📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 57: TIANJI TIBA

← BAB 56: XIAO YU’ER VS LO… BAB 58: KEPERGIAN →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Angin pagi berhembus dingin, membawa serta bau darah dan tanah yang tercabik. Medan pertarungan yang dulunya adalah hutan lebat kini berubah menjadi padang tandus yang penuh dengan kawah dan retakan. Di tengah-tengah kehancuran itu, Tianji berlutut di samping Xiao Yu'er, tubuh pemuda itu terbaring lemah di pelukannya.

"Xiao Yu'er… Xiao Yu'er, bertahanlah," bisik Tianji, suaranya serak penuh isak. Ia menekan tangan ke dada sahabatnya, mencoba menyalurkan Qi penyembuh ke dalam tubuh yang sekarat itu. Namun luka Xiao Yu'er terlalu parah—racun Lord Hitam telah menjalar ke seluruh aliran darahnya, dan pembuluh meridiannya hancur akibat teknik serangan terakhir yang ia gunakan.

Yue'er berdiri beberapa langkah di belakang mereka, matanya liar mengawasi Lord Hitam yang masih berdiri dengan tenang di kejauhan. Angin pagi menerbangkan rambut panjangnya yang hitam legam, dan di tangannya, sebuah pedang pendek telah terhunus—siap menyerang kapan saja.

"Lord Hitam," suara Yue'er terdengar dingin, lebih dingin dari salju di puncak Himalaya. "Setelah semua yang kau lakukan… setelah kau bunuh Xuan Qingzi, Li Qingfeng, dan sekarang Xiao Yu'er… aku bersumpah, darahmu akan menjadi minuman terakhirku."

Lord Hitam tertawa pelan, suaranya bergema di pagi yang sunyi. "Yue'er, Yue'er, anak haram dari keluarga Feng. Kau pikir dengan ancaman kosong seperti itu kau bisa membuatku gentar? Aku telah hidup lebih dari seratus tahun, telah membunuh ribuan pendekar, dan telah menghancurkan sekte-sekte besar. Apa artinya ancaman seorang gadis belia?"

Matanya beralih ke Tianji, dan untuk sesaat, ada kerutan tipis di keningnya. "Tapi kau, Tianji… aku merasakan ada yang berbeda dalam dirimu. Qi yang kau pancarkan… itu bukan Qi biasa. Itu… murni. Seperti sumber kehidupan itu sendiri."

Tianji tidak menjawab. Ia masih fokus menyelamatkan Xiao Yu'er, tetapi usahanya sia-sia. Tubuh Xiao Yu'er semakin dingin, napasnya semakin lemah, dan denyut nadinya—hampir tidak terasa.

"Tianji…" suara Xiao Yu'er tiba-tiba terdengar, lemah dan hampir tidak terdengar. Matanya terbuka sedikit, menatap wajah Tianji dengan pandangan sayu.

"Aku di sini, Xiao Yu'er," kata Tianji cepat, menunduk mendekatkan telinganya ke mulut Xiao Yu'er. "Aku di sini. Jangan bicara, simpan energimu."

"Tidak… aku harus bicara," Xiao Yu'er tersenyum lemah, darah segar mengalir dari sudut mulutnya. "Aku ingin kau tahu… aku tidak menyesal. Aku tidak menyesal mengikuti kalian, tidak menyesal melawan Lord Hitam sendirian. Karena… karena aku…"

Ia batuk, tubuhnya kejang-kejang. Tianji memegang tangannya erat-erat, air matanya jatuh ke wajah Xiao Yu'er.

"Aku… mencintaimu, Tianji," bisik Xiao Yu'er, dan kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar hati Tianji. "Aku tahu… kau dan Yue'er… kalian diciptakan untuk satu sama lain. Aku tidak pernah bermaksud… menjadi penghalang di antara kalian. Aku hanya ingin… melindungimu… dengan caraku sendiri…"

"Xiao Yu'er…" Tianji tergagap, hatinya tercabik-cabik. Ia tidak pernah tahu—tidak pernah menyadari—perasaan yang selama ini dipendam sahabatnya.

"Aku bahagia," lanjut Xiao Yu'er, suaranya semakin lemah. "Aku bahagia bisa mengenalmu, Yue'er… dan semuanya. Kalian adalah keluarga yang tidak pernah kumiliki. Jagalah Yue'er… dan hiduplah bahagia… untukku…"

"TIDAK!" teriak Tianji, tubuhnya bergetar hebat. "Kau tidak boleh pergi! Aku tidak akan membiarkanmu pergi! Aku akan menyelamatkanmu, apa pun yang terjadi!"

Tianji mengerahkan seluruh kekuatan MP-nya, mencoba menyalurkan Qi penyembuh ke dalam tubuh Xiao Yu'er. Cahaya biru terang memancar dari tangannya, menerangi seluruh area. Namun tubuh Xiao Yu'er menolak Qi itu—seperti bejana yang retak, semakin diisi semakin bocor.

"Tianji, cukup," kata Yue'er pelan, tangannya meraih bahu Tianji. "Kau hanya menyiksanya. Biarkan dia… biarkan dia pergi dengan tenang."

"TIDAK BISA!" Tianji berteriak, amarah dan kesedihan bercampur menjadi satu. "Aku tidak bisa kehilangan dia! Aku sudah kehilangan terlalu banyak! Xuan Qingzi, Li Qingfeng, ayahku, ibuku—aku tidak bisa kehilangan dia juga!"

Lord Hitam mengamati adegan itu dengan tatapan dingin. "Sentimental. Kau terlalu lemah karena ikatan, Tianji. Itulah kelemahan terbesarmu. Untuk mencapai puncak kekuatan sejati, kau harus melepaskan semua ikatan duniawi. Hanya dengan begitu kau bisa menjadi yang terkuat."

"Diam!" Tianji menoleh, matanya merah menyala. "Apa kau tahu arti persahabatan? Apa kau tahu arti pengorbanan? Sepanjang hidupmu, kau hanya tahu cara mengambil, menghancurkan, dan membunuh. Kau tidak lebih dari binatang buas yang menyamar sebagai manusia!"

Lord Hitam tersenyum, tapi senyumnya dingin. "Kata-kata yang berani dari seorang anak muda yang baru saja kehilangan temannya. Mari kita lihat seberapa kuat tekadmu saat kau menyusulnya."

Tanpa peringatan, Lord Hitam melesat. Tubuhnya bergerak begitu cepat sehingga meninggalkan bayangan hitam di udara. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan Tianji, tangan kanannya terangkat siap menghantam.

"WASPADA!" Yue'er berteriak, melompat ke depan untuk memblokir serangan.

Namun Tianji lebih cepat. Dengan satu gerakan, ia mengangkat tangan kirinya, dan tiba-tiba perisai cahaya biru terbentuk di depannya. Hantaman Lord Hitam menghantam perisai itu dengan suara menggelegar, menciptakan gelombang kejut yang membuat mereka semua mundur beberapa langkah.

Lord Hitam melayang mundur, matanya melebar. "Apa? Kau memblokir seranganku? Dengan MP Lv4?"

Tianji berdiri, tubuhnya memancarkan cahaya biru yang semakin terang. Ia meletakkan Xiao Yu'er dengan lembut di tanah, lalu berbalik menghadap Lord Hitam. Di matanya, tidak ada lagi kesedihan—hanya api tekad yang membara.

"Aku bukan lagi Tianji yang dulu," katanya, suaranya tenang tapi penuh kekuatan. "Aku telah melalui neraka dan kembali. Aku telah kehilangan semua yang kucintai. Dan sekarang, aku tidak punya apa-apa lagi untuk kurelakan."

MP Tianji melonjak. Lv4 penuh—kekuatan maksimal yang belum pernah ia capai sebelumnya. Udara di sekelilingnya berputar membentuk pusaran, menarik Qi dari alam sekitarnya. Daun-daun kering beterbangan, kerikil-kerikil kecil terangkat, dan bahkan Lord Hitam merasa ada tarikan pada Qi-nya sendiri.

"MP—PENYERAPAN ALAM!" seru Lord Hitam, matanya menyipit. "Kau benar-benar sudah menguasai level itu. Menarik. Sangat menarik."

Lord Hitam menyilangkan tangan, lalu dengan cepat membentuk segel. "Tapi kau pikir Lv4 cukup untuk melawanku? Aku telah berada di puncak Lv4 selama tiga puluh tahun! Aku sudah setengah kaki di Lv5!"

Dari telapak tangan Lord Hitam, semburan api hitam melesat, membentuk ratusan bola api kecil yang mengelilingi Tianji. Bola-bola api itu panasnya luar biasa, membakar udara di sekelilingnya hingga berkilauan.

"PENJARA API NERAKA—RIBUAN SETAN MEMBARA!"

Bola-bola api itu melesat serentak ke arah Tianji dari segala arah. Tidak ada ruang untuk menghindar—serangan ini dirancang untuk menjebak dan membakar korban hidup-hidup.

Tianji tidak bergeming. Ia menutup matanya, mengambil napas dalam-dalam, lalu membuka matanya lebar-lebar. Pupil matanya bersinar biru terang.

"MP—PEMURNIAN!"

Cahaya biru meledak dari tubuh Tianji, membentuk gelombang energi yang menyebar ke segala arah. Bola-bola api hitam yang menyentuh gelombang itu langsung berubah warna—dari hitam menjadi biru—lalu meledak dengan damai, berubah menjadi percikan cahaya yang indah.

"Apa?!" Lord Hitam mundur selangkah, matanya terbelalak. "Kau… memurnikan teknik kegelapanku? Itu tidak mungkin! Tidak ada teknik pemurnian yang bisa melawan api neraka!"

Yue'er, yang berdiri di samping, juga terkejut. Ia telah lama mempelajari teknik pemurnian di Sekte Bunga Teratai, tapi belum pernah melihat teknik yang begitu murni dan kuat. Sepertinya Tianji telah mencapai level yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.

"Lord Hitam," kata Tianji, suaranya dingin. "Kau mengira kegelapan adalah kekuatan tertinggi. Tapi kau lupa satu hal—kegelapan hanya ada karena ketiadaan cahaya. Dan selama masih ada secercah cahaya, kegelapan tidak akan pernah menang."

Tianji melangkah maju. Dengan setiap langkah, jejak kakinya meninggalkan bekas cahaya biru di tanah yang hangus. Tekanannya meningkat, membuat Lord Hitam merasa tertekan—perasaan yang belum pernah ia rasakan dalam puluhan tahun.

"MP—NAGA SURGA MEMANGGIL!"

Tianji mengangkat kedua tangannya ke atas. Dari langit, awan-awan mulai berputar membentuk pusaran raksasa. Di tengah pusaran itu, sinar cahaya biru turun, membentuk naga raksasa yang terbuat dari Qi murni. Naga itu meraung, suaranya mengguncang langit dan bumi.

Lord Hitam mengertakkan gigi. Ia menyadari bahwa Tianji sekarang setara dengannya dalam hal kekuatan. Tapi ada sesuatu yang berbeda—Tianji memiliki kemurnian Qi yang tidak dimiliki Lord Hitam. Dalam pertarungan berlarut-larut, kemurnian itu akan menjadi keunggulan yang menentukan.

"Anak sialan," gerutu Lord Hitam. "Tapi aku tidak akan kalah di sini. Aku masih memiliki kartu truf."

Lord Hitam mengeluarkan gulungan kitab dari balik jubahnya—Kitab Suci Lautan fragmen yang keempat. Ia telah berhasil mendapatkannya setelah menghancurkan sekte Xiao Yu'er dulu. Dengan fragmen itu, ia bisa meningkatkan kekuatannya ke level yang lebih tinggi.

"PENYERAPAN—FRAGMEN KEEMPAT!"

Qi hitam menyelimuti tubuh Lord Hitam, dan kekuatannya melonjak drastis. Kali ini, tekanan yang dihasilkan jauh lebih besar, membuat Yue'er terhuyung mundur. Bahkan Tianji harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk tetap berdiri tegak.

"Kau pikir hanya kau yang bisa menggunakan Kitab Suci Lautan?" Lord Hitam tertawa. "Aku telah mempelajarinya selama bertahun-tahun. Aku tahu rahasia yang tidak kau ketahui!"

Tianji tidak terpengaruh. Ia melesat maju, naga surgawi mengikutinya. Pertarungan sengit terjadi—Tianji dengan cahaya birunya, Lord Hitam dengan kegelapan pekatnya. Pukulan demi pukulan, tebasan demi tebasan, keduanya saling beradu dengan sengit.

Namun setelah beberapa puluh jurus, Tianji mulai merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali ia memurnikan serangan Lord Hitam, ada sedikit kegelapan yang tersisa—seperti noda yang sulit dihilangkan. Dan anehnya, kegelapan itu tidak mempengaruhi dirinya, melainkan menarik sesuatu dari dalam dirinya… sesuatu yang berharga.

"Kau lihat?" Lord Hitam tersenyum licik. "Setiap kali kau menggunakan teknik pemurnian, kau mengorbankan sebagian dari esensi hidupmu. Semakin kau memurnikan, semakin cepat kau mati! Itulah kelemahan teknik pemurnian!"

Tianji mengerutkan kening. Ia merasakan kelemahan di tubuhnya, tapi ia tidak bisa berhenti. Jika ia berhenti memurnikan, kegelapan akan mengambil alih.

"Yue'er!" teriak Tianji. "Bawa Xiao Yu'er pergi dari sini! Cepat!"

Yue'er ragu. "Tapi—"

"CEPAT! Aku tidak akan bisa bertahan lama!"

Yue'er menggigit bibirnya, air mata mengalir di pipinya. Ia berlari ke arah Xiao Yu'er, menggendong tubuh pemuda itu dengan hati-hati. Namun saat hendak melarikan diri, Lord Hitam bergerak.

"Kau pikir aku akan membiarkan kalian pergi?" Lord Hitam melesat ke arah Yue'er, tangannya terulur untuk mencengkeram lehernya.

Tianji bereaksi cepat. Tubuhnya melesat, tiba di antara Lord Hitam dan Yue'er tepat waktu. Ia mengangkat tangannya untuk memblokir serangan, tapi Lord Hitam berhasil melukai lengannya. Darah segar mengucur.

"PERGILAH SEKARANG!" teriak Tianji.

Yue'er tidak menunggu lagi. Dengan air mata mengalir deras, ia berlari membawa Xiao Yu'er meninggalkan medan pertarungan. Ia harus menyelamatkan Xiao Yu'er—meskipun mungkin sudah terlambat.

Lord Hitam ingin mengejar, tapi Tianji menghalangi jalannya. "Kau tidak akan ke mana-mana," kata Tianji, matanya menyala. "Sampai aku mati, kau tidak akan menyentuh mereka."

"Sialan," umpat Lord Hitam. "Baiklah. Jika kau ingin mati, aku akan mengabulkan permintaanmu."

Keduanya kembali beradu. Pertarungan kali ini lebih sengit, lebih brutal. Darah bercucuran dari berbagai luka di tubuh mereka. Tanah di sekitar mereka berubah menjadi medan perang yang mengerikan.

Di kejauhan, Yue'er menemukan sebuah gua kecil di balik bukit batu. Ia memasukkan Xiao Yu'er ke dalam, lalu menutup mulut gua dengan batu besar. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetar.

"Xiao Yu'er," bisiknya, memegang tangan pemuda itu yang sudah mulai kaku. "Bertahanlah… tolong bertahanlah…"

Xiao Yu'er membuka matanya sedikit, tersenyum lemah. "Yue'er… di mana Tianji?"

"Masih bertarung," jawab Yue'er, air matanya jatuh ke wajah Xiao Yu'er. "Dia melawan Lord Hitam untuk memberi kita waktu."

"Kalau begitu… kau harus kembali," bisik Xiao Yu'er. "Tianji membutuhkanmu… jangan biarkan dia bertarung sendirian…"

"Tapi kau—"

"Aku sudah tidak bisa diselamatkan," potong Xiao Yu'er lembut. "Aku tahu itu. Tapi kalian… kalian masih bisa menang. Pergilah… bantu Tianji… untukku…"

Yue'er menggigit bibirnya, tangannya gemetar. Ia tahu Xiao Yu'er benar. Tapi meninggalkan sahabatnya yang sekarat adalah keputusan paling berat yang pernah ia buat.

"Aku… aku tidak akan melupakanmu, Xiao Yu'er," bisik Yue'er, mencium kening Xiao Yu'er. "Kau adalah sahabat terbaik yang pernah kami miliki."

Xiao Yu'er tersenyum, matanya perlahan terpejam. "Aku juga… akan mengingat kalian… di kehidupan selanjutnya…"

Yue'er berdiri, air mata mengalir deras. Dengan berat hati, ia meninggalkan gua dan berlari kembali ke medan pertarungan. Ia harus membantu Tianji. Untuk Xiao Yu'er. Untuk semua.

Ledakan dahsyat terdengar dari kejauhan saat Tianji dan Lord Hitam saling bertukar serangan. Pertandingan belum usai. Pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 56: XIAO YU’ER VS LO… BAB 58: KEPERGIAN →