"Penyucian Lautan," Tianji mengulangi kata-kata Xuan Qingzi. "Aku belum pernah mendengar teknik itu sebelumnya."
"Karena teknik ini tidak pernah diajarkan," jawab Xuan Qingzi, siluetnya melayang di atas fragmen kelima. "Hanya ada dalam fragmen ini. Dan hanya pemilik fragmen yang bisa menggunakannya."
Lord Hitam meraung marah. "Jangan dengarkan dia, bocah! Dia hanya akan menjebakmu! Xuan Qingzi adalah penipu! Ia mengurungku di Lautan Kelam selama seratus tahun!"
"Kau diurung karena kau menyalahgunakan kekuatan fragmen," kata Xuan Qingzi tenang. "Kau ingin menguasai tujuh lautan. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
"AKU BERHAK ATAS KEKUATAN ITU! Aku yang menemukan fragmen pertama! Aku yang mempelajari rahasia Qi Lautan! Tapi kau merebut semuanya dariku!"
"Yang kau temukan bukanlah kekuatan," kata Xuan Qingzi. "Kau menemukan kegelapan. Dan kau membiarkannya merasuki dirimu."
Tianji berdiri di antara mereka. Meski tubuhnya lemah dan berlumuran darah, matanya masih bersinar dengan tekad baja.
"Aku tidak peduli dengan masa lalumu, Lord Hitam," katanya. "Yang aku pedulikan adalah masa depan. Masa depan di mana Yue'er dan aku bisa hidup dengan tenang. Masa depan di mana tujuh lautan tidak diteror oleh kegelapan. Dan untuk itu, aku harus menghentikanmu!"
"BOCAH SOMBONG!" Lord Hitam mengamuk.
Dari tubuhnya, kegelapan meledak ke segala arah. Seluruh altar pusat terguncang hebat. Pilar-pilar batu yang tersisa runtuh bagai batang padi diterpa angin topan. Air laut mulai mengalir deras dari celah-celah langit-langit, membanjiri lantai altar.
"Tianji!" Yue'er berteriak. "Makam ini akan runtuh! Kita tidak punya banyak waktu!"
Xuan Qingzi mengangguk tenang. "Kita harus segera menyelesaikan ini. Tianji, ulurkan tanganmu pada fragmen."
Tianji mengulurkan tangan kanannya. Fragmen kelima melayang mendekat—dan saat menyentuh telapak tangannya, ledakan cahaya putih keemasan memenuhi seluruh ruangan. Cahaya itu begitu terang hingga Yue'er terpaksa memejamkan mata. Bahkan Lord Hitam mundur beberapa langkah, terlindungi oleh kegelapan yang ia ciptakan.
Tianji merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan sekadar Qi—tapi sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih purba. Seperti lautan luas yang membentang tak bertepi di dalam pikirannya. Seperti jutaan bintang yang bersinar serentak di jiwanya. Ia bisa merasakan setiap tetes air di lautan di luar makam. Ia bisa merasakan setiap hembusan angin di permukaan. Ia bisa merasakan denyut naga laut yang tertidur di dasar palung.
"Apa… apa ini?"
"Ini adalah 'intisari' dari Teknik Penyerap Lautan," jelas Xuan Qingzi, suaranya bergema bagaikan lonceng di kuil. "Apa yang kau pelajari selama ini hanyalah kulit luarnya—seperti seorang anak yang bermain-main di tepi pantai, mengira ia telah menguasai seluruh lautan. Sekarang, kau akan belajar isinya yang sejati. Kau akan menyelam ke palung terdalam."
Xuan Qingzi mengangkat tangannya, dan di telapak tangannya muncul pusaran air kecil—murni, jernih, berkilauan seperti berlian cair.
"Selama ini, kau berpikir bahwa kekuatan sejati berasal dari menyerap Qi orang lain. Semakin banyak Qi yang kau serap, semakin kuat dirimu. Itu adalah pemikiran yang dangkal. Sama seperti seseorang yang mengira bahwa semakin banyak harta yang ia kumpulkan, semakin kaya ia. Tapi harta tidak membuat seseorang kaya—hati yang puaslah yang membuatnya kaya."
Tianji mendengarkan dengan saksama. Di telinganya, setiap kata Xuan Qingzi terasa seperti kidung suci yang meresap ke sumsum tulangnya.
"Kekuatan sejati," lanjut Xuan Qingzi, "bukanlah menyerap. Kekuatan sejati adalah melepas."
"Melepas?" Tianji bingung.
"Kau telah menyerap Qi dari banyak sumber—fragmen replika, musuh-musuh yang kau kalahkan, bahkan dari bayangan Lord Hitam yang palsu. Semua Qi itu adalah tamu asing dalam tubuhmu. Mereka bercampur dengan Qi aslimu, membuatnya keruh dan kotor. Seperti sungai yang tercemar oleh seribu jenis limbah. Untuk mendapatkan kekuatan sejati, kau harus membersihkan sungai itu hingga jernih kembali. Kau harus membuang semua sampah yang menumpuk."
"Membersihkan… dengan cara melepas semua Qi asing?"
"Tepat sekali. Kau harus mengosongkan cangkirmu sebelum kau bisa mengisinya dengan anggur terbaik."
Tianji terdiam. Pikirannya berputar bagaikan pusaran air. Selama dua tahun terakhir, ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerap Qi. Ia telah menghabiskan malam demi malam berlatih Teknik Penyerapan. Dan sekarang, Xuan Qingzi mengatakan bahwa semua usaha itu tidak hanya sia-sia—tetapi justru menjauhkannya dari kekuatan sejati.
"Tapi kalau aku melepas semua Qi asing," kata Tianji pelan, "aku akan menjadi lemah. Aku akan kembali seperti dua tahun lalu, saat aku masih menjadi bocah nelayan yang tidak tahu apa-apa."
"Kau pikir kekuatan ada pada kuantitas Qi?" Xuan Qingzi tersenyum—senyum yang bijaksana, seperti seorang kakek yang melihat cucunya bermain. "Kekuatan sejati bukan tentang seberapa banyak Qi yang kau miliki. Bukan tentang berapa banyak musuh yang telah kau kalahkan. Bukan tentang seberapa besar pusaran Qi yang bisa kau ciptakan. Kekuatan sejati adalah tentang kemurnian. Setetes air murni lebih berharga dari seribu tong air kotor. Sebuah mutiara kecil lebih berharga dari seribu karung pasir."
Yue'er yang mendengar percakapan itu dari kejauhan berteriak, "Tianji, jangan dengarkan dia! Kalau kau melepas semua Qi-mu, kau tidak akan bisa melawan Lord Hitam!"
"Yue'er," Xuan Qingzi menatapnya dengan lembut. "Kau mencintainya, bukan?"
Yue'er tersipu. "A-apa maksudmu?! Aku hanya tidak ingin dia mati konyol!"
"Kepercayaanmu padanya masih setengah-setengah," kata Xuan Qingzi. "Kau harus percaya sepenuhnya. Kalau tidak, kalian berdua akan binasa di sini."
Tianji menatap Yue'er. Matanya lembut tapi penuh keyakinan. "Yue'er, percayalah padaku."
Yue'er menggigit bibirnya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. "Kalau kau mati… aku akan marah. Aku akan mencarimu sampai ke alam baka dan memakimu habis-habisan."
Tianji tersenyum. "Aku janji tidak akan mati."
"Ia sudah berjanji sebagai pendekar," sahut Xuan Qingzi. "Janji seperti itu tidak bisa diingkari."
Tianji duduk bersila di lantai yang mulai digenangi air laut. Air itu dingin, mencapai lututnya. Ia memejamkan mata dan mulai mengatur napasnya—perlahan, dalam, teratur seperti debur ombak di pantai.
Lord Hitam menatapnya dengan curiga. "Apa yang sedang kau lakukan, bocah?"
Tianji tidak menjawab. Ia sudah tenggelam dalam konsentrasinya.
Di dalam tubuhnya, ia mulai merasakan Qi asing yang telah ia kumpulkan selama dua tahun terakhir. Ada Qi dari fragmen replika pertama—dingin dan asin, seperti air laut di musim dingin. Ada Qi dari Lord Hitam palsu—panas dan gelap, seperti bara api yang membara di dasar bumi. Ada Qi dari para bajak laut yang ia kalahkan di Lembah Kerang Berbisik—kasar dan liar, seperti angin badai. Dan masih banyak lagi.
Semua Qi itu kini terasa seperti beban. Seperti rantai yang mengikat jiwanya.
"Aku harus melepas semuanya," bisiknya.
Perlahan, ia mulai melepas Qi asing dari tubuhnya. Pertama, Qi Lord Hitam palsu—ia merasakan hawa panas dan gelap meninggalkan tubuhnya, seperti kabut hitam yang keluar dari pori-porinya. Kabut itu menari-nari di udara, lalu lenyap ditelan air laut.
Kedua, Qi dari fragmen replika—rasanya seperti air garam yang mengalir keluar dari setiap sendi, meninggalkan rasa hambar di mulutnya. Tubuhnya terasa lebih ringan.
Ketiga, Qi dari para bajak laut—kasar dan liar, keluar seperti angin kencang dari dalam dadanya.
Keempat, kelima, keenam… satu per satu, Qi asing meninggalkan tubuhnya. Setiap pelepasan terasa seperti mencabut duri dari daging. Sakit, tapi juga melegakan.
Tubuhnya terasa semakin ringan. Kosong. Seperti perahu yang dibuang semua muatannya, siap berlayar dengan kecepatan penuh.
Lord Hitam menyipitkan mata. "Qi-nya… berkurang. Semakin lama semakin lemah. Apa yang kau lakukan, Xuan Qingzi? Kau menghancurkan muridmu sendiri?"
"Diam dan saksikan," jawab Xuan Qingzi tenang. "Kau akan menyaksikan keajaiban."
"KEAJAIBAN?!" Lord Hitam tertawa mengejek. "Satu-satunya keajaiban yang akan kulihat adalah mayat bocah itu!"
Tianji tidak mendengar apa pun. Ia sudah berada di dalam dirinya sendiri, di ruang kosong yang sunyi senyap.
Di tengah kekosongan itu, ia mulai merasakan sesuatu. Seperti percikan api di malam yang gelap. Seperti bintang pertama yang muncul di senja hari.
Qi aslinya.
Qi yang sejak lahir sudah ada di dalam tubuhnya. Qi yang tidak pernah tercampur dengan apa pun. Qi yang murni, jernih, dan bersih.
Pada awalnya, Qi itu kecil—hanya setitik cahaya di tengah kegelapan. Tapi perlahan, ia mulai tumbuh. Bukan dari luar, tapi dari dalam. Dari sumsum tulangnya. Dari jantungnya. Dari lubuk jiwanya yang paling dalam.
Cahaya itu semakin besar. Semakin terang. Semakin hangat.
Tianji membuka matanya.
Matanya kini bersinar dengan cahaya biru muda—bukan biru laut yang gelap dan dalam, tapi biru langit yang cerah dan bersih. Bagaikan pecahan kristal yang diterpa sinar matahari. Qi di sekelilingnya berkilauan seperti jutaan mutiara yang bertebaran di udara.
"Aku… aku merasakannya," katanya pelan, suaranya bergema seperti lonceng perak. "Kekuatan sejati. Bukan menyerap. Bukan mengambil. Tapi… menjadi."
"Menjadi apa?" tanya Yue'er berbisik.
"Menjadi diriku sendiri. Sepenuhnya. Tanpa campuran apa pun."
Tianji berdiri. Air laut di sekelilingnya mulai berpusar—bukan pusaran yang menyerap, tapi pusaran yang memancarkan cahaya. Setiap gerakannya menciptakan riak cahaya yang menyebar ke seluruh ruangan.
Lord Hitam menatapnya dengan takjub dan marah bercampur menjadi satu. "Apa yang kau lakukan? Kau telah membuang semua Qi! Kau telah menjadi lemah! Aku bisa merasakannya—Qi-mu sekarang hanyalah setetes air dibandingkan lautan yang dulu kau miliki!"
"Kau benar," kata Tianji tenang. "Aku telah membuang semua Qi asing. Tapi aku tidak lemah. Aku baru saja menjadi kuat. Sangat kuat."
"Apa maksudmu?"
"Tahukah kau perbedaan antara setetes air murni dan seribu tong air kotor?" Tianji melangkah maju. Air di bawah kakinya berubah jernih—kegelapan yang mencemarinya lenyap. "Air kotor, meski banyak, tidak bisa memadamkan api. Tapi setetes air murni… bisa memadamkan api terbesar sekalipun, karena ia adalah esensi dari lautan itu sendiri."
"Apa kau pikir omong kosong filosofi itu bisa mengalahkanku?!" Lord Hitam meraung.
Ia mengangkat kedua tangannya. Dari seluruh penjuru ruangan, kegeladian mulai berkumpul—Qi hitam yang pekat dan beracun. Udara bergetar. Dinding-dinding yang tersisa berderak. Air laut di lantai mulai mendidih.
"Naga Kegelapan!" teriak Lord Hitam. "Keluarkan seluruh kekuatanmu!"
Dari punggung Lord Hitam, bayangan hitam raksasa mulai terbentuk—seekor naga yang terbuat dari kegelapan murni. Matanya merah menyala seperti bara api. Sisiknya hitam legam seperti lubang di dasar palung. Mulutnya menganga, memperlihatkan deretan gigi yang tajam seperti pisau belati.
Naga itu besar. Sangat besar. Ia memenuhi seluruh langit-langit makam yang runtuh. Kepalanya sebesar perahu, tubuhnya sepanjang kapal dagang.
"KALIAN AKAN KULAHAP!" raung Lord Hitam.
Tianji menatap naga itu tanpa rasa takut. Ia berdiri tegak di tengah air yang mulai naik, tubuhnya memancarkan cahaya biru yang tenang.
"Yue'er," katanya tanpa menoleh. "Mundurlah. Aku akan menghadapi ini sendirian."
"Tapi—"
"Percayalah padaku."
Yue'er menggigit bibirnya. Ia ingin membantah, ingin berteriak bahwa Tianji tidak bisa melawan sendirian. Tapi saat ia menatap mata Tianji—mata yang bersinar dengan keyakinan yang tak tergoyahkan—ia hanya bisa mengangguk.
"Hati-hati," bisiknya.
Ia mundur ke sudut ruangan, mencari tempat yang aman.
Naga kegelapan menyerang. Rahangnya terbuka lebar, siap menelan Tianji dalam satu suapan.
Tapi Tianji tidak bergerak. Ia hanya mengangkat satu tangan.
Dari telapak tangannya, cahaya biru muda memancar—bukan untuk menyerang, bukan untuk memblokir. Tapi untuk menyucikan.
Saat naga kegelapan menyentuh cahaya itu, sesuatu yang menakjubkan terjadi.
Naga itu tidak hancur. Ia tidak meledak. Ia tidak terbakar.
Ia berubah.
Kegelapan hitam pekat itu perlahan berubah menjadi putih. Qi hitam berubah menjadi Qi murni yang tidak berbahaya. Naga kegelapan yang mengerikan itu… menjadi naga cahaya yang indah.
"Apa?!" Lord Hitam terbelalak. "Qi-ku… kau… kau memurnikannya?"
"Penyucian Lautan," kata Tianji, suaranya tenang tapi bergema di seluruh ruangan. "Teknik yang diajarkan oleh Guru Besar Xuan Qingzi. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk memurnikan. Bukan untuk menyerap, tapi untuk melepas. Bukan untuk mengambil, tapi untuk memberi."
"TIDAK MUNGKIN!" Lord Hitam mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat—untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya. "Tidak mungkin… kau hanyalah bocah ingusan yang baru belajar Qi selama dua tahun! Tidak mungkin kau bisa menguasai teknik yang bahkan tidak bisa dikuasai Xuan Qingzi!"
"Guru Besar tidak mengajarkanku dengan kata-kata," jawab Tianji. "Ia mengajarkanku melalui fragmen. Dan melalui Yue'er yang selalu percaya padaku."
Lord Hitam menggertakkan giginya. "Percintaan murahan! Aku akan menghancurkanmu!"
Ia mengumpulkan seluruh Qi-nya—semua kegelapan yang ia miliki selama seratus tahun. Tubuhnya mulai membesar, berubah menjadi raksasa hitam yang tingginya mencapai langit-langit.
"Ini adalah bentuk asliku!" raungnya. "Kegelapan murni! Tidak ada yang bisa memurnikan kegelapan sejati!"
Tianji menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan Qi murni di dalam tubuhnya berdenyut—seperti jantung kedua yang berdetak seirama dengan lautan di luar.
"Kegelapan sejati atau bukan," katanya. "Aku akan menyucikannya. Demi tujuh lautan. Demi Yue'er. Dan demi diriku sendiri."
Cahaya biru di tubuhnya semakin terang. Seluruh altar pusat diterangi oleh sinar itu—bukan sinar yang menyilaukan, tapi sinar yang hangat dan menenangkan, seperti fajar yang memecahkan malam.
Lord Hitam menyerang. Seluruh tubuh raksasanya melesat ke arah Tianji, kegeladian mengikutinya seperti ekor komet.
Dan Tianji mengangkat kedua tangannya, siap untuk pertarungan terakhir.
"PENYUCIAN LAUTAN!"
Cahaya biru meledak dari tubuhnya, memenuhi seluruh ruangan.
Di sudut, Yue'er menutup matanya, berdoa dalam hati.
"Tianji… kumohon… selamatlah…"