Mutiara hitam itu terus muncul dari dada Tianji perlahan, seperti bulan purnama yang naik dari balik cakrawala. Ia bersinar dengan cahaya gelapโcahaya yang menyerap semua cahaya di sekitarnya, membuat rongga pusaran terasa semakin gelap.
Yue'er menatapnya dengan napas tertahan. Mutiara itu sebesar kepalan tangan anak kecil, permukaannya halus mengkilap, tapi di dalamnya tampak ada sesuatu yang bergerakโseperti ribuan bayangan yang berputar dalam pusaran kecil.
"Ini dia," bisik Tianji, suaranya lemah. "Mutiara Penghancur. Sumber MP."
"Astaga," Yue'er berbisik. "Cantik… sekaligus mengerikan."
"Ia adalah kutukan yang terbungkus dalam keindahan," kata Tianji. "Seperti ular berbisa yang memiliki sisik berkilau."
Mutiara hitam itu terus naik. Kini setengahnya sudah keluar dari dada Tianji. Dan setiap sentimeter yang keluar, Tianji merasakan hidupnya ikut terkuras.
Wajahnya semakin pucat. Tubuhnya mulai gemetar. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Tahan, Tianji," Yue'er meremas tangannya. "Kau hampir berhasil."
"Aku… tidak tahu apakah aku bisa…" suara Tianji nyaris tidak terdengar. "Rasanya… seperti aku sekarat…"
"Kau tidak akan sekarat! Aku tidak akan membiarkanmu!" Yue'er mengeraskan genggamannya, mengalirkan Qi-nya lebih kuat ke tubuh Tianji. "Kita sudah sampai sejauh ini! Kau tidak boleh menyerah sekarang!"
Tapi Tianji merasakan kesadarannya mulai memudar lagi. Dunia di sekitarnya berputar, kabur. Ia bisa mendengar suara Yue'er, tapi suara itu terdengar seperti dari ujung terowongan yang panjang.
"Tianji! Dengar aku!" Yue'er menampar pipi Tianji dengan lembut. "Jangan kau berani-berani pingsan! Aku tidak bisa melakukan ini sendirian!"
"Maaf…" bisik Tianji. "Maaf telah membuatmu… repot…"
"Kau tidak merepotkan! Kau adalah beban yang paling berharga dalam hidupku!" Yue'er tertawa, tapi tawanya bercampur isak. "Jadi bertahanlah! Untukku!"
Tianji mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia memfokuskan pikirannya pada suara Yue'er, pada hangatnya tangan Yue'er, pada cinta yang mengalir di antara mereka.
Mutiara hitam itu terus naik. Kini hanya tinggal seujungโmasih menempel di dada Tianji seperti pusar yang menghubungkan bayi dengan ibunya.
Dan saat itulah MP itu melawan untuk terakhir kalinya.
Cahaya hitam meledak dari mutiara itu, menyelimuti Tianji dan Yue'er dalam kegelapan pekat. Tianji merasakan tubuhnya ditarikโditarik ke dalam mutiara itu, ke dalam dunia kegelapan di mana MP merajai segalanya.
"Tidak!" teriak Yue'er. Ia mencengkeram tangan Tianji lebih erat, tubuhnya bersandar ke belakang, berusaha menahan tarikan itu. "Aku tidak akan melepaskanmu!"
Pertarungan terakhir terjadi. Tianji berada di tengah, ditarik ke dalam mutiara oleh MP, sementara Yue'er berusaha menariknya kembali.
"Lepaskan aku!" teriak Tianji. "Kau akan ikut terseret!"
"Tidak!" Yue'er berteriak balik. "Aku sudah bilang! Aku tidak akan pergi! Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Mati konyol bersama tidak ada gunanya!"
"Biar aku yang memutuskan apa yang berguna!" Yue'er mengerahkan seluruh Qi-nya, seluruh tenaganya, seluruh keberaniannya. Tubuhnya bersinar dengan cahaya keemasanโcahaya yang sama yang dilihat Tianji di alam batin.
Dan dalam kilatan cahaya itu, Tianji melihat sesuatu.
Ia melihat Yue'er yang sebenarnyaโbukan sekadar gadis cerewet yang selalu menghiburnya, tapi seorang pejuang sejati. Seorang yang memiliki hati sebesar lautan, keberanian seluas langit, dan cinta yang tidak mengenal batas.
Itu memberinya kekuatan.
Dengan teriakan yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, Tianji menarik diriโmenarik tubuhnya, jiwanya, segalanyaโmenjauh dari mutiara hitam itu.
Dan dengan suara seperti kaca pecah, mutiara hitam itu terlepas sepenuhnya dari dadanya.
Cahaya meledak.
Bukan cahaya hitam, tapi cahaya putih yang menyilaukan. Rongga pusaran bergetar hebat. Air di dinding pusaran runtuh, jatuh ke dasar rongga seperti air terjun raksasa.
Tianji dan Yue'er jatuh, terseret arus air yang mengamuk. Tapi tangan mereka tidak terlepas. Tidak pernah terlepas.
Mutiara hitam itu jatuh ke dasar pusaran. Dan saat ia menyentuh air, terjadi sesuatu yang luar biasa.
Lautan berguncang.
Ombak raksasa terbentuk, menjulang tinggi, lalu runtuh dengan kekuatan yang luar biasa. Seluruh Lautan Kabut bergetar. Kabut yang selama ribuan tahun menyelimuti lautan ini mulai bergerakโbergerak menuju pusat pusaran, tersedot ke dalam mutiara hitam itu.
Dan mutiara hitam itu… ia tenggelam. Perlahan, ia turun ke kedalaman laut, membawa semua kabut, semua kegelapan, semua kutukan ke tempat di mana ia berasal.
"Lihat," Yue'er berbisik, suaranya penuh kekaguman.
Di atas mereka, langit terbuka. Kabut yang selama berhari-hari menyelimuti mereka akhirnya sirna. Matahari bersinar, memancarkan sinar keemasan yang menghangatkan.
Tianji dan Yue'er mengapung di permukaan laut, terombang-ambing oleh ombak yang perlahan mulai tenang. Di sekeliling mereka, perairan yang tadinya gelap dan misterius kini berubah menjadi biru jernih. Lautan Kabut, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, bebas dari kabut.
"Aku… aku bisa merasakannya," bisik Tianji, suaranya bergetar. "MP-nya… sudah pergi."
"Benarkah?" Yue'er menatap Tianji dengan mata berbinar.
Tianji mengangguk. Ia merasakan dadanyaโkosong. Tidak ada lagi energi gelap yang berputar di sana. Tidak ada lagi bisikan-bisikan yang memanggilnya di malam hari. Tidak ada lagi kekuatan yang mengalir di pembuluh darahnya.
Ia lemah. Sangat lemah. Tubuhnya terasa ringan, seperti sehelai daun yang siap diterbangkan angin.
Tapi ia tersenyum. Senyum yang lebar, tulus, bebas.
"Aku manusia biasa sekarang," katanya, dan ada kelegaan yang tak terhingga dalam suaranya. "Aku tidak punya kekuatan apa-apa lagi."
"Syukurlah," kata Yue'er, dan tiba-tiba ia menangis. Menangis tanpa bisa berhenti, air mata mengalir deras di pipinya. "Syukurlah… kau selamat…"
Tianji meraih Yue'er, memeluknya erat. Mereka berdua mengapung di laut, berpelukan di bawah sinar matahari yang hangat, tanpa MP, tanpa kekuatan, tanpa beban.
Hanya dua manusia biasa yang saling mencintai.
—
Berjam-jam kemudian, mereka ditemukan oleh sebuah kapal nelayan. Nelayan itu, seorang pria tua berjanggut putih, terkejut melihat dua anak muda yang mengapung di tengah laut tanpa perahu.
"Kalian dari mana?" tanya nelayan itu, matanya penuh curiga. "Tidak ada desa di sekitar sini."
"Kami tersesat," jawab Yue'er dengan cepat. "Perahu kami karam."
"Tidak ada perahu karam di sini," kata nelayan itu. "Lautan ini sepi. Tidak ada kapal yang berani mendekat karena kabut."
"Kabut?" Yue'er pura-pura bingung. "Kabut apa? Lautan ini cerah."
Nelayan itu mengerutkan kening. Ia menatap langit yang biru, laut yang jernih, lalu menggeleng. "Aneh. Sepanjang hidupku, Lautan ini selalu diselimuti kabut. Tapi hari ini… sepertinya keajaiban terjadi."
"Atau mungkin kutukan sudah berakhir," kata Tianji pelan.
Nelayan itu menatap Tianji dengan pandangan aneh. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia membantu mereka naik ke kapalnya, memberi mereka air minum dan selimut kering.
"Kampungku tiga hari ke selatan," kata nelayan itu. "Kau bisa istirahat di sana."
"Terima kasih," kata Tianji. "Kami sangat berhutang budi."
"Ah, tidak usah." Nelayan itu tertawa, memperlihatkan gigi yang ompong. "Di laut, kita semua saudara. Kau lihat seseorang dalam kesulitan, kau tolong. Itu aturan yang sudah ada sejak nenek moyang kita."
Tianji tersenyum. Ia suka aturan itu. Aturan sederhana dari manusia biasa.
Yue'er duduk di sampingnya, bersandar di bahunya. "Aku lelah," katanya, menguap. "Aku bisa tidur selama sebulan."
"Aku juga," kata Tianji. Tapi matanya tidak bisa tidur. Ia terus menatap lautโlaut yang begitu tenang, begitu damai, begitu biasa.
"Ini pertama kalinya aku melihat laut tanpa rasa takut," katanya tiba-tiba.
Yue'er mendongak. "Apa maksudmu?"
"Sejak MP merasuki tubuhku, laut selalu terasa seperti ancaman. Aku takut air, takut kedalaman, takut pada apa yang bisa kulakukan jika kekuatanku tidak terkendali. Tapi sekarang…" Ia menghela napas, menghirup udara laut yang asin. "Sekarang laut hanya laut. Indah, luas, dan damai."
"Kau juga damai," kata Yue'er. "Aku bisa merasakannya. Bahumu tidak tegang lagi. Dadamu tidak bergetar. Kau seperti… orang yang berbeda."
"Aku memang berbeda." Tianji menatap Yue'er. "Aku orang biasa sekarang. Mungkin aku tidak bisa melindungimu dari bahaya lagi."
"Kau sudah melindungiku," kata Yue'er. "Kau melindungiku dari kesepian. Dan itu lebih berharga dari semua kekuatan di dunia ini."
Tianji tersenyum. Ia membiarkan angin laut membelai wajahnya, membiarkan matahari menghangatkan kulitnya, membiarkan perasaan damai memenuhi hatinya.
Di suatu tempat, di dasar Lautan Kabut, Mutiara Penghancur bersinar redup, terkubur di kedalaman yang tidak akan pernah bisa dijangkau manusia. Suara-suara yang dulu memanggil Tianji kini menjadi bisikan yang tidak terdengar, terperangkap dalam kegelapan abadi.
Tapi di permukaan, kehidupan berjalan normal. Lautan biru terbentang. Burung camar terbang di langit. Dan dua orang muda duduk di kapal nelayan, menatap horizon dengan harapan baru.
"Ini bukan akhir," kata Yue'er tiba-tiba.
"Apa?"
"Ini bukan akhir cerita kita. Ini baru awal." Ia tersenyum, senyum yang sama yang pertama kali membuat Tianji jatuh cinta. "Aku belum setuju menjadi tetanggamu yang menjual sayur."
Tianji tertawa. Tawa yang ringan, bebas, seperti tawa orang yang tidak memiliki beban di pundaknya. "Kau masih ingat itu?"
"Tentu. Aku mengingat semua yang penting. Dan kau adalah yang paling penting di antaranya."
Tianji meraih tangan Yue'er, menggenggamnya erat. Ia tidak memiliki kekuatan MP lagi. Tapi genggaman tangannya terasa cukup kuatโcukup kuat untuk memegang tangan Yue'er, cukup kuat untuk menjalani hidup sebagai manusia biasa.
"Kalau begitu," katanya, "mari kita mulai hidup baru."
Yue'er tersenyum, tapi tiba-tiba matanya berkaca-kaca. "Tianji…"
"Kenapa menangis lagi?"
"Aku hanya…" Yue'er mengusap matanya. "Aku tidak percaya kita berhasil. Selama perjalanan ini, aku selalu berpura-pura kuat. Aku selalu bicara terus agar tidak sempat takut. Tapi di dalam hati, aku sangat takut. Takut kehilanganmu."
Tianji menarik Yue'er ke dalam pelukannya. "Kau tidak akan kehilangan aku. Aku di sini. Kita di sini. Bersama."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Yue'er, suaranya teredam di dada Tianji. "Kembali ke desa?"
"Entahlah. Aku belum punya rencana. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak punya beban. Aku tidak harus melawan MP, tidak harus menyelamatkan dunia, tidak harus menjadi pahlawan atau monster." Tianji tertawa pelan. "Aku hanya Tianji. Manusia biasa yang tidak punya pekerjaan."
"Aku juga tidak punya pekerjaan," kata Yue'er. "Kita sama-sama pengangguran."
"Pengangguran yang baru saja menyelamatkan dunia," tambah Tianji.
"Itu akan jadi cerita yang bagus untuk diceritakan ke anak cucu kita nanti."
Tianji tersipu. "Anak cucu? Kau sudah berpikir sejauh itu?"
"Tentu saja," jawab Yue'er tanpa malu. "Aku gadis yang suka merencanakan masa depan. Dan di masa depanku, ada kau."
Nelayan tua itu, yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari kejauhan sambil mengemudikan kapal, tiba-tiba berseru, "Hei, anak muda! Apa kau mau kerja di kapalku?"
Tianji dan Yue'er menoleh, terkejut.
"Aku mencari anak buah," kata nelayan itu. "Kapal ini terlalu besar untuk kujalankan sendiri. Dan kau kelihatan seperti orang yang butuh pekerjaan."
"Aku… aku tidak punya pengalaman melaut," kata Tianji.
"Tidak apa-apa. Semua orang belajar dari awal. Yang penting kau punya kemauan." Nelayan itu tersenyum. "Aku memberimu tempat tinggal, makan tiga kali sehari, dan upah lima keping perak setiap bulan. Bagaimana?"
Tianji menatap Yue'er. Gadis itu tersenyum lebar dan mengangguk.
"Aku terima," kata Tianji.
"Itu baru namanya anak muda!" Nelayan itu tertawa keras. "Anak buahku yang sebelumnya pensiun tahun lalu. Katanya ia ingin menghabiskan sisa hidupnya di darat, menanam sayur. Aku bilang, bodoh! Laut adalah kehidupan! Tapi sudahlah, itu urusannya."
"Aku bisa membantumu juga," tawar Yue'er. "Aku bisa memasak, membersihkan kapal, dan menjahit layar yang robek."
"Wah, kau benar-benar gadis yang berguna!" Nelayan itu mengangguk setuju. "Baik, kalau begitu kau bisa jadi juru masak di kapalku. Tapi jangan berharap gaji yang besar, ya?"
"Aku tidak butuh gaji besar," kata Yue'er. "Aku hanya butuh tempat di dekatnya."
Ia menunjuk ke arah Tianji, yang tersipu lagi.
"Ih, anak muda zaman sekarang," gumam nelayan itu, tapi matanya berbinar senang. "Baik, hari ini kita mulai kerja besok. Sekarang istirahat. Malam ini kita akan merayakan anggota baru di kapalku dengan pesta ikan bakar!"
Sinar matahari sore memantul di permukaan laut yang tenang. Kapal nelayan itu terus berlayar ke selatan, meninggalkan Lautan Kabut yang kini telah berubah menjadi lautan biasa. Tidak ada lagi kabut misterius yang menyelimuti. Tidak ada lagi suara-suara aneh yang memanggil dari kedalaman.
Di buritan kapal, Tianji dan Yue'er duduk bersandar, tangan mereka saling bertautan.
"Kau tahu," kata Yue'er, "hidup sebagai pelaut mungkin tidak seburuk yang kau bayangkan."
"Aku tidak pernah membayangkannya," jawab Tianji. "Aku tidak pernah membayangkan hidup sama sekali. Aku hanya berusaha bertahan dari hari ke hari."
"Sekarang kau bisa mulai membayangkan."
Tianji menatap laut. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Burung-burung camar terbang pulang ke sarang mereka. Ombak berbisik lembut di lambung kapal.
"Aku membayangkan kita berlayar ke pulau-pulau yang belum pernah dikunjungi orang," kata Tianji perlahan. "Melihat tempat-tempat baru. Bertemu orang-orang baru. Hidup tanpa beban."
"Itu terdengar indah," bisik Yue'er.
"Mungkin juga membosankan," Tianji tersenyum. "Setelah semua petualangan ini, hidup biasa mungkin terasa hambar."
"Tidak apa-apa. Hidup yang membosankan bersama orang yang tepat lebih baik daripada petualangan menegangkan sendirian."
Di laut, di bawah langit yang cerah, kapal nelayan itu terus berlayar ke selatan. Membawa dua orang yang telah melewati maut dan kembali sebagai manusia baru, siap menghadapi apapun yang kehidupan berikan.
Lautan Kabut tidak lagi berkabut. Mutiara Penghancur telah tenggelam. Tianji telah bebas.
**TAMAT BATCH 16 โ BERSAMBUNG**