📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 70: FINAL — PENYUCIAN LAUTAN

← BAB 69: KEKUATAN SEJATI BAB 71: KEMBALI KE JIANGHU →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Cahaya biru memenuhi seluruh altar pusat Makam Naga Laut. Bukan cahaya yang menyilaukan—bukan seperti kilat yang membutakan mata. Tapi cahaya yang hangat, lembut, seperti sinar matahari pagi yang merembes masuk melalui celah jendela. Cahaya yang membawa kedamaian, bukan kehancuran.

Lord Hitam, dalam bentuk raksasa kegelapannya, berhenti di tengah serangan. Tubuhnya yang hitam pekat mulai bersinar—bukan karena ia mengeluarkan Qi, tapi karena cahaya biru Tianji meresap ke dalam dirinya.

"Apa… apa yang kau lakukan padaku?!" raung Lord Hitam.

Tangannya—sebesar dayung kapal—terhenti beberapa jengkal dari wajah Tianji. Jari-jarinya yang hitam mulai berubah warna. Dari hitam pekat menjadi abu-abu. Dari abu-abu menjadi putih.

"Penyucian Lautan bukanlah teknik menyerang," kata Tianji, suaranya tenang di tengah pusaran cahaya. "Ia tidak menghancurkan. Ia memurnikan. Setiap partikel kegelapan dalam tubuhmu akan diubah kembali menjadi Qi murni."

"TIDAK! Aku tidak mau dimurnikan! Aku adalah kegelapan! Kegelapan adalah diriku!"

"Kau bukan kegelapan, Lord Hitam," kata Tianji. Matanya bersinar biru, tapi sorotnya penuh kasih sayang—seperti seorang tabib yang sedang merawat pasien. "Kau hanyalah manusia yang tersesat. Manusia yang dikuasai oleh ketakutan dan amarah. Kegelapan bukanlah dirimu—ia hanya topeng yang kau kenakan."

"Apa kau pikir kau mengenalku?! Aku sudah hidup seratus tahun! Aku sudah melihat lebih banyak dari yang bisa kau bayangkan!"

"Tapi kau belum pernah melihat ini," kata Tianji.

Ia mengangkat tangannya, dan dari telapak tangannya, ribuan percikan cahaya biru beterbangan—seperti kunang-kunang di malam hari. Percikan-percikan itu menyentuh tubuh raksasa Lord Hitam di setiap sudut. Dan di setiap tempat yang tersentuh, kegelapan itu berubah menjadi cahaya.

Lord Hitam menjerit. Bukan jeritan kesakitan—tapi jeritan yang aneh, campuran antara amarah dan… kelegaan. Seperti seseorang yang telah menahan napas selama seratus tahun, dan akhirnya bisa bernapas lega.

"Berhenti!" teriaknya. "Berhenti, kudengar!"

"Kenapa?" tanya Tianji. "Kenapa kau ingin bertahan dalam kegelapan? Apa yang kau dapatkan darinya?"

"KEKUATAN!" raung Lord Hitam. "Kegelapan memberiku kekuatan untuk membalaskan dendamku! Untuk menghancurkan mereka yang telah menghina aku!"

"Siapa yang menghinamu?"

Lord Hitam terdiam. Untuk sesaat, raungannya berhenti. Matanya yang merah menyala meredup.

"Aku… aku tidak ingat," bisiknya. "Sudah terlalu lama. Aku lupa siapa yang kudendami. Aku lupa kenapa aku marah. Yang aku ingat hanyalah… kegelapan. Dan kekuatan. Dan… dan…"

Ia berlutut. Tubuh raksasanya mulai menyusut—kembali ke ukuran manusia biasa. Tapi bukan hitam lagi. Tubuhnya kini berwarna abu-abu, seperti batu yang tertutup abu vulkanik.

"Aku lelah," katanya pelan. "Aku sangat lelah."

"Kau boleh beristirahat," kata Tianji. "Kau boleh melepaskan semua ini."

"Tapi aku sudah melakukan terlalu banyak kejahatan. Membunuh terlalu banyak orang. Menghancurkan terlalu banyak kehidupan. Tidak ada maaf untuk orang sepertiku."

"Maaf bukanlah sesuatu yang harus kau dapatkan dari orang lain," kata Xuan Qingzi, yang siluetnya masih melayang di atas altar. "Maaf adalah sesuatu yang harus kau berikan pada dirimu sendiri."

Lord Hitam menatap Xuan Qingzi. Matanya yang merah perlahan berubah menjadi cokelat—warna mata manusia biasa.

"Xuan Qingzi," bisiknya. "Selama seratus tahun aku membencimu. Aku mengutuk namamu setiap malam. Aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Tapi sekarang… sekarang aku hanya ingin kau tahu…"

"Apa?"

"Maafkan aku," kata Lord Hitam. Air mata mengalir di pipinya—air mata pertama dalam seratus tahun. "Aku sudah mengecewakanmu. Aku sudah menyia-nyiakan semua ajaranku."

Xuan Qingzi tersenyum—senyum yang penuh kasih sayang, seperti seorang ayah yang melihat anaknya pulang setelah bertahun-tahun merantau. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, muridku. Kau sudah menemukan jalan pulang. Itu yang terpenting."

"MURID?!" Yue'er terbelalak dari sudut ruangan. "Lord Hitam adalah murid Xuan Qingzi?!"

"Semua muridku tersesat suatu saat," kata Xuan Qingzi. "Tapi tidak semuanya bisa menemukan jalan pulang. Lord Hitam… dulu namanya adalah Liang Feng. Ia adalah muridku yang paling berbakat. Yang paling bersemangat. Tapi ambisinya terlalu besar. Ia ingin menguasai Teknik Penyerap Lautan sebelum waktunya, dan kegelapan di dalam fragmen pertama merasuki jiwanya."

"Aku pikir aku bisa mengendalikannya," kata Lord Hitam—Liang Feng—pelan. "Tapi kegelapan itu lebih kuat dari yang kukira. Ia menggerogoti pikiranku sedikit demi sedikit, sampai aku tidak bisa membedakan mana pikiran asliku dan mana bisikan kegelapan."

"Tapi sekarang kau sudah sadar," kata Tianji. "Kau sudah kembali."

Liang Feng menatap Tianji. Matanya kini jernih—bukan merah menyala. Wajahnya yang dulu menyeramkan kini terlihat tua dan letih, seperti seorang kakek yang telah melewati perjalanan panjang.

"Bocah," katanya. "Kau memiliki hati yang murni. Jangan biarkan siapa pun mengotorinya. Bahkan dirimu sendiri."

"Aku tidak akan," janji Tianji.

"Dan kau," Liang Feng menoleh ke arah Yue'er. "Jagalah dia. Ia akan menghadapi banyak cobaan di masa depan. Tapi denganmu di sisinya, ia akan bisa melewati semuanya."

Yue'er tersipu. "A-aku sudah tahu itu! Tidak perlu kau beri tahu!"

Liang Feng tertawa—tawa yang serak, tawa seorang lelaki tua yang sudah lama tidak tertawa. "Kau cocok dengannya. Sungguh."

Tubuh Liang Feng mulai bersinar. Bukan dengan cahaya biru—tapi dengan cahaya putih keemasan, seperti fragmen kelima. Cahaya itu memancar dari dalam dirinya, membersihkan sisa-sisa kegelapan yang masih menempel di jiwanya.

"Sudah waktunya," bisiknya. "Selamat tinggal, Xuan Qingzi. Selamat tinggal, Tianji. Selamat tinggal, gadis cantik."

"Tunggu!" Yue'er melangkah maju. "Aku Yue'er! Bukan 'gadis cantik'!"

Liang Feng tertawa lagi. "Maaf, Yue'er. Selamat tinggal."

Tubuh Liang Feng perlahan berubah menjadi partikel-partikel cahaya. Mereka beterbangan di udara—ribuan percikan emas yang menari-nari seperti kunang-kunang di malam musim panas. Lalu, seperti embusan angin yang lembut, mereka lenyap.

Kepergiannya tidak meninggalkan kehampaan. Ia meninggalkan kedamaian.

Xuan Qingzi menghela napas panjang—helaan napas yang mengandung seratus tahun kesedihan dan kelegaan. "Akhirnya, perdamaian. Liang Feng telah kembali kepada Sang Pencipta. Jiwanya telah terbebas dari belenggu kegelapan."

Tianji berdiri di tengah altar yang mulai runtuh. Fragmen kelima melayang di depannya, bersinar dengan tenang—bukan lagi bola cahaya, tapi sebuah kristal kecil berbentuk tetesan air, bening seperti embun pagi yang pertama.

"Kau berhasil, Tianji," kata Xuan Qingzi. "Kau telah menguasai Penyucian Lautan. Dan kau telah menyelamatkan tujuh lautan dari kegelapan."

"Tapi aku tidak melakukannya sendirian," kata Tianji, menatap Yue'er. Tanpa Yue'er, aku tidak akan bisa bertahan sampai di sini. Tanpa ajarannya, aku tidak akan pernah belajar tentang kekuatan sejati."

"Ajaranku?" Yue'er mengerutkan kening. "Aku tidak pernah mengajarkan apa pun padamu!"

"Kau mengajarkan tentang kesetiaan," kata Tianji. "Tentang keberanian untuk terus maju meski takut. Tentang… cinta."

Wajah Yue'er memerah seperti kepiting rebus. "A-aku tidak pernah mengajarkan hal seperti itu! Mana mungkin! Aku tidak tahu apa-apa tentang cinta!"

Tapi senyumnya tidak bisa menyembunyikan perasaannya.

Xuan Qingzi tersenyum melihat mereka. "Cinta adalah kekuatan terbesar di dunia ini, Tianji. Lebih besar dari lautan. Lebih besar dari langit. Ingatlah itu."

"Guru Besar," Tianji menatap siluet Xuan Qingzi yang mulai memudar. "Kau akan pergi?"

"Tugasku sudah selesai. Aku telah menemukan penerus yang layak. Seseorang yang tidak hanya kuat, tapi juga berhati murni. Sekarang, saatnya aku beristirahat dengan tenang."

"Tapi masih banyak yang harus aku pelajari!"

"Kau sudah mempelajari yang terpenting," kata Xuan Qingzi. "Bukan teknik, tapi hati. Sisanya… kau akan belajar sendiri dalam perjalanan hidupmu."

Siluet Xuan Qingzi perlahan memudar, seperti kabut pagi yang tersapu sinar matahari. "Jaga tujuh lautan, Tianji. Jaga Yue'er. Dan jaga dirimu sendiri."

Cahaya terakhir Xuan Qingzi lenyap, menyatu dengan fragmen kelima yang kini berada di genggaman Tianji.

Tianji menatap kristal kecil itu. Ia terasa hangat di telapak tangannya—seperti jantung yang berdetak.

"MAKAM INI AKAN RUNTUH!" Yue'er berteriak.

Air laut mengalir semakin deras dari celah-celah langit-langit. Retakan di dinding semakin lebar. Batu-batu besar mulai berjatuhan dari langit-langit. Seluruh Makam Naga Laut berguncang hebat, seperti raksasa yang sekarat.

"Ayo!" Tianji meraih tangan Yue'er.

Mereka berlari meninggalkan altar pusat. Tangga yang mereka lalui sebelumnya sudah dipenuhi air. Mereka harus berenang melewati lorong-lorong yang sempit. Yue'er hampir tersangkut di celah batu, tapi Tianji menariknya dengan sekuat tenaga.

"Ini dia!" Tianji melihat cahaya di ujung lorong.

Mereka melompat keluar dari mulut gua tepat saat seluruh tebing karang itu runtuh. Gelombang besar menghantam perahu Penyu Laut, tapi Tianji menggunakan tekniknya untuk menstabilkan perahu.

"KANAI!" Yue'er berteriak kegirangan, meski napasnya tersengal-sengal.

Mereka berbaring di geladak, basah kuyup, lelah luar biasa. Tapi keduanya tertawa—tertawa seperti anak kecil yang baru saja menyelesaikan permainan paling seru dalam hidup mereka.

"Kau tahu," kata Yue'er di sela-sela tawanya. "Kau benar-benar gila."

"Aku tahu."

"Tapi itulah kenapa aku menyukaimu."

Tianji menoleh, terkejut. Mereka sudah dua tahun bersama, melewati seribu bahaya, tapi Yue'er belum pernah mengucapkan kata-kata itu sejelas ini.

"Kau… menyukaiku?"

Yue'er memukul lengannya. "Jangan buat aku mengulang! Aku bilang suka, ya suka! Tapi jangan bikin besar kepala! Aku bilang suka, bukan cinta—meskipun sebenarnya… ah, sudahlah!"

Tianji tersenyum lebar. Ia meraih tangan Yue'er dan menggenggamnya erat.

"Aku juga menyukaimu, Yue'er. Sudah sejak pertama kali kita bertemu."

"Bohong! Waktu itu kau hampir mati!"

"Tapi aku masih ingat wajahmu saat kau menolongku. Cantik sekali. Seperti dewi laut."

Yue'er diam. Wajahnya merah padam. "K-kau ini! Belajar merayu dari mana?! Dasar murid Xuan Qingzi yang tidak tahu malu!"

Mereka tertawa lagi.

Di langit, matahari mulai terbit. Sinar keemasan menyinari lautan yang tenang. Burung-burung camar mulai beterbangan di atas mereka, menyambut hari yang baru.

Fragmen kelima di saku Tianji terasa hangat—seperti berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Yue'er."

"Apa?"

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya. Untuk tidak meninggalkanku. Untuk percaya padaku. Untuk… menjadi Yue'er."

Yue'er tersenyum—senyum yang tulus, yang jarang ia perlihatkan. "Kau juga, Tianji. Terima kasih sudah menjadi Tianji."

Perahu Penyu Laut berlayar ke arah timur, meninggalkan reruntuhan Makam Naga Laut di belakang. Di cakrawala, garis pantai mulai terlihat—daratan yang aman, tempat mereka bisa beristirahat dan memulai lembaran baru.

Tapi Tianji tahu bahwa perjalanannya belum berakhir. Teknik Penyucian Lautan masih baru. Fragmen kelima masih menyimpan banyak rahasia. Dan di tujuh lautan, masih ada misteri yang menunggu untuk diungkap.

Tapi untuk saat ini, ia akan menikmati kedamaian.

Dengan Yue'er di sisinya.

Dan dengan lautan yang kini telah suci, bebas dari cengkeraman kegelapan selamanya.

***

Di kejauhan, di atas bukit karang yang menjulang di ujung lautan, seorang lelaki tua berjubah putih berdiri. Janggutnya panjang, wajahnya penuh keriput. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kayu yang diukir dengan motif naga laut.

Ia tersenyum menatap perahu kecil di kejauhan.

"Kau melakukannya dengan baik, Tianji," bisiknya. "Xuan Qingzi pasti bangga."

Angin bertiup, dan lelaki tua itu lenyap—seperti kabut yang tersapu fajar.

Di atas perahu Penyu Laut, Tianji tiba-tiba menoleh ke belakang. Ia merasa seperti ada yang memperhatikannya. Tapi yang ia lihat hanyalah lautan luas yang tenang dan langit yang cerah.

"Apa?" Yue'er bertanya.

"Tidak," Tianji tersenyum. "Tidak ada."

Ia kembali bersandar, menutup matanya, dan mendengarkan deburan ombak yang menenangkan.

Perjalanan yang panjang telah berakhir.

Tapi yang lebih panjang baru akan dimulai.

Dan KISAH PENYERAP LAUTAN akan terus bergema di tujuh lautan, selama masih ada ombak yang memecah di karang, selama masih ada angin yang berhembus di layar, dan selama masih ada hati yang berani bermimpi.

=== TAMAT (SEMENTARA) ===

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 69: KEKUATAN SEJATI BAB 71: KEMBALI KE JIANGHU →