📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 68: PERTARUNGAN DI ALTAR

← BAB 67: KE MAKAM LAGI BAB 69: KEKUATAN SEJATI →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Api hitam menyambar dari tangan Lord Hitam, membelah udara dengan suara mendesis seperti ular raksasa. Tianji berguling ke samping, menghindari serangan itu, tapi panasnya tetap terasa membakar kulitnya.

"Kau lincah, Penyerap Lautan," Lord Hitam tertawa. "Tapi kelincahan saja tidak cukup."

Lord Hitam melesat maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk tubuh sebesar itu. Telapak tangannya yang hitam pekat menuju dada Tianji. Tianji menyilangkan tangannya untuk memblokir, tapi kekuatan pukulan itu seperti diseruduk kapal perang.

Tianji terpental ke belakang, punggungnya menghantam salah satu pilar batu. Batu itu retak. Darah mengalir dari sudut mulutnya. Ia merasakan tulang rusuknya retak—setidaknya dua atau tiga.

"TIANJI!" Yue'er melompat maju, pedangnya menebas ke arah Lord Hitam dengan kemarahan yang membara.

Tapi Lord Hitam hanya mengangkat satu jari. Dari ujung jarinya, sebuah bola hitam kecil melesat—mengenai pedang Yue'er dan membuatnya hancur berkeping-keping. Pecahan pedang beterbangan di udara, berkilauan seperti bintang jatuh sebelum jatuh ke lantai. Yue'er terpental, tangannya gemetar hebat. Darah mengalir dari jari-jarinya.

"Yue'er, jangan!" Tianji berteriak. "Dia terlalu kuat. Kau harus mundur."

"Tidak mungkin!" Yue'er bangkit berdiri, meski pedangnya sudah hancur menjadi pecahan tak berguna. "Kau pikir aku akan lari dan meninggalkanmu? Ingat waktu di Lembah Kerang Berbisik, kau hampir mati dan aku menggendongmu sejauh sepuluh li! Sekarang giliranku untuk bertarung!"

Lord Hitam tertawa lagi. "Mengharukan. Benar-benar mengharukan. Cinta sejati di tengah kegelapan makam. Tapi cinta tidak akan menyelamatkan kalian."

Ia mengangkat kedua tangannya. Dari lantai, kegelapan mulai naik—seperti kabut hitam yang merayap ke atas. Kabut itu membentuk puluhan tangan hitam yang meraih ke arah Tianji dan Yue'er.

"Serangan Bayangan Seribu Tangan," kata Lord Hitam. "Teknik yang telah kusempurnakan selama seratus tahun. Mari kita lihat bagaimana kalian menghindarinya."

Tangan-tangan hitam itu menyerang dari segala arah. Tianji bergerak cepat, menghindari dan memblokir. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Satu tangan hitam meraih kakinya, membuatnya tersandung. Yang lain meraih tangannya, menariknya ke bawah.

Yue'er juga kewalahan. Ia menendang tangan-tangan hitam itu, tapi mereka terus muncul dari lantai—tanpa henti.

"Kita perlu… strategi…" Tianji terengah-engah.

"Strategi apa?!" Yue'er berteriak, sambil menendang satu tangan hitam. "Dia terlalu kuat!"

Tianji memejamkan mata sejenak. Ia merasakan Qi di sekelilingnya. Lord Hitam menggunakan Qi kegelapan untuk menciptakan tangan-tangan itu. Tapi Qi kegelapan bisa diserap.

"Teknik Penyerapan!" Tianji mengaktifkan kemampuannya.

Dari tangannya, pusaran Qi mulai terbentuk. Tangan-tangan hitam yang mendekatinya mulai tersedot ke pusaran itu, Qi mereka diserap ke dalam tubuh Tianji.

Tapi sesuatu yang aneh terjadi. Saat Qi hitam masuk ke tubuhnya, Tianji merasakan hawa dingin yang menusuk. Pikirannya menjadi gelap untuk sesaat. Dan di dalam kepalanya, ia mendengar bisikan: "Kau menyukainya, kan? Kekuatan ini. Kegelapan ini. Kau ingin lebih banyak lagi…"

Tianji membuka matanya dengan paksa. Ia menghentikan penyerapannya.

"Apa yang terjadi?" Yue'er bertanya.

"Qi hitam… ia mencoba memengaruhiku. Mengotori pikiranku."

Lord Hitam tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja. Fragmen yang kauserap selama ini adalah replika—jiwanya kosong. Tapi Qi kegelapan sejati, yang berasal dari kedalaman Lautan Kelam, adalah Qi yang hidup. Ia akan merasuki siapa pun yang menyerapnya. Kecuali… kau sudah menjadi bagian darinya."

"Kau gila," Tianji memuntahkan darah. "Aku tidak akan pernah bergabung denganmu."

"Maka kau akan mati di sini."

Lord Hitam menghentikan Serangan Bayangan Seribu Tangan. Ia tertawa puas melihat Tianji dan Yue'er yang kelelahan. "Kau pikir teknik penyerapanmu bisa bekerja padaku, bocah? Qi kegelapan yang aku miliki bukanlah Qi biasa. Ia adalah Qi dari Lautan Kelam—lautan tempat para dewa dikutuk. Setiap butir Qi-nya mengandung racun yang akan merasuki siapa pun yang menyentuhnya."

Tianji merasakan hawa dingin menjalari tubuhnya. Qi hitam yang sempat ia serap mulai bergerak di dalam tubuhnya, seperti ular yang melilit organ-organnya. Ia berusaha mengeluarkannya, tapi Qi itu seperti duri yang mencengkeram.

"Apa yang terjadi?" Yue'er bertanya cemas.

"Qi hitam ini… mencoba meracuniku," Tianji terbatuk. Darah hitam keluar dari mulutnya.

Lord Hitam tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja. Fragmen yang kauserap selama ini adalah replika—jiwanya kosong, tidak berbahaya. Tapi Qi kegelapan sejati, yang berasal dari kedalaman Lautan Kelam, adalah Qi yang hidup. Ia memiliki kesadarannya sendiri. Ia akan merasuki siapa pun yang menyerapnya. Kecuali… kau sudah menjadi bagian darinya."

"Teknik Pemusnahan Lautan," katanya pelan. "Teknik pamungkas yang menghancurkan segala sesuatu dalam radius satu li. Kalian tidak akan bisa bertahan."

"Yue'er," Tianji meraih tangannya. "Kita harus menggabungkan Qi kita."

"Apa maksudmu?"

"Kita berdua punya Qi yang berbeda. Aku punya Qi Lautan—hasil dari fragmen replika. Kau punya Qi Langit—warisan dari gurumu. Kalau kita gabungkan, mungkin kita bisa menahan serangannya."

Yue'er ragu. "Tapi kita belum pernah melakukannya sebelumnya. Kalau Qi kita bertabrakan…"

"Lebih baik mati bersama daripada mati sendirian."

Yue'er tersenyum getir. "Kau selalu punya cara untuk membuatku setuju."

Mereka berpegangan tangan. Tianji mengalirkan Qi Lautan dari tubuhnya ke Yue'er, dan Yue'er mengalirkan Qi Langit ke Tianji. Dua energi yang berbeda itu bertemu—seperti air dan api, seperti laut dan langit.

"AKHIRI!" Lord Hitam melepaskan bola hitamnya.

Dan Tianji serta Yue'er mengeluarkan Qi gabungan mereka—pusaran biru keemasan yang berputar di depan mereka.

Dua kekuatan bertabrakan di tengah ruangan. Ledakannya begitu dahsyat hingga seluruh Makam Naga Laut bergetar. Pilar-pilar batu runtuh. Langit-langit retak. Dan dari celah-celah itu, air laut mulai merembes masuk.

Saat debu mereda, Tianji dan Yue'er masih berdiri—tapi tubuh mereka penuh luka. Pakaian mereka robek, darah mengalir dari banyak tempat.

Lord Hitam masih berdiri dengan kokoh. Ia memang terkejut bahwa mereka bisa menahan serangannya, tapi ia tidak terluka.

"Menarik," katanya. "Kombinasi Qi Lautan dan Qi Langit. Tak kusangka kalian bisa melakukannya. Tapi itu hanya membuatku semakin tertarik."

Lord Hitam melangkah maju. Ia mengangkat tangannya, dan kegelapan di sekelilingnya mulai mengental—membentuk pedang hitam yang panjangnya dua meter.

"Ini adalah Bayangan Naga Hitam, pedang yang terbuat dari kegelapan murni. Setiap tebasannya akan memotong Qi, merobek jiwa, dan menghancurkan harapan. Kalian tidak punya senjata yang bisa menandinginya."

Yue'er memungut pecahan pedangnya yang hancur. "Aku masih punya rasa percaya diri."

"Aku juga," Tianji berdiri di sampingnya. "Selama kita bersama, tidak ada yang tidak mungkin."

Lord Hitam mengayunkan pedangnya. Gelombang hitam melesat ke arah mereka, seperti bulan sabit raksasa yang ingin menelan segalanya.

Tianji dan Yue'er bergerak ke arah yang berlawanan. Tianji melepaskan tembakan Qi dari telapak tangannya, sementara Yue'er melemparkan pecahan pedangnya dengan kekuatan penuh.

Serangan mereka mengenai Lord Hitam—tapi hanya membuatnya tersenyum. "Lucu. Kalian pikir mainan-mainan ini bisa melukaiku?"

Ia menghilang dalam kegelapan, lalu muncul kembali di belakang Yue'er. Pedang hitamnya menebas.

"YUE'ER!" Tianji berteriak.

Tapi Yue'er sudah bergerak secara naluriah. Ia merunduk, lalu berputar, menendang pergelangan tangan Lord Hitam. Tendangannya tepat sasaran—untuk sesaat, pedang hitam itu terguncang.

"Itu dia!" Yue'er berseru. "Pergelangan tangannya adalah titik lemahnya!"

Tianji segera memanfaatkan celah itu. Ia melesat maju, telapak tangannya penuh Qi, dan memukul pergelangan tangan Lord Hitam dengan sekuat tenaga.

Lord Hitam meringis—untuk pertama kalinya, ia menunjukkan rasa sakit. Pedang hitamnya terlepas dan jatuh ke lantai, lalu lenyap dalam kepulan asap.

"Kurang ajar!" Lord Hitam marah. "Kalian berani melukaiku!"

Ia mengamuk. Dari tubuhnya, ribuan duri hitam keluar, menusuk ke segala arah. Tianji dan Yue'er berlari menghindar, tapi duri-duri itu terus mengejar.

Tianji merasakan satu duri menembus bahunya. Rasa sakit yang luar biasa menjalari tubuhnya. Tapi ia tidak berhenti.

"Aku harus… sampai ke altar…" gumamnya.

Fragmen kelima masih melayang di atas altar. Dalam kekacauan pertempuran, tidak ada yang memperhatikannya. Tapi Tianji tahu—kunci untuk mengalahkan Lord Hitam mungkin ada di fragmen itu.

"Yue'er, alihkan perhatiannya!"

"Baik!"

Yue'er berlari ke arah yang berlawanan, berteriak dan melempari Lord Hitam dengan bebatuan. Lord Hitam teralihkan—ia mengejar Yue'er, tangannya meraih.

Tianji memanfaatkan kesempatan itu. Ia berlari menuju altar dengan cepat, meski tubuhnya penuh luka. Darah mengalir dari bahunya, tapi ia tidak peduli.

Saat ia tiba di altar, ia mengulurkan tangannya ke arah fragmen.

Tapi fragmen itu bergerak—menghindari sentuhannya.

"Apa?"

Fragmen kelima melayang menjauh dari altar, bergerak dengan sendirinya. Dan dari dalamnya, sebuah suara terdengar—lembut, tua, dan bijaksana.

"Tidak begitu cepat, anak muda."

Tianji tertegun. "Siapa… siapa itu?"

"Aku yang menciptakan fragmen ini. Aku adalah Xuan Qingzi."

Dari dalam bola cahaya putih keemasan, siluet seorang lelaki tua muncul. Jubah putihnya berkibar-kibar, janggutnya panjang, wajahnya penuh keriput tapi bijaksana. Ia memandang Tianji dengan senyum tipis.

"Guru Besar!" Tianji berlutut. "Tapi… tapi bukankah Guru Besar sudah meninggal seratus tahun lalu?"

"Tubuhku sudah tiada," jawab Xuan Qingzi. "Tapi jiwa dan kesadaranku masih tersimpan dalam fragmen ini. Aku tahu kau akan datang, Tianji. Aku sudah menunggu saat yang tepat."

Lord Hitam berhenti mengejar Yue'er saat melihat siluet Xuan Qingzi. Matanya yang hitam membesar.

"Xuan Qingzi!" raungnya. "Masih hidup!"

"Lord Hitam," Xuan Qingzi menatapnya dengan tenang. "Sudah seratus tahun, dan kau masih saja terobsesi pada kekuatan. Tidakkah kau lelah?"

"LELAH?!" Lord Hitam berteriak. "Kau yang menyeretku ke dalam kegelaran ini! Kau yang mengurungku di dasar Lautan Kelam! Aku akan membalaskan dendamku!"

"Dendam hanya akan menghancurkan dirimu sendiri," kata Xuan Qingzi.

Tapi Lord Hitam sudah tidak mau mendengarkan. Ia melesat ke arah Tianji dan Xuan Qingzi dengan kecepatan penuh.

"Awas!" Xuan Qingzi mendorong Tianji ke samping.

Lord Hitam menabrak Xuan Qingzi—tapi tubuh siluet itu hanya bergetar. Ia tidak terluka.

"Kau tidak bisa menyentuhku," kata Xuan Qingzi. "Aku bukan lagi makhluk fisik. Tapi kau, Tianji… kau bisa mengalahkannya."

"Aku?" Tianji terkejut. "Tapi kekuatanku sudah habis. Qi-ku—"

"Qi-mu tidak habis. Hanya kau yang belum tahu cara menggunakannya sepenuhnya. Fragmen replika yang kauserap memang palsu—tapi Qi Lautan di dalamnya adalah asli. Dan dengan fragmen kelima yang asli, kau bisa menggabungkan semuanya."

"Tapi bagaimana caranya?"

Xuan Qingzi tersenyum. "Ada satu teknik yang belum pernah kuajarkan pada siapa pun. Teknik yang hanya bisa digunakan oleh pemilik fragmen kelima. Teknik itu bernama… Penyucian Lautan."

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 67: KE MAKAM LAGI BAB 69: KEKUATAN SEJATI →