📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 66: KEBENARAN

← BAB 65: TIANJI MARAH BAB 67: KE MAKAM LAGI →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Malam itu, di puncak Bukit Karang Hitam, langit terhampar seperti sutra biru gelap yang dihiasi ribuan bintang. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma garam dan kemenyan dari altar kecil yang baru saja selesai dibangun Tianji dan Yue'er.

Yue'er duduk bersila di samping Tianji, kepalanya bersandar di bahunya. Dua tahun telah berlalu sejak mereka pertama kali bertemu di Makam Naga Laut, dan gadis itu kini telah berusia delapan belas tahun—wajahnya masih tetap cantik dengan senyum yang selalu menggoda, meski sorot matanya kini lebih dewasa.

"Akhirnya selesai juga," gumam Yue'er sambil meregangkan tubuh. "Lord Hitam sudah kalah. Fragmen keempat sudah kauserap. Kita bisa hidup tenang sekarang, ya?"

Tianji tersenyum tipis. Anak muda itu kini telah berusia delapan belas tahun—tubuhnya tegap, wajahnya tampan dengan garis rahang yang kokoh. Dua tahun perjalanan bersama Yue'er telah mengubahnya dari seorang bocah nelayan menjadi seorang pendekar yang disegani. Namun di balik ketenangannya, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

"Ada yang kau pikirkan?" Yue'er menatapnya tajam. "Jangan bilang kau masih belum puas dengan kemenangan ini. Kita sudah mengalahkan Lord Hitam—bayangan kegelapan yang telah meneror tujuh lautan! Apa lagi yang kurang?"

"Aku tidak tahu," jawab Tianji jujur. "Tapi ada sesuatu yang terasa… aneh. Saat aku menyerap Qi Lord Hitam, rasanya terlalu mudah. Terlalu cepat. Seperti dia bukanlah lawan yang sebenarnya."

Yue'er mendengus. "Kau ini! Sudah menang malah curiga. Mungkin Lord Hitam memang sudah lemah karena Fragmen keempat telah kau ambil sebelumnya."

"Tapi kau sendiri yang bilang, 'Semakin besar kekuatan yang kau kumpulkan, semakin besar pula bahaya yang mengintai.' Itu katamu, bukan?"

Yue'er membuka mulut hendak membalas, tapi suara langkah kaki memotongnya.

Dari kegelapan malam, seorang wanita melangkah keluar. Ia mengenakan jubah merah darah, rambutnya terurai panjang bak air terjun hitam. Wajahnya cantik dengan garis-garis ketajaman—Lady Hong, pendekar dari Istana Naga Merah yang telah membantu mereka beberapa kali.

"Lady Hong!" Yue'er melompat berdiri. "Ada apa gerangan? Bukankah kau harus berada di Istana Naga Merah?"

Lady Hong tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi, matanya merah seperti habis menangis. Ia berhenti beberapa langkah di depan mereka, lalu berlutut.

"Ada yang tidak beres," katanya, suaranya bergetar. "Aku baru saja kembali dari Kuil Kegelapan di ujung timur. Lord Hitam… Lord Hitam masih di sana."

Tianji berdiri. "Apa? Tidak mungkin. Aku telah menyerap Qi-nya. Aku telah menghancurkan bayangannya."

"Itu memang bayangan!" Lady Hong menangis. "Aku telah diperdaya. Kita semua telah diperdaya. Yang kita lawan selama ini hanyalah fragmen kegelapan—sebuah tiruan yang diciptakan Lord Hitam untuk mengelabui kita. Sementara itu, Lord Hitam yang asli bersemayam di kedalaman Makam Naga Laut. Dan sekarang… sekarang dia sudah bangun."

Yue'er memucat. "Tidak mungkin. Kita sudah susah payah—"

"Dengarkan aku!" Lady Hong meraih tangan Yue'er. "Aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Lord Hitam yang asli jauh lebih kuat dari bayangannya. Qi hitam yang kami lihat di Kuil Kegelapan begitu pekat hingga langit pun ikut gelap. Dan dia… dia sudah berangkat menuju Makam Naga Laut."

"Untuk apa?" Tianji bertanya, suaranya tenang meski hatinya berdegup kencang.

"Fragmen kelima," jawab Lady Hong. "Fragmen yang asli. Yang selama ini tersembunyi di altar pusat Makam Naga Laut. Lord Hitam tahu bahwa kau telah mengumpulkan fragmen satu hingga empat—tapi itu semua adalah replika. Fragmen sejati hanya satu, dan itu berada di Makam Naga Laut."

Tianji merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Fragmen replika. Selama ini ia menyerap fragmen palsu. Kekuatan yang ia kumpulkan… apakah itu semu?

Yue'er meraih tangannya. "Tianji…"

"Aku baik-baik saja," katanya, meski suaranya terdengar serak. "Kita harus segera berangkat."

"Malam ini juga?" Yue'er terkejut.

"Malam ini juga. Kalau Lord Hitam sudah sampai di Makam Naga Laut lebih dulu, maka semua yang telah kita lakukan sia-sia."

Lady Hong menggeleng. "Tidak. Masih ada waktu. Makam Naga Laut memiliki mekanisme pertahanan. Kurang lebih dua hari lagi pintu altar pusat baru bisa dibuka. Tapi setelah itu… dia akan mendapatkan fragmen itu."

"Dua hari," Tianji menggenggam tinjunya. "Cukup waktu untuk sampai ke sana."

"Tapi kita baru saja bertempur!" Yue'er membantah. "Tenaga kita belum pulih sepenuhnya. Bagaimana kalau—"

"Yue'er." Tianji menatapnya dengan sorot mata yang lembut tapi tegas. "Kau bilang kau tidak akan pernah meninggalkanku. Ingat? Kalau kau lelah, kau bisa tinggal di sini. Aku akan pergi sendiri."

Yue'er menjawab dengan mendelik. "Kurang ajar! Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian? Siapa yang akan menjagamu kalau bukan aku? Lagipula, kalau kau mati konyol di tangan Lord Hitam, siapa yang akan menemaniku berkeliling tujuh lautan?"

Tianji tersenyum. Meski situasi genting, Yue'er tetaplah Yue'er—ceria, keras kepala, dan selalu bisa membuatnya tersenyum.

"Malam ini juga kita berangkat," katanya. "Lady Hong, kau mau ikut?"

Lady Hong menggeleng. "Aku harus kembali ke Istana Naga Merah untuk mengumpulkan bala bantuan. Tapi sebelum itu…" Ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas tua. "Ini peta Makam Naga Laut yang asli. Bukan peta yang biasa kau miliki—ini peta rahasia yang menunjukkan jalan masuk ke altar pusat. Gunakan dengan bijak."

Tianji menerima peta itu. Saat jari-jarinya menyentuh kertas itu, ia merasakan hawa hangat menjalari lengannya—seperti ada energi yang meresap ke dalam tubuhnya.

"Terima kasih, Lady Hong."

"Jangan berterima kasih dulu. Tuhan Yakin membantumu," kata Lady Hong. Lalu ia berbalik, jubah merahnya berkibar diterpa angin malam, dan dalam sekejap ia lenyap di antara pepohonan.

***

Dua jam kemudian, Tianji dan Yue'er sudah bersiap di dermaga kecil Bukit Karang Hitam. Perahu layar mereka—"Penyu Laut", begitu Yue'er menamainya—telah dipenuhi perbekalan.

"Kau yakin tidak ingin istirahat dulu?" Yue'er bertanya sambil memeriksa tali layar. "Kau baru saja bertempur habis-habisan, dan sekarang kau ingin berlayar semalaman?"

"Kekuatanku sudah pulih setengahnya," jawab Tianji. "Lagipula, aku sudah terbiasa bertempur dalam kondisi lemah. Ingat waktu kita di Lembah Kerang Berbisik?"

Yue'er mengerutkan kening. "Waktu itu kau hampir mati."

"Tapi aku selamat."

"Karena aku!" Yue'er menepuk dadanya. "Kalau bukan karena aku yang menggendongmu ke gua penyembuh, kau sudah menjadi mayat. Jadi, jangan sombong."

Tianji tertawa. "Baik, baik. Aku berhutang nyawa padamu. Tapi sekarang, bisakah kita berlayar?"

Yue'er mendengus, lalu melompat ke perahu dengan lincah. "Naiklah. Tapi ingat, kalau kau pingsan di tengah jalan, aku tidak akan menggendongmu lagi."

Perahu berlayar meninggalkan dermaga. Malam itu gelap tanpa rembulan—hanya bintang-bintang yang menjadi petunjuk arah. Tianji berdiri di haluan, matanya menatap cakrawala.

Yue'er duduk di buritan, tangannya memegang tali kemudi. "Tianji," katanya tiba-tiba. "Apa yang kau rasakan saat ini?"

"Aku tidak tahu," jawab Tianji jujur. "Aneh rasanya. Aku pikir semua sudah berakhir. Tapi ternyata… ini baru permulaan."

"Kau takut?"

Tianji diam sejenak. "Ya. Aku takut. Bukan karena Lord Hitam lebih kuat. Tapi karena… aku tidak ingin kau terluka."

Yue'er tersenyum—senyum yang jarang ia perlihatkan, senyum yang tulus. "Kau pikir aku tidak takut? Aku juga takut. Tapi ada yang lebih penting dari rasa takut—yaitu kau."

"Yue'er…"

"Aku serius!" katanya cepat. "Dua tahun kita bersama. Dari Makam Naga Laut, ke Lembah Kerang Berbisik, ke Kuil Ombak, ke Istana Naga Merah… kau selalu di sisiku. Dan aku di sisimu. Jadi kalau kau mati, aku akan marah besar."

Tianji tertawa. "Baik, baik. Aku janji tidak akan mati."

"Janji palsu?"

"Janji pendekar."

Yue'er tersenyum lebar. "Bagus. Kalau begitu, maju terus! Makam Naga Laut, kita datang!"

Perahu melaju kencang dihempas angin malam. Di belakang mereka, Bukit Karang Hitam semakin menjauh—dan di depan, menanti mereka, adalah Makam Naga Laut yang legendaris dengan rahasia yang belum terungkap.

Namun keduanya tidak tahu bahwa di kedalaman Makam Naga Laut, seorang bayangan kegelapan telah tiba lebih dulu. Lord Hitam—yang asli—berdiri di depan altar pusat, tangannya menyentuh prasasti kuno yang mengelilingi tempat itu.

"Akhirnya," bisiknya, suaranya seperti gemuruh dari dasar bumi. "Fragmen kelima… milikku."

Dan kegelapan di Makam Naga Laut mulai berdenyut—seperti jantung raksasa yang baru saja terjaga dari tidur panjang.

***

Esok harinya, saat matahari mulai merangkak naik di ufuk timur, Tianji dan Yue'er sudah berada di tengah Laut Naga—nama yang diberikan para pelaut untuk perairan yang mengelilingi Makam Naga Laut.

Yue'er menatap peta yang diberikan Lady Hong. "Menurut peta ini, ada jalan pintas. Sebuah lorong di bawah tebing karang yang langsung menuju ke altar pusat. Tapi… lorong itu berbahaya."

"Berbahaya bagaimana?"

"Ia dijaga oleh Naga Penjaga," kata Yue'er muram. "Bukan naga sungguhan, tapi formasi ilmu siluman yang diciptakan oleh Xuan Qingzi sendiri. Konon, siapa pun yang masuk ke lorong itu tanpa izin akan diserap Qi-nya oleh patung naga."

Tianji mengerutkan kening. "Diajarkan oleh Xuan Qingzi? Itu berarti ada cara untuk melewatinya."

"Mungkin. Tapi aku tidak tahu caranya."

Tianji merenung sejenak. "Xuan Qingzi adalah pendekar yang bijaksana. Ia pasti meninggalkan petunjuk. Mungkin… kunci untuk melewati Naga Penjaga adalah dengan tidak melawannya."

"Maksudmu?"

"Kita harus menyerahkan Qi kita. Seperti memberi persembahan. Bukan melawan, tapi menyerah."

Yue'er terbelalak. "Kau gila! Kalau kita menyerahkan Qi, kita akan mati!"

"Tidak," Tianji menggeleng. "Bukan menyerahkan seluruh Qi. Hanya sebagian. Seperti… membayar tol. Naga Penjaga hanya butuh Qi untuk tetap aktif. Kalau kita memberinya sedikit, ia akan membiarkan kita lewat."

"Kau yakin?"

"Tidak," Tianji mengakui. "Tapi ini satu-satunya pilihan kita. Kalau kita melalui pintu utama, kita harus melewati semua jebakan Lord Hitam. Dia pasti sudah memasang perangkap di sana."

Yue'er menghela napas panjang. "Kau sungguh tahu cara membuat hidupku sulit, Tianji."

"Aku tahu. Maaf."

"Sudah, sudah. Aku ikut saja. Tapi kalau nanti kita mati, aku akan menghantuimu sampai tujuh turunan."

Tianji tersenyum. "Setuju."

Mereka mengubah haluan perahu menuju tebing karang yang menjulang di utara Makam Naga Laut. Di peta, daerah itu ditandai dengan tulisan merah: "GERBANG BAWAH — JALAN PENDEK KE ALTAR PUSAT. HATI-HATI: NAGA PENJAGA."

Saat perahu mendekati tebing, Tianji dan Yue'er melihat sebuah gua besar di bagian bawah tebing—mulut gua itu gelap gulita, seperti lubang hitam yang siap menelan apa pun yang masuk.

"Di sana," kata Tianji. "Kita masuk."

Yue'er menggenggam tangannya. "Tianji, apa pun yang terjadi… jangan tinggalkan aku."

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," jawabnya. "Kita masuk bersama, dan kita keluar bersama. Janji pendekar."

Mereka melompat dari perahu ke mulut gua, dan kegelapan menyambut mereka dengan dingin yang menusuk tulang.

Di dalam gua, suara air menetes bergema seperti tangisan bayi. Dinding gua dipenuhi ukiran naga yang meliuk-liuk—mata mereka seperti menyala di kegelapan.

Di ujung lorong, mereka melihat cahaya biru samar. Dari sanalah energi aneh terpancar—seperti jantung yang berdetak, seperti nafas yang berdesis.

"Naga Penjaga," bisik Yue'er.

Dan dari kegelapan, dua mata merah raksasa terbuka.

"Selamat datang," suara itu bergema, seperti gemuruh dari dasar bumi. "Pencari Fragmen. Tuan Hitam sudah menunggumu di altar. Tapi sebelum kau lewat… kau harus membayar harga."

Tianji melangkah maju, tubuhnya tegap. "Apa harganya?"

"Qi. Sepersepuluh Qi-mu. Atau nyawamu."

Tianji menatap Yue'er. Yue'er mengangguk—meski ragu, ia percaya pada Tianji.

"Aku setuju," kata Tianji.

Ia memejamkan mata, dan mulai mengeluarkan Qi dari tubuhnya—seperti kabut putih yang keluar dari pori-porinya. Kabut itu mengalir menuju Naga Penjaga, dan naga itu menyedotnya dengan lahap.

Tianji merasakan tubuhnya melemah, tapi ia tetap berdiri tegak. Ia hanya memberikan sepersepuluh—cukup untuk membayar harga, tapi tidak cukup untuk membuatnya mati.

Setelah Qi berhenti mengalir, Naga Penjaga menutup matanya. "Kau boleh lewat," katanya. "Tapi ingat—di altar pusat, kau harus membayar harga yang lebih mahal. Fragmen kelima tidak akan menyerah tanpa perlawanan."

Terowongan di depan mereka terbuka, memperlihatkan cahaya biru yang semakin terang.

Tianji dan Yue'er berjalan maju, tangan mereka saling menggenggam, hati mereka penuh tekad.

Di depan, menanti mereka, adalah pertarungan final melawan Lord Hitam.

Dan di altar pusat Makam Naga Laut, fragmen kelima yang asli menunggu—apakah akan jatuh ke tangan kegelapan, atau menjadi milik Tianji.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 65: TIANJI MARAH BAB 67: KE MAKAM LAGI →