Malam itu, hutan di utara Makam Naga Laut bagaikan lautan kegelapan yang tak bertepi. Bulan purnama bersembunyi di balik gumpalan awan hitam, seakan enggan menyaksikan apa yang akan terjadi. Angin menderu-deru di antara pepohonan, membawa serta bisikan-bisikan misterius yang membuat bulu kuduk merinding. Di tengah hutan itu, berdiri sesosok bayangan—Xiao Yu'er, dengan jubah putihnya yang kini kotor dan compang-camping setelah perjalanan panjang.
Xiao Yu'er memandangi markas sementara Lord Hitam yang terlihat di kejauhan. Sebuah bangunan batu besar yang menjulang angkuh, dikelilingi oleh pagar besi hitam yang diukir dengan simbol-simbol aneh. Cahaya lampu minyak berkelap-kelip dari dalam, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding batu.
"Akhirnya…" bisik Xiao Yu'er pelan, tangannya menggenggam erat pedang pusaka peninggalan ayahnya. "Setelah semua pengorbanan, semua air mata… di sinilah semuanya berakhir."
Ia melangkah maju, setiap langkahnya penuh dengan tekad baja. Namun di dalam hatinya, ada segumpal kecemasan yang tak bisa ia tepis. Ia tahu dirinya bukan tandingan Lord Hitam. Kekuatan MP-nya baru mencapai Lv3, sedangkan Lord Hitam—menurut kabar yang beredar—telah berada di puncak Lv4, bahkan mungkin sudah mendekati Lv5. Ini bukan pertarungan. Ini adalah pengorbanan.
"Xiao Yu'er." Suara berat menggema dari kegelapan. Dari balik pintu besi besar, sesosok pria berjubah hitam melangkah keluar. Wajahnya tertutup topeng naga hitam, hanya sepasang mata merah menyala yang terlihat. "Aku sudah menduga kau akan datang. Kesetiaan kawanan kalian memang mudah ditebak."
Lord Hitam tertawa, suaranya bagaikan petir di malam yang sunyi. "Kau datang sendirian? Di mana Tianji? Di mana Yue'er? Apa mereka terlalu pengecut untuk menghadapiku?"
Xiao Yu'er tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pedangnya, ujungnya mengarah tepat ke jantung Lord Hitam. "Aku tidak perlu mereka. Aku sendiri sudah cukup untuk mengirimmu ke neraka. Biarlah darahku menjadi saksi bahwa kegelapan tidak akan pernah menang selama masih ada orang yang berani melawan."
"Hahaha!" Lord Hitam tergelak keras. "Keberanian yang mengagumkan, tapi kebodohan yang menyedihkan. Kau pikir dengan MP Lv3 kau bisa melawanku? Anak muda, kau bagaikan kunang-kunang yang menantang matahari."
Tanpa peringatan, Xiao Yu'er melesat. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari kilat, meninggalkan jejak bayangan putih di belakangnya. Pedangnya berdesir membelah udara, dihujani dengan Qi murni yang memancarkan cahaya keperakan.
"DANAU BULAN BERKABUT—TEKNIK PERTAMA!"
Pedang Xiao Yu'er berputar membentuk lingkaran cahaya, menciptakan ilusi seperti danau yang tenang di malam bulan purnama. Namun di balik keindahan itu, tersembunyi ribuan tusukan maut yang siap merobek lawan.
Lord Hitam tidak bergeming. Ia hanya mengangkat satu tangan, dan tiba-tiba perisai hitam raksasa terbentuk di depannya. Cahaya Qi Xiao Yu'er menghantam perisai itu dengan suara menggelegar, menciptakan gelombang kejut yang merobek tanah di sekitar mereka.
"Lemah," kata Lord Hitam dingin. "Teknik Danau Bulan Berkabut milik Pendekar Naga Biru—kau hanya menguasai sepuluh persen dari kekuatan sejatinya. Lihatlah, seranganmu bagaikan daun kering yang ditiup angin, indah dipandang tapi tidak memiliki daya hancur."
Lord Hitam mendorong. Perisai hitam itu meledak dengan kekuatan dahsyat, mengirim Xiao Yu'er terbang puluhan meter sebelum ia berhasil mendarat dengan kaki goyah. Tubuhnya membentur batang pohon besar, dan ia mendengar tulang rusuknya retak. Darah menetes dari bibirnya, membasahi jubah putihnya yang mulai berlumuran merah.
"Apakah itu yang kau sebut serangan?" ejek Lord Hitam, melangkah maju dengan angkuh. "Aku bisa merasakan Qi dalam tubuhmu—ia bergetar seperti burung yang ketakutan. Di mana semangat yang dulu kau miliki? Di mana api yang membuat matamu bersinar?"
"KAISAR HITAM—SERPENT BAYANGAN!"
Lord Hitam menyerang. Dari kedua tangannya, ular-ular bayangan hitam melesat bagaikan anak panah, masing-masing membawa racun Qi yang mematikan. Xiao Yu'er mengelak dengan gerakan akrobatik, melompat ke pohon, berputar di udara, lalu menebas dua ular bayangan yang mendekat.
Namun jumlah ular itu terlalu banyak. Satu di antaranya berhasil menerjang bahu kirinya. Xiao Yu'er meraung kesakitan saat racun hitam menjalar di pembuluh darahnya. Ia jatuh dari pohon, terhempas ke tanah dengan keras.
"Bangunlah," ejek Lord Hitam. "Kau bilang hanya kau yang cukup untuk mengirimku ke neraka? Lihatlah dirimu sekarang—sudah sekarat hanya dalam tiga jurus."
Xiao Yu'er terhuyung berdiri. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar menahan racun yang terus menjalar. Namun matanya masih menyala—api tekad yang tak pernah padam.
"Aku… belum selesai," desisnya.
Ia menancapkan pedangnya ke tanah, lalu kedua tangannya mulai membentuk segel misterius. Udara di sekelilingnya bergetar. Qi-nya melonjak naik, memancarkan cahaya biru yang semakin terang.
"MP—PENYERAPAN PENUH! AKTIFKAN!"
Tubuh Xiao Yu'er mulai menyerap Qi dari alam sekitarnya. Pohon-pohon mengering, dedaunan berguguran, bahkan tanah di bawah kakinya retak-retak kehilangan energi kehidupan. Ini adalah teknik terlarang—teknik yang hanya digunakan saat seseorang siap mengorbankan nyawanya sendiri.
"GILA!" Lord Hitam mundur setengah langkah. Ini pertama kalinya ia menunjukkan reaksi defensif. "Kau akan membakar meridianmu sendiri! Apa kau ingin mati?"
"Mati?" Xiao Yu'er tertawa, tawanya pahit dan indah di saat yang bersamaan. Matanya berkaca-kaca, namun ia tidak menangis—ia sudah menangis terlalu banyak dalam hidupnya. "Aku sudah mati sejak hari pertama aku bergabung dengan Tianji. Aku adalah bayangan yang hidup untuk melindunginya. Jika kematian adalah harga yang harus kubayar untuk melukaimu, maka aku akan membayarnya dengan senang hati. Karena bagiku, Tianji lebih berharga daripada nyawaku sendiri."
Cahaya biru di tubuh Xiao Yu'er semakin membesar. Kekuatannya melonjak ke level yang belum pernah ia capai sebelumnya—setara dengan Lv4, bahkan mungkin lebih. Namun di dalam tubuhnya, pembuluh darahnya mulai pecah satu per satu. Dagingnya robek dari dalam.
"SERANGAN TERAKHIR—NAGA LAUTAN MEMBUMI!"
Xiao Yu'er melesat, tubuhnya berubah menjadi naga biru raksasa yang terbuat dari Qi murni. Naga itu meraung, suaranya mengguncang hutan. Daun-daun beterbangan, pohon-pohon tumbang, dan tanah terbelah di mana pun naga itu lewat.
Lord Hitam menyilangkan tangan di depan dada. Di sekelilingnya, muncul lingkaran api hitam yang menyala-nyala. "Kau memang kuat untuk anak seusiamu, Xiao Yu'er. Sayangnya…"
Ia mengulurkan tangan kanannya, dan tiba-tiba pedang hitam raksasa muncul di tangannya—pedang yang terbuat dari kegelapan murni.
"Kegelapan Sejati—PENGHANCURAN!"
Pedang hitam itu ditebaskan. Cahaya dan kegelapan bertabrakan, menciptakan ledakan yang dahsyat. Radius seratus meter dari tempat itu rata dengan tanah. Pepohonan tercabut hingga akarnya, batu-batu besar hancur menjadi kerikil.
Ketika debu mulai reda, Xiao Yu'er terlihat terbaring di tengah kawah. Tubuhnya hancur, pakaiannya sobek-sobek, dan darah menggenang di sekelilingnya. Pedangnya patah di sampingnya, bilahnya hancur berkeping-keping.
Lord Hitam berdiri di atasnya, napasnya sedikit tersengal—pertanda bahwa serangan Xiao Yu'er hampir berhasil melukainya. Namun ia masih berdiri tegak, tanpa luka berarti.
"Kau hampir berhasil," kata Lord Hitam, nada suaranya berubah—ada sedikit rasa hormat di dalamnya. "Hampir. Tapi 'hampir' tidak cukup di dunia ini."
Xiao Yu'er batuk, darah segar mengalir dari mulutnya. Ia menatap langit malam yang kelam, matanya mulai kehilangan fokus. Namun di bibirnya, senyum tipis mengembang.
"Aku… pernah membaca kitab kuno," bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar. "Dikatakan… bahwa kunang-kunang yang paling terang… adalah yang sekarat…"
Lord Hitam mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu… aku tidak bisa mengalahkanmu," lanjut Xiao Yu'er, suaranya semakin lemah. "Tapi aku harus mencoba. Untuk Tianji. Untuk Yue'er. Untuk semua yang telah kukorbankan…"
Ia mengalihkan pandangannya ke arah timur, di mana fajar mulai merekah. "Setidaknya… aku telah mencoba. Aku tidak menyesal. Aku… tidak…"
Matanya perlahan terpejam. Napasnya menjadi semakin dangkal.
Lord Hitam menatap pemuda itu dalam diam. Ada sesuatu yang berubah di matanya—mungkin kekaguman, mungkin penyesalan, atau mungkin keduanya. Namun ia segera menepis perasaan itu. Ia berbalik, bersiap meninggalkan Xiao Yu'er yang sekarat.
"Anak bodoh yang berani," gumamnya. "Kematianmu akan kukenang."
Namun ketika Lord Hitam hendak melangkah pergi, ia merasakan sesuatu—getaran Qi yang familiar, tapi kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia menoleh ke arah timur, di mana matahari mulai terbit.
Di kejauhan, dua bayangan melesat mendekat dengan kecepatan yang luar biasa. Salah satunya memancarkan cahaya biru yang terang benderang, cahaya yang bahkan mampu menembus kegelapan malam.
"Tianji…" bisik Lord Hitam, nadanya berubah dingin. "Kau akhirnya datang."
Tapi yang membuat Lord Hitam terkejut, bukan hanya kedatangan Tianji. Di samping Tianji, ada Yue'er—yang diam-diam telah memulihkan kekuatannya. Dan cahaya yang dipancarkan Tianji… itu bukan cahaya Lv4 biasa. Itu adalah cahaya yang membersihkan, yang memurnikan, yang bahkan membuat Lord Hitam merasa tidak nyaman.
"Apa yang telah terjadi padanya?" gumam Lord Hitam, alisnya berkerut.
Namun sebelum ia bisa memikirkan lebih jauh, Tianji dan Yue'er sudah tiba di lokasi. Tianji melompat turun, dan ketika matanya melihat Xiao Yu'er yang terbaring berlumuran darah, seluruh dunianya terhenti.
"XIAO YU'ER!"
Tianji berlari, berlutut di samping sahabatnya. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Xiao Yu'er yang pucat pasi. Tubuh Xiao Yu'er dingin, hampir beku.
"Tidak… tidak, Xiao Yu'er, buka matamu!" teriak Tianji, air mata mengalir di pipinya. "Aku di sini! Aku datang! Jangan tinggalkan aku!"
Yue'er berdiri di belakang Tianji, tangannya menutup mulut, air mata mengalir tanpa suara. Namun di matanya, ada kilatan amarah yang berbahaya.
"LORD HITAM!" pekik Yue'er, suaranya menggema di seluruh hutan. "KAU AKAN MEMBAYAR!"
Lord Hitam hanya tersenyum sinis. "Anak-anak bodoh. Kalian datang tepat waktu untuk menyaksikan kematian teman kalian. Dan kalian akan menyusulnya segera."
Tianji mengangkat kepalanya. Matanya—yang biasanya tenang dan penuh perhitungan—kini merah menyala. Bukan karena menangis, tapi karena amarah yang tak terkendali. Qi di sekelilingnya mulai bergolak, menciptakan pusaran energi yang dahsyat.
"Aku akan menghancurkanmu," kata Tianji, suaranya rendah dan bergetar. "Aku akan menghancurkanmu untuk Xiao Yu'er. Untuk semua yang kau renggut. Untuk semua penderitaan yang kau timpahkan."
"Aku akan menghancurkanmu… bahkan jika itu berarti aku harus membakar jiwaku sendiri."
Udara di sekitar mereka bergetar hebat. Pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai.