Terowongan di bawah tebing karang itu gelap dan lembab. Udara di dalamnya berat, seperti ada tangan-tangan tak kasat mata yang menekan dada setiap kali melangkah. Tianji memimpin di depan, tangannya memegang obor kecil yang menyala remang-remang, sementara Yue'er mengikuti dari belakang dengan waspada.
"Ini… tempat yang sama seperti dua tahun lalu," gumam Yue'er. "Tapi rasanya berbeda. Lebih gelap. Lebih… menekan."
"Aku merasakannya juga," Tianji mengangguk. "Sepertinya Lord Hitam sudah mulai memanipulasi Qi di sekitar makam. Energi kegelapan meresap ke setiap sudut."
Mereka berjalan lebih dalam. Dinding terowongan dipenuhi ukiran kuno—gambar naga laut yang sedang berperang, gambar manusia yang berlutut di depan altar, dan tulisan-tulisan dalam aksara kuno yang tidak bisa Tianji baca.
"Tulisan ini…" Yue'er menyipitkan mata. "Ini bahasa pendekar Lautan Tua. Aku hanya bisa membaca sedikit. Tapi sepertinya ini adalah peringatan."
"Peringatan tentang apa?"
"'Siapa yang mencari fragmen kelima harus bersiap menghadapi kematian. Fragmen bukanlah anugerah—ia adalah kutukan. Ia akan mengubah pemiliknya menjadi lebih dari manusia, atau menghancurkannya menjadi debu.'"
Tianji berhenti melangkah. "Kutukan?"
"Itu hanya tulisan kuno," Yue'er mencoba tenang. "Mungkin hanya untuk menakut-nakuti pencari harta karun."
"Tapi Xuan Qingzi sendiri yang menciptakan fragmen ini," kata Tianji pelan. "Guru besar tidak akan menciptakan sesuatu yang jahat. Mungkin… maksudnya adalah bahwa kekuatan fragmen harus digunakan dengan hati yang murni. Kalau jatuh ke tangan yang salah, ia akan menjadi kutukan."
"Kau selalu melihat sisi positif dari segala hal," Yue'er tersenyum getir. "Tapi kali ini, aku setuju. Xuan Qingzi pasti punya tujuan baik."
Mereka melanjutkan perjalanan. Setelah berbelok beberapa kali, terowongan tiba-tiba melebar—dan di depan mereka terbentang sebuah ruangan besar yang diterangi oleh cahaya biru dari seribu kristal yang menempel di langit-langit.
"Selamat datang di Aula Seribu Kristal," suara bergema dari segala arah. "Ini adalah ruang pertama dari tiga ruang ujian. Kalian harus melewati semuanya untuk sampai ke altar pusat."
Yue'er mengerutkan dahi. "Siapa itu?"
"Aku adalah penjaga kedua," suara itu menjawab. "Patung Kristal. Kalian sudah melewati Naga Penjaga di pintu masuk. Sekarang, kalian harus melewati aku."
Dari tengah ruangan, sebuah patung raksasa berbentuk manusia perlahan bergerak. Tubuhnya terbuat dari kristal bening yang memantulkan cahaya biru di sekelilingnya. Matanya—dua batu delima merah—menyala dengan api aneh.
"Apa ujianmu?" Tianji bertanya.
"Sederhana," jawab Patung Kristal. "Jawab teka-tekiku. Kalau benar, kalian lewat. Kalau salah… kalian akan menjadi bagian dari koleksiku."
Yue'er menyeringai. "Teka-teki? Itu sih gampang. Aku paling jago teka-teki."
"Aku lahir dari lautan, tapi bukan ikan. Aku punya cangkang, tapi bukan kura-kura. Aku bisa bernyanyi, tapi bukan burung. Siapakah aku?"
Yue'er berpikir keras. "Lautan… cangkang… bernyanyi… Apa? Kerang mutiara? Tapi kerang mutiara tidak bernyanyi."
Tianji diam sejenak, matanya menatap patung kristal dengan serius. Lalu tersenyum.
"Ombak," katanya.
Patung Kristal terdiam. "Jelaskan."
"Ombak lahir dari lautan—ombak adalah bagian dari lautan. Ombak punya cangkang—busa ombak seperti cangkang yang pecah saat menyentuh pantai. Ombak bisa bernyanyi—suara ombak yang mendesis di pantai seperti nyanyian. Jawabannya adalah ombak."
Patung Kristal bergeming selama beberapa detik. Kemudian ia melangkah ke samping, membuka jalan.
"Kau benar. Kalian boleh lewat. Tapi ingat—ruang kedua lebih sulit dari yang pertama. Dan ruang ketiga… tidak ada yang pernah melewati ruang ketiga hidup-hidup."
Tianji dan Yue'er berjalan melewati Patung Kristal. Di ujung Aula Seribu Kristal, ada tangga melingkar yang menurun ke kegelapan.
"Ruang kedua," kata Tianji. "Ayo."
***
Tangga itu panjang—lebih panjang dari yang mereka kira. Setiap langkah menggema di keheningan, seperti detak jantung makam itu sendiri. Dinding di kiri-kanan tangga dipenuhi ukiran naga yang meliuk-liuk, mata mereka seperti mengikuti setiap gerakan Tianji dan Yue'er.
"Tangga ini tidak ada habisnya," gumam Yue'er. "Kita sudah turun berapa anak tangga? Ratusan?"
"Setidaknya tiga ratus," jawab Tianji. "Tapi menurut peta Lady Hong, tangga ini seharusnya hanya seratus anak tangga. Mungkin ada ilusi."
"Ilusi? Maksudmu kita berputar-putar di tempat yang sama?"
"Atau Lord Hitam sudah mengubah struktur makam ini."
Yue'er menggerutu. "Dasar Lord Hitam sialan. Tidak bisakah ia mati dengan tenang?"
Saat mereka berjalan lebih dalam, suara bisikan mulai terdengar—seperti seribu orang yang berbisik serempak di kegelapan. Kata-kata yang tidak jelas, tapi terasa menggetarkan jiwa.
"Kau dengar itu?" Tianji bertanya.
"Ya. Tapi jangan hiraukan. Itu pasti jebakan."
Namun bisikan itu semakin keras. Tianji mulai mendengar kata-kata yang jelas: "Penyerap Lautan… penyerap Lautan… kau tidak akan pernah menjadi seperti Xuan Qingzi…"
Tianji menggelengkan kepala, mencoba mengusir suara itu. Tapi ia malah mendengar suara lain—suara mendiang ayahnya.
"Tianji… mengapa kau meninggalkan kami?"
"AYAH?!" Tianji berhenti.
"Jangan dengarkan!" Yue'er menarik tangannya. "Itu bukan ayahmu! Itu ilusi!"
Tapi Tianji sudah terpengaruh. Ia melihat siluet ayahnya di dasar tangga—tubuh yang basah, wajah yang pucat, seperti saat ia ditemukan tewas di pantai.
"Kau tidak bisa menyelamatkan kami," bisik siluet itu. "Kau hanya bocah tak berguna."
"Tidak…" Tianji gemetar.
"CUKUP!" Yue'er berteriak keras. Suaranya menggema di sepanjang tangga, memecahkan ilusi itu.
Siluet ayah Tianji lenyap. Bisikan-bisikan itu pun berhenti.
"Kau baik-baik saja?" Yue'er bertanya, cemas.
Tianji mengatur napas. "Aku… aku baik-baik saja. Terima kasih."
"Makam ini sengaja membuatku lemah dengan mengenang masa lalu," kata Tianji pelan. "Tapi kau benar. Mereka bukanlah keluarga yang kukenal. Mereka hanyalah ilusi."
"Syukurlah kau sadar," Yue'er menghela napas lega. "Aku tidak ingin menggendongmu lagi, seperti waktu di Lembah Kerang Berbisik."
Setelah berjalan sepertiga perjalanan, Yue'er tiba-tiba berhenti.
"Tianji," bisiknya. "Ada sesuatu di belakang kita."
Tianji menoleh. Di atas tangga, dalam kegelapan, ia melihat dua titik merah—sepasang mata yang menatap mereka.
"Lari!" Tianji meraih tangan Yue'er dan mereka berlari menuruni tangga.
Di belakang mereka, suara langkah kaki berat mulai bergema. Makhluk itu mengejar.
Mereka berlari semakin cepat. Tangga berputar-putar, membuat kepala pusing. Yue'er hampir terjatuh, tapi Tianji menahannya.
"Awas!" seru Tianji.
Di dasar tangga, mereka sampai di sebuah ruangan lain. Ruangan ini jauh lebih besar dari Aula Seribu Kristal—seperti sebuah istana bawah tanah yang megah. Pilar-pilar raksasa menopang langit-langit yang dihiasi lukisan-lukisan kuno. Di tengah ruangan, ada sebuah kolam air jernih yang memancarkan cahaya perak.
"Ruang kedua: Kolam Bayangan," suara itu bergema lagi. "Ujian kedua: hadapi bayangan dirimu sendiri."
Dari permukaan kolam, perlahan-lahan muncul dua sosok. Satu sosok laki-laki, satu sosok perempuan. Mereka persis seperti Tianji dan Yue'er—wajah, tubuh, bahkan pakaian mereka sama persis.
"Bayangan kami?" Yue'er terbelalak.
"Bukan sekadar bayangan," jawab suara itu. "Mereka adalah cerminan jiwa kalian. Mereka tahu semua kelemahan kalian, semua ketakutan kalian. Untuk melewati ruang ini, kalian harus mengalahkan mereka."
Bayangan Tianji melangkah maju, senyumnya sinis. "Apa kau pikir kau bisa mengalahkanku, Tianji? Aku adalah dirimu yang sebenarnya. Aku tahu setiap gerakanmu, setiap teknikmu, setiap kelemahanmu."
"Aku tidak punya kelemahan," kata Tianji dingin.
"Oh? Bagaimana dengan rasa takutmu kehilangan Yue'er? Atau rasa bersalahmu karena tidak bisa menyelamatkan orang tuamu? Atau keinginanmu yang terpendam untuk memiliki lebih banyak kekuatan?"
Tianji terguncang. Bayangan itu benar—ia masih menyimpan semua ketakutan itu di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Jangan dengarkan dia!" Yue'er berteriak. "Dia hanya mencoba mengacaukan pikiranmu!"
Tapi bayangan Yue'er juga mulai berbicara. "Dan kau, Yue'er. Kau pikir kau kuat? Sebenarnya kau lemah. Kau selalu bergantung pada Tianji. Tanpa dia, kau tidak akan berarti apa-apa."
"Diam!" Yue'er mengeluarkan pedangnya. "Jangan berani-berani bicara soal Tianji!"
Pertarungan dimulai. Bayangan Tianji dan Yue'er menyerang dengan kecepatan yang luar biasa—sama persis dengan kecepatan asli mereka. Tianji beradu tinju dengan bayangannya, sementara Yue'er beradu pedang.
Tapi yang membuat pertarungan ini sulit adalah bahwa bayangan itu tahu setiap gerakan mereka. Setiap pukulan Tianji sudah diantisipasi. Setiap tebasan Yue'er sudah diketahui.
"Kita tidak bisa menang seperti ini!" Yue'er berteriak, napasnya tersengal.
Tianji memejamkan mata. "Bayangan… cerminan jiwa… Mengalahkan diri sendiri…"
Lalu ia tersenyum. "Aku tahu caranya."
"Apa?"
"Kita harus menerima kelemahan kita, bukan melawannya."
Tianji berhenti menyerang. Ia berdiri tegak, menatap bayangannya dengan tenang.
"Aku tahu aku punya ketakutan," katanya. "Aku takut kehilangan Yue'er. Aku merasa bersalah tentang orang tuaku. Aku kadang ragu dengan kemampuanku. Tapi itu semua adalah bagian dari diriku. Aku menerimanya."
Bayangannya berhenti bergerak. "Apa?"
"Aku tidak perlu melawanmu. Kau adalah aku. Dan aku menerima semua bagian dari diriku—baik yang kuat maupun yang lemah."
Bayangan Tianji mulai bergetar. Permukaannya seperti air yang diaduk, tidak stabil.
"Tidak… ini tidak mungkin…"
"Sama seperti ombak yang menerima pantai," Tianji melanjutkan. "Sama seperti laut yang menerima sungai. Aku menerima siapa diriku seutuhnya."
Bayangan Tianji pecah menjadi ribuan percikan cahaya, lalu lenyap.
Di sisi lain, Yue'er melihat dan segera melakukan hal yang sama. Ia berhenti bertarung, lalu berkata: "Aku memang lemah kadang-kadang. Tapi aku punya Tianji. Dan itu sudah cukup."
Bayangannya pun lenyap.
Kolam air jernih itu tiba-tiba menjadi tenang, dan dari dalam air muncul sebuah tangga baru yang menuju ke bawah.
"Selamat," suara itu berkata, nadanya terdengar kagum. "Kalian adalah orang pertama yang melewati ujian kedua tanpa pertumpahan darah. Xuan Qingzi pasti bangga dengan muridnya."
Tianji dan Yue'er melangkah menuruni tangga baru itu. Kali ini, tangga tidak terlalu panjang—hanya beberapa puluh anak tangga. Dan di dasar, mereka sampai di sebuah ruangan yang sangat luas.
Ini adalah altar pusat Makam Naga Laut.
Di tengah ruangan, ada sebuah altar batu hitam yang dihiasi ukiran naga-naga yang saling melilit. Di atas altar itu, melayang di atasnya, ada sebuah bola cahaya putih keemasan—Fragmen kelima.
Tapi di depan altar, berdiri sesosok bayangan hitam pekat.
Lord Hitam.
"Kau datang," kata Lord Hitam, suaranya dalam dan bergema. "Aku sudah menunggumu, Tianji."
Lord Hitam yang asli berbeda dari bayangannya yang dulu. Tubuhnya lebih besar, lebih kokoh, seperti patung yang diukir dari kegelapan itu sendiri. Matanya—dua bola api hitam—menyinari ruangan dengan cahaya merah yang mengerikan. Dan Qi yang terpancar darinya… begitu pekat hingga udara di sekitarnya bergetar.
"Aku sudah mengalahkanmu sekali," kata Tianji tegas. "Aku akan mengalahkanmu lagi."
"Kau mengalahkan bayanganku," Lord Hitam tertawa—tawa yang mengerikan, seperti gemuruh petir. "Aku telah menciptakan bayangan itu untuk menguji para pencari fragmen. Dan kau cukup kuat untuk mengalahkannya. Tapi melawanku yang asli… itu adalah cerita yang berbeda."
"Dia benar," bisik Yue'er. "Qi-nya… jauh lebih kuat dari yang kita hadapi sebelumnya."
Tianji merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Kekuatan yang terpancar dari Lord Hitam asli ini berbeda—lebih pekat, lebih gelap, lebih purba. Seperti ia sedang berhadapan dengan lautan kegelapan itu sendiri, bukan sekadar manusia yang mengendalikannya.
"Tianji," Yue'er meraih tangannya. "Kalau kita mati di sini…"
"Kita tidak akan mati."
"Biarkan aku bicara!" Yue'er memukul lengannya. "Kalau kita mati di sini, aku ingin kau tahu bahwa… bahwa aku tidak menyesal. Apa pun yang terjadi, aku tidak menyesal ikut denganmu. Tidak menyesal meninggalkan desaku. Tidak menyesal menjadi pendekar. Dan tidak menyesal… bertemu denganmu."
Tianji terharu. Di saat genting seperti ini, Yue'er masih bisa membuatnya tersenyum.
"Aku juga tidak menyesal," katanya. "Tapi kita tidak akan mati. Kita akan hidup. Kita akan keluar dari sini bersama-sama. Dan kita akan minum anggur di kedai favoritmu di Pelabuhan Timur."
"Anggur?" Yue'er matanya berbinar. "Kau janji?"
"Janji pendekar."
"Kalau begitu," Yue'er menarik napas dalam-dalam dan menghunus pedangnya. "Ayo habisi Lord Hitam dan minum anggur!"
Lord Hitam tertawa mendengar percakapan mereka. "Begitu naif. Kalian pikir kalian bisa keluar hidup-hidup dari sini? Makam Naga Laut ini adalah kuburan kalian!"
Tianji merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. Ia bisa merasakan kekuatan Lord Hitam—kekuatan yang begitu besar hingga membuat fragmen replika yang ia serap sebelumnya terasa seperti mainan.
Tapi ia tidak bisa mundur. Fragmen kelima ada di sana. Dan Lord Hitam tidak boleh mendapatkannya.
"Yue'er," katanya pelan. "Bersiaplah."
"Aku sudah siap," jawabnya.
Lord Hitam mengangkat tangannya, dan kegelapan di sekelilingnya mulai bergerak seperti ular raksasa.
"Pertarungan ini sudah lama dinanti," katanya. "Biarkan aku melihat seberapa kuat Penyerap Lautan yang baru."
Dan pertempuran di altar pusat Makam Naga Laut dimulai.