📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 86: LAMARAN

← BAB 85: LADY HONG BERKUNJUNG BAB 87: PERSIAPAN PERNIKAHAN →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Mentari pagi menyinari Desa Muara dengan cahaya keemasan. Ombak berdesir lembut di bibir pantai, seolah alam pun turut berbahagia menyambut hari yang istimewa ini. Tianji berdiri di depan cermin bambu di gubuknya, merapikan pakaian tradisional berwarna biru laut yang baru pertama kali ia kenakan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantung yang berdetak kencang.

Di luar, suara ibu-ibu desa sudah terdengar riuh. Mereka membantu mempersiapkan seserahan lamaran. Tianji masih tidak percaya — hari ini ia akan melamar Yue'er, gadis yang selama ini ia cintai.

"Gugup, Nak?" suara berat Liu Dahan terdengar dari balik pintu.

Tianji menoleh dan tersenyum canggung. "Aku tidak tahu harus berkata apa, Paman. Rasanya seperti mimpi."

Liu Dahan melangkah masuk, menepuk bahu Tianji. Wajah nelayan tua itu penuh kebahagiaan yang sulit disembunyikan. "Aku juga tidak pernah menyangka. Lima tahun lalu kau datang ke desa ini, kurus kering dan penuh luka. Sekarang kau akan menjadi menantuku." Suaranya bergetar di akhir kalimat.

"Aku tidak akan pernah bisa membalas budi baik Paman," kata Tianji dengan suara rendah. "Kau menyelamatkanku, memberiku tempat tinggal, mengajariku menjadi nelayan. Dan sekarang…"

"Sekarang kau ingin mengambil anak perempuanku," potong Liu Dahan dengan nada bercanda, tapi matanya tampak berkaca-kaca. "Dengar, Tianji. Aku tidak pernah punya anak laki-laki. Sejak kau datang, aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Bukan karena kau mantan pendekar besar yang akrab di panggil Sang Penyerap Lautan. Bukan karena kau dulu menguasai ilmu silat yang mengguncang dunia persilatan. Tapi karena kau anak baik."

Tianji menunduk, hatinya tersentuh. Ia telah kehilangan semua kekuatan silatnya ketika Shen Cong menyerap habis inti energi Lautan Timur dalam pertempuran yang mengubah segalanya. Kini ia hanyalah manusia biasa, seorang nelayan muda dengan kulit yang mulai kecokelatan karena terik matahari laut. Namun justru di sinilah, dalam kesederhanaan ini, ia menemukan kebahagiaan sejati.

"Sudah, sudah," Liu Dahan tertawa kecil. "Jangan cengeng sekarang. Ayo, para tetua desa sudah menunggu. Dan Yue'er… kau tahu sendiri, sejak subuh ia sudah sibuk merias diri. Tidak biasanya anakku serapi itu."

Tianji tersenyum membayangkan Yue'er yang biasanya rambutnya acak-acakan karena sibuk ke sana kemari. Gadis itu memang selalu energik, cerewet, dan penuh semangat. Sejak pertama kali Tianji melihatnya di pantai, bertelanjang kaki sambil tertawa dikejar ombak, ia tahu hatinya telah tertambat.

Pukulan genderang kecil terdengar dari rumah Liu Dahan. Itu adalah tanda bahwa semua sudah siap.

Ditemani beberapa sahabat nelayan desa, Tianji berjalan menuju rumah Liu Dahan dengan membawa seserahan di atas nampan bambu. Ada dua ekor ayam, seekor kambing, kain batik pilihan terbaik, sekarung beras, dan sebuah mahkota kecil dari anyaman mutiara air tawar yang Tianji buat sendiri dengan tangannya — karena itulah satu-satunya yang bisa ia hasilkan, bukan dari emas, melainkan dari kerja keras dan cinta.

Warga desa berjejer di sepanjang jalan, senyum dan tatapan penuh doa mengiringi langkah Tianji. Desa Muara memang desa kecil dan terpencil, jauh dari gemerlap kota dan hiruk-pikuk dunia persilatan. Tapi di sinilah hati Tianji menemukan rumahnya.

"Selamat, Tianji!" seru seorang anak kecil.

"Lamaran ya, Bang Tianji? Kapan nikahnya?" teriak yang lain.

Tianji hanya tersenyum, memberikan anggukan kecil. Ia telah berubah. Dulu ia pendiam, misterius, bahkan terkadang menakutkan. Sekarang ia lebih sering tersenyum. Semua berkat Yue'er.

Sesampainya di rumah Liu Dahan, Tianji melihat Yue'er duduk di samping ibunya — Nyonya Liu yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu hanya ada di dalam bingkai kenangan. Namun menggantikannya, duduklah beberapa wanita tetua desa yang membantu. Dan di tengah-tengah mereka, Yue'er.

Gadis berusia delapan belas tahun itu memakai kebaya putih sederhana dengan sulaman bunga melati. Rambutnya yang panjang disanggul rapi, disematkan tusuk konde dari kayu cendana. Wajahnya yang biasanya riang, kini memerah malu. Tapi matanya — matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.

Tianji hampir kehilangan kata-kata.

"Tuan Tianji," sapa seorang tetua adat yang bertindak sebagai pembawa acara. "Katakanlah maksud kedatanganmu."

Tianji melangkah maju. Tangannya sedikit gemetar, tapi suaranya mantap. "Aku, Tianji, datang hari ini untuk melamar Yue'er, putri Liu Dahan. Aku manusia biasa, tidak punya harta, tidak punya pangkat. Yang kumiliki hanyalah tanganku untuk bekerja, hatiku yang tulus, dan janjiku untuk menjaga serta menyayangi Yue'er seumur hidupku."

Yue'er menunduk, tapi ujung bibirnya naik membentuk senyuman yang sulit disembunyikan.

Liu Dahan berdiri. Semua orang menanti. Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa ia akan setuju, namun momen ini tetaplah sakral.

"Tianji," kata Liu Dahan dengan suara berat. "Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Aku tidak perlu meragukan karaktermu. Tapi sebagai ayah, aku harus bertanya — mampukah kau membuat anakku bahagia?"

"Paman Liu," Tianji menatap langsung mata ayah Yue'er. "Aku tidak bisa menjanjikan kekayaan atau kemewahan. Tapi aku bisa berjanji bahwa setiap hari, aku akan berusaha membuatnya tersenyum. Bahwa saat ia sedih, aku akan ada di sampingnya. Bahwa saat ia lelah, aku akan menjadi tempatnya beristirahat. Dan selama aku masih hidup, tidak ada setitik air matapun yang akan jatuh karena ulahku."

Suasana hening. Beberapa ibu menghapus air mata. Liu Dahan mengangguk.

"Aku setuju," kata Liu Dahan akhirnya, suaranya serak. "Tianji, kau boleh meminang anakku."

Pekik kegembiraan meledak di antara warga desa. Genderang ditabuh dengan riang. Tianji berlutut, memberi hormat kepada Liu Dahan sebagai calon mertua.

"Terima kasih, Paman… maaf, Ayah," kata Tianji dengan suara bergetar.

Liu Dahan tertawa keras, menepuk kepala Tianji. "Anakku sekarang!"

Yue'er akhirnya mengangkat wajahnya. Air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Ia berdiri dan menghampiri Tianji, lalu berbisik, "Akhirnya… kau benar-benar melamarku."

Tianji tersenyum lebar. Suaranya berbisik balik. "Sudah lama aku ingin melakukan ini. Sejak pertama kali kau menamparku karena aku mengambil ikat rambutmu."

Yue'er terkikik. "Kau memang pantas ditampar! Masa ada laki-laki aneh datang ke desa, nyaris tenggelam di pantai, lalu begitu sadar langsung main ambil ikat rambut orang?"

"Kupikir itu tali," Tianji membela diri.

"Itu ikat rambutku yang paling mahal!" desis Yue'er, namun matanya penuh canda.

Tawa mereka terpotong oleh panggilan warga desa yang mulai merayakan. Makanan dan minuman disajikan. Seorang pemain rebab mulai memetik senar, dan beberapa warga desa mulai menari di halaman.

Seorang tetua duduk di samping Tianji dan berkata, "Nak, aku dengar dulu kau pendekar besar. Apa kau tidak menyesal meninggalkan semua itu? Kekuatan, kekuasaan?"

Tianji memandang cangkir tuaknya. "Aku justru bersyukur."

"Bersyukur?"

"Di dunia persilatan, semakin tinggi kekuatanmu, semakin sulit kau membedakan mana kawan dan mana lawan. Semakin besar ilmu silatmu, semakin besar kehancuran yang bisa kau timbulkan. Aku pernah menganggap kekuatan adalah segalanya. Tapi ketika aku kehilangan semua itu… baru aku mengerti bahwa hal paling berharga dalam hidup bukanlah kekuatan, melainkan kedamaian."

Tetua itu mengangguk penuh makna. "Kata-kata bijak dari seorang pemuda."

Tianji tertawa kecil. "Saya hanya banyak melakukan kesalahan di masa lalu, Kakek. Dan dari kesalahan-kesalahan itu, saya belajar."

Yue'er mendekat, membawa sepiring kue tradisional. "Kakek, jangan ganggu Tianji terus. Biarkan ia makan dulu. Lihatlah, pipinya sudah cekung, mana bisa ia menikah dalam keadaan kelaparan?"

Tetua itu tertawa. "Wah, sudah membela calon suami! Pantas, pantas. Aku pergi dulu."

Begitu tetua itu pergi, Yue'er duduk di samping Tianji. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.

"Aku baik," Tianji tersenyum. "Sangat baik. Kau tahu, ini pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan yang begitu sederhana."

"Kebahagiaan sederhana?" Yue'er mengangkat alis. "Kau akan menikah denganku. Itu bukan hal sederhana. Itu adalah keputusan seumur hidup!"

"Kau benar, itu bukan sederhana. Tapi rasanya…" Tianji meraih tangan Yue'er. "…seperti aku berada di tempat yang benar. Waktu yang tepat. Dan dengan orang yang tepat."

Yue'er memerah lagi. "Dasar pencinta!”

"Aku hanya berkata jujur."

"Kalau kau jujur, katakan padaku — sebenarnya apa yang kau rasakan hari ini? Aku tahu kau selalu kelihatan tenang di luar, tapi diam-diam pasti gugup. Benar tidak?"

Tianji terkekeh. "Bagaimana kau tahu?"

"Kupikir kau sudah lupa, aku mengenalmu selama hampir lima tahun! Lima tahun, Tianji! Aku tahu kau suka menyembunyikan perasaan di balik topeng ketenangan. Tapi aku juga tahu bahwa saat kau benar-benar gugup, kau akan menarik ujung bajumu seperti itu."

Tianji menunduk dan baru sadar bahwa tangannya memang menarik ujung bajunya. Ia tertawa. "Kau benar. Aku gugup. Aku takut ada yang salah, takut lamaranku ditolak, takut sesuatu yang buruk terjadi. Meskipun kelima indraku sudah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi hatiku tetap tidak tenang."

"Itu normal," kata Yue'er lembut. "Aku juga gugup. Tapi saat kau mulai bicara dan menyebut janjimu tadi… aku jadi tenang."

"Aku serius dengan setiap kata yang kuucapkan."

"Aku tahu," Yue'er menekan tangan Tianji. "Itu sebabnya aku mencintaimu."

Di luar, langit mulai memerah menjelang senja. Warga desa masih bergembira, sesekali terdengar suara tawa dan lagu-lagu tradisional. Seekor kucing desa berjalan santai di antara kaki para tamu, mencari sisa-sisa makanan.

Hari itu, lamaran berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Tidak ada intrik, tidak ada pertumpahan darah, tidak ada dendam. Hanya cinta di sebuah desa nelayan yang sunyi.

Mungkin, pikir Tianji di dalam hatinya sambil menatap Yue'er yang sedang tertawa bersama kawan-kawan wanitanya, inilah kehidupan yang selama ini ia cari. Bukan kekuasaan. Bukan kedigdayaan. Tapi kedamaian. Tapi cinta. Tapi rumah.

"Tianji," panggil Yue'er tiba-tiba di tengah keramaian pesta.

"Ya?"

"Aku ingin kau tahu sesuatu."

"Apa?"

"Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Bahkan saat kau masih menjadi pendekar misterius yang nyaris tenggelam di pantai, ada sesuatu dalam dirimu yang membuatku percaya — kau adalah orang baik. Dan sekarang, di hari lamaran ini, aku semakin yakin."

Tianji tersenyum. Air matanya nyaris jatuh. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah seindah ini. Dari kegelapan menuju terang. Dari kesendirian menuju cinta.

"Yue'er," bisiknya. "Kau adalah anugerah terbesar dalam hidupku."

Malam itu, pesta lamaran berlangsung hingga tengah malam. Warga desa pulang satu per satu dengan hati gembira. Tianji duduk di beranda rumah Liu Dahan, memandang bintang-bintang sambil tangannya memegang erat cincin bambu yang Yue'er berikan sebagai tanda balasan.

Hari ini adalah hari pertama dari sisa hidupnya yang baru. Dan ia siap menjalaninya bersama Yue'er.

Dan rumahnya adalah di samping Yue'er.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 85: LADY HONG BERKUNJUNG BAB 87: PERSIAPAN PERNIKAHAN →