Matahari di ufuk timur menyemburatkan cahaya jingga keemasan, menerangi gubuk-gubuk bambu yang berjejer di sepanjang pesisir Desa Muara. Ombak kecil berkejar-kejaran di tepi pantai, meninggalkan buih putih yang segera lenyap ditelan pasir basah. Di sinilah, di desa nelayan yang sunyi ini, seorang pemuda berusia enam belas tahun bernama Tianji melangkahkan kaki untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan lamanya mengarungi lautan tak bertuan.
Ia berjalan dengan langkah yang tidak lagi ringan. Dulu, saat ia masih memiliki Mahkota Penyerap (MP) di dadanya, setiap langkahnya terasa seperti melayang di atas angin. Kini kakinya terasa berat, terhambat oleh gravitasi dunia biasa. Ia adalah manusia biasa sekarang — tanpa kekuatan, tanpa MP, tanpa apa pun yang membuatnya berbeda dari nelayan-nelayan Desa Muara yang lain.
Yue'er berjalan di sisinya, gadis delapan belas tahun berambut panjang yang diikat sederhana. Senyumnya merekah, namun di sudut matanya tersimpan semburat haru yang tidak bisa disembunyikan.
"Tianji," ucap Yue'er lembut, "kita sudah sampai."
Tianji menatap desa kecil itu. Gubuk-gubuk beratap rumbia, jala-jala ikan yang dijemur di halaman, perahu-perahu kayu yang tertambat di dermaga sederhana. Semuanya begitu akrab, namun terasa bagaikan mimpi. Ia sudah pernah kembali ke sini beberapa kali selama pengembaraannya, tapi kali ini berbeda. Kini ia tidak akan pergi lagi.
"Ya," jawab Tianji pelan, "kita pulang."
Suaranya masih sama — berat dan dalam untuk anak seusianya. Namun di dalam suara itu, tidak ada lagi getaran kekuatan yang dulu selalu menyertai setiap ucapannya. Kini ia hanya seorang pemuda biasa yang berbicara dengan suara pemuda biasa.
Penduduk desa mulai berdatangan. Seorang nenek tua berlari kecil menghampiri, diikuti oleh beberapa anak kecil yang penasaran.
"Tianji! Tianji pulang!" seru nenek itu.
"Nek Rukayah," sapa Tianji dengan suara serak.
Nenek Rukayah memeluknya erat. Tianji merasakan tubuh tuanya yang ringkih, tulang-tulang yang rapuh di bawah pelukan hangat itu. Dulu ia bisa merasakan apakah seseorang memiliki kekuatan batin hanya dengan sentuhan. Kini ia hanya merasakan kehangatan seorang nenek yang merindukannya.
"Kau kurus sekali, Nak," kata Nek Rukayah sambil memegang pipi Tianji. "Mata kau sayu. Apa yang terjadi?"
Tianji tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nek. Tianji hanya lelah."
Yue'er melangkah maju. "Nek, biar Tianji istirahat dulu. Perjalanan jauh sekali."
Nek Rukayah mengangguk, lalu menatap Tajam ke arah gubuk di ujung desa. "Aku sudah siapkan gubuk Pak Muryo. Sudah kubereskan sejak seminggu lalu. Setelah mendengar kalian akan pulang, aku langsung…" Nenek itu tiba-tiba berhenti, tenggorokannya tersekat. "Sudah, sudahlah. Mari, mari."
Mereka berjalan menuju gubuk itu. Gubuk bambu sederhana dengan dua kamar, sebuah dapur kecil, dan beranda depan yang menghadap ke laut. Dinding anyaman bambunya sudah mulai menguning termakan usia, namun lantainya disapu bersih. Di sudut ruang tamu, sebuah meja kayu bundar dengan tiga bangku. Di dinding, tergantung lukisan daun lontar yang sudah lusuh.
Tianji masuk dan duduk di bangku. Ia merasakan tubuhnya lelah luar biasa. Perjalanan dari Pelabuhan Timur memakan waktu tiga hari — dan tanpa MP, ia harus berjalan kaki, naik pedati, dan tidur di pinggir jalan seperti pengemis. Kini kakinya melepuh, dan bahunya pegal.
"Kau mau air?" tanya Yue'er.
Tianji mengangguk.
Yue'er mengambil gayung dan mengisinya dari tempayan di dapur. Airnya dingin dan segar. Tianji meminumnya dengan lahap. Dulu ia bisa menghirup kekuatan dari udara, menyerap energi alam tanpa perlu makan atau minum. Kini ia haus. Ia lapar. Ia lelah. Ia manusia biasa.
Dan entah mengapa, rasanya… indah.
"Yue'er," panggilnya.
"Hm?"
"Terima kasih."
Yue'er duduk di bangku di seberangnya. "Untuk apa?"
"Untuk semuanya." Tianji menatapnya. "Untuk tetap bersamaku. Untuk tidak meninggalkanku saat aku memutuskan untuk melepaskan MP."
Yue'er tersenyum. Tapi senyumnya tidak sempurna. Ada cemberut kecil di sudut bibirnya. "Dasar Tianji. Kalau kau pikir aku akan pergi hanya karena kau kehilangan kekuatan, kau meremehkanku."
"Aku hanya…"
"Kau hanya apa?" potong Yue'er. "Kau pikir Yue'er ini gadis macam apa? Gadis yang hanya tertarik pada kekuatan? Gadis yang akan lari saat keadaan sulit? Eh?"
Tianji tertawa kecil. "Maaf. Aku tidak bermaksud begitu."
"Kau memang tidak bermaksud begitu, tapi kau tetap berpikir begitu!" Yue'er berdiri, tangannya di pinggang. "Dengar, Tianji. Aku tidak peduli apakah kau punya MP atau tidak. Aku tidak peduli apakah kau bisa terbang atau tidak. Aku tidak peduli apakah kau bisa menghancurkan gunung dengan satu tangan atau tidak. Yang aku pedulikan hanya satu: kau hidup. Kau selamat. Kau di sini bersamaku."
Dia berhenti sejenak, lalu suaranya melembut. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak orang. Ibu. Ayah. Kakakku. Aku tidak mau kehilangan kau juga."
Tianji menunduk. Ucapan Yue'er menusuk hatinya. Ia ingat saat pertama kali bertemu Yue'er di pasar gelap — seorang gadis yatim piatu yang hidup dari mencuri untuk bertahan. Ia ingat bagaimana Yue'er selalu ceria di luar meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Ia ingat bagaimana Yue'er tetap tersenyum saat ia memutuskan untuk melepaskan kekuatannya.
"Yue'er," katanya, "aku janji. Aku tidak akan pergi."
"Kau sudah janji," Yue'er menjawab, "dan kau harus tepati."
"Baik."
Mereka terdiam cukup lama. Di luar, suara ombak dan teriakan burung camar terdengar jelas. Suara-suara yang dulu tidak pernah didengar Tianji dengan jelas karena indranya yang terlalu tajam sebagai pemilik MP. Kini ia bisa mendengar setiap helaan napas, setiap deburan ombak, setiap kicauan burung dengan cara yang berbeda — tidak lagi sebagai kekuatan yang perlu dianalisis, tetapi sebagai kehidupan yang perlu dinikmati.
"Yue'er," panggil Tianji lagi.
"Apa lagi?"
"Apakah kau menyesal?"
Yue'er menatapnya bingung. "Menyesal apa?"
"Menyesal ikut denganku ke sini. Ke desa terpencil ini. Meninggalkan kehidupanmu di kota."
Yue'er tertawa renyah. "Tianji, kehidupan macam apa yang kutinggalkan? Aku anak jalanan. Aku punya saudara perempuan bernama Xiao Hong yang mati di tanganku, aku punya ibu dan ayah yang mati karena penyakit, aku punya kakak yang hilang entah ke mana. Kehidupanku di kota adalah kehidupan yang menyedihkan. Jadi jangan tanya apakah aku menyesal."
"Aku hanya…"
"Kau hanya cemas. Itu karena kau manusia biasa sekarang." Yue'er duduk di sampingnya dan menyandarkan kepala di bahunya. "Manusia biasa itu cemas. Manusia biasa itu khawatir. Itu wajar. Tapi kau harus belajar. Aku akan mengajarimu."
"Ajari apa?"
"Ajari menjadi manusia biasa." Yue'er mendongak menatapnya. "Kau dulu punya kekuatan dewa, tapi kau tidak pernah benar-benar hidup sebagai manusia. Sekarang kau punya kesempatan. Jangan sia-siakan."
Tianji tersenyum. Senyum yang tulus, yang jarang muncul di wajahnya selama ini. "Baik. Aku akan belajar."
Malam itu, Nek Rukayah memasak ikan bakar dan sayur asem. Tianji makan dengan lahap — pertama kalinya ia menikmati makanan sebagai manusia biasa tanpa kekuatan yang mengurangi rasa. Dulu, saat memiliki MP, ia masih bisa makan, tapi rasanya hambar, bagaikan abu di mulut. Kini setiap gigitan terasa penuh cita rasa.
"Enak sekali, Nek," puji Tianji.
Nek Rukayah tersenyum bangga. "Kau dulu tidak pernah bilang begitu, Nak. Dulu kau makan seperti orang yang tidak merasa apa-apa."
"Aku memang tidak merasa apa-apa dulu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku merasa semuanya."
Nek Rukayah menatapnya, lalu matanya berkaca-kaca. "Kau telah berubah, Tianji. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu di lautan luas itu. Tapi kau telah menjadi lebih… hangat."
"Terima kasih, Nek."
Setelah makan, mereka duduk di beranda depan. Langit malam bertabur bintang, dan bulan sabit menggantung di atas laut yang tenang. Angin malam membawa aroma garam dan ikan. Tianji memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam.
Dulu, saat ia memiliki MP, ia bisa menyerap energi bintang-bintang dan bulan. Kini ia hanya bisa menikmatinya. Dan itu sudah cukup.
"Yue'er," katanya perlahan.
"Hm?"
"Aku tidak menyesal."
Yue'er menoleh. "Menyesal apa?"
"Melepaskan MP." Tianji membuka matanya dan menatap bintang-bintang. "Aku pikir aku akan menyesal. Aku pikir kehilangan kekuatan akan membuatku kosong. Tapi ternyata tidak. Aku merasa… bebas."
Yue'er meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Kau memang bebas sekarang, Tianji. Bebas untuk hidup. Bebas untuk menjadi manusia."
"Ya."
Mereka duduk bersama di beranda itu, ditemani suara jangkrik dan debur ombak, sampai akhirnya Tianji tertidur lelap di bahu Yue'er. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidurnya tidak terganggu oleh mimpi buruk atau bisikan kekuatan yang selalu memanggilnya.
Ia hanyalah seorang pemuda biasa yang kembali ke desanya.
Seorang pemuda yang akhirnya belajar untuk hidup.
Keesokan paginya, Tianji bangun dengan rasa segar yang aneh. Tubuhnya tidak lagi terasa ringan seperti dulu — tidak ada loncatan energi yang siap meledak di ujung jarinya. Sebaliknya, ia merasakan sakit di pinggang karena tidur terlalu lama di posisi yang salah, dan kakinya masih terasa pegal karena perjalanan kemarin. Tapi entah mengapa, rasa sakit itu terasa nyata. Terasa manusiawi.
"Ayo, bangun!" suara Yue'er terdengar riang di luar. "Kau pikir kau bisa bermalas-malasan? Ayo bantu aku memasak!"
Tianji mengucek mata, tersenyum. "Baik, baik, aku datang."
Ia berdiri, meregangkan tubuh, dan melangkah keluar. Matahari pagi menyambutnya dengan hangat. Yue'er sibuk di dapur, memotong sayuran dan menanak nasi. Melihat Tianji muncul, dia tersenyum lebar.
"Bagus, kau bangun! Sekarang ambil gayung, isi air ke tempayan."
Tianji mengerjap. "Kau suruh aku menimba air?"
"Ya, kau pikir air datang sendiri? Tubuhmu tidak akan bertambah kuat kalau kau hanya duduk-duduk saja. Ayo, gerak!"
Tianji menghela napas, lalu tertawa. Ia mengambil gayung dan berjalan ke sumur di belakang gubuk. Menimba air dari sumur ternyata tidak mudah — tangannya hampir terlepas dari tali, dan ember yang setengah penuh air terasa berat sekali. Dulu ia bisa mengangkat batu sebesar gunung dengan satu jari. Kini ia kesulitan mengangkat satu ember air.
"Kau lemah sekali!" Yue'er berteriak dari dapur. "Masa begitu saja tidak kuat!"
"Tenanglah, ini baru pertama kali!" balas Tianji sambil menghela napas.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya ia berhasil menimba air penuh dan menuangkannya ke tempayan. Tangan dan bahunya sudah pegal, tapi ada rasa puas yang aneh di dadanya. Ia telah melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri. Tanpa bantuan MP. Tanpa kekuatan supranatural. Hanya dengan tenaga tubuhnya sendiri.
"Ayo makan!" panggil Yue'er.
Mereka sarapan di beranda — nasi putih dengan telur dadar dan sambal terasi buatan Yue'er yang pedasnya menggigit lidah. Tianji makan dengan lahap, keringat bercucuran di dahinya karena sambalnya.
"Enak?" tanya Yue'er penuh harap.
"Enak," jawab Tianji sambil meniup-niup mulutnya yang pedas. "Tapi pedas sekali!"
"Pedas itu bikin semangat!" Yue'er tertawa. "Kau harus belajar makan pedas. Ini baru pertama kalinya kau makan sambal buatanku."
"Tapi ini sudah seperti makanan neraka," gerutu Tianji.
Yue'er mendengus. "Dasar lelaki tidak berguna. Makan saja."
Mereka habiskan sarapan dengan canda tawa. Penduduk desa yang lewat tersenyum melihat mereka — dua anak muda yang baru kembali ke desa, yang terlihat bahagia meskipun hidup sederhana.
Setelah sarapan, Tianji diajak keliling desa oleh Yue'er. Ia ingin mengenalkan Tianji pada kehidupan sehari-hari di Desa Muara — sesuatu yang dulu tidak pernah ia perhatikan karena pikirannya selalu dipenuhi oleh MP dan kekuatan.
Mereka berjalan melewati sawah, menghampiri petani yang sedang membajak, lalu ke tepi pantai melihat nelayan-nelayan yang memperbaiki jala.
"Ini Pak Karto," kata Yue'er memperkenalkan seorang lelaki tua berbadan kekar. "Beliau nelayan paling hebat di desa. Bisa menangkap ikan dua kali lipat dari yang lain."
Pak Karto tertawa. "Pujian dari Yue'er, aku tersanjung. Tapi yang hebat adalah dulu, sekarang sudah tua, tidak sekuat dulu."
"Nelayan?" Tianji mengerutkan kening. "Dulu ayahku juga nelayan."
"Nah, itu bagus!" Pak Karto menepuk pundak Tianji. "Kau bisa belajar dari aku. Tapi jangan berharap bisa langsung menjadi nelayan hebat. Butuh waktu. Butuh pengalaman."
"Aku mengerti."
Yue'er mencolek Tianji. "Kau pasti bisa. Aku percaya padamu."
Tianji menatap Yue'er, lalu tersenyum. "Ya. Aku akan belajar."
Di dalam hatinya, untuk pertama kalinya, ia merasa tenang. Tidak ada lagi beban untuk menjadi yang terkuat. Tidak ada lagi tanggung jawab untuk menyelamatkan dunia. Ia hanya seorang pemuda biasa di desa nelayan yang sunyi, yang ingin belajar hidup sebagai manusia biasa.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Malam harinya, saat mereka duduk di beranda, Yue'er tiba-tiba berkata, "Tianji, bagaimana perasaanmu sekarang?"
Tianji diam sejenak, merasakan hembusan angin malam di wajahnya, mendengar debur ombak di kejauhan. "Aku merasa… aku akhirnya hidup, Yue'er. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar hidup."
Yue'er tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Tianji.
"Kalau begitu," bisiknya, "selamat datang di kehidupan, Tianji. Selamat datang di dunia manusia biasa."