📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 92: HIDUP SEBAGAI NELAYAN

← BAB 91: KEMBALI KE DESA BAB 93: GURU BARU →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Bulan telah berlalu sejak Tianji dan Yue'er kembali ke Desa Muara. Kini, kehidupan mereka telah menemukan iramanya sendiri — sebuah ritme yang sederhana, tenang, dan penuh makna.

Setiap hari, sebelum fajar menyingsing, Tianji sudah bangun. Ia tidak pernah memerlukan lentera atau pelita untuk bergerak di dalam kegelapan — matanya telah terbiasa dengan gelapnya malam, sebuah kemampuan yang ia asah sejak kecil dan semakin sempurna setelah ia menguasai ilmu Penyerap Lautan. Dengan langkah ringan ia menuju dapur, menyalakan api, dan memanaskan air untuk mandi Yue'er.

"Aku bilang kau tidak perlu repot-repot," gumam Yue'er suatu pagi, terbangun karena suara gemeretak kayu bakar. Rambutnya berantakan, matanya masih sembap karena kantuk. "Kau harus istirahat. Melaut itu melelahkan."

Tianji menoleh, tersenyum melihat istrinya yang masih setengah tertidur. "Istirahat? Tidak ada yang lebih menyegarkan daripada udara pagi Laut Selatan. Dan apa kau pikir aku capek? Ayahku dulu melaut dari subuh hingga petang tanpa mengeluh."

"Ayahmu bukan pendekar Penyerap Lautan," kata Yue'er, menguap.

"Dan aku bukan pendekar," jawab Tianji cepat. "Aku nelayan. Ingat itu."

Yue'er tertawa kecil. Ia bangkit, merapikan rambutnya yang panjang hitam legam, lalu membantu Tianji menyiapkan bekal. Nasi, ikan asin, dan sambal. Sederhana, namun cukup untuk sehari di laut.

Setelah sarapan, Tianji berjalan menuju dermaga. Perahunya — yang telah diperbaikinya selama dua minggu pertama di desa — kini sudah siap melaut. Bukan perahu besar, hanya perahu cadik kayu sepanjang tiga depa, cukup untuk satu orang dan jala.

"Kang Tianji! Kang Tianji!"

Empat bocah sudah menunggu di dermaga: Kecil, Joko, Wati, dan satu lagi — Bima, anak seorang janda miskin di ujung desa. Mereka semua bersemangat, membawa ember-ember kecil.

"Kalian sudah minta izin?" tanya Tianji.

"Sudah!" seru mereka serempak.

"Nah, naiklah. Tapi ingat — di laut, kalian harus patuh padaku. Jika kutegur, jangan membantah. Jika kusuruh diam, jangan bersuara. Mengerti?"

"Mengerti, Kang Tianji!"

Keempat bocah itu naik ke perahu dengan hati-hati. Perahu cadik Tianji terhuyung sedikit, lalu stabil kembali. Tianji mendorong perahu meninggalkan dermaga, lalu melompat dengan gesit ke buritan. Ia mengambil dayung dan mulai mengayuh.

Laut pagi itu tenang. Ombak kecil berkejaran, berkilauan kena sinar matahari yang baru muncul dari peraduannya. Burung-burung camar beterbangan, kadang menyambar ikan-ikan kecil yang melompat ke permukaan.

"Kang Tianji," kata Wati tiba-tiba. "Benarkah Kang Tianji bisa menyerap kekuatan laut?"

Tianji tertawa. "Wati, dari mana kau dengar cerita-cerita seperti itu?"

"Dari Mbah Karsa. Mbah Karsa bilang, Kang Tianji belajar ilmu dari dewi laut. Katanya Kang Tianji bisa membuat ombak menjadi jinak dan badai menjadi reda."

"Ah, Mbah Karsa itu suka bercerita yang bukan-bukan," Tianji menggeleng. "Lihat laut ini. Laut tidak perlu ditaklukkan. Laut hanya perlu dipahami. Jika kau mengerti laut, kau akan tahu kapan harus melaut dan kapan harus berlabuh. Itu saja ilmunya."

Joko, bocah laki-laki yang paling berani di antara mereka, menatap Tianji dengan mata berbinar. "Tapi Kang Tianji, Mbah Karsa juga bilang Kang Tianji pernah melawan siluman laut raksasa!"

"Itu cerita panjang," Tianji menghela napas. "Dan tidak sehebat yang diceritakan Mbah Karsa. Yang benar adalah: aku pernah bertemu dengan makhluk besar di laut, dan beruntung bisa selamat. Itu saja."

"Bagaimana ceritanya, Kang Tianji?" desak Kecil.

Tianji tersenyum. Mungkin tidak apa-apa menceritakan sedikit. Bagaimanapun, anak-anak ini perlu belajar tentang laut — tentang bahayanya, tentang keindahannya.

"Baiklah. Tapi dengarkan baik-baik. Cerita ini bukan untuk ditiru, melainkan untuk dijadikan pelajaran."

Anak-anak itu duduk rapi, siap mendengarkan.

"Suatu hari, sekitar dua tahun yang lalu," Tianji memulai, "aku melaut sendirian. Sendirian karena ayahku sedang sakit. Aku harus mencari ikan untuk biaya berobat. Laut sedang tidak bersahabat — angin kencang, ombak tinggi. Tapi aku nekat."

"Berbahaya sekali," bisik Wati.

"Ya, berbahaya. Sangat berbahaya. Tapi kadang, kebutuhan memaksa seseorang melakukan hal-hal yang berbahaya. Ingat itu: jangan pernah melaut jika laut marah. Uang bisa dicari lain kali, nyawa tidak bisa diganti."

Tianji berhenti sejenak, matanya menerawang. "Ketika aku sudah cukup jauh dari daratan, perahuku dihantam ombak besar. Perahu oleng. Aku jatuh ke laut. Di dalam air, aku melihat sesuatu yang besar — sangat besar — bergerak di bawahku. Sebuah bayangan hitam raksasa."

"Siluman laut!" seru Joko.

"Mungkin. Atau mungkin ikan paus. Atau mungkin… sesuatu yang lain. Yang jelas, makhluk itu mendorong perahuku kembali ke permukaan. Aku berhasil naik lagi. Dan sejak saat itu, laut selalu terasa berbeda bagiku. Seolah ada sesuatu yang menjagaku di dalam air."

Anak-anak itu terdiam, terpukau. Tianji tertawa.

"Sudah, itu ceritanya. Sekarang kalian harus belajar sesuatu yang lebih penting dari cerita-cerita lama."

"Apa itu, Kang Tianji?"

"Menangkap ikan."

Tianji mengajari mereka cara melempar jala — bagaimana memutar tubuh, bagaimana melepaskan jala pada saat yang tepat, bagaimana menariknya kembali secara perlahan agar ikan tidak lepas. Anak-anak itu belajar dengan tekun, meskipun hasil pertama mereka lebih banyak rumput laut dan kepiting kecil daripada ikan.

"Tidak apa-apa," kata Tianji. "Aku dulu juga seperti itu. Yang penting adalah kalian mau belajar. Suatu hari nanti, kalian akan menjadi nelayan yang lebih hebat dariku."

Mereka melaut hingga tengah hari. Hasil tangkapan hari itu lumayan: dua ekor kakap merah, tiga ekor kerapu, dan beberapa ekor ikan kembung. Cukup untuk dimakan sendiri dan sebagian dijual ke pasar desa.

Ketika mereka kembali ke dermaga, Yue'er sudah menunggu dengan segenap senyumnya. Rambutnya yang panjang kini digelung sederhana, pakaiannya — bukan lagi pakaian istana — adalah kain katun biasa yang dibelinya dari pasar. Namun bagaimanapun juga, Yue'er tetaplah Yue'er — cantik, anggun, memancarkan kehangatan seperti sinar matahari pagi.

"Hasilnya lumayan," kata Tianji, melompat ke dermaga.

"Aku sudah memasak sayur asem dan sambal," Yue'er tersenyum. "Tinggal menggoreng ikannya."

"Biarlah kugoreng nanti," kata Tianji. "Kau jangan terlalu capek."

"Aku tidak secapek itu, Tianji. Aku hanya duduk di rumah." Yue'er tertawa. "Tapi kau… wajahmu mulai hitam kena matahari."

"Nelayan harus hitam," Tianji menyeringai, menunjukkan gigi putihnya. "Kalau tidak hitam, namanya bukan nelayan."

Mereka berdua tertawa. Anak-anak yang masih di perahu ikut tertawa, meskipun tidak mengerti apa lucunya.

Kehidupan Tianji sebagai nelayan berjalan dengan ritme yang tetap. Pagi melaut, siang pulang, memasak, tidur siang sejenak, lalu sore hari — saat anak-anak desa selesai membantu orang tua mereka — Tianji akan mengajar di beranda rumahnya.

Ia mengajar mengaji. Ia mengajar membaca dan menulis. Ia mengajar huruf-huruf Jawa kuno yang ia pelajari dari ayahnya. Kadang, ia mengajar tentang laut — bagaimana membaca arah angin, bagaimana mengetahui cuaca dari warna langit, bagaimana membedakan jenis-jenis ikan.

"Ajarku juga tentang silat," pinta Kecil suatu sore, setelah selesai mengaji.

"Untuk apa?" tanya Tianji sambil tersenyum.

"Biar bisa menjadi pendekar seperti Kang Tianji."

"Aku bukan pendekar," kata Tianji. "Dan kau tidak perlu menjadi pendekar untuk menjadi orang yang berharga."

"Tapi… Kang Tianji bisa membela diri. Bisa melindungi orang-orang yang lemah."

Tianji terdiam. Kata-kata Kecil mengingatkannya pada dirinya sendiri — pada masa ia masih muda dan bingung, ingin menjadi kuat agar bisa melindungi orang-orang yang dicintainya.

"Jika kau ingin belajar membela diri, suatu hari nanti mungkin akan kuajarkan," kata Tianji akhirnya. "Tapi ingat satu hal: kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan untuk melindungi orang-orang yang kau cintai. Dan itu tidak selalu berarti dengan tinju atau pedang."

Kecil mengangguk, meskipun ia tidak sepenuhnya mengerti.

Malam harinya, Tianji dan Yue'er duduk di depan rumah. Bulan sabit menggantung di langit, memantulkan cahaya peraknya di permukaan laut yang tenang. Suara jangkrik dan kodok bersahut-sahutan dari rawa-rawa di belakang desa.

"Kau bahagia?" tanya Yue'er tiba-tiba.

Tianji menatap istrinya. Wajah Yue'er diterangi cahaya bulan, membuatnya terlihat seperti bidadari yang turun dari kayangan.

"Bahagia," jawab Tianji tanpa ragu. "Sangat bahagia. Kenapa kau tanya begitu?"

"Kadang aku bertanya-tanya," Yue'er menunduk, jari-jarinya bermain di pangkuan, "apa kau tidak menyesal. Meninggalkan Istana Ning. Menolak penghargaan pangeran. Menjadi nelayan sederhana seperti ini."

"Yue'er," Tianji meraih tangan istrinya. "Di Istana Ning, aku mungkin punya segala kemewahan. Tapi aku tidak punya kebebasan. Di sini, aku miskin. Tapi aku bisa pergi ke mana pun aku mau. Aku bisa melaut kapan pun aku suka. Aku bisa mengajar anak-anak desa. Dan yang paling penting… di sini, aku bersamamu."

Yue'er tersenyum, ada butiran bening di sudut matanya.

"Jangan menangis," Tianji menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.

"Aku menangis karena bahagia," kata Yue'er, persis seperti yang ia ucapkan di malam pertama mereka tiba.

"Kau sering menangis karena bahagia," Tianji tersenyum.

"Karena kau sering membuatku bahagia."

Mereka berpelukan di bawah sinar bulan. Dengkuran lembut ombak menjadi musik pengiring. Tianji mencium kening istrinya, lalu mereka terdiam — setiap orang larut dalam pikirannya masing-masing.

Tianji mengingat perjalanan hidupnya. Ia ingat saat ia masih kecil, kehilangan ayah dan ibu. Ia ingat saat ia tinggal bersama Pak Tua Karsa, belajar tentang laut. Ia ingat saat ia menemukan kitab kuno Penyerap Lautan di dalam gua karang. Ia ingat saat ia merasakan energi misterius itu — energi yang merasuk ke dalam tubuhnya, membuatnya bisa merasakan setiap tetes air di lautan.

Kekuatan itu masih ada di dalam dirinya. Ia bisa merasakannya kapan pun, seperti denyut nadi kedua di dalam tubuhnya. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan menggunakan kekuatan itu kecuali dalam keadaan darurat. Kekuatan Penyerap Lautan bukan untuk dipamerkan atau untuk menaklukkan. Kekuatan itu adalah tanggung jawab, bukan hadiah.

"Tianji," panggil Yue'er pelan.

"Ya?"

"Aku merasakan gerakan. Di perutku."

Tianji duduk tegak. "Gerakan? Maksudmu…?"

"Bayi kita bergerak," kata Yue'er, tersenyum lebar. "Untuk pertama kalinya."

Tianji meletakkan tangannya dengan hati-hati di perut Yue'er. Beberapa saat tidak terjadi apa-apa. Lalu — sebuah getaran kecil, sangat halus, seperti denyut kupu-kupu yang mengepakkan sayap dalam kepompong.

Wajah Tianji berubah. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak bisa menahan air matanya. Air mata itu jatuh, membasahi pipinya yang mulai kasar karena garam laut dan sinar matahari.

"Kau menangis," bisik Yue'er.

"Ini anak kita," kata Tianji, suaranya serak. "Dia hidup. Dia ada di sini."

Mereka berpelukan, dua insan yang saling mencintai, dengan kehidupan baru yang tumbuh di antara mereka. Malam itu, di desa kecil yang hampir dilupakan dunia, Tianji — Sang Penyerap Lautan — menangis. Ia menangis bukan karena sedih atau kecewa. Ia menangis karena kebahagiaan yang meluap-luap di dalam dadanya, kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Kehidupan sebagai nelayan terus berjalan. Esok harinya, Tianji melaut lagi. Kali ini ia tidak membawa anak-anak — laut sedang tidak ramah, angin bertiup kencang dari timur. Ia melaut sendirian, seperti yang selalu ia lakukan.

Di tengah laut, ketika tidak ada yang melihat, Tianji membiarkan kekuatan Penyerap Lautan mengalir. Bukan untuk tujuan tertentu, hanya untuk merasakan hubungannya dengan laut. Ia bisa merasakan setiap makhluk yang berenang di sekitarnya — ikan-ikan kecil yang bersembunyi di terumbu karang, seekor penyu yang berenang lambat di dasar, segerombolan udang yang bergerak dalam formasi rapat.

Dan ia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang bergerak di kedalaman yang paling dalam.

Mungkin hanya imajinasinya. Mungkin juga bukan.

Tianji membuka matanya dan tersenyum. Tidak peduli apa pun yang ada di kedalaman itu, ia sudah membuat pilihannya. Ia memilih kehidupan yang sederhana. Ia memilih kebahagiaan. Dan tidak ada kekuatan di dunia ini, di permukaan maupun di dasar lautan, yang bisa mengubah pilihannya.

"Terima kasih, laut," bisiknya. "Kau telah memberiku segalanya. Sekarang, biarkan aku hidup dalam damai."

Perahu itu berlayar kembali ke desa, membawa Tianji dan hasil tangkapannya. Di dermaga, Yue'er menunggu dengan senyum dan segelas air kelapa. Di gubuk bambu, makanan sudah siap. Dan di perut Yue'er, kehidupan baru terus tumbuh, siap untuk menyambut dunia.

Inilah kehidupan yang Tianji pilih. Dan inilah kehidupan yang akan ia pertahankan, apa pun yang terjadi.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 91: KEMBALI KE DESA BAB 93: GURU BARU →