📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 55: XIAO YU’ER PERGI

← BAB 54: LATIHAN TERAKHIR BAB 56: XIAO YU’ER VS LO… →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Malam di Lereng Naga — demikian penduduk sekitar menyebut kaki Gunung Makam Naga Laut. Bulan purnama bersinar terang, menyinari hutan bambu yang membentang sejauh mata memandang. Daun-daun bambu bergesekan ditiup angin, menciptakan suara seperti orang berbisik.

Xiao Yu'er berjalan menyusuri jalan setapak. Tubuhnya terasa berat — kehilangan setengah Qi bukanlah hal yang mudah. Tiap langkah membutuhkan usaha ekstra. Tapi ia tidak berhenti. Tidak akan berhenti.

Di tangannya, sebilah pedang pendek tergenggam erat. Pedang itu tidak istimewa — hanya pedang biasa yang ia curi dari gudang senjata benteng Lord Hitam dulu. Tapi bagi Xiao Yu'er, pedang adalah pedang. Tidak perlu nama atau sejarah. Yang penting adalah tangan yang memegangnya.

"Berhenti di sana."

Suara itu datang dari kegelapan di antara bambu. Xiao Yu'er berhenti. Dua sosok melangkah keluar — pria bertubuh kekar dengan kapak raksasa di pundak, dan wanita kurus dengan pedang lentur melingkar di pinggang.

"Antek Lord Hitam," Xiao Yu'er bergumam.

"Kau Xiao Yu'er, kan?" pria kekar itu berkata dengan suara berat. "Pengkhianat klan bayangan. Lord Hitam menaruh hadiah besar di kepalamu."

"Bawa aku padanya," Xiao Yu'er berkata dingin. "Aku sendiri yang ingin bertemu."

Wanita kurus itu tertawa — suaranya seperti kaca pecah. "Berani sekali kau, bocah. Tapi Lord Hitam sedang sibuk. Ia sedang bersiap untuk kedatangan tamu istimewa — Tianji si Penyerap Lautan."

"Kau tidak perlu menunggu Tianji. Aku sudah cukup."

"Cukup?" Pria kekar itu mengangkat kapaknya. "Kau kehilangan setengah Qi-mu. Aku bisa merasakannya. Bahkan kalau kau dalam kondisi penuh, kau mungkin hanya setara denganku. Sekarang kau hanya bangkai berjalan."

"Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut." Xiao Yu'er mencabut pedangnya. Suara besi bergesekan dengan sarungnya terdengar jelas di malam yang sunyi.

"Kau memilih mati malam ini."

Mereka bertiga saling berhadapan. Angin berhenti — seolah alam pun menahan napas.

Pertarungan dimulai dalam sekejap.

Pria kekar itu menyerang lebih dulu — kapak raksasa diayunkan dengan kekuatan yang bisa membelah batu. Xiao Yu'er tidak melawan secara langsung. Ia melompat ke samping, menggunakan batang bambu sebagai pijakan. Tubuhnya yang ringan bergerak seperti bayangan.

Tapi tubuhnya tidak secepat biasanya. Kehilangan Qi membuat gerakannya lambat — hanya sedikit, tapi untuk seorang pembunuh, sedikit itu sangat berarti.

Kapak itu mengenai tiang bambu tepat di belakang Xiao Yu'er. Bambu setebal lengan manusia patah seperti tusuk gigi.

"Kau pikir kau bisa menghindar selamanya?" pria itu meraung.

Wanita kurus bergerak di saat yang sama. Pedang lenturnya melesat seperti ular — tidak terduga, cepat, mematikan. Xiao Yu'er mengelak ke kiri, tapi ujung pedang itu tetap melukai lengannya.

Darah menetes.

"Kau melemah," kata wanita itu, tersenyum puas. "Bahkan dalam duel melawan kami berdua, kau tidak akan bertahan lama."

Xiao Yu'er tidak menjawab. Ia berkonsentrasi pada pertarungan. Keringat mulai membasahi dahinya.

Di Makam Naga Laut, Tianji membuka mata.

"Qi Xiao Yu'er melemah," bisiknya. "Ia bertarung."

"Kakak Tianji?" Yue'er mendekat cemas. "Kau sudah siap?"

"Belum stabil. Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama." Tianji berdiri — tubuhnya masih goyah. Namun matanya menunjukkan tekad baja.

"Aku juga ikut!" Yue'er menyiapkan pedangnya.

"Tidak. Kau harus tinggal di sini."

"Apa?!"

"Dengar." Tianji memegang bahu Yue'er. "Misi kita bukan hanya tentang mengalahkan Lord Hitam. Kitab Suci Lautan — semua fragmen — ada di sini. Kalau aku gagal dan Lord Hitam datang ke sini, kau harus menghancurkan semuanya."

"Tapi—"

"Kalau fragmen ini jatuh ke tangannya, ia akan mencapai MP Lv8 dan tidak ada yang bisa menghentikannya." Suara Tianji tegas. "Kau mengerti?"

Yue'er menggigit bibirnya. Air mata menggenang. "Aku mengerti…"

"Jangan khawatir. Aku akan kembali. Dengan Xiao Yu'er."

Tianji berbalik dan melangkah ke pintu makam. Jubah putihnya berkibar tertiup angin malam. Di belakangnya, altar naga bersinar terang — seolah memberkati perjalanannya.

"Kakak Tianji!" teriak Yue'er. "KAU BERHUTANG CERITA PADAKU! JANGAN BERANI MATI!"

Tianji tidak berbalik. Tapi senyum tipis menghiasi bibirnya.

"Janji."

Di hutan bambu, pertarungan mencapai puncaknya.

Xiao Yu'er tercabut mundur ke tepi tebing. Tubuhnya penuh luka — lengan kiri, paha kanan, bahu kiri. Darah membasahi jubah hitamnya. Napasnya tersengal-sengal.

Pria kekar itu sudah tewas — kapaknya tertancap di dadanya sendiri setelah Xiao Yu'er menggunakan teknik tipuan. Tapi wanita kurus masih berdiri, meskipun dengan beberapa luka goresan.

"Sulit juga kau," wanita itu mendesis. "Tapi kau sudah di ujung. Menyerahlah. Mungkin Lord Hitam akan memberimu kematian yang cepat."

Xiao Yu'er tersenyum — senyum getir. "Kau pikir aku takut mati?"

"Aku pikir kau takut pada sesuatu." Wanita itu memicingkan mata. "Setiap orang punya ketakutan. Dan ketakutanku adalah melihat orang yang kusayangi mati di depanku."

Xiao Yu'er tersentak. Kata-kata wanita itu menusuk hatinya.

Ya, itulah ketakutannya. Melihat Tianji mati. Melihat Yue'er mati. Ia sudah kehilangan terlalu banyak orang dalam hidupnya. Ia tidak sanggup kehilangan lagi.

"Kalau begitu," Xiao Yu'er mengangkat pedangnya — tangan gemetar, "aku akan memastikan kau tidak bisa menyentuh mereka."

Ia melompat — serangan terakhir. Pedangnya menari di udara, membentuk pola rumit yang sulit diantisipasi. Wanita itu terkejut — ia tidak mengira Xiao Yu'er masih punya tenaga untuk serangan secepat ini.

Tapi sayangnya, Xiao Yu'er juga sudah di ujung. Serangannya tidak akurat. Pedang itu hanya melukai bahu wanita itu, tidak mematikan.

Sebaliknya, pedang lentur wanita itu melilit leher Xiao Yu'er.

"SELESAI!" pekik wanita itu, menarik pedangnya kencang.

Tapi sebelum pedang itu meremukkan tenggorokan Xiao Yu'er, sesosok bayangan putih melesat dari kegelapan. Lebih cepat dari kilat. Lebih ringan dari angin.

CRACK!

Wanita itu terpental — dadanya berlubang terkena serangan telapak tangan. Pedang lenturnya terlepas, jatuh ke tanah. Ia menatap tidak percaya ke arah bayangan putih itu.

Tianji berdiri di antara Xiao Yu'er dan wanita itu. Jubah putihnya bersinar samar di bawah sinar bulan. Tubuhnya yang tadinya goyah kini tegak — penuh kekuatan baru.

"Kau…" wanita itu terbatuk darah. "Kau Tianji? Tapi Qi-mu… berbeda…"

"Qi murni," jawab Tianji dingin. "MP Lv4."

Wanita itu jatuh tersungkur. Tidak bergerak lagi.

Xiao Yu'er terjatuh — lututnya lemas. Tianji menangkapnya tepat waktu.

"Kau bodoh," Tianji berkata, suaranya campuran marah dan khawatir. "Kau pergi sendirian. Hampir mati."

"Aku… hanya ingin melindungi…" Xiao Yu'er tersenyum lemah. "Maaf… membuatmu khawatir."

"Aku sudah bilang — kita adalah keluarga. Dan keluarga tidak saling meninggalkan." Tianji menggendong Xiao Yu'er. Tubuh pemuda itu ringan — terlalu ringan. Kehilangan Qi dan darah membuatnya hampir tidak berbobot.

"Aku… pantas dapat omelan dari Yue'er setelah ini," Xiao Yu'er bergumam.

"Banyak omelan. Berjam-jam."

"Bisa kubayangkan…"

Tianji berjalan kembali ke arah makam. Tapi saat ia melangkah, udara di sekelilingnya tiba-tiba berubah. Dingin. Berat. Mencekam.

"Akhirnya kau muncul, Tianji."

Suara itu. Suara yang sangat ia kenal. Suara yang menghantuinya setiap malam.

Lord Hitam.

Dari balik kabut tipis di hutan bambu, sesosok tinggi besar melangkah keluar. Jubah hitam panjangnya berkibar — bukan karena angin, tapi karena Qi jahat yang menyelimuti tubuhnya. Wajahnya setengah tertutup topeng hitam, hanya mata merah menyala yang terlihat.

"Kau pikir dengan mencapai Lv4, kau bisa mengalahkanku?" Lord Hitam tertawa — tawa yang menggetarkan hati. "Aku sudah berada di Lv6. Perbedaan antara kita masih terlalu besar."

"Tapi Qi-mu tidak murni." Tianji tidak mundur. Tangannya masih menggendong Xiao Yu'er. "Kau menyerap semua Qi tanpa seleksi — Qi kotor, Qi jahat, semuanya. Itu membuatmu kuat, tapi juga lemah."

"Omong kosong!"

"Kau lihat?" Tianji tersenyum tenang. "Kau marah hanya karena aku menyentuh titik lemahmu."

Lord Hitam mengeluarkan suara mendesis. Qi jahatnya meledak — membuat pohon-pohon bambu di sekitarnya layu dan mati.

"Kalau kau berani, hadapilah aku sekarang! Lepaskan bocah itu dan bertarung!"

"Maaf." Tianji menggeleng. "Aku tidak akan bertarung malam ini. Temanku terluka. Aku harus menyembuhkannya."

"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja?"

Lord Hitam melesat — kecepatannya luar biasa. Tapi Tianji sudah siap. Dengan MP Lv4, ia bisa merasakan pergerakan Qi Lord Hitam sebelum gerakan itu terjadi.

Ia mundur selangkah — tepat saat tangan Lord Hitam menyambar tempat ia berdiri. Kemudian dengan gerakan memutar, ia menghilang ke dalam kabut.

"MP Lv4 — Gerakan Ombak Membalut," bisik Tianji.

Lord Hitam menggeram frustrasi. "Kau tidak bisa lari selamanya, bocah! Cepat atau lambat, fragmen kelima akan menjadi milikku!"

Di dalam kabut, Tianji terus berlari. Xiao Yu'er di gendongannya mulai kehilangan kesadaran.

"Xiao Yu'er, bertahanlah," bisik Tianji. "Aku tidak akan kehilangan kalian lagi."

Satu jam kemudian, Tianji tiba kembali di Makam Naga Laut. Yue'er berlari menyambut — wajahnya pucat saat melihat kondisi Xiao Yu'er.

"DIA! ANAK BANDEL!" teriak Yue'er di sela isak tangis. "BILANG PERGI SENDIRI! HAMPIR MATI! DAN SEKARANG—"

"Diam, Yue'er. Bantu aku membaringkannya." Tianji meletakkan Xiao Yu'er di dekat altar. Ia mulai mentransfer Qi murni ke tubuh pemuda itu.

Perlahan, luka-luka Xiao Yu'er mulai menutup. Wajahnya yang pucat kembali sedikit warna.

"Lord Hitam ada di luar," kata Tianji. "Ia menyadari kita di sini. Kita harus segera pergi."

"Kemana?"

"Aku tidak tahu. Tapi kita tidak bisa tinggal di sini."

Saat Tianji membantu Xiao Yu'er bangun, fragmen kelima di altar tiba-tiba bersinar lebih terang. Tulisan-tulisan baru muncul di permukaannya — kalimat yang sebelumnya tidak terbaca.

Tianji mendekat dan membaca:

"Kepada Penyerap Lautan masa depan — kalau kau membaca ini, berarti kau berhasil mencapai MP Lv4. Selamat. Tapi perjalananmu belum selesai. Pertarungan sejati melawan kegelapan baru saja dimulai.

Gunakan fragmen ini sebagai kompas. Ia akan menunjukkan jalan menuju fragmen keenam — fragmen terakhir yang berisi kunci untuk mengalahkan kejahatan abadi.

— Naga Laut Tertua."

"Fragmen keenam?" Tianji bergumam. "Ada lagi?"

"Berarti perjalanan kita belum berakhir," kata Yue'er, suaranya lelah tapi tidak menyerah.

"Ya." Tianji menatap ke luar makam, di mana Lord Hitam menunggu. "Tapi malam ini, kita istirahat. Besok, kita akan mencari jalan."

Xiao Yu'er membuka matanya — sayup-sayup. "Aku… tidak akan pergi lagi."

"Kau benar tidak akan pergi lagi," Yue'er mengancam. "Karena kalau kau pergi lagi, aku akan memukulmu sampai kau tidak bisa bangun!"

"Kau bisa mencoba."

"Diam kalian berdua." Tianji tersenyum. Ia memandangi fragmen kelima di tangannya. MP Lv4 telah tercapai. Tapi masih ada fragmen keenam. Masih ada Lord Hitam. Masih ada pertempuran yang menanti.

Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.

"Yue'er, Xiao Yu'er," katanya, suaranya penuh kehangatan. "Terima kasih sudah bertahan bersamaku."

Yue'er dan Xiao Yu'er saling pandang. Kemudian, tanpa sepakat, mereka tersenyum.

"Untuk apa lagi keluarga kalau bukan untuk bertahan bersama?" kata Yue'er.

Xiao Yu'er hanya mengangguk — tapi di matanya ada kehangatan yang jarang terlihat.

Tianji menatap langit malam yang mulai terang di ufuk timur. Fajar akan segera tiba. Hari baru akan dimulai.

"Aku tidak akan kehilangan kalian lagi," janjinya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada mereka.

Di altar naga, fragmen kelima bersinar terang — menerangi jalan menuju petualangan berikutnya. Makam Naga Laut telah memberikan apa yang mereka cari, tapi perjalanan masih panjang.

Dan di kejauhan, Lord Hitam menunggu dengan kesabaran seorang predator sejati.

Pertarungan belum usai.

Masih ada fragmen keenam.

Masih ada akhir yang belum tertulis.

— BERSAMBUNG —

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 54: LATIHAN TERAKHIR BAB 56: XIAO YU’ER VS LO… →