Langit senja merekah jingga di ufuk barat ketika perahu kecil itu mulai nampak dari kejauhan. Ombak Laut Selatan berkejaran lembut, seolah menyambut kepulangan dua insan yang telah lama meninggalkan Desa Muara.
Tianji berdiri di haluan perahu, rambutnya yang agak panjang tertiup angin laut. Wajahnya yang masih muda — baru enam belas tahun — namun sudah dihiasi garis-garis kedewasaan yang tidak biasa bagi seusianya. Di sampingnya, Yue'er duduk dengan tenang, sesekali menepuk-nepuk perutnya yang masih datar, namun di dalamnya telah bersemi benih kehidupan.
"Kau lihat itu, Yue'er?" Tianji menunjuk ke arah daratan. "Cahaya-cahaya kecil itu. Itulah Desa Muara."
Yue'er tersenyum, manis sekali. Wajahnya yang cantip itu bersinar dalam cahaya senja. "Aku melihatnya, Tianji. Rumah kita."
Rumah. Sebuah kata yang begitu sederhana, namun bagai sepasang suami istri muda ini, kata itu mengandung makna yang tak terhingga. Setelah berbulan-bulan terombang-ambing dalam pusaran politik Istana Ning, setelah menolak penghargaan setinggi langit dari Pangeran Ning sendiri, akhirnya mereka kembali ke tempat di mana segala sesuatu bermula.
Perahu itu meluncur memasuki muara. Tianji dengan cekatan mengarahkan kemudi, melewati celah-celah karang yang ia hafal sejak kecil. Setiap tikungan sungai kecil, setiap pohon bakau yang merunduk, semuanya terasa begitu akrab. Inilah dunia yang ia mengerti. Bukan dunia istana dengan tipu daya dan intriknya, melainkan dunia yang sederhana: laut, perahu, jala, dan ikan.
"Tianji!" Sebuah teriakan terdengar dari dermaga kecil.
Tianji mengangkat kepalanya. Di sana, berdiri seorang lelaki tua dengan tubuh masih tegap, janggut putih memanjang hingga ke dada. Itulah Pak Tua Karsa, nelayan yang dulu mengajarinya membaca tanda-tanda di laut.
"Mbah Karsa!" seru Tianji, melambaikan tangannya dengan semangat.
"Bocah kurang ajar! Setahun lebih kau pergi, sekarang baru muncul?" gerutu Pak Tua Karsa, namun matanya berkaca-kaca. Ia sudah menganggap Tianji seperti cucu sendiri sejak orang tua Tianji meninggal. "Kupikir kau sudah lupa pada desa kecil ini!"
"Lupakan Desa Muara? Tidak mungkin, Mbah. Laut di sini memanggilku setiap malam," jawab Tianji sambil tertawa.
Perahu merapat. Belum lagi Tianji melompat ke dermaga, Pak Tua Karsa sudah lebih dulu menghampiri. Dua tangan tua yang keriput namun masih kuat merangkul bahu Tianji.
"Kau kembali, bocah! Kudengar kau menjadi hulubalang besar di Istana Ning? Kudengar kau menyelamatkan pangeran? Kudengar… ah, terlalu banyak yang kudengar!" Suara Pak Tua Karsa bergemuruh seperti ombak.
Tianji tertawa. "Mbah Karsa, terlalu cepat omongannya. Biar saya turunkan istri saya dulu."
"Ha? Istri?" Mata tua Pak Tua Karsa membelalak. Ia menoleh dan melihat Yue'er yang dengan anggun melangkah keluar dari perahu. "Ini… ini…"
Yue'er memberi hormat, sopan sekali. "Salam kenal, Mbah. Saya Yue'er, istri Tianji."
Pak Tua Karsa tertegun sejenak, lalu tertawa keras hingga batuk-batuk. "Tianji! Tianji! Anak ingusan seperti kau sudah beristri? Dan istri secantik bidadari pula? Ah, Langit memang tidak adil!"
Beberapa nelayan lain mulai berdatangan. Wajah-wajah yang dikenali Tianji sejak kecil. Ada Pak Jogo yang selalu bercerita tentang putri duyung, ada Mas Wiro yang jago membuat jala, ada juga beberapa anak muda yang dulu sering memancing bersama Tianji.
"Tianji! Ceritakan tentang pertarunganmu dengan siluman laut!"
"Tianji! Benarkah kau bisa menyerap kekuatan laut?"
"Tianji, benarkah Rajawali Hitam itu kau kalahkan?"
Pertanyaan berhamburan seperti hujan. Tianji hanya tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala. Ia meraih tangan Yue'er dan menuntunnya melewati kerumunan.
"Omong-omongan dulu, kawan-kawan. Besok pagi kalau kita melaut, saya ceritakan semuanya. Sekarang, biarkan saya dan istri saya beristirahat."
Kerumunan itu tertawa. Mereka membuka jalan. Tianji dan Yue'er berjalan menyusuri jalan setapak di antara rumah-rumah panggung kayu menuju sebuah gubuk kecil di ujung desa.
Gubuk itu masih berdiri. Atapnya dari daun nipah, dindingnya dari anyaman bambu. Di depannya ada pohon kelapa yang melambai-lambai. Di sampingnya, perahu kecil teronggok terbalik, sudah lama tidak digunakan.
"Ini rumahku," kata Tianji, suaranya bergetar sedikit. "Rumah orang tuaku. Sekarang rumah kita."
Yue'er mengamati gubuk itu. Tidak mewah. Tidak ada ukiran-ukiran indah seperti di Istana Ning. Tidak ada taman bunga. Tidak ada kolam ikan. Hanya gubuk nelayan sederhana dengan perabotan seadanya.
Dan air mata Yue'er mengalir.
"Yue'er?" Tianji terkejut. "Kenapa menangis? Apa kau kecewa?"
Yue'er menggeleng, tersenyum di antara tangisan. "Aku menangis karena bahagia, Tianji. Ini lebih indah dari seribu istana. Ini adalah rumah kita. Tempat kita akan membesarkan anak-anak kita. Tempat kita akan menghabiskan sisa hidup kita."
Tianji terharu. Ia meraih tangan Yue'er dan menciumnya lembut.
Malam itu, mereka membersihkan gubuk bersama-sama. Tianji mengambil sapu lidi dan menyapu lantai bambu. Yue'er membuka jendela-jendela yang tertutup rapat, membiarkan udara malam masuk. Mereka menemukan perabotan lama: tikar pandan yang sudah agus, beberapa periuk tanah liat, sebuah lampu minyak yang tinggal setengah.
"Cahaya ini cukup," kata Yue'er, menyalakan lampu minyak. Cahaya kuning kemerahan memenuhi ruangan kecil itu, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding bambu.
Mereka duduk bersila di atas tikar, saling berhadapan. Tianji mengambil seruling bambu dari sudut ruangan — seruling peninggalan ayahnya.
"Kau bisa main seruling?" tanya Yue'er.
"Ayahku mengajarkanku sebelum ia pergi," jawab Tianji. "Tapi sudah lama aku tidak memainkannya."
"Mainkanlah untukku, Tianji."
Tianji mengangguk. Ia meletakkan seruling itu di bibirnya. Mula-mula nadanya patah-patah, tidak karuan. Tapi perlahan, jari-jarinya mulai mengingat. Sebuah melodi sederhana mengalir — melodi yang dulu sering dimainkan ayahnya ketika laut tenang dan bulan purnama bersinar.
Yue'er memejamkan matanya. Air matanya kembali mengalir, namun kali ini benar-benar air mata bahagia. Ia ingat, setahun yang lalu, ia adalah seorang pengembara yang kehilangan arah, dikejar-kejar masa lalu yang kelam. Kini, ia duduk di gubuk bambu, mendengarkan suami mudanya meniup seruling, dan ia merasa: inilah surga.
Setelah Tianji selesai, mereka berbaring berdampingan di tikar pandan. Atap nipah di atas mereka memperlihatkan celah-celah kecil di mana bintang-bintang berkelip.
"Tianji," bisik Yue'er.
"Ya?"
"Aku hamil."
Tianji terdiam sesaat. Lalu tubuhnya gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena sukacita yang meluap-luap. Ia memeluk Yue'er erat-erat, wajahnya membenamkan diri di rambut istrinya.
"Kita akan punya anak, Yue'er. Anak kita."
"Ya. Dan kau akan menjadi ayah yang baik, Tianji. Aku tahu itu."
Mereka berbaring dalam diam, mendengarkan suara jangkrik dan gemericik air di muara yang jauh. Malam di Desa Muara begitu damai, begitu sunyi, begitu berbeda dengan gemerlap Istana Ning yang penuh tipu daya.
Keesokan paginya, Tianji bangun sebelum matahari terbit. Kebiasaan lamanya sebagai nelayan kembali. Ia meregangkan tubuh, lalu menuju dapur kecil di belakang rumah untuk menyalakan api.
"Sudah bangun?" Suara Yue'er yang masih mengantuk terdengar.
"Besok kau boleh bangun siang," kata Tianji sambil tersenyum. "Biarkan suamimu menyiapkan sarapan."
"Suami macam apa kau ini?" Yue'er bangkit juga, tersenyum. "Biarlah istri yang memasak. Kau pergi siapkan perahu. Bukankah kau bilang kau akan melaut hari ini?"
Tianji mengangguk. "Benar juga."
Ia berjalan ke luar, menghirup udara pagi yang segar. Laut di kejauhan masih gelap, namun di ufuk timur, garis tipis kemerahan mulai nampak. Waktu untuk melaut.
Ketika Tianji selesai memeriksa perahunya — mengganti beberapa papan yang mulai rapuh, memeriksa jala yang sobek — ia mendengar suara riuh rendah dari arah desa. Beberapa anak-anak berlarian ke arahnya.
"Kang Tianji! Kang Tianji!"
Tianji menoleh. Anak-anak itu, lima orang, semuanya wajah-wajah yang ia kenal. Ada Kecil, anak Pak Jogo yang paling bungsu. Ada Joko, bocah yatim piatu yang tinggal bersama neneknya. Ada juga Wati, satu-satunya anak perempuan di kelompok itu, yang rambutnya dikepang dua.
"Ada apa, Kecil?"
"Bener Kang Tianji jadi pendekar? Bener Kang Tianji bisa terbang di atas air? Bener Kang Tianji punya jurus Penyerap Lautan?" Kecil melontarkan pertanyaan tanpa jeda.
Tianji tertawa. "Siapa yang bilang?"
"Semua orang bilang!" jawab Joko bersemangat. "Mereka bilang Kang Tianji mengalahkan seribu pendekar sendirian!"
"Ah, omongan orang dewasa suka dibesar-besarkan," Tianji menggeleng. "Yang benar, saya hanya bisa menangkap ikan. Itu saja."
"Tapi…"
"Tapi apa? Kalian mau ikut saya melaut?" Tianji memotong.
Mata anak-anak itu berbinar. "Boleh?"
"Boleh, asal kalian minta izin orang tua dulu."
Anak-anak itu berlarian pulang, saling bersenggolan, berteriak-teriak kegirangan. Tianji tersenyum melihat mereka. Di sinilah ia berada sekarang. Bukan di medan pertempuran, bukan di istana megah. Di sini, bersama anak-anak desa yang lugu, di tepi laut yang tenang.
"Kau punya rencana?" Suara Yue'er terdengar dari belakangnya. Ia sudah membawakan segelas air kelapa muda.
Tianji menerima air itu dan meminumnya. "Aku berpikir untuk mengajar mereka."
"Mengajar apa?"
"Mengaji. Membaca Al-Qur'an. Membaca dan menulis. Apa yang bisa kuajarkan." Tianji berhenti sejenak. "Aku tidak bisa memberikan mereka harta atau tahta. Tapi setidaknya, aku bisa memberikan mereka ilmu."
Yue'er tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Kau terlalu baik, Tianji. Dunia ini tidak pantas menerima kebaikanmu."
"Jangan begitu, Yue'er. Dunia ini baik padaku. Ia memberiku istri secantik dirimu. Ia memberiku laut yang luas untuk kujelajahi. Ia memberiku anak-anak ini untuk kuajari."
Yue'er memeluk lengan suaminya. Mereka berdiri di tepi pantai, menyaksikan matahari terbit perlahan dari balik cakrawala. Warna jingga dan merah dan ungu bercampur aduk di langit, menciptakan lukisan yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh pelukis mana pun.
"Tianji," bisik Yue'er.
"Ya?"
"Aku cinta padamu."
"Aku juga cinta padamu, Yue'er."
Dan di pagi yang damai itu, di desa kecil yang nyaris terlupakan oleh dunia, Tianji dan Yue'er memulai babak baru kehidupan mereka. Bukan sebagai pendekar dan penyelamat pangeran, melainkan sebagai nelayan dan istrinya, sebagai guru dan ibu rumah tangga.
Tianji telah menolak penghargaan Pangeran Ning. Ia telah menolak gelar bangsawan. Ia telah menolak segala kemewahan yang ditawarkan dunia. Dan ia tidak menyesal sedikit pun. Karena di dalam kesederhanaan, ia menemukan kedamaian. Dan di dalam kedamaian, ia menemukan kebahagiaan sejati.
Sementara itu, di kejauhan, seekor elang laut terbang melingkar di atas ombak, seolah ikut menyambut kepulangan Sang Penyerap Lautan ke rumahnya yang sesungguhnya.