Badai kegelapan melanda ruang tahta. Dinding-dinding batu retak, pilar-pilar tumbang, dan lantai hancur berkeping-keping. Di tengah pusaran itu, dua sosok bertarung dengan sengit — Tianji dengan aura emasnya, dan Lord Hitam wujud kegelapan yang mengerikan.
Pedang Tianji menari di udara, setiap tebasannya meninggalkan jejak emas yang memotong kabut hitam. Namun Lord Hitam juga bukan lawan yang mudah. Tubuhnya yang membesar memiliki kekuatan luar biasa, dan setiap pukulannya mampu menghancurkan batu sekeras baja.
"MENYERAHLAH, BOCAH!" raung Lord Hitam, tinjunya yang sebesar kepala manusia meluncur ke arah Tianji.
Tianji mengelak dengan memutar tubuh, lalu menebas lengan Lord Hitam. Pedangnya memotong kulit hitam itu, mengeluarkan cairan hitam pekat. Namun luka itu segera tertutup kembali, seolah tidak pernah terjadi.
"Dia bisa meregenerasi diri," gumam Tianji. "Ini tidak baik."
"Tentu saja," Lord Hitam tertawa. "Dengan fragmen Kitab Suci Kegelapan, aku memiliki keabadian! Kau tidak bisa mengalahkanku, Tianji!"
"Hei, Lord Hitam!" suara Yue'er terdengar dari balik reruntuhan. "Kalau kau begitu hebat, kenapa kau tidak bisa menyentuh Tianji sama sekali?"
Lord Hitam menoleh, matanya yang merah menyala mencari sumber suara. "Gadis kurang ajar! Setelah aku habisi bocah ini, aku akan merobek mulutmu!"
"Coba saja kalau bisa!"
Tianji memanfaatkan gangguan itu. Ia melesat, pedangnya menusuk ke arah jantung Lord Hitam. Namun Lord Hitam sudah siap — ia menangkap pedang itu dengan tangannya, lalu menghancurkannya dengan sekali remasan.
Pedang pemberian Xiao Yu'er hancur.
Tianji terkejut, tapi ia tidak kehilangan akal. Ia segera melepaskan gagang pedang dan melompat mundur, menghindari serangan susulan Lord Hitam.
"Pedangmu telah hancur!" Lord Hitam tertawa terbahak-bahak. "Sekarang kau tidak punya senjata! Apa yang akan kau lakukan?"
Tianji mengatur napas. Tanpa pedang, ia harus mengandalkan tangan kosong. Dan melawan regenerasi Lord Hitam, pukulan tangan kosong mungkin tidak cukup.
"Kau benar," kata Tianji tiba-tiba. "Aku tidak punya senjata lagi."
"Kau menyerah?"
"Tidak." Tianji tersenyum. "Aku tidak butuh pedang untuk mengalahkanmu. Karena aku sendiri adalah senjata."
Ia mengepalkan kedua tangannya, dan aura emas di sekelilingnya semakin pekat. Di telapak tangannya, terbentuk pusaran energi emas yang berputar cepat.
"Meridian Pelangi Lv4 — Teknik Lautan Tak Bertepi!"
Tianji melesat maju dengan kecepatan yang melampaui sebelumnya. Dalam satu napas, ia meluncurkan seratus pukulan — masing-masing mengandung energi emas yang mampu menghancurkan batu. Pukulan-pukulan itu menghujani tubuh Lord Hitam dari segala arah.
Lord Hitam terhuyung. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar terluka. Cairan hitam mengalir dari puluhan lubang di tubuhnya, dan regenerasinya mulai melambat.
"Aku akan menghancurkanmu!" Lord Hitam berteriak marah. Ia membalas dengan serangan habis-habisan, pukulan-pukulannya yang dahsyat mengguncang seluruh benteng.
Tianji dan Lord Hitam bertukar pukulan, gerakan mereka terlalu cepat untuk diikuti mata. Ruangan itu hancur total — dinding runtuh, langit-langit ambruk, dan lantai berlubang di sana-sini.
Namun Tianji mulai merasakan kelelahan. Meridian Pelangi Lv4 membutuhkan konsentrasi dan energi yang luar biasa. Tubuhnya mulai gemetar, napasnya tersengal, dan aura emasnya mulai meredup.
"Cepat atau lambat, kau akan kehabisan tenaga," kata Lord Hitam, mendeteksi kelemahan Tianji. "Dan saat itu tiba, kau akan mati!"
"Aku cukup kuat untuk mengalahkanmu sebelum itu."
"Omong kosong!"
Mereka bertukar serangan selama beberapa menit. Tianji mulai mendominasi — ia telah menemukan ritme pertarungan, dan setiap pukulannya semakin kuat. Lord Hitam mulai kewalahan, mundur selangkah demi selangkah.
"Mustahil! Aku memiliki fragmen Kitab Suci Kegelapan! Aku tidak mungkin kalah!" teriak Lord Hitam, napasnya tersengal.
"Kau kalah karena kau bertarung untuk dirimu sendiri," kata Tianji, terus menekan. "Aku bertarung untuk orang lain. Dan itu membuat perbedaan besar."
Lord Hitam terhuyung. Tubuhnya penuh luka, dan regenerasinya semakin lambat. Ia mulai merasakan — untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun — rasa takut.
"Kau pikir kau sudah menang?" Lord Hitam tertawa getir. "Belum, bocah. Belum!"
Dari sakunya, Lord Hitam mengeluarkan sebuah benda — fragmen Kitab Suci Kegelapan yang palsu. Benda itu bersinar ungu kehitaman, berdenyut-denyut seperti jantung.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Tianji.
"Jika aku akan kalah, aku akan membawa seluruh benteng ini ke neraka bersamaku!"
Lord Hitam mulai menyerap kekuatan fragmen itu secara paksa, tanpa mempedulikan konsekuensinya. Tubuhnya membengkak, urat-uratnya menonjol, dan matanya bersinar merah menyala.
"LYRA! SEKARANG!"
Dari balik reruntuhan, seorang wanita berpakaian hitam melesat — Lyra, yang telah menunggu di bayang-bayang. Targetnya bukan Tianji, melainkan Yue'er yang sedang bersembunyi di balik pilar batu.
"Yue'er!" teriak Tianji.
Terlambat. Lyra sudah mencapai Yue'er, dan sebelum gadis itu bisa bereaksi, sebuah jaring hitam telah menyelimuti tubuhnya.
"Lepaskan aku!" Yue'er meronta, tapi jaring itu lengket dan kuat, membuatnya tidak bisa bergerak.
"Jangan bergerak," kata Lyra dingin, pedangnya ditempelkan di leher Yue'er. "Atau kau akan mati."
Tianji menghentikan serangannya. Ia menatap Lyra dengan mata penuh kebencian, tapi ia tidak bisa bergerak — satu langkah salah, dan Yue'er akan mati.
"Kau curang," desis Tianji.
"Curang?" Lord Hitam tertawa, tubuhnya perlahan kembali ke ukuran normal. "Sudah kubilang, dalam pertempuran, tidak ada yang namanya adil. Yang ada hanyalah menang dan kalah."
"Apa yang kau inginkan?"
"Sederhana. Berikan aku Kitab Suci Lautan, dan aku akan membiarkan gadis itu hidup."
Tianji menggenggam tangannya erat-erat. Kitab Suci Lautan — pusaka yang telah ia jaga dengan nyawanya, yang telah memberinya kekuatan untuk melawan. Tapi di sisi lain, ada Yue'er — gadis yang telah bersamanya sejak awal, yang telah menjadi cahaya di tengah kegelapan perjalanannya.
"Jangan! Tianji, jangan berikan!" teriak Yue'er. "Aku lebih baik mati daripada kau kehilangan Kitab itu!"
"Diam!" Lyra mendorong Yue'er hingga terjatuh.
"Yue'er…" Tianji menunduk. Pikirannya kacau. Ia tidak bisa membiarkan Yue'er mati. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Lord Hitam mendapatkan Kitab Suci Lautan.
"Buat keputusan, bocah," desak Lord Hitam. "Kitab Suci Lautan, atau nyawa gadismu."
Tianji mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya tegas.
"Aku tidak akan memberikannya padamu."
Yue'er tersenyum mendengar itu. "Bagus, bocah. Itu jawaban yang benar."
Lord Hitam menggeram marah. "Bunuh dia, Lyra!"
Lyra mengangkat pedangnya, siap menebas leher Yue'er. Tapi sebelum pedang itu turun, Yue'er melakukan sesuatu yang tidak diduga siapa pun.
"Hei, Nyonya Cantik," kata Yue'er tiba-tiba, dengan nada santai. "Kau tahu, kau tidak perlu melakukan ini. Lord Hitam tidak akan peduli jika kau mati atau hidup. Kau hanyalah alat baginya."
"Tutup mulutmu!" desis Lyra.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Lihat bagaimana dia memperlakukan bawahannya. Komandan Kamb — dikirim untuk mati dengan sia-sia. Guru Yin — dipaksa menjadi penjaga sampai napas terakhir. Kau pikir kau akan berbeda?"
"Diam!"
"Atau mungkin kau sudah tahu. Mungkin kau sudah menyesal bergabung dengannya. Tapi kau terlalu takut untuk melawan."
Lyra terdiam. Tangannya yang memegang pedang sedikit bergetar.
"Kau benar," bisik Lyra, nyaris tidak terdengar. "Aku takut."
"Tapi kau tidak harus terus takut," kata Yue'er, suaranya lembut. "Kau bisa memilih. Sekarang juga."
Lyra menggigit bibirnya. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku… aku sudah melakukan terlalu banyak dosa. Tidak ada ampun bagiku."
"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua."
"Tapi…"
"Percayalah padaku. Aku tahu."
Untuk sesaat, Lyra ragu. Tapi kemudian, dari balik reruntuhan, terdengar suara Lord Hitam. "LYRA! BUNUH DIA SEKARANG!"
Dan Lyra kembali sadar. Ia mengangkat pedangnya, matanya kembali dingin. "Maaf. Aku tidak punya pilihan."
Tapi sebelum Lyra menebas, Yue'er tersenyum. Dan tiba-tiba, tubuhnya mengeluarkan cahaya putih terang.
"Kau pikir kau bisa menangkapku semudah itu?" Yue'er tertawa lebih keras. "Jaring ini mungkin kuat, tapi kau lupa satu hal."
"Apa?" Lyra menatap heran.
"Aku juga punya jurus andalan!"
Tiba-tiba, tubuh Yue'er mengeluarkan cahaya putih terang. Jaring hitam yang melilitnya mulai meleleh, hancur terkena cahaya itu. Lyra terkejut dan mundur, tapi terlambat — Yue'er telah bebas, dan tinjunya sudah melayang ke arah wajah Lyra.
Pukulan itu tepat mengenai hidung Lyra. Wanita itu terhuyung, darah mengucur dari hidungnya. Yue'er tidak berhenti — ia melanjutkan dengan tendangan ke perut, lalu pukulan ke pelipis, menjatuhkan Lyra dalam hitungan detik.
"Seperti yang kukatakan," kata Yue'er, mengibaskan tangannya dengan gaya. "Aku memang bukan pendekar hebat yang menguasai teknik-teknik sakti. Aku tidak bisa mengeluarkan bola api dari telapak tangan atau terbang di atas awan. Tapi sebagai gadis pasar yang tumbuh di tengah preman dan penjudi, aku belajar bela diri dari pengalaman pahit. Tendangan rendah? Tahu. Pukulan ke perut? Tahu. Pukulan ke titik lemah? Jangan main-main denganku."
Lyra tergeletak di lantai, tidak bisa bergerak. Ia menatap Yue'er dengan campuran kagum dan malu.
"Kau… kau hebat," gumam Lyra.
"Bukan hebat. Hanya berpengalaman." Yue'er membalikkan rambutnya. "Di pasar, kalau kau tidak bisa melawan, kau akan mati kelaparan. Sederhana."
"Yue'er!" Tianji memanggil dari kejauhan. "Kau baik-baik saja?"
"Siapa aku? Gadis pasar paling tangguh di tiga kota!" seru Yue'er. "Jangan khawatirkan aku! Urus Lord Hitam!"
Tianji tersenyum. Yue'er memang tidak pernah berubah — selalu ceria, selalu cerewet, selalu bisa diandalkan.
"LYRA!" raung Lord Hitam dari luar. "KAU GAGAL!"
Lyra menunduk, air mata mengalir di pipinya. Ia telah gagal melaksanakan tugasnya.
"Hei," kata Yue'er, menepuk bahu Lyra. "Kau tidak gagal. Kau baru saja memilih jalan yang benar."
Dan saat Lord Hitam teralihkan perhatiannya — sibuk memarahi Lyra yang gagal — Tianji bergerak.
"SEKARANG!"
Tianji melesat dengan kecepatan penuh, seluruh sisa energinya dikerahkan ke dalam satu serangan terakhir. Telapak tangannya, yang mengandung sisa-sisa Meridian Pelangi dan cahaya Kitab Suci Lautan, menghantam tepat di dada Lord Hitam.
"GRRAAAAAGH!" Lord Hitam berteriak, tubuhnya terpental ke belakang, menembus dinding benteng, dan jatuh ke luar.
Tianji jatuh berlutut, napasnya terengah-engah. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Namun ia tersenyum — Lord Hitam akhirnya bisa dikalahkan.
"Kau berhasil!" Yue'er berlari menghampiri Tianji, merangkulnya. "Kau berhasil, bocah!"
Tapi tiba-tiba, dari luar benteng, terdengar tawa mengerikan. Tawa Lord Hitam.
"Kau pikir kau sudah menang?" suara Lord Hitam bergema di mana-mana. "Pertarungan ini belum selesai, Tianji!"
Cahaya hitam meledak dari luar, mengguncang seluruh benteng. Tianji dan Yue'er saling berpandangan — pertarungan ini ternyata belum berakhir.