu dia yang kumaksud adalah kau. Tapi sekarang aku mengerti."
Tianji melangkah maju ke mulut gua. Dari dalam, tercium bau tanah basah dan rumput laut kering. Gelap. Tapi dari kedalaman, samar-samar, terpancar cahaya redup โ seperti kunang-kunang raksasa yang bersembunyi di sudut gua.
"Kakek tidak ikut?" tanya Yue'er.
"Aku sudah pernah masuk. Tidak ada yang menarik bagiku di sana. Tapi untuk kalian…" Kakek Nelayan menatap Tianji. "Mungkin di sana kalian akan menemukan apa yang kalian cari. Atau mungkin tidak. Hanya waktu yang bisa menjawab."
Tianji menyalakan api kecil di ujung jarinya โ teknik Qi yang sudah diajarkan Xuan Qingzi. Cahaya redup menerangi mulut gua.
"Ayo," katanya pada Yue'er dan Xiao Yu'er.
Mereka bertiga masuk ke dalam gua, meninggalkan Kakek Nelayan yang berdiri di mulut gua, menatap mereka dengan tatapan seorang lelaki tua yang pernah menjadi pendekar hebat โ yang kini hanya tinggal kenangan.
"Xiao Tianji," panggil Kakek Nelayan sebelum mereka hilang dalam kegelapan. "Hati-hati. Pulau Terbang bukan tempat yang ramah. Dan fragmen ketiga… ia memiliki penjaga yang tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan semata."
"Siapa penjaganya?" tanya Tianji.
"Kau akan lihat sendiri. Tapi ingat โ di Jianghu, musuh terbesar bukanlah yang paling kuat, tapi yang paling tidak kau duga."
Kata-kata itu mengingatkan Tianji pada pesan terakhir Rahang Maut. Hati-hati orang terdekatmu.
Ia menggelengkan kepala, membuang pikiran itu. Sekarang bukan waktunya curiga.
Langkah mereka bergema di dinding gua, dan perlahan-lahan, cahaya di kedalaman gua semakin terang.
[— BERSAMBUNG —]