📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 82: BELAJAR MENJADI NELAYAN

← BAB 81: KEMBALI SEBAGAI MANUSI… BAB 83: HARI-HARI BERSAMA YUE&… →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Pagi itu, ketika ayam jantan belum selesai berkokok untuk ketiga kalinya, Tianji sudah terbangun. Bukan karena ia ingin, melainkan karena Yue'er menyiram wajahnya dengan air dingin.

"Bangun, bangun! Kau pikir nelayan bisa bangun siang?" suara Yue'er bergema di seluruh gubuk.

Tianji terbatuk-batuk, mengusap air dari wajahnya. "Jam berapa ini?"

"Masih gelap. Tapi nelayan sudah harus melaut sebelum matahari terbit."

Aku sudah bukan pemilik MP yang bisa begadang semalaman tanpa tidur, keluh Tianji dalam hati. Ia bangun dengan tubuh terasa berat, tapi semangat di dadanya tetap berkobar. Hari ini adalah hari pertamanya belajar menjadi nelayan.

Yue'er sudah menyiapkan makanan pagi — nasi goreng dengan telur dan irisan mentimun. Tianji makan dengan cepat, lalu mereka berjalan menuju dermaga di mana Pak Karto sudah menunggu.

Pak Karto berdiri di samping perahunya — sebuah perahu kayu berukuran sedang dengan layar yang sudah tambal-sulam. Wajahnya keriput oleh garam dan matahari, namun matanya masih tajam seperti elang laut.

"Nah, kau datang," sapa Pak Karto. "Apa kau yakin mau belajar melaut? Ini pekerjaan berat."

"Aku yakin," jawab Tianji mantap.

"Bagus." Pak Karto menepuk pundaknya. "Naik."

Tianji melompat ke perahu. Tanpa MP, lompatannya hanya setinggi satu langkah biasa dan perahu bergoyang keras. Ia hampir jatuh, tapi Yue'er yang sudah duduk di buritan menahan lengannya.

"Hati-hati," bisik Yue'er.

Tianji tersenyum canggung. "Terima kasih."

Pak Karto tertawa. "Kau tidak setangkas dulu, Nak. Tapi tidak apa-apa. Semua butuh proses." Ia mendorong perahu, lalu melompat masuk dengan lincah. Tubuh tuanya ternyata masih sangat gesit.

Layar mulai dikembangkan, angin pagi menangkapnya, dan perahu meluncur meninggalkan dermaga. Desa Muara semakin kecil di kejauhan, berganti dengan hamparan laut lepas yang biru kehijauan.

Tianji menatap laut dengan perasaan campur aduk. Laut ini adalah tempat ia mendapatkan MP pertama kali. Laut ini juga tempat ia melepaskannya. Kini ia kembali sebagai manusia biasa, di atas perahu kayu yang berderit-derit, menuju tempat ikan-ikan berkumpul.

"Lihat itu," Pak Karto menunjuk sekelompok burung yang berputar-putar di kejauhan. "Di situlah ikan-ikan berkumpul. Burung-burung itu tahu. Nelayan juga harus tahu."

Tianji mengangguk. "Bagaimana cara mengetahuinya?"

"Pengalaman," jawab Pak Karto. "Tapi untuk pemula seperti kau, cukup ikuti burung-burung itu. Mereka tidak pernah salah."

Mereka berlayar ke arah burung-burung itu, dan beberapa saat kemudian, Pak Karto menurunkan jangkar. "Ini tempatnya. Sekarang, aku akan mengajarimu cara menjala."

Pak Karto mengambil jala ikan — jaring bundar yang ditenun dari tali nilon, dengan pemberat timah di sekelilingnya. "Jala ini harus dilempar dengan tepat. Lihat caraku."

Dengan gerakan yang sudah terlatih, Pak Karto memutar jala di atas kepalanya, lalu melemparkannya ke laut. Jala itu mengembang sempurna di udara, jatuh ke permukaan air dan tenggelam. Beberapa saat kemudian, ia menariknya kembali, dan di dalam jala itu bergelimpangan puluhan ikan kecil berwarna perak.

"Wah!" seru Tianji kagum.

"Kau coba sekarang."

Tianji mengambil jala yang lain. Jala itu lebih berat dari yang ia bayangkan. Dengan susah payah, ia mengangkatnya, lalu mencoba memutar seperti yang dilakukan Pak Karto. Tapi jalanya kusut, hanya jatuh tidak karuan di atas perahu.

"Tidak begitu," kata Pak Karto. "Kau harus memutar dari pinggang, bukan dari lengan. Gunakan tubuhmu, bukan hanya tanganmu."

Tianji mencoba lagi. Kali ini jalanya sempat mengembang sedikit, tapi pemberatnya mengenai kepalanya sendiri.

"Aduh!" Tianji mengusap kepalanya.

Yue'er tertawa terpingkal-pingkal di buritan. "Tianji, wajahmu! Kau kelihatan seperti orang bodoh!"

"Kau jangan ketawa!" Tianji menghela napas. "Ini sulit."

"Tentu sulit, baru pertama kali," kata Pak Karto. "Coba lagi."

Dan Tianji mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi. Puluhan kali ia mencoba, dan setiap kali hasilnya sama — jala kusut, pemberat melukai dirinya sendiri, atau jala jatuh ke laut tidak jauh dari perahu. Tangan dan lengannya sudah pegal luar biasa, keringat mengucur deras, dan matahari sekarang sudah naik cukup tinggi, memanggang kulitnya.

"Istirahat dulu," kata Pak Karto. "Kau harus belajar bertahap."

Tianji duduk di buritan, minum air dari kendi. Ia menatap jala ikan yang kusut di depannya. Dulu, saat memiliki MP, ia bisa melakukan apa pun dengan mudah. Gerakan-gerakan rumit hanyalah masalah mengontrol energi. Ia bisa belajar jurus pedang paling sulit dalam hitungan jam. Tapi kini, untuk melempar jala saja, ia sudah berjuang setengah hari.

"Frustrasi?" tanya Yue'er duduk di sampingnya.

"Sedikit," aku Tianji.

"Wajar. Tapi kau tidak boleh menyerah." Yue'er meraih tangannya. "Kau sudah melalui hal yang lebih sulit dari ini. Kehilangan MP. Pertempuran melawan Naga Laut. Menghadapi iblis-iblis di Lautan Kabut. Ini cuma jala ikan. Masih lebih mudah dari semua itu, kan?"

Tianji berpikir sejenak, lalu tertawa. "Kau benar. Ini cuma jala ikan."

"Tapi kau perlu istirahat. Tubuhmu butuh beradaptasi."

Setelah istirahat, Pak Karto tidak langsung menyuruh Tianji melempar jala lagi. Sebaliknya, ia mengajarinya cara menarik jala yang benar — gerakan yang ritmis, memanfaatkan berat badan, bukan hanya kekuatan lengan.

"Tarik dari sini," kata Pak Karto memegang pinggang Tianji. "Gunakan berat badanmu. Bukan lengan saja."

Tianji melakukan seperti yang diajarkan. Meskipun masih kaku, tapi kali ini gerakannya lebih teratur. Ia menarik jala yang sudah berisi ikan-ikan, merasakan beban itu di tangannya, merasakan tarikan dari dalam air.

"Bagus. Sekarang coba lempar lagi."

Tianji mengambil jala, mengatur napas, dan melemparkannya. Kali ini jalanya mengembang lumayan — tidak sempurna seperti Pak Karto, tapi sudah tidak kusut lagi. Jala itu jatuh ke laut dan tenggelam.

"Nah, itu lebih baik!" Pak Karto tersenyum. "Sekarang tarik!"

Tianji menarik jala dengan gerakan yang baru ia pelajari. Ia merasakan beban ikan-ikan yang terperangkap di dalamnya, dan perjuangan mereka untuk bebas. Dengan susah payah, ia menarik jala ke atas perahu, dan di dalamnya ada setidaknya sepuluh ikan berukuran sedang.

"Aku berhasil!" serunya.

Yue'er bertepuk tangan. "Bagus, Tianji! Awal yang baik!"

Untuk pertama kalinya, Tianji merasakan kebanggaan yang aneh. Bukan karena mengalahkan musuh kuat, bukan karena menguasai jurus pamungkas, tapi karena berhasil menangkap ikan dengan tangannya sendiri. Perasaan yang sulit dijelaskan — namun sangat manusiawi.

Mereka melaut sampai tengah hari. Tianji semakin mahir dalam melempar jala, meskipun kadang masih kusut. Pak Karto mengajarinya banyak hal — cara membaca angin, cara mengetahui apakah akan turun hujan dari warna langit, cara mengetahui lokasi ikan dari riak air, cara mengikat tali yang kuat, dan puluhan pengetahuan lain yang tidak akan pernah ia pelajari selama ia memiliki MP.

Dulu, saat Tianji memiliki kekuatan dewa, ia tidak pernah peduli pada hal-hal semacam ini. Ia terbang di atas laut, mencari musuh untuk dihancurkan, mencari kekuatan untuk diserap. Laut hanyalah medan pertempuran baginya. Kini, laut adalah kehidupan.

"Itu saja untuk hari ini," kata Pak Karto setelah mereka mendapatkan cukup banyak ikan. "Kau sudah belajar banyak untuk hari pertama."

"Terima kasih, Pak Karto," Tianji menunduk hormat.

"Jangan sungkan. Aku senang ada anak muda yang mau belajar melaut lagi. Anak-anak muda sekarang lebih suka kerja di kota." Pak Karto menghela napas. "Kalau begini terus, siapa yang akan meneruskan tradisi nelayan?"

"Tianji akan meneruskannya!" Yue'er menyela riang. "Dia pasti bisa menjadi nelayan hebat, kan, Pak Karto?"

"Bisa," jawab Pak Karto. "Asalkan tidak menyerah."

"Aku tidak akan menyerah," janji Tianji.

Mereka kembali ke desa saat matahari mulai condong. Ikan hasil tangkapan dibagi — sebagian untuk Pak Karto, sebagian untuk Tianji dan Yue'er, dan sebagian lagi dijual ke pasar desa. Tianji membantu menurunkan ikan dari perahu, membersihkannya, dan membawanya ke pasar.

Di pasar, Yue'er yang menjadi juru jualnya. Dengan mulutnya yang tidak pernah diam, ia dengan cepat menarik perhatian para pembeli.

"Ikan segar! Ikan segar! Baru ditangkap hari ini! Mau dibeli, Bu? Harganya murah, kualitas terjamin! Enak digoreng, enak dibakar, dimasak asam manis juga mantap!" Yue'er berteriak dengan semangat.

Tianji berdiri di sampingnya, tersenyum melihat kegesitan Yue'er. Gadis itu memang memiliki bakat alami dalam berdagang. Dalam waktu singkat, semua ikan mereka laku terjual.

"Hasilnya tujuh ribu rupiah," Yue'er menghitung uang dengan senang. "Kita beli beras, sayur, dan sedikit daging untuk besok. Sisa ditabung."

"Kau pandai sekali," puji Tianji.

"Tentu, kau pikir aku anak jalanan biasa?" Yue'er mendongak bangga. "Aku sudah berdagang sejak umur sepuluh tahun. Waktu itu aku berjualan kue keliling. Kadang dapat untung, kadang rugi. Tapi aku selalu bisa bertahan."

Malam harinya, Tianji duduk di beranda dengan tubuh yang benar-benar lelah. Otot-ototnya terasa seperti diremas, tangannya melepuh karena tali jala, dan punggungnya sakit karena terlalu lama membungkuk. Tapi di dalam hatinya, ada kebahagiaan yang tulus.

Hari ini ia tidak bertarung. Tidak membunuh. Tidak menyerap kekuatan. Ia hanya menangkap ikan.

Yue'er keluar dengan dua cangkir teh hangat dan duduk di sampingnya.

"Kau capek?" tanyanya.

"Sangat," jawab Tianji.

"Tapi kau senang."

"Iya."

Mereka minum teh bersama dalam diam. Bintang-bintang di langit sama indahnya seperti malam sebelumnya. Tapi bagi Tianji, malam ini terasa berbeda.

"Yue'er," panggilnya.

"Hm?"

"Aku ingin menjadi nelayan yang hebat."

Yue'er menoleh. "Itu bagus. Aku akan mendukungmu."

"Tapi bukan hanya untuk menangkap ikan," lanjut Tianji. "Aku ingin… hidup. Benar-benar hidup. Seperti orang biasa. Punya pekerjaan. Punya tujuan. Punya…"

Ia tidak bisa melanjutkan. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan.

Yue'er menatapnya, matanya berkilau diterangi cahaya bulan. "Punya apa, Tianji?"

"Punya… keluarga."

Kata itu menggantung di udara. Tianji merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berani mengatakannya, tapi tidak berani menatap Yue'er.

Yue'er diam cukup lama. Lalu, perlahan, ia meraih tangan Tianji.

"Kita sudah punya keluarga," katanya lembut. "Aku, kau, Nek Rukayah, Pak Karto, dan semua orang di desa ini. Keluarga tidak harus terikat darah, Tianji."

Tianji menatapnya. Matanya, yang selama ini sering kosong dan penuh beban, kini tampak basah.

"Terima kasih, Yue'er."

"Untuk apa?"

"Untuk tetap di sini."

Yue'er tersenyum, lalu menggenggam tangannya lebih erat.

Hari-hari berikutnya, Tianji terus belajar melaut. Setiap pagi ia bangun sebelum matahari terbit, pergi ke dermaga, dan melaut bersama Pak Karto. Setiap hari ia belajar hal baru — cara memancing dengan umpan, cara mengenali arus, cara memperbaiki jala yang sobek, cara membuat perahu tetap stabil di tengah ombak.

Tangannya semakin kuat. Otot-ototnya mulai terbentuk. Kulitnya menjadi lebih gelap karena sengatan matahari. Ia tidak lagi mudah lelah, dan lemparan jalanya semakin baik.

Pada hari kedelapan, Pak Karto berkata, "Kau sudah cukup mahir. Besok kau boleh melaut sendiri."

Tianji terkejut. "Sendiri?"

"Ya. Ambil perahuku yang kecil. Kau sudah siap."

Tianji merasa bangga, tapi juga cemas. Tanpa Pak Karto di sampingnya, ia harus mengandalkan dirinya sendiri sepenuhnya. Tidak ada yang bisa menolong jika terjadi sesuatu.

Malam itu, ia tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda menatap laut yang gelap, pikirannya berputar.

"Kenapa belum tidur?" suara Yue'er terdengar dari belakang.

"Aku tidak bisa tidur."

Yue'er duduk di sampingnya. "Kau cemas?"

"Besok aku melaut sendiri."

"Hanya itu? Kau pernah berhadapan dengan iblis-iblis paling kejam di Lautan Kabut. Ini cuma melaut biasa."

Tianji tersenyum. "Kau benar. Tapi dulu aku punya MP. Sekarang aku hanya punya tubuh ini."

"Dan tubuh itu sudah kuat," kata Yue'er. "Aku lihat sendiri bagaimana kau berubah dalam seminggu ini. Tanganku dulu gemetar saat aku lihat kau mengangkat jala. Sekarang kau melakukannya dengan mudah."

"Kau memperhatikanku?"

Yue'er tersipu. "A-aku hanya… ya, aku memperhatikan. Karena aku temanmu, tentu saja aku memperhatikan."

Tianji tertawa. "Baik. Besok aku akan buktikan bahwa aku bisa."

"Pasti bisa."

Keesokan paginya, Tianji melaut sendirian untuk pertama kalinya. Perahu kecil itu hanya cukup untuk satu orang, dengan satu dayung dan satu jala. Laut tenang, angin sepoi-sepoi.

Dengan hati-hati, Tianji mendayung perahunya ke tengah. Ia mencari burung-burung seperti yang diajarkan Pak Karto, lalu berhenti di tempat yang tepat. Ia mengambil jala, mengatur napas, dan melemparkannya.

Jala itu mengembang sempurna — seperti bola yang mekar di udara, lalu jatuh ke permukaan air dengan lembut. Ini adalah lemparan terbaik yang pernah ia lakukan.

Ia menarik jala. Beban di tangannya berat — lebih berat dari biasanya. Dengan susah payah, ia menariknya masuk ke perahu, dan di dalam jala itu ada puluhan ikan besar, gemuk-gemuk, berkilauan di bawah sinar matahari.

Tianji ternganga. "Aku… aku berhasil."

Ia duduk di perahu, memandangi hasil tangkapannya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa seperti seorang nelayan.

"Terima kasih, laut," bisiknya. "Terima kasih telah menerimaku kembali."

Ia pulang ke desa dengan senyum yang tidak bisa hilang dari wajahnya. Yue'er menyambutnya di dermaga dengan wajah cemas, tapi begitu melihat hasil tangkapan Tianji, cemasnya berubah menjadi kegembiraan.

"Wow! Banyak sekali!" Yue'er melompat-lompat. "Kau hebat, Tianji! Aku bangga padamu!"

"Bukan apa-apa," kata Tianji merendah, meskipun hatinya berbunga-bunga.

Penduduk desa yang melihat hasil tangkapan Tianji ikut memuji. Nek Rukayah keluar dari gubuknya, melihat ikan-ikan yang berkilauan, dan tersenyum bangga.

"Nak, kau sudah menjadi nelayan sungguhan," katanya.

Tianji tersenyum. "Terima kasih, Nek. Tapi ini baru awal."

Hari itu, Tianji merasakan pencapaian yang tidak kalah besarnya dari saat ia pertama kali menguasai kekuatan MP. Bukan karena ia menangkap banyak ikan, tapi karena ia telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa hidup tanpa bergantung pada kekuatan dewa.

Ia adalah manusia biasa.

Dan manusia biasa bisa menjadi hebat dengan cara mereka sendiri.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 81: KEMBALI SEBAGAI MANUSI… BAB 83: HARI-HARI BERSAMA YUE&… →