Ruangan itu luas, jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Di tengahnya, Lord Hitam duduk di singgasana dari tulang, jubah hitamnya berkibar meskipun tidak ada angin. Di sekelilingnya, kabut hitam berputar pelan, sesekali memercikkan kilatan listrik ungu kehitaman.
Tianji dan Yue'er berdiri di ambang pintu masuk, menghadapi pemandangan yang mengerikan itu. Namun tidak ada rasa takut di wajah Tianji. Hanya ketenangan โ ketenangan seorang pendekar yang telah menerima takdirnya.
"Selamat datang," sapa Lord Hitam, suaranya bergema dengan nada mengejek. "Aku sudah menunggumu sejak lama, Tianji, si Penyerap Lautan. Atau lebih tepatnya, bocah yang beruntung menemukan Kitab Suci Lautan."
"Aku tidak beruntung. Aku dipilih."
"Dipilih?" Lord Hitam tertawa. "Dipilih oleh nasib? Atau dipilih oleh kebetulan? Kau hanyalah bocah kampung yang tidak sengaja menemukan harta karun. Tidak ada yang istimewa darimu."
"Jika aku tidak istimewa, kenapa kau takut padaku?"
Senyum Lord Hitam memudar. Matanya yang merah menyala menatap Tianji dengan tajam. "Takut? Aku tidak takut pada siapa pun, apalagi bocah sepertimu."
"Kalau begitu, kenapa kau mengirim puluhan pembunuh untuk membunuhku? Kenapa kau menggunakan fragmen palsu untuk memperkuat dirimu? Kenapa kau tidak menghadapiku secara langsung dari awal?"
Pertanyaan Tianji mengenai sasaran. Lord Hitam terdiam, dan untuk pertama kalinya, ada keraguan di matanya. Namun ia segera pulih, menggantinya dengan kemarahan.
"Berani kau!" Lord Hitam berdiri, dan kabut hitam di sekelilingnya meledak, menyebar ke seluruh ruangan. "Aku akan menunjukkan padamu seberapa besar perbedaan antara pendekar sejati dan bocah ingusan!"
Ia melesat, tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Tianji, telapak tangannya yang hitam meluncur ke arah dada pemuda itu.
Tianji bergerak. Bukan menghindar, melainkan menyambut serangan itu dengan telapak tangannya sendiri. Telapak tangan kanannya bersinar hijau kebiruan โ warna khas Meridian Pelangi Lv4.
Dua kekuatan bertemu. Ledakan dahsyat terjadi, menghancurkan lantai batu di bawah kaki mereka. Tianji terpental ke belakang, tubuhnya meluncur sejauh sepuluh langkah sebelum berhasil berhenti. Di dadanya, terasa panas yang menyengat.
Lord Hitam hanya bergerak mundur tiga langkah. Ia tersenyum puas. "Kau kuat, bocah. Tapi belum cukup."
Tianji tidak menjawab. Ia mengatur napasnya, menstabilkan Qi yang bergejolak di dalam tubuhnya. Serangan Lord Hitam mengandung Qi hitam yang sangat pekat โ kekuatan dari fragmen palsu itu memang luar biasa.
"Tianji!" teriak Yue'er dari belakang. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja."
"Jangan bohong! Aku bisa melihat tanganmu gemetar!"
Tianji mengepalkan tangannya, menyembunyikan getaran itu. Namun Yue'er benar โ serangan Lord Hitam telah mengguncang fondasi Meridian Pelangi-nya. Kekuatan fragmen palsu itu tidak bisa dianggap remeh.
"Menyerahlah," kata Lord Hitam. "Jika kau menyerahkan Kitab Suci Lautan, aku akan membiarkan kalian berdua hidup. Aku bahkan akan memberimu posisi sebagai anak buahku."
"Tidak akan pernah."
"Kau pilih mati?"
"Aku pilih melawan."
Tianji menyerang lebih dulu kali ini. Ia melesat, pedang pendek pemberian Xiao Yu'er terhunus. Pedang itu berkilau hijau kebiruan, diselimuti oleh energi Meridian Pelangi.
Serangan pertama โ tebasan horizontal ke arah leher. Lord Hitam menangkis dengan lengan kirinya, dan terdengar bunyi denting logam. Ternyata di bawah jubahnya, Lord Hitam memakai pelindung lengan dari baja hitam.
Serangan kedua โ tusukan ke arah perut. Lord Hitam mengelak dengan memutar tubuhnya, lalu membalas dengan tendangan yang mengandung Qi hitam. Tianji menangkis dengan pedangnya, tapi kekuatan tendangan itu membuatnya terhuyung.
Serangan ketiga โ tebasan vertikal. Kali ini Lord Hitam tidak menangkis atau menghindar. Ia menangkap pedang Tianji dengan telapak tangannya yang telanjang. Darah mengalir dari tangannya, tapi ia hanya tersenyum.
"Kau kehilangan bentukmu," katanya. "Kau terburu-buru. Emosi menguasai dirimu. Di mana ketenangan yang diajarkan Xiao Yu'er padamu? Di mana konsentrasi Meridian Pelangi yang kau banggakan?"
Tianji mencoba menarik pedangnya, tapi Lord Hitam menggenggamnya erat. Dengan tangan kirinya, Lord Hitam meluncurkan serangan telapak yang mengandung Qi hitam pekat ke arah perut Tianji.
Pukulan itu mengenai sasaran. Tianji terpental, tubuhnya menghantam pilar batu di belakangnya dengan suara keras. Pilar itu retak, dan Tianji jatuh ke lantai, mulutnya mengeluarkan darah.
"TIANJI!" Yue'er berlari ke arah Tianji, tapi Lord Hitam menggerakkan tangannya, dan kabut hitam membentuk dinding yang memisahkan mereka.
"Biarkan dia!" hardik Lord Hitam. "Ini pertarungan antara aku dan dia. Kau tidak boleh campur tangan. Atau kau ingin aku membunuhmu lebih dulu?"
Yue'er mundur selangkah, tapi matanya masih menatap tajam ke arah Lord Hitam. "Jika kau menyakitinya, aku akanโ"
"Kau akan apa? Kau hanyalah gadis pasar yang tidak berguna. Tidak ada teknik bela diri, tidak ada kekuatan. Hanya mulut besar yang tidak bisa menepati janji."
Yue'er menggigit bibirnya. Ia tahu Lord Hitam benar โ ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Tapi ia tidak bisa diam saja melihat Tianji terluka.
"Yue'er," suara Tianji terdengar lemah dari balik puing. "Jangan… jangan terprovokasi. Ini yang dia mau."
"Tianji…"
"Percayalah padaku."
Yue'er menghela napas, lalu mundur ke sudut ruangan. Ia akan percaya pada Tianji.
Yue'er memukul-mukul dinding kabut itu, tapi tangannya hanya menembus tanpa efek. "Tianji! Bangun! Kau tidak boleh kalah!"
Tianji mendengar suara Yue'er dari balik kabut hitam. Ia mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Pukulan Lord Hitam telah melukai organ dalamnya.
"Kau lihat?" kata Lord Hitam, berjalan mendekat. "Bahkan dengan Meridian Pelangi Lv4, kau tetap tidak bisa mengalahkanku. Kitab Suci Lautan hanya legenda โ tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan fragmen Kitab Suci Kegelapan."
Tianji tidak menjawab. Ia sedang memusatkan pikirannya, mencari cara untuk mengalahkan musuh yang lebih kuat ini.
"Menyerahlah, bocah. Kau tidak akan menang."
Tiba-tiba, Tianji tersenyum. "Apa kau yakin, Tianji?" Yue'er bertanya, suaranya penuh keraguan.
"Aku yakin."
Tianji menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata, merasakan aliran energi di sekelilingnya. Qi Lord Hitam begitu pekat, begitu gelap, sehingga hampir menyesakkan. Tapi di dalam kegelapan itu, Tianji bisa merasakan titik-titik celah โ kelemahan-kelemahan kecil yang diciptakan oleh kesombongan Lord Hitam.
"Kau tahu apa yang membuatmu lemah, Lord Hitam?"
Lord Hitam mengerutkan kening. "Apa?"
"Kesombongan."
Sebelum Lord Hitam bisa bereaksi, Tianji meledak. Tubuhnya mengeluarkan cahaya hijau kebiruan yang menyilaukan, dan dalam sekejap, ia sudah berada di depan Lord Hitam, pedangnya menebas dengan kecepatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Lord Hitam terkejut. Ia mencoba menangkis, tapi kali ini, pedang Tianji menembus pelindung lengannya. Darah hitam mengucur dari lukanya.
"Kau!" Lord Hitam mundur dengan cepat, matanya melebar. "Kau pura-pura lemah!"
"Aku hanya menunggu saat yang tepat," jawab Tianji dingin. "Kau bilang aku kehilangan bentuk. Tapi kau sendiri yang kehilangan kewaspadaan karena merasa sudah menang. Kesombongan adalah kelemahan terbesar seorang penguasa kegelapan."
Lord Hitam menggertakkan giginya. Darah hitam terus mengalir dari lukanya, menetes ke lantai batu dan mendesis saat menyentuh permukaan. "Bocah licik! Berani kau mempermainkanku!"
"Aku tidak mempermainkanmu. Aku hanya membaca kelemahanmu."
"DIAM!"
Lord Hitam menggertakkan giginya. "Bocah licik!"
Ia melancarkan serangan habis-habisan. Kabut hitam di sekelilingnya menyatu, membentuk puluhan tentakel hitam yang menyerang dari segala arah. Tianji bergerak cepat, mengelak, menangkis, dan memotong tentakel-tentakel itu satu per satu.
"Kau tidak bisa menghindar selamanya!" teriak Lord Hitam, matanya yang merah bersinar terang. "Tentakel-tentakel ini adalah jelmaan dari jiwa-jiwa yang telah kukorbankan! Mereka tidak akan berhenti sampai kau mati!"
Tianji tidak menjawab. Ia terus bergerak, tubuhnya bagai bayangan di antara serangan-serangan tentakel. Namun semakin lama, tentakel itu semakin banyak, semakin cepat. Salah satu tentakel berhasil melilit kakinya, membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Sekarang!" teriak Lord Hitam.
Puluhan tentakel segera menyusul, mengikat tangan, leher, dan tubuh Tianji. Ia jatuh terlentang, tidak bisa bergerak. Tentakel hitam itu melilitnya semakin erat, membuatnya sulit bernapas.
"Kau pikir kau bisa mengalahkan fragmen Kitab Suci Kegelapan?" Lord Hitam tertawa, berjalan mendekat perlahan. "Kekuatan ini telah membuatku hampir abadi! Kau hanyalah bocah yang terlalu percaya diri!"
Tianji meronta, tapi tentakel hitam itu mengikatnya terlalu erat. Qi hitam mulai merasuki tubuhnya, menggerogoti Meridian Pelangi dari dalam.
"Tianji!" suara Yue'er terdengar putus asa.
Namun Tianji tidak menyerah. Di dadanya, Kitab Suci Lautan mulai bersinar. Bukan sinar hijau kebiruan seperti Meridian Pelangi, melainkan sinar emas yang hangat dan kuat.
Cahaya emas itu menyebar dari dadanya, mengenai tentakel hitam yang mengikatnya. Tentakel-tentakel itu mulai meleleh, hancur terkena cahaya emas.
"Apa?!" Lord Hitam mundur, matanya terbelalak. "Apa yang kau lakukan?!"
Tianji berdiri, tubuhnya kini dikelilingi oleh aura emas yang bercampur dengan hijau kebiruan. Di sekelilingnya, kabut hitam Lord Hitam mulai surut, seperti salju yang mencair di bawah sinar matahari.
"Kitab Suci Lautan," kata Tianji, suaranya tenang tapi penuh kekuatan. "Bukan hanya teknik bela diri. Tapi juga cahaya yang bisa mengusir kegelapan."
"Mustahil!" Lord Hitam berteriak. "Fragmen Kitab Suci Kegelapan adalah yang terkuat!"
"Fragmen palsu," Tianji mengingatkan. "Kau menggunakan yang palsu. Dan karena itu, kekuatanmu tidak akan pernah mencapai puncak."
Lord Hitam gemetar โ bukan karena takut, tapi karena marah. "Aku akan membunuhmu! Aku akan menghancurkanmu!"
Ia mengeluarkan seluruh kekuatannya. Kabut hitam di sekelilingnya berputar semakin kencang, membentuk badai kegelapan yang mengerikan. Di tengah badai itu, Lord Hitam berubah โ tubuhnya membesar, kulitnya menjadi hitam pekat, dan matanya bersinar merah terang seperti bara api.
"INI KEMAMPUAN TERPENTINGKU!" raungnya. "BERSIAPLAH MATI, TIANJI!"
Tianji menghadapi badai kegelapan itu dengan tenang. Ia mengangkat pedangnya, dan sinar emas di sekelilingnya semakin terang.
"Aku tidak akan mati hari ini, Lord Hitam. Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku memiliki sesuatu yang tidak kau miliki."
"Apa itu?"
"Alasan untuk hidup."
"Alasan untuk hidup? Omong kosong! Hidup hanya tentang kekuatan! Yang lemah mati, yang kuat bertahan! Itulah hukum alam!"
"Hukum alam yang kau ciptakan sendiri," jawab Tianji tenang. "Tapi aku tidak hidup di duniamu."
Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.